YOU'RE MINE, SERRA

YOU'RE MINE, SERRA
Bagian 49


__ADS_3

Serra berjalan sana-sini tak tenang, kadang matanya melihat pintu. Berharap dokter dan suster cepat keluar dari dalam sana.


Alrez baru saja menyelesaikan administrasi dan mampir ke kantin membeli kopi dan le mineral. Alrez yang melihat Serra tak tenang hanya bisa menghela nafas. Sampai dekat Serra, Alrez memegang bahu gadisnya membawa duduk di kursi yang tersedia.


"Duduklah ra, saya yakin ibu mu pasti baik-baik saja." Serra menatap mata Alrez masih berlinang air mata.


"Udah jangan nangis lagi. Ini minum dulu." Alrez menghapus air mata Serra dan memberikan le mineral yang telah dibuka tutupnya pada gadisnya agar segera diminum.


Serra langsung meminum airnya, "Makasih uncle! Oh ya uncle kalau mau pulang, pulamg aja. Aku gak papa kok sendiri aja. Aku ngerti uncle besok harus kerja."


"Kantor saya bisa di urus Angga. Sekarang kamu yang terpenting bagi saya," kata Alrez membuat Serra bingung maksud perkataannya.


"Maksud uncle?" tanyanya.


"Ya, maksud saya. saya tak bisa membiarkan mu sendirian. Apalagi Arka tidak ada bersama mu saat ini," ujar Alrez.


Tak lama kemudian pintu ruang operasi keluarlah dokter yang menangani ibunya. Segera Serra berdiri menghampiri dokter.


"Bagaimana keadaan ibu saya dok?" tanya Serra.


"Operasi ibu anda berjalan lancar! Tapi mohon maaf saya harus menyampaikan ini, ibu anda mengalami benturan sangat keras di dekat matanya, kemungkinan besar akan mengalami kebutaan. Tetapi kita belum bisa memastikan sebelum perban di matanya di buka." Mendengar kalimat pertama dokter membuat Serra bersyukur operasi ibunya berjalan lancar. Lanjutan dari kalimat dokter membuat Serra membekap mulutnya, rasanya tulangnya sangat lemas sekali hampir jatuh karena tak mampu menopang tubuhnya kalau saja Alrez yang berada di belakang menahannya.


"Apa kami bisa menjenguk pasien?" Kali ini Alrez bertanya mengetahui gadisnya menyembunyikan isakan di dada bidangnya.


"Pasien akan segera kami pindahkan ke ruang rawat agar kalian bisa menjenguknya," ujar Dokter.


"Pindahkan ke ruang VIP saja," kata Alrez membawa Serra duduk kembali.


"I-ibu hiks engga mungkin buta." tangis Serra sampai cegukan.


Alrez hanya bisa mengelus kepala Serra yang masih bersandar di dada bidangnya. Brankar Rida di dorong oleh suster untuk di bawa ke ruang rawat. Alrez merangkul Serra membantu yang masih lemas.


"Ra sebaiknya kamu istirahat ya. Sudah larut malam," ucap Alrez menyuruh gadisnya berbaring di sofa panjang.


Serra mengangguk, matanya mengitari ruang rawat, dimana hanya ada satu sofa panjang.


"Uncle disitu hanya ada satu sofa panjang, kalau aku berbaring disana. Dimana uncle akan tidur?"


"Kamu bisa tidur dengan berbantalkan paha saya, biar saya tidur sambil duduk," usul Alrez


Serra menggeleng, "Saat terbangun besok paginya badan uncle bisa sakit semua. Mending uncle saja tidur di sofa dan aku tidur duduk saja." tukasnya menolak.

__ADS_1


"Begini saja kita sama-sama tidur sambil duduk," kata Alrez mencari jalan tengahnya.


Serra mengangguk menyetujuinya.




Suster datang membuka tirai jendela, cahaya sinar matahari tepat mengenai wajah Alrez. Sehingga membuat mata pria itu berkedip-kedip membukanya perlahan, saat ingin mengucek matanya. Tangannya sebelah kiri terasa berat digerakan, ketika melirik disebelah gadisnya masih nyenyak tertidur bahkan lengan di peluk menjadi bantalan.


"Cantik!" Senyuman Alrez terbit melihat wajah gadisnya.


"Eung tuan maaf menganggu, saya mau menginformasik perbannya akan di buka setelah pasien sadar. Nanti dokter akan datang ke ruangan untuk melakukan pemeriksaan, sekaligus melepaskan perban," ucap suster bicara pelan.


Alrez hanya mengangguk saja menanggapinya.


"Saya pamit tuan.." Susterkeluar meninggalkan ruangan.


Setelah kepergian suster tersebut. Alrez mengambil handphonenya di kantong celananya. Alrez mengarahkan kamera handphone ke wajah Serra memfoto gadisnya.


Alrez mengirimkan pesan pada Angga untuk membawakan pakaian gantinya ke rumah sakit. Alrez perlahan memindahkan kepala Serra pada bantalan sofa. Serra menggeliat, tangan kembali memeluk lengan Alrez.


"Apa lengan ku segitu nyamannya, hingga sulit bagimu melepaskannya sayang." Alrez mengusap puncak kepala Serra. Menatap wajah Serra yang tidak akan pernah membuatnya bosan.


Suara ketukan pintu menyadarkannya, perlahan Alrez melepaskan tangan Serra pada lengannya. Alrez membukakan pintu, ternyata Angga-lah yang datang menyerahkan paper bag berisi pakaian kerja.


"Tuan ini pakaian kerja anda," ucap Angga.


"Hem, Angga saya akan sedikit terlambat datang ke kantor. Jadi kantor kau yang handle," kata Alrez.


Angga mengangguk, "Tuan mengapa bisa berada di rumah sakit, siapa yang sakit tuan? Maaf jika saya lancang menanyakan ini."


Alrez tak marah, pria itu malah membuka lebar pintu rawat agar Angga bisa melihat seseorang yang terbaring di tempat tidur.


"Dia ibunya Serra.. Ibunya baru saja mengalami kecelakaan tabrak lari," tukas Alrez.


"Apa pelakunya sudah di tangkap tuan?" tanya Angga.


"Belum... Kebetulan kau menanyakan perihal ini, membuat saya kepikiran untuk mencari pelaku yang berani-beraninya tidak bertanggung jawab. Tugas mu minta bodyguard kita mencari pelakunya, seret langsung ke kantor polisi. Pastikan pelaku tak akan bebas," perintah Alrez.


"Tenang saja tuan, saya akan mengerahkan beberapa bodyguard kita mencarinya. Saya pastikan besok pelakunya sudah ada di penjara," ujar Angga.

__ADS_1


"Bagus, saya percayakan ini pada kau Angga." Alrez menepuk bahu Angga.


"Ya, tuan.. Jika tidak ada yang anda butuhkan saya pamit langsung ke kantor."


Alrez menggeleng, Angga lantar pergi menjauhi ruang rawat. Setelah Angga tak terlihat lagi, Alrez menutup pintu, lantas masuk ke kamar mandi membersihkan diri.


"Ha-haus, uhuk uhuk..." ucap Rida sampai terbatuk-batuk. Merasa bahwa mata tak bisa terbuka, tangan meraba matanya dimana keduanya tertutup perban.


"Ha-haus!" Rida merasa tidak ada satupun orang meresponnya. Rida mencoba meraba-raba sekitar hingga menyentuh benda yang di yakininya adalah gelas. Tangannya yang tidak kuat menggenggam gelas membuatnya terlepas dan jatuh di lantai, hingga menimbulkan bunyi nyaring.


PRANG!!!


Serra terperanjat dan mata terbuka. Serra belum sepenuh sadar, gadis itu masih mengumpulkan nyawanya dan tidak menyadari Ibunya sudah sadar.


"Ha-haus, teng-tenggorokan k-ku kee..ring se-kali." Rida kembali bersuara, membuat Serra akhirnya sadar.


"IBU!" Serra lantas berdiri mendekati tempat tidur ibunya.


"Aku senang ibu telah siuman," ucap Serra, saking senangnya ia meneteskan air mata.


"Ha-haus..."


"Ibu haus, aku akan mengambilkan minum." Serra berjalan mengambilkan air untuk ibunya.


Rumah sakit Ibunya dirawat adalah rumah sakit elit, memiliki fasilitas lengkap, Sehingga setiap kamar rawat VIP memiliki dispenser sendiri dalam kamar untuk memudahkan pasien saat haus.


"Pelan aja ya bu minumnya," ucap Serra membantu Ibunya duduk serta meminumkan airnya.


"Nak mengapa mata ibu di perban?" Tanya Rida.


Serra bingung mau menjelaskan darimana. Menjadi terselamatkan saat kedatangan dokter dan dua suster dibelakangnya.


...****************...


Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!


Follow ig aku yuk guys : @dianti2609


Bersambung. . .


Follow juga ya!!

__ADS_1


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓


__ADS_2