
Ini sudah satu minggu Sandra menginap di kediamam Alkavero. Setiap harinya Sandra merasa senang karena bisa bersama Arka dua puluh empat jam. Tapi sayang sore ini ia akan pulang di antar Arka.
Koper dan pakaian Sandra telah di kemas oleh pelayan yang di minta Arka. Kalau tidak seperti itu Sandra tidak akan mau mengemas pakaiannya sendiri.
"Ka, aku mau nginap lagi disini bolehkan? Mami papi aku belum pulang juga, aku engga mau sendirian di rumah." Sandra merayu Arka agar diperbolehkan lagi menginap.
"Tidak Sandra, kau punya rumah. Lagian di rumah banyak pelayan yang akan mememani mu disana," ujar Arka menolak pelan kemauan Sandra. Cukup satu minggu ia tidak bersama istrinya.
"Lain waktu aku bolehkan menginap lagi," ucap Sandra.
Arka tak mengatakan apapun. Arka hanya langsung turun ke bawah saja tidak menunggui Sandra. Sesampai dibawa mama Devita bersidekap dada menatap putranya.
"Apa-apaan ini Arka, jangan bilang kamu menyuruh Sandra pulang," sergah mama Devita.
"Ini sudah satu minggu mah, kemaren janjinya Sandra menginap hanya satu minggu saja dan ini waktunya dia pulang," jelas Arka.
"Arka, mami sama papi Sandra itu belum kembali dari perjalanan bisnis. Kamu tidak kasihan sama Sandra, gimana kalau dia jatuh sakit lagi. Siapa yang akan merawatnya?" Mama Devita bertanya.
"Mama, aku paham. Tapi di rumahnya masih banyak pelayan. Pelayan disana akan membantunya saat sakit untuk menghubungi dokter."
"Mama tetap tidak mengizinkan Sandra pulang. Sebelum mami papinya kembali ke indonesia. Mami papi Sandra sahabat baik papa dan mama ka, jadi mama tak mau terjadi apa-apa sama Sandra," putus mama Devita sepihak.
"Terserah mama lah." Arka melenggang pergi keluar dari rumah dan menaiki motor sportnya mengendarai menuju kontrakan ibu mertuanya.
"Tante kapan datangnya? Perasaan tadi aku kebawah tante belum ada," ucap Sandra bertanya.
"Barusan sekali sayang, tadi setelah menemani papanya Arka meeting tante langsung pulang. Oh ya Clara dimana?" Mama Devita bertanya balik, karena tak melihat keberadaan putrinya.
"Oh itu, tadi Clara keluar sama pacarnya tan," kata Sandra sejujurnya.
"Tadi omongan Arka gausah kamu masukin hati ya sayang."
"Tidak papa tante, aku paham.. Yang di katakan Arka benar tante, sebaiknya aku pulang saja."
"Tante tidak mengizinkan kamu untuk pulang sayang, kamu tetap akan menginap disini sampai papi mami kamu pulang dari perjalanan bisnis. Tante tidak akan biarkan kamu kesepian di rumah kamu sendiri. Anggap saja ini juga rumah kamu, tante senang dengan kehadiran kamu disini."
Mama Devita memeluk Sandra dan mengelus kepalanya. Sandra sudah Devita anggap seperti anaknya sendiri. Padahal Devita sudah merencanakan menjodohkan Arka dan Sandra. Sayangnya Arka malah mencintai gadis kampungan yang bukan menjadi menantu idamannya.
"Kamu istirahat saja di kamar ya. Tante juga mau ke kamar, nanti kita bertemu di meja makan saat makan malam," kata mama Devita tersenyum.
"Yes! Akhirnya gue gak jadi pulang. Senang banget bisa bersama Arka lagi, gue akan ngelakuin sesuatu supaya Arka terikat dengan gue." Sandra merencanakan sesuatu di otak liciknya.
__ADS_1
•
•
Arka memberhentikan motornya depan rumah kontrakan mertuanya. Serra yang mengenali suara motor tersebut segera keluar untuk memastikannya. Dengan wajah berbinar Serra memeluk Arka.
"Kamu pasti mau jemput aku kan, aku udah siap kok. Cuman nunggu ibu pulang dulu gapapakan," ucap Serra yang belum menyadari wajah Arka tampak merasa bersalah.
"Kita ke dalam dulu ya sayang, aku mau bicara," ujar Arka mengajak istrinya masuk ke dalam rumah.
"Mau aku buatkan teh?" tanya Serra menawari suaminya.
"Tidak usah sayang, kamu disini aja aku mau bicara."
"Penting banget ka."
Arka menarik nafas sebelum memulainya, "Sebenarnya Sandra belum pulang sayang, mama meminta tidak pulang sebelum orangtuanya kembali dari perjalanan bisnis," jelasnya.
Serra menatap kearah suaminya sekilas, kemudian beralih kearah lainnya. Itu dilakukan agar menghindari untuk tidak menangis.
"Sayang aku minta maaf." Arka berhadap-hadapan dengan Serra.
"Mengapa minta maaf, kamu tidak salah ka. Kamu tenang aja aku bakal cari alasan sama ibu biar tetap menginap," ujar Serra lembut mengenggam tangan suaminya.
"Ibu pasti mengerti ka, kalau kita memberikan alasan," kekeh Serra.
"Begini saja sayang, bagaimana semantara waktu kamu menginap di apartemen uncle Alrez saja," usul Arka membuat Serra melotot pada suaminya.
"Tidak ka, aku tidak mau," tolak Serra lantang. "Memang kamu rela aku tinggal bersama uncle Alrez?" Tanyanya.
"Untuk semantara saja sayang, hanya satu minggu sayang. Aku pastikan Sandra akan pulang secepatnya." Arka mencoba membujuk istrinya agar mau tinggal semantara waktu di apartemen unclenya.
"Arka-"
"Pleasee... sayang hanya satu minggu, aku tak mau membuat ibu curiga dengan ini. Mau yaa..." Arka menyatukan kedua tangannya, berharap istrinya mau menurutinya.
Serra memalingkan wajahnya, masih tetap kekeh tidak akan mau. Bagaimana bisa Arka segamblang itu menyuruhnya tinggal di apartemen uncle mesum itu. Sungguh apa Arka sudah gila, memintanya tinggal satu atap dengan pria lain. Walaupun ia tahu, bahwa pria itu bukanlah orang lain bagi Arka, tapi baginya uncle Alrez tetap orang lain dan mereka bukan mahrom. Kemarin-kemarin itu hanya keterpaksaan baginya.
"Aku tetap tidak mau ka."
"Sekali ini saja aku mohon." Arka meraih bahu istrinya agar menghadapnya.
__ADS_1
"Baik aku mau, satu minggu. Kalau kamu tidak juga menjemput pulang, maka aku sendiri yang akan pulang kesana," pungkas Serra.
Arka tersenyum, "Aku janji sayang! kalau begitu aku akan menghubungi uncle."
Arka mengeluarkan handphonenya dan kemudian menghubungi Alrez. Hanya dua kali deringan telponnya langsung diangkat.
"Hallo Arka ada apa?" tanya Alrez diseberang telpon.
"Apa uncle sedang di apartemen sekarang?" Arka bertanya balik.
"*Iya, memangnya ada apa. Apa semua baik-baik saja?"
"Semuanya baik uncle, aku mau ke apartemen uncle sekarang. Ada sesuatu yang mau aku bicaranya, tetapi tidak bisa lewat telpon."
"Ya, kamu kesini saja."
"Terimakasih uncle aku akan otw kesana sekarang*."
Tutt..
Arka mengakhiri telpon bertepatan dengan ibu mertuanya datang dari arah pintu masuk.
"Ibu kira kalian sudah pulang, tau masih disini. Pasti nunggui ibu ya," tebak Rida.
"Iyalah buk, masa Fia pulang tanpa pamitan sama ibu. Enggak sopan dong buk," kata Serra.
"Serra benar buk, berhubung ibu sudah disini. Kami berdua mau pamit pulang ya buk."
Arka dan Serra berpamitan dengan Rida dan mencium tangan.Arka menaruh tas Serra di depannya, sebenarnya salah Arka juga malah menggunakan motor sport.
...****************...
Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
__ADS_1
Terimakasih💓