YOU'RE MINE, SERRA

YOU'RE MINE, SERRA
Bagian 161


__ADS_3

Ketika bangun Alrez tak mendapati Serra di samping nya. Pria itu lantas beranjak dari ranjang, Ia berjalan ke kamar mandi mencari istrinya. Namun istrinya tak ada di sana. Ia memutuskan untuk mencari istri nya di lantai bawah.


Sampai di lantai bawah Alrez mendengar suara Serra yang amat Ia kenali. Serra tengah berada di dapur membantu Bi Lasmi dan Karmila yang sedang memasak sarapan pagi.


"Nyonya biarkan kami saja yang membuat sarapan, nyonya lebih baik duduk di meja makan saja. Saya takut dimarahin tuan, jika tuan melihat nyonya berada di dapur bersama kami," ujar Karmila memohon supaya Serra meninggalkan dapur, tapi Serra enggan untuk beranjak dari sana, bahkan bumil tersebut malah asik momotong sayur-sayuran.


"Nyonya benar yang dikatakan nak Mila, nyonya sebaiknya duduk di meja makan saja, biar kami yang melanjutkan membuat sarapan," imbuh Bi Lasmi.


"Bibi, mba Mila... Tenang saja, Mas Alrez ga akan marahin bibi sama mba, aku akan maju paling depan membela kalian, jadi pleasee biarin aku masak. Ini keinginan bayi aku bi, mba. Baby dalam perut aku lagi pengen buatin sarapan buat papa nya, tanpa di bantu siapapun," jelas Serra memelas agar kedua perempuan berbeda usia di hadapan nya sekarang tak melarang dirinya memasak.


"Sayang, kamu disini ternyata!" Seru Alrez yang langsung memeluk dan mencium bibir istrinya.


"Mas ishh, main nyosor aja. Disini masih ada bi Lasmi sama mba Mila tau," kesal Serra mendorong dada bidang Alrez agar sedikit menjauh darinya.


Sedangkan Bi Lasmi dan Karmila hanya bisa menunduk ketika melihat kedatangan Alrez di area dapur.


"Berapa kali sudah Mas bilang sama sayang, jangan masuk area dapur tanpa seizin Mas. Ingat sayang kamu lagi hamil, Mas gak mau terjadi sesuatu sama kamu dan anak kita. Mas sengaja mencari ART, supaya kamu gak mengerjakan pekerjaan rumah lagi. Biar kamu bisa banyak-banyak istirahat," papar Alrez panjang lebar.


Mendengar itu Serra mendengus jengah dengan larangan suami nya yang sebenarnya tak perlu terlalu overprotektif segitunya terhadap dirinya. Padahal memasak bukanlah pekerjaan yang berat untuk dilakukan oleh bumil sepertinya.


"Kalian juga kenapa membiarkan istri saya ini masuk area dapur," kata Alrez menatap tajam dua ART nya.


"Maaf tuan, kami sudah berusaha meminta nyonya meninggalkan area dapur, tapi nyonya tak mau dan tetap kekeh ingin memasak sarapan. Kata nyonya ini keinginan bayi nya yang pengen buat sarapan untuk tuan," jelas Karmila berkata jujur.


"Benar yang dikatakan dia sayang," tunjuk Alrez pada Karmila sambil menatap istrinya lembut.


Serra mengangguk, "Iya suamiku sayang, debay pengen papa nya makan sarapan dari tangan mama cantik nya ini."


"Baiklah kali papa izinin mama masak, tapi dalam pengawasan papa," putus Alrez mengalah, sebab Ia tau istrinya tengah mengidam.


"Sebaiknya kalian ke pavilium saja, nanti setelah istriku selesai memasak kalian boleh kembali untuk membersihkan dapur," titah Alrez menyuruh kedua ART nya untuk meninggalkan Ia bersama istrinya berduaan.


Soto ayam buatan Serra telah matang sempurna. Kini bumil cantik itu pun menyiapkan ke dalam mangkuk untuk dihidangkan pada suaminya.


"Loh kok soto ayam nya cuma dilihatin aja, Mas lagi gak pengen makan soto ayam ya," ujar Serra yang baru kembali dari dapur dan melihat suaminya belum juga menyentuh sarapan.


"Suapin sayang," pinta Alrez manja.

__ADS_1


"Suami aku manjanya kumat lagi, kirain tadi gak pengen soto ayam, eh ternyata minta disuapin toh," ucap Serra geleng-geleng kepala atas keluakuan suami nya.


Serra yang memang tak bisa mengabaikan Alrez pun segera menyuapi suami nya itu hingga makanan habis.


"Mas nanti siang aku mau ke rumah bang Aiden ya," ucap Serra meminta izin.


"Mau ngapain sayang ketempat Aiden?" Tanya Alrez bingung, sebab Ia tau Aiden pasti sedang tidak berada dirumah, karena bekerja.


"Ibu sekarang tinggal bersama bang Aiden. Jadi aku pengen ngeliat Ibu disana, kangen banget sama Ibuk," kata Serra memeluk pinggang suaminya dan menyandarkan kepala di dada bidang.


"Boleh sayang, tapi diantar sopir ya gak boleh naik kendaraan umum. Pulang kantor Mas jemput," ujar Alrez.


"Siap boss!" Seru Serra kesenangan.


Cup


"Entar kalau udah otw jangan lupa kabarin Mas," ucap Alrez mengelus rambut Serra dan mencium kening istrinya sebelum berangkat ke kantor.


****


Sudah menjadi kebiasaan Serra setiap bersama Ibunya, wanita itu selalu bermanja dengan Ibunya. Seperti sekarang wanita itu berbaring dengan paha Ibunya sebagai bantalan kepala, sambil rambutnya di elus-elus.


"Bahagia banget buk, Mas Alrez benar-benar membuktikan perkataan. Mas Alrez sangat perhatian dan pengertian sekali sama Fia, buk. Meskipun kadang Fia suka kekanak-kanakan, tapi Mas Alrez gak pernah kasar sama Fia," ujar Serra bercerita pada Ibunya bagaimana kehidupan rumah tangganya yang sekarang.


"Syukurlah nak, Ibu senang akhirnya Fia menemukan kebahagiaan yang selama ini tidak Fia dapatkan dari pernikahan sebelumnya. Selalu ingat pesan Ibu ya nak, Fia harus jadi istrinya yang nurut sama suami jangan ngebantah kalau di kasih tau yang baik-baik."


"Iya buk, Fia akan selalu ingat semua pesan Ibuk."


"Sekarang Ibu mau tanya, kandungan Fia udah jalan berapa bulan?"


"Mau jalan lima bulan buk."


"Ibu gak sabar deh pengin gendong cucu pertama Ibu." Rida pun mengusap-usap perut Serra.


"Sabar ya nenek, bentar lagi kita ketemu," kata Serra menirukan suara anak kecil, membuat keduanya tertawa.


"Assalamualaikum." Salam Aiden yang baru memasuki rumah.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, itu pasti abang mu. Sana sambut abang mu, biar Ibu saja yang lanjutin menyiapkan makanana," ujar ibu Rida menyahut salam dari Aiden.


Rida juga menyuruh Serra menyambut kedatangan Aiden, yang pasti akan membuat pria itu terkejut melihat ada adiknya.


"Loh Fia, kok kesini gak ngabarin abang. Kalau abang tau kamu ke rumah pasti abang bakal pulang cepat, biar bisa me time sama kamu dan Ibuk," ujar Aiden sedikit terkejut melihat kehadiran Serra, pasalnya setelah menikah adiknya jarang berkunjung ke kediamannya.


"Kalau Fia kasih tau gak suprise namanya bang, orang Fia kesini juga Ibuk gak tau hehe," balas Serra tersenyum nyengir pada Aiden.


Aiden yang amat gemas terhadap Serra, menjepit hidung adiknya.


"Kamu ini ya dek, nakal banget. Padahal bentar lagi jadi mau jadi Ibu. Ini bocil dalam perut kamu sebesar apa, kok perut belum gede kayak Ibu-Ibu hamil biasanya. Malah pipi kamu yang tambah gembul ini," kata Aiden mencubit pipi gembul Serra


Plak


Serra memukul tangan Aiden yang main asal cubit pipinya.


"Punya abang ngeselin banget! Hiks Ibuk, abang Aiden nakal cubit pipi Fia, sakit." Seru Serra mengadu pada Ibu Rida yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah anak kembarnya.


"Aiden jangan digitukan adiknya. Aiden taukan adiknya lagi hamil, pasti sensitif banget," tegur Ibu Rida.


"Maaf Ibu! Habisnya Aiden terlalu kangen sama Fia," ucap Aidem meminta maaf pada Ibunya.


"Malah minta maaf sama Ibuk. Minta maaf sana sama Fia," suruh Ibu Rida.


"Fia maafin abang," kata Aiden merangkul Serra.


"Fia bakal maafin abang, kalau abang beliin ini." Serra menunjukkan sebuah foto gelang berlian diamond asli eropa.


"Oke abang belikan buat adik kesayangan abang." Aiden menyetujui permintaan Serra. Aiden juga merasa senang akhirnya adiknya meminta sesuatu padanya, dengan senang hati Ia akan membelikan barang tersebut untuk adiknya.


"Abang gak usah, tadi Fia cuma bercanda kok," ujar Fia ketika melihat nominal harga berlian yang diinginkan sangatlah mahal.


"No, abang tetap akan membelikan untuk kamu, jadi pleasee jangan menolak," tukas Aiden.


Aiden mengirimkan pesan pada orang suruhan untuk membelikan gelang berlian yang diinginkan oleh Serra.


"Abang beneran tadi Fia cuma bercanda, gak usah dibelikan ya abang." Serra membujuk Aiden supaya tak menuruti keinginan, sebab jika Alrez tau Ia meminta dibelikan berlian pada abangnya, suaminya itu pasti akan marah-marah.

__ADS_1


"Tidak sayang, abang tetap akan membelikan. Titik gak pake koma, jadi stop protesnya." Bales Aiden meninggalkan Serra yang tampak pasrah begitu saja.


__ADS_2