
Mobil BMW yang digunakan Arlez berhenti di halaman sekolah. Pria itu sengaja tak keluar dalam mobil saat melihat susana sekolahan yang masih ramai para siswa/i ada yang masih berkeliaran.
Mata Arlez menangkap sosok gadis yang dicintainya berjalan bersama teman sebayanya menuju ke parkiran.
Setelah merasa sekolah agak sepi, Arlez keluar dari dalam mobilnya dengan kacamata hitam bertengger di hidung mancung miliknya. Tangan dimasukan ke dalam kantong celananya, melangkah penuh berwibawa menuju ruangan kepala sekolah yang telah di kosongkan.
"Silahkan masuk tuan," ucap Rahman selaku guru yang sudah ditugaskan menyambut kedatangan Arlez anak dari pemilik sekolah yang datang berkunjung.
Rahman juga tahu bahwa tuan Arlez bukan hanya sekedar berkunjung, tetapi ada maksud lainnya hingga rela mendatangi sekolahan.
"Panggilkan guru yang sudah menghukum Serra Alifiana sampai berpanas-panasan," perintah Arlez.
"Baik tuan, saya akan panggilkan ibu Kartika di ruang guru," jawab Rahman melangkah pergi ke ruang khusus guru untuk memanggil orangnya.
Arlez menunggu kedatangan guru yang sudah berani menghukum gadisnya. Seorang wanita sedari tadi mendengarkan percakapan mereka lantas berjalan cepat menuju ruang guru untuk memberitahukan yang barusan didengarkannya.
Ibu guru bernama Siska memasuki ruangan khusus guru dengan nafas terengeh-engeh. Bu Siska menghampiri meja teman sejawatnya.
"Bu tika, bu tika..." seru bu Siska.
Ibu Kartika yang asik berkaca di cermin bedaknya menjadi terganggu karena kehadiran teman sejawatnya.
"Ada apa bu Siska?" tanya bu Kartika tanpa melirik temam sejawatnya.
"Gawat bu, ini gawat banget!" seru bu Siska panik, yang malah dibalas santai oleh bu Kartika yang masih asik dengan acara berkacanya.
"Gawat kenapa bu? coba jelaskan dengan tenang ada apa sebenarnua bu.. Bukannya tadi bu Siska sudah mau pulang dan ini kenapa balik lagi," kata bu Siska menatap penuh keanehan pada temam sejawatnya.
"Tadi saya tidak sengaja mendengar percakapan pak Rahman sama anak pemilik sekolah. Anak pemilik sekolah memcari bu Tika dan meminta pak Rahman memanggil bu Tika untuk ke ruang kepala sekolan-"
__ADS_1
"Benarkan begitu bu Siska... Oh aku senang sekali mendengarnya bu Siska, sudah lama sekali aku memiliki perasaan sama anak pemilik sekolah ini, aku juga tahu bahwa anak pemilik sekolah yang nomor 2 itu belum menikah alias masih single," potong Bu Kartika berbicara panjang kali lebar dengan wajah penuh kebahagian.
Ibu Kartika lantas berdiri dari mejanya, tangannya memegang bahu bu Siska..
"Terimakasih bu Siska telah memberitahu ku, aku akan segera kesana.."
"Tapi bu..." cegah bu Siska keburu pak Rahman datang, memasuki ruang guru.
"Maaf mengganggu waktunya bu Siska dan bu Tika," kata pak Rahman sopan dan tersenyum ramah.
"Begini bu Tika dipanggil tuan Arlez untuk mendatanginya diruang kepala sekolah sekarag juga," ucap pak Rahman menyampaikan perintah.
Ibu Kartika tersenyum, "Dengan senang hati saya akan kesana sekaranb juga..."
Tidak dengan bu Siska yang merasa kasihan dengan teman sejawatnya yang tidak mau mendengarkan yang mau diberitahukannya dan malah memotong kalimat begitu saja. Bu Siska aknirnya memilih untuk diam saja tak bisa berbuat apapun, ia hanya bisa berdoa agar teman sejawatnya dalam keadaan baik-baik saja.
"Permisi tuan," kata bu Kartika membuka pinti ruang kepala sekolah sepelan mungkin.
BRAK!
Arlez mengeplak meja dengan keras saat bu Kartika telah berada tepat berhadapan dengannya dan hanya terhalang meja. Ibu Kartika memejamkan matanya, menjadi kaget setengah mati...
"Apa maksud anda menghukum Serra? Berani sekali anda melakukannya," hardik Arlez..
"Saya tidak paham maksud tuan-"
"Jangan pura-pura tidak tahu, apa yang maksud..."
"Sa-saya menghukum gadis kampung itu memang sudah benar tuan. Gadis itu datang terlambat ke sekolah dan seharusnya gadis kampung itu paham tentanb posisi yang hanya anak beasiswa tapi berani sekali datang terlambat. Menurut saha gadis kampung itu seharusnya dikeluarkan saja dari sekolahan ini.."
__ADS_1
Bu Kartika yang awalnya ketakutkan menjadi sangat berani memgatai muridnya gadis kampungan.
Arlez menyeringai dan menatap menyeramkan pada Ibu Kartika. Arlez berdiri tepat di samping bu Kartika, tangan menarik rambut bu Kartika ke belakang sehingga mendongak.
"Sakitthh tuan, lepashhkan..." rintih bu Kartika kesakitan.
"Berani sekali mulut jahat kau mengatai gadisku, bukan gadisku yang harus pergi meminggalkan sekolah ini. Tapi kau!!!"
Arlez melepaskan tangannya di rambut bu Kartikan dan mendorong wanita itu hingga dahinya tepentok. Wanita mencoba berdiri, dan sedikit berlari kearah pintu ingin membuka tapi tak bisa.
"Mencoba kabur! Oh kasihan sekali tidak bisa keluar.."
Suara Alrez sangat menakutkan bagi bu Kartika. Padahal tadinya wanita itu merasa sangat senang sekali karena akan bertemu dengan pujaan hatinya. Tetapi sekarang malah berbalik, wanita itu berharap agar segera keluar dari ruangan kepala sekolah yang sudah seperti neraka baginya.
"Mulai sekarang kau tidak menjadi guru lagi disini," tegas Alrez.
"Mohon jangan pecat saya tuan, saya janji tidak akan menghukum Serra lagi." Bu Kartika berlutut memegang kaki Arlez.
Arlez melepaskan kasar tangan wanita tersebut dan pergi meninggalkan ruangan kepala sekolah dengan kepuasan.
Sedangkan bu Kartika mengepalkan tangannya erat, giginya bergeletuk memahan emosi dan kekesalan atas perlakuan Arlez. Bu Kartika bangun dan melangkan keluar dengan rambut acak-acakan dan penampilan tidal serapi tadi pada saat memasuki ruangan kepala sekolah.
...****************...
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
__ADS_1
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓