
Tiga hari kemudian.
Selama tiga hari ini rutinitas yang dilakukan oleh Serra adalah membangunkan Alrez setiap jam setengah enam pagi. Serra akan menyelinap masuk ke kamar pria itu diam-diam. Jadi usai melaksanakan sholat subuh seperti biasa Serra tidak akan melanjutkan tidurnya.
Serra menghela nafas kasar setiap kali memasuki kamar Alrez. Ketakutkan terbesarnya adalah takut kepergok oleh orang rumah dan mereka pasti akan berpikiran buruk tentangnya. Pastinya! Apalagi yang akan orang pikirkan? Ketika melihat perempuan bersuami berada di kamar pria dewasa yang masih lajang selain berburuk sangka.
Perlahan Serra mendekati tempat tidur untuk membangunkan pria mesum dari alam bawah sadarnya. Walaupun rutinitas ini sudah tiga hari di jalaninnya, tetap saja Serra selalu merasa gugup membangunkannya.
"Uncle bangun sholat subuh." Serra menggoyangkan lengan Alrez sedikit kuat.
Alrez membuka matanya, walaupun masih terasa berat untuk bangun.
"Uncle ambil wudhu sana, biar aku saja yang gelar sajadahnya," ujar Serra, menarik tangan Alrez membawanya ke depan kamar mandi.
Alrez masuk ke dalam kamar mandi, bukan hanya berwudhu. Tetapi sekalian menyegarkan badannya, yaitu mandi. Alrez keluar dari kamar mandi dengan bathrobe dan rambut basah.
"Uncle mengapa tidak bilang kalau mau mandi sekalian. Jadi aku bisa menyiapkan air hangatnya," omel Serra kesal.
"Tidak papa ra! Oh ya, tolong siapkan pakaian, sarung sama peci. Seperti biasa yang sering kamu siapkan buat saya, tidak perlu lagi saya sebut kamu pasti paham," ucap Alrez.
"Astagfirullah! aku sudah seperti istrinya saja menyiapkan berbagai kebutuhan buatnya. Padahal suamiku adalah keponakannya." batin Serra berjalan memasuki walk-in closet mengambil pakaian berserta yang lainnya.
Serra meletakkan semua itu di atas ranjang yang telah di rapikannya. Alrez lantas memakai pakaian dihadapan Serra, tapi gadis itu buru-buru membelakanginya.
"Kamu sudah sholat ra?" tanya Alrez yang telah memakai pakaian, serta sarung, lengkap sudah.
"Udah tadi sama Arka," jawab Serra.
"Uncle buruan sholat, sebelum matahari terbit," ujar Serra.
Alrez segera melaksanakan kewajibannya, sedangkan Serra kembali masuk dalam walk-in closet memilihkan setelan kerja yang akan di pakai Alrez hari ini.
Saat keluar, Alrez telah menyelesaikan sholatnya. Serra mengambil sajadah di tangan Alrez, lalu melipat dan menaruh di tempat asalnya.
"Uncle mau dibuatkan apa sarapan paginya?" Tanya Serra melipat sarung yang dilepaskan Alrez, serta menggantung baju koko yang dikenakan Alrez sholat tadi.
"Terserah saja, apapun yang dibuat oleh tangan mu sendiri. Aku akan lahap memakannya," ucap Alrez jujur, makanan buatan Serra adalah makanan paling nikmat di lidahnya, persis sekali dengan masakam Rosalia mamanya.
Serra hanya menanggapi dengan anggukan. Serra mengeluarkan kepala lebih dulu menengok kanan dan kiri, dirasa aman barulah ia keluar.
•
•
Sarapan pagi ini Serra membuatkan roti panggang dan menyeduh kopi. Saat asik mengaduk kopi Serra di kagetkan dengan sentuhan di pundaknya.
"Non Serra, ngapain pagi-pagi berada di dapur?" Tanya Bi Tantri.
Serra mengelus dadanya, melihat orang yang membuatnya hampir jantungan ternyata Bi Tantri pelakunya. Untunglah bukan Ibu Paulia, coba saja Ibu Paulia habislah dia akan dimarahi dengan kalimat-kalimat yang tajam.
__ADS_1
"Nona sakit? Mengapa mengelus-elus dada," ujar Bi Tantri kembali bertanya.
"Sstt! Bibi aku tidak apa-apa, tadi aku terbangun. Jadi uncle Alrez meminta tolong padaku untuk di buatkan roti panggang dan kopi. Karena aku tidak enakan menolak, jadi aku membuatkannya," kata Serra berbohong.
"Oh begitu non, yasudah mending non cepat menyelesaikam sebelum Ibu Paulia ke dapur. Bibi takut nona di marahi seperti kemarin," ujar Bi Tantri.
"Satu lagi non, sarapan ini langsung saja nona bawa ke kamar tuan Alrez." lanjut Bi Tantri memberitahu Serra.
Serra mengangguk dan menaruh makanan yang dibuatnya khusus hanya untuk Alrez di nampan. Lantas membawanya ke kamar Alrez.
"Loh kok sarapan kamu bawa ke kamar saya," ucap Alrez bingung melihat Serra dengan nampan di tangannya.
"Menurutku uncle sarapan di kamar saja ya untuk hari ini. Aku takut orang-orang curiga melihat uncle lebih dulu sarapan tidak menunggu semua orang," jelas Serra.
Alrez mengangguk, "Yasudah nampan kamu letakan di meja dekat sofa saja." suruhnya.
Setelah meletakan nampan tersbut, Serra belum keluar dan mendekati Alrez. Seperti biasa memasangkan dasi pria itu.
"Ada lagi yang uncle perlukan, sebelum aku kembali ke kamar ku. Sebentar lagi Arka bangun."
"Tidak ada ra, kau boleh balik ke kamar mu."
Serra lalu pergi meninggalkan kamar Alrez dan kembali ke kamarnya. Melihat suaminya masih tertidur lelap, Serra memutuskan akan mandi duluan. Serra sudah bersiap dengan seragam sekolah, seragam Arka juga telah disiapkanya. Tinggal membangunkan orangnya saja lagi.
"Arka bangun, sudah mau setengah 7..."
"Masih ngantuk sayang," jawab Arka dengan mata masih terpejam.
"Iya sayang, ini aku udah bangun." Arka membuka matanya dan beranjak masuk dalam kamar mandi.
Serra membiarkan Arka mandi, ia pergi keluar turun ke bawah. Mengambil sarapan untuk Ibunya. Serra menyuapi Ibunya seperti biasa dilakukannya.
"Ibu nanti, dimandikan sama Bi Tri ya," ujar Serra.
"Iya nak," ucap Rida.
Serra mendatangi Bi Tantri ke dapur lagi, untuk meminta bantuan.
"Bi Tri, aku titip Ibu ya. Sama itu Bi Tantri kalau misalkan tidak repot, aku minta tolong nanti mandiin Ibu," ucap Serra.
"Baik nona, nona tenang saja. Saya akan memandikan Ibu Rida, sekaliam nanti saya buatkan makan siang," ujar Bi Tantri.
"Makasih Bi Tantri..." Serra memeluk Bi Tantri.
Bagi Serra, Bi Tantri sudah seperti Ibu kedua.
"Lihat mah, dia lebih pantas jadi pelayan daripada jadi anggota keluarga kita," cibir Liora menatap sinis Serra.
"Yang kamu bilang benar sayang, ya mau gimana lagi kakak mu terlalu buta hingga bisa mencintai gadis miskin itu," tunjuk Devita.
__ADS_1
"Ekhem! Kakak Ipar sepertinya kau melupakan masalalu, biar ku ingatkan lagi!Sebelum kau menikah dengan Alka juga kau sama, hidup sederhana. Tapi keluarga kami tak memandang status orang lain. Bahkan kami menerima mu dengan baik, lalu sekarang kenapa kau mempersalahkan status menantu mu, belajarlah dari masalalu mu."
Selesai mengatakan kalimat yang panjang. Alrez pergi begitu saja, mobilnya sudah disiapkan. Ia akan langsung berangkat ke kantor.
Melihat wajah masam mama mertuanya, Serra akhirnya tertawa pelan masih di samping Bi Tantri.
"Nona aku mendengar tawa, jadi cepat hentikan! Sebelum macam betina melihatnya." Bi Tantri menyenggol Serra.
"Apa kalian!? Awas kalau saya tahu kalian menertawakan saya lihat saja nanti," ucap Devita mengancam lalu duduk di meja makan bersama putrinya.
"Bibi lanjutkan pekerjaan ya, maaf aku udah ganggu," kata Serra, Bi Tantri membalas dengan anggukan.
Serra melangkah ke meja makan dimana disana sudah ada Arka dan papa mertuanya.
"Dimana Alrez, apa belum bangun?" tanya Alka tidak melihat kehadiran adiknya do meja makan pagi ini.
"Alrez sudah berangkat duluan ke kantor pah," jawan Devita.
"Akhir-akhir papa perhatikan, Alrez selali berangkat pagi," kata Alka.
"Mungkin uncle banyak kerjaan pah, tahu sendiri gimana uncle orangnya gila kerja. Tidak kenal lelah, demi kemajuan perusahaannya. Padahal perusahaan uncle sudah sangat maju, papa waktu itu pernah memberitahu aku. Kalau perusahaan uncle cabangnya ada dimana-mana," jelas Arka.
"Dari dulu sampai sekarang Alrez memang tak pernah berubah jika menyangkut perusahaannya," ucap Alka menggeleng-gelengkan kepala.
Serra hanya bisa membenarkan semua perkataan papa mertuanya. Sejauh ini Serra memang kerap mengetahui sedikit-dikit tentang Alrez.
"Oh iya mah, pengobatan Rio gimana? Kapan putra kita akan kembali kesini," tanya Alka menatap kearah istrinya.
"Therapy nya berjalan lancar pah, cuma Rio harus menetap selama satu tahun disana. Buat pemulihan dan dokter lebih gampang memantau perkembangannya," ujar Devita nampak tidak memperdulikan Avrio anak bungsunya. Malah senang jika putranya itu berada disana selamanya.
"Huuh! Kalau Rio jauh, rasa kangennya berasa banget," celetuk Arka.
"Sabar ka, ini demi kesembuhan Rio. Kita harus mendoakan agar Rio cepat bisa berjalan normal seperti sedia kala," kata Serra mengusap bahu suaminya.
"Benar kata istri mu ka, kita doakan saja semoga Rio cepat pulih dan berkumpul bersama kita kembali," sambung Alka.
Diantara mereka berlima hanya dua orang saja yang nampak biasa saja bahkan tidak terlalu memperdulikannya. Ya, Devita dan Liora malah berharap agar Avrio berada di luar negeri selama-lamanya saja.
...****************...
Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
__ADS_1
Terimakasih💓