
Selama perjalanan Alrez tampak diam, hanya fokus menyetir. Serra yang mengerti suasana hati suaminya sedang tidak baik pun juga ikut memilih diam. Bukan maksud Serra tak ingin membujuk suaminya, namun sekarang mereka sedang berada di mobil, untuk menghindari terjadinya kecelakaan dalam berkendara ia lebih baik memilih diam semantara waktu.
Tiba di halaman rumah, Alrez memilih langsung keluar dari mobil dan melangkah cepat masuk ke dalam rumah. Alrez sama sekali tidak membukakan Serra pintu seperti biasa yang pria itu lakukan.
"Mas tungguin!" Seru Serra berlari agar bisa mengejar langkah lebar suaminya.
Serra hampir terjatuh akibat tidak hati-hati, jika saja Lasmi tidak menahan tubuhnya, mungkin Serra sudah keguguran saat ini juga, sebab Ia akan jatuh dalam posisi tengkurap dimana itu sangat berbahaya bagi Ibu hamil.
"Maafkan saya nyonya sudah lancang menyentuh anda, apa nyonya baik-baik saja?" Tanya Lasmi khawatir saat melihat Serra hanya diam saja.
"Saya baik, terimakasih sudah membantu ku bu," ucap Serra, Ia menatap heran wanita dihadapannya sekarang, pasalnya Ia baru pertama kali melihat ada wanita dirumahnya. Apalagi sekilas Ia lihat wanita dihadapannya seumuran dengan Ibunya, mungkin lebih tua diatas Ibunya.
"Tidak perlu berterimakasih nyonya, ini memang sudah menjadi tugas saya," ujar Lasmi menunduk, tak ingin menatap lawan bicara yang merupakan majikannya.
"Bu gak perlu nunduk kalau ngomong sama saya, angkat kepala Ibu," kata Serra lembut sembari memegang bahu Lasmi.
"Tidak nyonya, anda majikan saya. Jadi saya gak berhak ngomong dengan menatap anda," tukas Lasmi mempertahankan kepala agar tetap menunduk.
"Meskipun saya adalah majikan Ibu, tapi dihadapan Allah swt derajat kita sama. Sama-sama manusia biasa, jadi saya gak suka kalau ngomong sama lawan bicara yang gak natap balik saya," jelas Serra agar wanita dihadapan mau menatap dirinya.
Lasmi pun akhirnya memberanikan diri menatap Serra manjikannya.
"Bu nanti kita ngobrol lagi ya, saya mau ke atas dulu liat suami." Pamit Serra melanjutkan langkah menuju kamar mereka yang berada di atas dengan menggunakan lift.
Kali ini Ia berjalan pelan, karena tak mau sampai membahayakan kandungannya seperti tadi saat hampir jatuh, beruntung sekali dirinya diselamatkan oleh bu Lasmi.
Ceklek
Serra memasuki kamar untuk menemui suaminya, namun ternyata di kamar kosong, ketika Serra hendak berbalik keluar kamar suara gemericik air dalam kamar mandi membuat Serra mengurungkan niatnya. Serra lega ternyata suaminya berada di kamar.
Serra melangkah masuk ke walk-in closet, memilihkan pakaian santai untuk Alrez yang sedang mandi.
Serra tersenyum senang melihat Alrez yang baru saja keluar dari kamar mandi terlihat segar, bahkan suaminya juga mengambil pakaian yang telah dia siapkan.
__ADS_1
Namun senyuman Serra luntur ketika Alrez sama sekali tak membalas balik senyumannya, bahkan pria itu malah cuek dan dingin.
"Mas mau makan apa? Biar aku masakin," ujar Serra bertanya sembari beranjak dari ranjang menghampiri suaminya dan melingkarkan tangan di lengan ia tidak akan menyerah untuk membujuk suaminya.
Namun Serra tidak mendapatkan respon sedikitpun dari Alrez yang tetap memilih bungkam. Rasa kesal mengingat istrinya hampir dipeluk membuat dia menjadi diam.
"Mas pleasee.. jangan diam, aku bingung harus bujuk kamu dengan cara apalagi. Aku salah, aku minta maaf!" Kata Serra sembari menangis, air matanya sungguh tak terbendung lagi.
"Bisa tinggalkan Mas mau sendiri dulu," pinta Alrez, menyuruh Serra agar keluar dari kamar, dia ingin sendirian.
"Kalau itu bisa buat Mas gak marah lagi, aku akan turutin kok. Kalau perlu apa-apa Mas panggil aku ya, aku di kamar sebelah," ujar Serra, kemudian melangkah keluar dari kamar menuju kamar sebelah.
"Maaf sayang! Mas gak marah sama kamu, cuma hati Mas masih kesal liat Arka hampir peluk kamu." Gumam Alrez saat istrinya sudah tak berada di kamarnya lagi.
Alrez memilih untuk berbaring sejenak untuk megistirahatkan otaknya agar ia bisa berpikir lebih jernih, sekaligus juga menenangkan hati. Hampir satu jam Alrez mencoba tidur, tetapi entah kenapa tidak bisa, sedari tadi ia lakukan hanya bolak balik badan.
"Sial aku gak bisa tidur kalau gak peluk kamu sayang." Alrez terpaksa harus beranjak dari tempat tidur dan pergi keluar kamar menghampiri istrinya yang berada di kamar sebelah.
Alrez membuka pintu pelan, berjalan masuk ke dalam kamar. Ia mendekati ranjang dimana bidadari tengah tertidur pulas, Ia juga bisa melihat bekas air mata di pipi istrinya.
Perlahan Alrez naik ke sisi ranjang sampingnya, Ia peluk istrinya erat, seperti kebiasaan tidurnya saat posisi istrinya membelakangi, Ia pasti akan menciumi harum rambut istrinya supaya bisa ikut terlelap.
***
Tepat pukul 22.00 malam.
Serra terbangun, ketika merasakan perutnya berdemo. Serra masih belum sadar jika ada Alrez di sampingnya, sampai ketika tangan tak sengaja menyentuh lengan suaminya, barulah ia tahu bahwa dirinya tak tidur sendiri.
"Masyaallah tampan suamiku, ternyata kamu udah gak marah lagi sama aku," ungkap Serra sembari tersenyum haru, hingga meneteskan air mata.
"Sayang kenapa nangis?" Tanya Alrez kebangun gara-gara pergerakan Serra.
Serra menggeleng, dan bertanya balik. "Mas gak marah lagikan?"
__ADS_1
"Kenapa Mas harus marah sayang?"
"Itu tadi kenapa Mas diamin aku, kalau bukan marah namanya," ujar Serra menatap suaminya kesal.
"Sudah yang tadi gak usah di bahas, intinya Mas gak marah sama sayang." Pungkasnya.
"Mas aku laper, pengen bakso," ujar Serra mengatakan keinginannya.
"Kamu ngidam sayang. Ayo kita keluar cari bakso!" Ajak Alrez dengan bersemangat.
"Gendong suamiku sayang." Manjanya Serra, tetapi Alrez senang dengan kemanjaan istrinya.
"Mau pakai mobil yang mana?" Tanya Alrez meminta Serra memilih mobil yang terpakir rapi di garasi.
"Gak mau mobil, pengennya naik motor biar bisa peluk Mas," tukas Serra yang langsung mendapat gelengan kepala dari Alrez.
"Engga! Bahaya sayang naik motor malam-malam begini, lagian angin malam juga gak bagus buat bumil. Naik mobil aja ya sayang, biar lebih aman," kata Alrez menolak permintaan Serra.
"Iya terserah Mas aja, cepatan Mas aku udah laper pengen makan baksonya sekarang. Pakai mobil yang bisa keluar dari garasi aja," kata Serra yang langsung menuju mobil tersebut tanpa menunggu persetujuan Alrez.
"Bumil ku! Sabarkan hamba yaallah," ucap Alrez geleng-geleng melihat tingkah istrinya.
Kini mereka terus megitari jalan raya mencari warung bakso, sebab Serra menolak makan bakso di restoran, karena katanya lebih enak di warung atau tidak pedagang kaki lima.
"Mas itu kok mobil dibelakang ngikutin kita ya," ucap Serra ketika melihat ke arah kaca spion.
"Gak apa-apa sayang, itu mobil Tristan bodyguard Mas," beritahu Alrez supaya istrinya tak panik.
"Ngapain ngikutin kita Mas, kita kan cuma cari bakso, buka mau ke tempat rame," kata Serra tidak paham maksud perktaan suaminya.
"Justru itu sayang! Mau kita di tempat rame atau sepi tetap saja Mas harus waspada, kejahatan bisa ada dimana saja kita berada, Mas gak mau ambil resiko terjadi sesuatu sama sayang dan debay." Tangan Alrez satunya kini berpindah mengelus perut Serra yang mulai keliatan buncit sebab sudah berusia 4 bulan.
"Makasih suamiku sayang udah siaga banget!" Ucap Serra menyandarkan kepala dilengan kekar Alrez.
__ADS_1
Akhirnya setelah menempun perjalan selama 15 menit, mereka menemukan satu warung bakso yang masih buka.
Keduanya pun menikmati bakso bersama dengan sedikir candaan yang dilontarkan Alrez pada Serra. Bersama Serra, Alrez merasa menjadi dirinya sendiri dengan menunjukkan sifat aslinya.