
Selama perjalanan tidak ada pembicaraan. Sesekali mata Arlez merlirik gadis disampingnya yang sedari tadi hanya diam membisu seperti masih merasakan takut. Ya, Arlez lah pria yang menyelamatkan Serra dari ketiga preman yang ingin memperkosanya.
Arlez mengerem mobilnya mendadak dengan sengaja melakukannya agar gadis disampingnya kaget.
“Kenapa berhenti?” Benar saja yang dikatakan Arlez jika Serra akan kaget.
“Sengaja, agar kau tidak diam saja,” pungkas Arlez, membuat Serra menatap bingung dengan perkataan pria disampingnya yang baru di sadari gadis itu ternyata orang yang menyelamatnya adalah uncle dari suaminya.
“Un-cle Arlez,” kata Serra terbata-bata, serta wajah tampak kelihata terkejut mengetahui pria disampingnya ini.
“Baru sadar jika pria itu saya.” Singkatnya.
Serra mengangguk dan menunduk…
“Saya akan turun sebentar untuk membeli air.” Saat ia ingin membuka pintu mobil tangan gadis di sampingnya menahan lengannya.
Arlez tak jadi membuka pintu mobil dan menoleh kesamping, menatap tajam gadis di sampingnya. Pria itu tak mengeluarkan suaranya, menunggu gadis di sampingnya bicara sendiri.
“Eung, eung.. A..aku mau ikut,” ucap Serra takut-takut karna tatapan Arlez sangat menajam.
“Hem.” Arlez segera turun diikuti dengan Serra yang turun juga.
Tangan Serra menenteng paper bag berisi soto dan duduk disebuah bangku panjang dekat dengan orang yang berjualan. Arlez berjalan ke stand penjual, untuk pertama kalinya pria itu membeli air di pedagang kecil. Setelah membayar, Arlez menghampiri Serra dan duduk disamping gadis itu.
“Minum,” titah Arlez.
Serra mengambil air yang disodorkan oleh Arlez, lalu meminumnya.
“Apa yang membuat kau sampai berjalan sendirian dijalan sepi dan kemana Arka kenapa kalian tidak pulang bersama?” Ujar Arlez bertanya.
“Eung, aku tidak pulang bersama Arka. Karna aku dari rumah ibuku, Arka mengatakan akan menjemputku saat akan pulang. Aku menelponnya tetapi tak diangkat, aku chat pun tidak di balas. Aku berpikir mungkin Arka masih latihan basket bersama teman-temannya. Jadi aku memutuskan untuk naik angkot saja, dipertengahan jalan angkot yang aku tumpangi mogok. Aku terpaksa harus menncari angkot yang lain, saat dijalan sepi tiba-tiba ada orang berseru aku melihat sekelilingi tidak ada siapapun jadi aku berpikir kalau orang itu pasti memanggilku dari arah belakang membuatku menoleh, melihat perawakan mereka seperti preman aku berjalan cepat menghindari mereka, tetapi mereka mengejarku.” Cerita Serra panjang lebar. Sedangkan Arlez hanya mendengarkan seksama saja, sekarang pria itu mengerti awal mulanya.
Kruyuk… kryuk…
Serra mengulum senyum geli mendengar suara perut pria dingin di sampingnya. Termyata pria di sampingnya bisa kelaparan juga.
“Ekhem.” Dehemnya.
Serra merubah raut wajahnya mejadi biasa.
“Sudah merasa lebih baik?” Serra mengangguk, memang perasaannya sudah lebih baik.
__ADS_1
“Baguslah! Kita pulang sekarang,” ujar Arlez. Karena perutnya sudah sangat laper ingin memakan makanan yang sedang pria itu inginkan sedari kantor.
Suara perut Arlez kembali berbunyi, membuat mulut Serra sangat gatel ingin bertanya.
“Apa uncle sangat laper?” Tanya Serra yang tidak tahan untuk tak membuka suara.
“Ya, tapi saya bisa menahannya sampai mansion.”
Serra membuka paper bag yang dibawanya dari rumah ibunya, lalu membuka ramtang sampai tercium bau khas soto di hidung Arlez.
“Makanan apa yang kau bawa?”
“Hanya soto buatan ibu, apa uncle mau.”
“Boleh.. Kebetulan sekali saya memang menginginkan makanan itu.” Perkataan pria tanpa sadar membuat Serra kembali mengulas senyum. Di pikiran Serra mungkin pria di samping ini berbeda atau gimana.
Arlez memakan soto dengan lahapnya, gimana tidak lahap. Soto yang dimakannya benar-benar sangat lezat. Sedangkan Serra hanya menatapnya saja tanpa berminat untuk ikutan makan, perutnya masih kenyang.
“Jangan menatap saya seperti itu,” tegur Arlez. Langsung saja Serra menatap kearah lain.
“Apa kau tidak lapar?”
“Aku masih kenyang, uncle makan saja.”
“Tidak uncle, Arka sendiri tidak menyukai soto,” ucap Serra.
Arlez melanjutkan makannya sampai sotonya tidak tersisa sedikipun. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan pulang lagi menuju mansion.
Hening
Tidak ada obrolan lagi seperti saat keduanya masih berada duduk di bangku tadi. Arlez fokus menyetir memandang jalan kedepan. Serra, gadis itu menguap beberapa kali, matanya sangat mengantuk, sampai akhirnya terlelap kepalanya jatuh bersandar di bahu Arlez.
“Cantik.” Guman Arlez tanpa sadar menatap wajah gadis yang bersandar di bahunya dengan mata terpejam, hidungnya mancung, bulu mata lentik, alis yang tebal serta bibir berwarna pink menggoda iman.
Terlintas diotaknya ingin sekali mencium gadis yang tengah terlelap. Tetapi buru-buru ia menyadarkan dirinya sendiri bahwa gadis ini adalah istri keponakannya.
“Sadar Arlez, gadis ini istri keponakanmu,” ucapnya dalam hati.
Ini pertama kalinya Arlez memasukan dan mengijinkan perempuan duduk di dalam mobil kesayangannya. Arlez memang cukup dekat dengan beberapa wanita, tetapi sekalipun pria itu tak pernah memasukan atau mengijinkan wanita-wanita yang dekat dengan pria itu untuk masuk ke dalam mobil kesayangannya.
Arlez merasa keponakannya sangat beruntung mendapatkan istri seperti gadis di sampingnya, cantik, lembut, tulus. Walaupun Arlez tidak mengenalnya terlalu jauh, tetapi ia sudah bisa menilai sendiri tentang gadis di sampingnya.
__ADS_1
.
.
Tinn..tinn
Satpam yang berjaga segera membukakan gerbang saat mendengar suara klakson dari mobil yang dikenali mereka platnya. Satpam mansion Alkavero memang penjagaannya sangat ketat, yang pertama dilihat mereka adalah plat mobil yang akan masuk ke dalam gerbang atau setidaknya orang itu membuka kaca mobil dan memperlihatkan wajahnya.
Mobil Arlez berhenti di dekat pintu mansion. Pria itu turun dari mobil mengitarinya dan membuka pintu sebelah dimana Serra masih tertidur.
“Masukan mobil saya ke garasi.” Perintah Arlez.
“Baik tuan.” Kata salah satu bodyguard.
Tidak tega membangunkannya, Arlez memilih untuk menggendong Serra. Bodyguard membukakan pintu mansion, Arlez melangkah masuk melewati ruang tamu.
Dimana diruang tamu Arka mondar-mandir sedari pulang dari latihan basket tidak menemukan Serra di mansion. Bertanya pada semua orang rumah, jawaban mereka semua sama tidak mengetahui keberadaan Serra. Karena memang Serra belum ada pulang ke mansion. Mata Arka tampak kaget dan senang melihat istrinya dan betanya-tanya mengapa istrinya bisa berada dalam gendongan sang uncle.
“Uncle, istriku kenapa?” Tanya Arka spontan saat melihat sang istri yang berada dalam gendongan unclenya.
“Istrimu baik-baik saja ka, dia hanya sedang tertidur,” jawab Arlez.
“Mengapa Serra bisa bersama denganmu Lez.” Alka menatap adiknya menyelidik.
“Jangan mencurigaiku yang tidak tidak Al. Arka bawalah istrimu ke kamar, setelah itu turun kembali. Saya akan menjelaskan kejadian yang sebenarnya mengapa saya bisa pulang bersama Serra." Arles memindahkan Serra ke dalam gendongan Arka. Arka segera menuju ke atas untuk menidurkan istrinya di ranjang agar tidurnya lebih nyaman.
Arlez memilih duduk di sofa ruang tengah bersama Alka dan Devita. Mereka menunggu Arka turun barulah Arlez akan menjelaskannya.
Terlihat Arka berjalan, menghampiri mereka di ruang tengah. Arka duduk di sofa tunggal.
“Baiklah karna Arka sudah disini sekarang, saya akan menjelaskannya. Saya bertemu Serra di jalan yang sepi, gadis itu diganggu oleh tiga orang preman dan hampir di perkosa. Beruntunglah saya melihatnya dan menolongnya tepat waktu. Jadi itulah alasan mengapa saya bisa bersama istrimu ka.”
Arka mangut-mangut dan mengerti, mengapa istrinya bisa pulang bersama unclenya. Arka juga besyukur tidak terjadi apa-apa dengan istrinya. Lain dengan Devita yang malah berharap jika Serra di perkosa benaran, karna itu akan lebih baik dan memuluskan rencananya yang menginginkan keduanya berpisah.
Tapi takdir tidak semudah itu untuk membuat orang sebaik Serra mengalami kejadian itu. Keberuntungan masih berpihak pada Serra…
***
Bersambung. . .
Jangan lupa tinggalkan jejakt kalian yaitu vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.
__ADS_1
Yuk follow ig author : @dianti2609