
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Sebelum masuk kamar mandi membersihkan diri, Serra pergi ke kamar Alrez lewat pintu terhubung untuk membangunkan pria itu.
“Uncle bangun, udah jam sore.” Serra menggoyangkan lengan Alrez agar pria itu membuka matanya.
“Hem, tolong siapkan keperluan saya,” kata Alrez yang telah bangun dan duduk sebentar merenggangkan otot-otonya.
Serra yang melihat itu bergidik ngeri, bagaimana tidak otot lengan Alrez sangat kekar. Serra meletakan pakaian yang akan digunakan oleh Alrez di atas ranjang.
Serra membuka lemari hotel mengambil gaun yang tadi dibeli untuk ia kenakan ke acara resepsi. Saat hendak berbalik badan tiba-tiba saja ada tangan kekar yang memeluk pinggang rampingnya. Bahkan ia masih menggunakan handuk.
“Uncle! Mau apa uncle kesini,” ucap Serra gugup akibat terkejut dan mundur beberapa langkah kebelakang. Sambil mengeratkan pegangan di handuk agar tak terlepas.
“Saya mau minta pasangkan dasi,” ucap Alrez santai.
“Yaampun, uncle kan bisa tunggu di kamar sendiri. Nanti aku kesana..”
“Hem saya akan tunggu di kamar saja.” Alrez memilih balik ke kamar sebelum pergi ke acara pesta batal.
Serra bernafas sedikit lega setelah kepergian Alrez. Dengan cepat ia memakai gaun dan menata rambutnya sendiri. Tidak lupa merias dirinya sendiri dan make-up tipis, tapi sudah kelihatan cantik.
Serra yang telah siap segera mendatangi kamar Alrez membantu pria pemaksa itu memasang dasi.
__ADS_1
•
Lian Pranadipa cukup kaget melihat Alrez yang pertama kalinya membawa seorang wanita ke pesta. Biasanya Alrez orangnya tidak mau ribet dan akan datang sendiri. Tapi kali ini sang pria workaholic membawa pasangan.
“Selamat Lian atas pernikahan mu,” ucap Alrez bersalaman dengan Lian dan Nismara mempelai wanita.
“Terimakasih bro sudah memenuhi undangan ku. Sepertinya kau juga akan secepat menyusul ya, jangan terlalu lama berpacaran cepat akhiri status kalian dengan menikah, yang halal akan lebih nikmat. Umur kau sudah cukup matang untuk segera berumah tangga,” ucap Lian.
Serra yang mendengar perkataan pengantin pria hanya bisa tersenyum paksa. Tidak dengan Alrez malah tersenyum penuh arti.
“Sebentar lagi kau akan menerima undangan pernikahan saya.”
“Aku menunggunya! Mari kalian nikmat pesta ku ini, bersenang-senanglah.” Ucap Lian menepuk pundak Alrez.
Ternyata pakaian tertutup Serra tak cukup untuk menutupi lekuk tubuh gadisnya.
“Uncle lepasin, aku risih,” protes Serra, karena Alrez malah semakin mengeratkan pelukan tangannya.
“Diamlah! Disini tidak aman banyak pria memperhatikan mu. Saya tidak suka itu,” terang Alrez membuat Serra mengerti mengapa pria pemaksa ini merapatkan badannya.
“Uncle aku lapar,” cicit Serra merasakan perutnya berbunyi minta di isi.
__ADS_1
Alrez membawa Serra duduk di salah satu meja VIP. Serra menjadi lebih lega karena Alrez melepaskan tangannya.
Saat asik menikmati makanan, Alrez di panggil oleh salah satu rekan bisnis juga yang memanggilnya menyuruh bergabung bersama mereka. Sebelum mendatangi mereka Alrez melihat Serra.
“Uncle tenang saja aku tidak papa kok ditinggal. Lagian disini masih banyak orang,” ucap Serra tahu akan ke khawatiran Alrez.
“Baiklah, saya hanya sebentar kesana. Ingat jangan kemana-mana sebelum saya kembali,” pesan Alrez lalu pergi meninggalkan Serra yang masih asik menikmati makanannya.
Minuman di meja yang Serra duduki sudah habis. Serra berniat ingin mengambil minuman, tapi seseorang datang memberikan minuman. Tanpa melihat wajah seseorang itu Serra lantas mengucapkan terima kasih dan menegak minuman itu.
“Pahit.”
...****************...
Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
__ADS_1
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓