
Selama perjalanan menuju sekolah hanya ada keheningan dalam mobil. Serra menatap jalanan dari kaca pintu mobil, pagi ini lalu lintas terlihat ramai dengan orang-orang yang berangkat kerja dan mengatar anak mereka ke sekolah.
Arlez melirik gadisnya yang tidak menatap kearah sedari tadi. Sebuah ide muncul di kepala Arlez saat melihat dua kotak bekal makanan ada dalam kresek. Arlez yakin bahwa gadisnya membawa bekal ke sekolah. Perutnya tiba-tiba merasa lapar melihatnya.
“Ekhem!” Arlez berdehehm ingin mengalihkan perhatian Serra agar melihat kearahnya.
“Saya lapar, tadi pagi tak sempat sarapan. Apa kau membawa bekal?” Serra mengangguk dan menunjukkan kresek berisi dua toples bekal makanan yang berada dipangkuan.
Arlez memberhentikan mobil dipinggir jalan, lalu meremas perut agar Serra percaya bahwa ia sedang lapar. Padahal tadi pagi pria itu sudah sarapan roti tawar dan kopi.
“Perut saya terasa nyeri, sepertinya maag saya kambuh,” kata Arlez.
“Yaampun uncle mengapa tidak sarapan?” Tanya Serra panik melihat Arlez yang menahan sakit.
“Lidah saya terbiasa dengan masakan mu. Makanan-makanan yang dipesankan Angga tidak bisa membuat saya berselera untuk menikmatinya,” tukas Arlez.
Memang benar nafsu makan Arlez sedikit berkurang ketika mencicipi makanan yang bukan masakan dari tangan Serra. Setiap hari makanan yang dipesan oleh asisstennya, paling hanya dicicipinya saja.
Serra mengambil satu kotak makanan yang memang khusus bekal untuk dirinya, lalu membuka tutupnya.
__ADS_1
“Tidak usah ra, saya tahu bekal itu buat mu dan Arka. Nanti saja saya sarapan setelah mengantarmu,” cegah Arlez memegang tangan Serra agar menutup kembali toples makanan. Arlez juga menjalankan mobilnya setelah sempat berhenti beberapa menit.
“Enggak masalah uncle, bekal makan ku buat uncle saja. Nanti aku bisa beli makanan dikantin kalau lapar. Aku juga udah sarapan dirumah,” kata Serra tak mempersalahakn jika harus berbagai bekal makanan.
“Serius? tidak papa bekal makanan mu buat saya.”Arlez bertanya dengan mata kedepan fokus menyetir.
“Tentu uncle, aku ikhlas. Daripada uncle sakit lagi, mau memangnya diinfus tangannya.”
Kepala Arlez menggeleng, tubuh pria itu bergidik ngeri mendengar nama infus rasanya badannya lemas. Bagaimana jika orang-orang mengetahui seorang Arlezivanno Eldrick Xander, pria tampan dengan sejuta pesona dan memiliki sifat arogan, dingin, datar, kejam. Takut pada benda bernama jarum. Pasti semua orang langsung tertawa heboh dan membicarakan sampai masuk berita headline news. Membayangkan saja sudah sangat memalukan apalagi jika benaran terjadi.
“Kalau gitu uncle makan.” Serra menyodorkan sendok kedekat bibir uncle Arlez yang langsung diterima pria itu. Terus menyuapinya hingga makanan kotak bekal habis tak tersisa.
Mobil Arlez berhenti depan gerbang yang telah ditutup oleh satpam. Serra menghembuskan nafas menatap gerbang sekolah yang telah ditutup, melirik jam di handphone menunjukkan pukul delapan, pantas saja sudah sangat terlambat.
“Jangan membolos, masih ada cara agar kau diperbolehkan masuk,” tutur Arlez.
Serra menggeleng, “Peraturan disekolah ini sangat ketat. Terlambat beberapa menit saja sudah tidak boleh masuk. Apalagi aku yang terlambat 30 menit, mencari jalan pintas juga akan percuma...” jelasnya.
Mengapa Serra bisa bilang mencari jalan pintas akan percuma? Itu karena sekolah elit ‘Xander High School International’ tidak memilik jalan pintas atau bisa disebut jalan tikus.
__ADS_1
“Hei? Siapa bilang kita akan mencari jalan pintas,” kata Arlez menurunkan kaca mobilnya.
“Pak buka gerbangnya,” titah Arlez memerintahkan satpam sekolah agar membuka gerbangnya.
“Baik tuan.” Satpam mengenal wajah Arlez anak pemilik sekolah, lantas segera membukakan gerbang.
Sekarang Arlez memakirkan mobilnya. Serra tidak heran melihat tingkah Arlez yang suka memerintah.
“Ayo turun, saya antar ke kelas,” ajak Arlez.
“Biar aku sendiri yang masuk. Lebih baik uncle ke kantor aja,” kata Serra tak mau uncle Arlez mengantarnya ke kelas, yang dimana nanti akan menimbulkan gosip aneh-aneh tentangnya. Ia tidak mau merusak reputasi uncle Arlez.
Arlez mengalah dan membiarkan Serra turun dari mobilnya dan berjalan dilorong sendirian menuju kelas. Arlez menjalankan mobilnya menuju kantor.
...****************...
Bersambung. . .
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.
__ADS_1
Yuk follow ig author : @dianti2609
Terimakasih ❤