
"Kalau mas tidak salah hitung, mas mintanya 12 kamar sayang. Tapi kamar khusus pelayann mas pisah, jadi mereka tidak tinggal serumah sama kita, melainkan di pavilium ada di halaman samping rumah."
Penjelasan Alrez membuat Serra melongo mendengarnya. Kamar pelayan pun harus di pisah, padahal ia juga tak masalah jika pelayan menempati kamar yang ada dalam rumah ini.
"Mengapa harus dipisah segala mas, kamar dalam rumah ini juga banyak ada 12 kamar. Semantara kita cuma tinggal berdua, kalau Ibu mau tinggal disini berarti cuma bertiga, paling kepakai dua kamar. Terus siswa kamarnya buat apa mas? Lima kamar juga udah cukup," tukas Serra.
"Buat keluarga kalau ada yang mau menginap. Yang paling penting persiapan buat anak-anak kita nantinya." Seketika wajah Serra merona mendengar perkataan Alrez.
"Masih belum mas, baru mau nikah juga," ucap Serra menetralkan rona diwajahnya.
"Pengen buat sekarang." Alrez malah semakin menjadi menggoda Serra.
'Plak' tangan Serra memukul lengan Alrez.
"Mas pikiran jorok ish, ingat dosa mas," peringat Serra, lalu meninggalkan Alrez menaiki tangga untuk melihat lantai atas.
"Sayang ngapain naik tangga, ini ada lift loh. Nanti kamu kelelahan," seru Alrez berlari mengejar Serra yang telah jauh berada di atas.
__ADS_1
Serra tak menggubris omongan Alrez, ia tetap melanjutkan langkah kakinya yang sebentar lagi sampai ke lantai atas.
"Lumayan cape juga ternyata, tapi engga papa sekali-kali nguras tenaga," ucap Serra bicara sendiri.
"Tuhkan mas bilang apa, kamu pasti kecapean." Alrez mengeluarkan sapu tangan dalam saku celananya dengan lembut mengelap keringat di dahi Serra.
"Makasih mas," ucap Serra.
"Iya sama sama sayang. Ayo kita lihat ruangan yang akan menjadi kamar pengantin kita." Alrez menarik tangan Serra membawa ke depan pintu kamar.
'Ceklek' Alrez membuka pintu kamarnya, sama seperti kamar-kamar yang lain. Kamar mereka juga kosong tidak ada satupun isinya.
"Gimana menurut kamu rumah ini? Bagus atau masih ada yang kurang dan yang gak kamu suka, bilang sama mas, biar mas minta perbaikan."
Serra membawa jari telunjuknya depan bibir Alrez. "Semua ini sudah lebih dari cukup mas." ucapnya.
Alrez memeluk Serra erat. "Mas tau sayang, kamulah adalah gadis yang tidak suka memilih dan cenderung selalu bersyukur dengan apa yang kamu miliki. Selain cantik, hatimu juga lembut dan tulus. Itulah mengapa mas bisa mencintai mu hanya dengan waktu yang singkat."
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu mas."
Setelah berkeliling-keliling menyusuri setiap ruangan, ternyata rumah mewah mereka ada tiga lantai. Lantai paling atas paling nyaman saat digunakan bersantai di malam hari, menikmati keindahan bulan dan bintang. Bahkan ruangan teater juga tersedia di lantai atas, segitu lengkapnya ruangan rumah mewah ini.
"Sayang kita makan siang dulu, sesudah makan mas antarkan kamu pulang, buat istirahat. Besoknya kita akan pergi ke butik memilih gaun pengantin," ujar Alrez.
"Mas kita makan di kontrakan aja yuk, Ibu kirim pesan ngasih tau aku biar ke kontrakan Ibu udah masakin makanan," kata Serra memberitahu Alrez.
"Ayo sayang." Alrez yang mendengar masakan rumah, tidak buang waktu langsung menyetujuinya. Makanan rumahan adalah favoritnya.
...****************...
To be continue. . .
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.
Yuk follow ig author : @dianti2609
__ADS_1