YOU'RE MINE, SERRA

YOU'RE MINE, SERRA
Bagian 21


__ADS_3

“Tuan ini obatnya.” Angga seperti pria bodoh menatap kedua insan yang saling bertatapan mesra dengan wajah tanpa jarak.


“Maaf tuan saya menganggu.” Angga meletakan obat di sembarang tempat, melangkah keluar menuju lantai bawah.


Serra menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Dia merasa sangat malu dan takut orang itu berpikiran tidak baik tentangnya.


“Dia sudah pergi, bangunlah. Kau harus makan, lalu minum obat dan beristirahat kembali,” ujar Arlez yang sudah berdiri menatap gadis yang masih berbaring diranjang menutupi wajahnya.


Serra perlahan membuka matanya, mencoba bangun dari tempat tidur.


“Eung, aku mau menginap dirumah ibu,” ujar Serra takut-takut mengatakannya. Bersama Arlez membuat gadis itu sedikit takut jika bicara berhadapan dengan pria tersebut.


“Saya tidak mengizinkan..” tolak Arlez.


“Aku tidak perlu izin uncle, aku hanya memberitahu saja. Aku bisa sendiri ke rumah ibu,” lantang Serra langsung pergi menuruni tangga untuk segera keluar dari tempat pria dingin yang berdiri tepat berhadapan dengannya. Cukup sudah ia bicara baik-baik tetapi pria di hadapannya berlaku seenaknya. Memang siapa dia?Melarang-larangnya menginap di rumah ibunya.


“Gadis keras kepala..” decak Arlez emosi.


Arlez keluar dari kamarnya menutup pintu dengan kencang. Menuruni tangga dengan menggeram marah. Belum sampai tangan Serra memegang ganggang pintu. Lengannya di tarik oleh Arlez hingga tubuh berbalik menabrak dada bidang Arlez.


Angga hanya membiarkan keduanya dan menatap seperti sedang menonton sebuah drama live dalam sinetron


“Uncle lepasin aku mau pulang,” lirih Serra matanya berkaca-kaca menatap pria di depannya penuh permohonan.


“Tidak Serra, saya tetap tak mengizinkannya,” ujar Arlez menggelengan kepalanya.


“Tapi mengapa uncle? Aku juga sudah memberitahu Arka aku akan menginap di rumah ibu. Aku tidak mau disini nanti akan jadi fitnah,” jelas Serra.


“Apa kau mau ibumu melihat dahi mu yang di perban dan membuatnya khawatir hah! Fitnah? Ini apartemen Serra tidak akan ada orang yang bicara tidak baik tentang kita.”

__ADS_1


Arlez membawa Serra ke balkon apartemen, menggeser pintunya.


“Lihatlah ke bawah,” seru Arlez.


Serra menatap ke bawah, setelah melihat kebawah gadis itu merasa takut. Tanpa sadar memeluk Arlez yang berada didekatnya dan memejamkan matanya ketakutan. Gadis itu takut dengan ketinggian.


“Uncle bawa aku masuk,” ujar Serra bicara dengan mata terpejam.


Arlez mengangkat tubuh Serra ke dalam gendongannya dan membawa masuk ke dalam. Arlez tersenyum melihat mata gadis di gendongan terpejam, baru saja pria itu mengetahui bahwa gadis digendongannya phobia dengan ketinggian.


“Angga minta pelayan membereskan kamar saya. Ingat pelayannya harus laki-laki,” perintah Arlez pada Angga yang masih berada di apartemennya tengah duduk di sofa.


Angga mengangguk, langsung menghubungi petugas kebersihan agar datang ke unit apartemen paling atas. Sedangkan Arlez membawa Serra ke dapur dan mendudukan gadis itu di kursi.


Serra masih menutup matanya untuk menghilangkan rasa takutnya.


“Bukalah mata mu, kita sudah berada di dalam,” ujar Arlez menyuruh Serra membuka matanya.


“Sekarang makanlah!” Serra mengangguk patuh seperti anak kecil dan menurut tak membantah sama sekali. Bahkan dirinya yang tadi ingin pulang, pikiran itu hilang begitu saja.


Arlez duduk di samping Serra, melihat cara gadis itu makan.


“Uncle tidak makan?” Tanya Serra menatap pria disampingnya.


“Saya masih kenyang,” jawab Arlez padahal dirinya belum ada makan.


Kryuukk.. kryuuk..


Serra mengeryitkan dahinya mendengar suara perut pria di sampingnya, yang tadi barusan mengatakan masih kenyang. Tetapi tidak dengan perutnya tak bisa berbohong.

__ADS_1


“Uncle bohong ya, itu perutnya bunyi-bunyi,” ucap Serra tersenyum geli menunjuk perut Arlez yang sedari tadi berbunyi.


Arlez menggaruk kepalanya tak gatal, akibat ketahuan bahwa dia belum makan.


“Saya bisa menahannya,” ucapnya.


“Uncle makanlah bersama, ini makanan juga tidak akan habis aku makan sendiri,” tukas Serra.


“Tapi saya tidak suka makanan itu..”


Serra menatap heran Arlez. Bukannya semua ini pria di sampingnya yang membeli, mengapa pria disampingnya mengatakan tidak suka.


“Bukan saya yang membelinya, tapi Angga asissten saya. Saya memang tidak menyukai makanan itu, jadi kamu saja yang memakannya,” kata Arlez seperti mengetahui isi pikiran gadis di sampingnya hanya dengan tatapan saja.


“Emm, kalau begitu nanti setelah aku selesai makan. Biar aku masakin uncle nasi goreng udang mau?” Ujar Serra bertanya pada Arlez apakah pria itu menyukai makanan tersebut, jika tidak ia bisa memasak makanan yang di inginkan pria itu.


“Saya mau... tapi meminta kau untuk memasakan untuk saya sepertinya tidak usah. Setelah selesai makan sebaiknya kau minum obat dan beristirahat dikamar...”


“Tidak, aku tidak akan istirahat sebelum uncle juga makan,” sanggah Serra menolak perintah Arlez.


“Memangnya kau kuat untuk memasak?” Tanya Arlez menatap dalam mata gadis disampingnya.


“Aku baik-baik saja uncle, kalau tidak kuat pasti aku akan mengatakan tidak memaksakan kehendak ku sendiri,” jawab Serra.


“Baiklah terserah kau saja gadis keras kepala. Saya akan membantu memasak. Tidak ada penolakan atau kau tidak usah memasak saja sekalian itu lebih baik,” putus Arlez.


Di sofa Angga yang mendengar obrolan keduanya senyam-senyum tidak jelas daritadi. Hingga suara bel apartemen membuat tersadar dan berdiri untuk membukakan pintu.


“Bersihkan kamar tuan saya tanpa menyentuh barang yang tidak harus dibersihkan,” titah Angga memberitahu petugas kebersihan.

__ADS_1


Petugas kebersihan itu mengangguk, setelah masuk langsung menaiki anak tangga menuju ke lantai atas di mana kamar yang harus ia bersihkan.


****


__ADS_2