YOU'RE MINE, SERRA

YOU'RE MINE, SERRA
Bagian 8


__ADS_3

Selama perjalanan menuju ke sekolah Serra yang berada di kursi penumpang belakang, hanya mampu mendengarkan obrolan kakak beradik tersebut dan enggan untuk ikut menimbrung.


Serra mengerti adik iparnya terlihat tidak menyukainya. Berangkat sekolah pun dia harus mengalah duduk dibelakang dan membiarkan adik iparnya mengambil tempatnya yaitu duduk didepan bersama suaminya.


Merasa bosan Serra memandang jalan raya yang ramai orang-orang berangkat kerja dan pergi kesekolah, ada juga yang berjualan. Melihat orang yang berjualan Serra jadi mengingat ibunya. Sudah satu minggu lamanya gadis itu tidak mengunjungi ibunya.


“Ka,” panggil Serra pada Arka yang tengah mengemudi mobil.


“Iya sayang, kenapa?” ucap Arka dan bertanya balik dengan pandangan fokus menyetir melihat kedepan.


“Aku mau ijin ke rumah ibu nanti setelah pulang sekolah. Boleh tidak?”


“Boleh dong sayang, perlu aku antar,” ujar Arka menawarkan untuk mengantar istrinya.


“Memangnya kamu tidak sibuk ka.”


“Sepertinya tidak sayang.”


“Bukannya hari abang ada latihan basket ya. Seminggu lagikan abang mau tanding sama sekolahan lain.” Celetuk Liora.


“Benarkah dek! Abang kok lupa ya kalau hari ini latihan. Memangnya adek tahu darimana kalau hari ini abang latihan?” Tanya Arka menyelidik menatap sang adik.


“Oh itu, Lio tau dari kak Farel, bang.” Jawab Liora, gadis itu memang mengatakan yang benar. Tidak ada kebohongan.


“Bentar dek, abang mau liat info digrup basket.” Arka mengambil handphone di saku celananya dan membaca isi pesan Farel di grup chat, benar saja memang hari ini dia ada latihan.


“Ada kan bang?”


“Iya ada dek. Hampir saja abang lupa dengan hari ini,” katanya.


Arka menatap wajah Serra melalui kaca spion dalam mobilnya, tampak wajah sang istri kelihatan murung.


“Sayang aku minta maaf ya, engga bisa nemani kamu ke rumah ibu. Kamu kabarin aku pulang dari rumah ibu, biar nanti aku jemput,” ujar Arka.


“Oke, nanti aku kabari saat mau pulang.”


.


.


Xander High School International (XHSI)


Mobil Arka berhenti di parkiran yang memang dikhususkan untuknya. Seluruh penjuru sekolah yang melihat mobil tidak asing bagi mereka langsung berkumpul untuk sekedar melihat most wanted sekolah Xander, sekaligus cucu dari pemilik sekolahan Xander untuk turun.


Sedangkan di dalam mobil Serra tersadar kalau mobil Arka telah terpakir di sekolah.


“Ka kenapa tidak menurunkan ku di halte,” ujar Serra bingung dan takut melihat sekumpulan siswa/i yang diketahui menunggu Arka keluar dari mobil.

__ADS_1


“Sengaja sayang.. Nanti kalau kamu ditanya cari saja alasan yang masuk akal menurut mu,” ucap Arka senak jidat. Ingin sekali rasa Serra menggelamkan suaminya itu.


“Yaampun Arka, kamu tidak lihat para fans-fans kamu tengah bersiap menunggu kamu keluar. Aku takut mereka menyerangku,” kata Serra bergidik ngeri menghayalkan bahwa para cewek-cewek disana menyerangnya.


“Ya bagus dong, aku malah mendukung mereka menyerangmu,” timpal Liora berharap bahwa itu benar-benar terjadi.


“Cukup Liora! Sekarang kamu keluar duluan. Abang ingin bicara berdua dengan Serra,” titah Arka menyuruh sang adik untuk keluar meninggalkan mereka berdua.


Liora langsung turun begitu saja meninggalkan kedua orang dalam mobil dan menutup pintunya dengan kencang hinggap menimbulkan suara nyaring.


BLAM!!!


Arka hanya bisa menghela nafas dengan kelakuan sang adik, jika sedang marah.


“Ka aku rasanya engga mau turun,” ujar Serra menatap Arka memelas.


“Kamu mau mati berada dimobil selama jam pulang sayang,” tukas Arka.


“Ya gak selama itu juga sayang. Nanti kalau mereka udah enggak berkumpul rame-rame seperti itu. Baru deh aku keluar.” Serra dibuat kesal dengan perkataan Arka.


“Maaf sayang aku cuma bercanda kok tadi.”


Ketika Arka ingin membuka pintu tangan Serra dengan cekatan memegan lengannya.


“Kamu mau ninggalin aku sendirian dalam mobil.”


“Yasudah kamu tunggu di mobil dulu ya.” Serra mengangguk menuruti perkataan Arka.


Arka keluar dari dalam mobil. Membuat semua siswi berteriak melihat most wanted sekolahan mereka.


“Kak Arka ganteng banget!”


“Emang keturunan Xander gaada yang gagal”


“Seminggu engga masuk sekolah Arka makin ganteng aja ya guys.”


Begitulah teriak-teriakan para fans Arka. Ketika melihat most wanted mereka masuk sekolah setelah satu minggu lamanya tidak masuk, tidak diketahui karena apa? Teman-teman Arka pun tidak ada yang tahu soal pernikahannya.


“Kalian semua sudah puas melihat gue berada disini, jadi gue minta kalian semua untuk bubar sekarang juga dan masuk ke kelas kalian masing-masing. Jika sampai gue melihat ada salah satu dari kalian yang masih bekeliaran diluar kelas. Siapkan saja diri kalian untuk menerima hukuman.” Teriak Arka sarkas meminta siswa/i untuk mengosongkan kumpulan dan masuk kedalam kelas mereka masing-masing.


Siswa/i berbondong-bondong meninggalkan tempat mereka dan segera masuk kelas masing-masing sesuai perintah Arka.


Arka kembali ke mobil untuk memberitahu Serra...


“Sayang ayo keluar,” ucap Arka membukakan pintu mobil untuk Serra.


“Apa mereka sudah tidak ada?” Tanya Serra sambil sedikit mengintip, tapi tak terlalu jelas karena tubuh Arka menghalanginya.

__ADS_1


“Mereka sudah aku bubarkan yank. Ayo keluar buruan, bentar lagi bel bunyi. Kamu bilang ada ulangan dadakan,” ucap Arka. Padahal Serra hanya berbohong jika ada ulangan dadakan, sebenarnya tadi dia mengatakan itu hanya untuk segera pergi ke sekolah dan menghidari tatapan uncle Arlez.


Setelah keluar mereka berjalan saling menjaga jarak, agar tidak ada yang curiga. Keduanya menuju kelas masing-masing. Ya, walaupun mereka satu sekolah, kelas mereka berbeda, semuanya sudah diatur oleh Devita mama Arka.


Serra langsung masuk ke dalam kelas XII IPS 2, dimana kelasnya dan Arka bersebelahan. Arka ada dikelas XII IPS 1. Ternyata kelasnya sudah sangat rame, Serra melangkah menuju mejanya dan mendudukan pantatnya dibangku sebelah sahabatnya yaitu Rachel.


“Pagi Rachel,” sapa Serra pada temannya yang asik membersihkan kuku. Tanpa tahu akan kedatangannya.


“Serra! Gue kangen banget sama lo,” teriak Rachel heboh ketika mengetahui orang yang menyapa dan mengejutkannya adalah Serra.


“Rachel lo bisa enggak sehari gak teriak, lama-lama kuping gue budek gara-gara lo,” gerutu Nabila.


“Enggak bisa Bila sayang, karena gue udah kebiasaan kalo lama enggak bertemu sahabat kita ini. Bawaannya pengen teriak kalau ketemu,” sahut Rachel.


“Udah udah kalian jangan berantem dong,” ucap Serra melerai keduanya agar tidak terjadi saling beradu mulut.


“Oh ya Ra, lo kemana aja seminggu enggak masuk sekolah?” Tanya Rachel penasaran, karena tumben sekali sahabatnya yang pintar dan sangat rajin sekolah malah ijin tidak masuk satu minggu.


Serra terdiam sejenak, dia bingung memberikan alasan seperti apa.


“Ra kok lo diam sih, jawab dong. Gue juga penasaran nih, tumben banget sumpah lo enggak masuk selama itu.” Kali ini Nabila yang bicara, ternyata gadis itu juga penasaran.


“Aku nemani ibu dirumah dan gantian ibu masak pesanan orang-orang. Jadi tepaksa harus ijin enggak masuk selama itu,” jawab Serra berbohong, dalam hatinya dia meminta maaf pada ibunya karena sudah mengatakan ibunya sakit.


“Jadi sekarang keadaan ibu lo gimana?” Tanya Nabila.


“Alhamdulillah ibu udah membaik,” jawab Serra kembali.


“Ibu lo enggak dibawa kerumah sakit aja buat priksa dan memastikan keadaan ibu lo udah benar-benar membaik atau tidak,” ujar Rachel.


Serra menggeleng, uang mereka mana cukup untuk berobat kerumah sakit.


Rachel paham bahwa sahabatnya ini tidak memiliki cukup uang untuk pergi kerumah sakit.


“Seharusnya lo cerita ke kita Ra, kita pasti bantu lo. Kitakan sahabat, karena sahabat tidak mungkin membiarkan salah satunya kesusahan dan membiarkan saja tidak mau membantu. Kalau ada apa-apa cerita ke kita Ra, kita pasti akan bantu lo sebisa mungkin,” kata Nabila.


Serra terharu mendengar perkataan Nabilla. Dia sangat bersyukur memiliki sahabat seperti Rachel dan Nabila. Disaat semua orang menjauhinya, karena tidak sederajat dengan mereka. Rachel dan Nabilla malah mengulurkan tangan untuknya dan menawarkan sebuah pertemanan yang akhirnya menjadi persahabatan.


Selama bersahabat dengan keduanya, Serra tidak pernah mendapatkan bullyan ataupun celaan siswa/i sekolah ini. Entalah, mungkin saja mereka mendapat ancaman dari sahabatnya untuk memperlakukannya lebih baik lagi.


****


Bersambung. . .


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.


Yuk follow ig author : @dianti2609

__ADS_1


__ADS_2