
Waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 dini hari. Serra tengah berada di dapur memasak sarapan pagi. Diare yang dialaminya tadi malam sudah sembuh, sekarang dia bisa beraktivitas kembali.
“Lebih baik pagi ini aku masak sup saja.” Katanya. Lalu menyiapkan bahan-bahan yang akan digunakan dan mengambilnya dalam kulkas.
Serra berkutat dengan bahan masakan, hingga tanpa terasa masakannya telah matang. Gadis itu memindahkan sup kedalam mangkuk berukuran besar.
Kini supnya dihidangkan di atas meja makan dan beberapa masakan lainnya. Serra kembali lagi kedapur untuk membereskan alat-alat masak yang kotor dipakainya. Tiba-tiba ada suara bariton memanggilnya membuat Serra bergidik mendengar suara orang tersebut sampai tak berani melihat wajahnya dan hanya menunduk.
“Bisa buatkan saya kopi dan antarkan ke meja makan,” perintah Arlez langsung pergi begitu saja tanpa melihat wajah orang yang disuruhnya.
Merasa orangnya telah pergi, barulah Serra berani mengangkat wajahnya dan menengok kebelakang saat orangnya telah melangkah pergi meninggalkan dapur.
“Huuh! Suaranya berat banget, sampe buat aku kaget engga berani nengok,” ucapnya bicara sendiri.
Serra langsung membuatkan kopi untuk orang yang tadi menyuruhnya.
“Pagi nona,” sapa Ibuk Paulia yang memasuki dapur, karna jam sudah menunjukkan tepat pukul 05:45. Memang para pelayan akan memasak 15 menit sebelum jam enam.
“Pagi juga ibuk,” bales Serra menyapa balik.
“Nona kenapa anda berada di dapur sepagi ini?” Tanya ibuk Paulia matanya melirik ke arah meja makan yang sedikit kelihatan dari arah dapur disana ada beberapa masakan.
“Kebetulan Serra kebangun buk, engga bisa tidur lagi. Jadi Serra memutuskan buat ke dapur memasak saja daripada diam-diam dikamar tidak melakukan apapun.” Tuturnya.
“Seharusnya ini bukan tugas nona berada di dapur. Nona bisakah saya minta dari sekarang jangan ke dapur lagi kecuali perintah nyonya Devita. Saya tidak ingin kena marah tuan muda, karena mengetahui saya membiarkan istrinya berada di dapur.” Ibuk Paulia kemudian pergi meninggalkan Serra yang merasa tak enak hati dengan perkataan wanita setengah baya itu.
“Apa aku salah ya.” Gumannya, ketika ingin menghampiri Ibuk Paulia, suara seseorang memanggilnya.
“Apa kopinya sudah jadi, tolong cepat antar ke meja makan. Saya mau meminumnya,” panggil Arlez mengeraskan suaranya agar didengar.
“Yaampun hampir saja aku lupa kopi ini,” ucapnya, berjalan cepat membawa kopi ke meja makan.
“Ahh, panas,” pekik Arlez.
“Maaf saya tidak sengaja tuan.” Serra dengan cepat mengambil tisu dan membersihkan tumpahan kopi di baju pria dihadapannya. Dia benar-benar tidak sengaja menumpahkannya, jalannya yang terlalu cepat membuat dia tersandung kakinya sendiri.
“Sudah sudah!” Arlez berdiri dari duduknya dan menghempaskan tangan orang yang menyentuh tubuhnya. Pria itu tidak suka jika tubuhnya disentuh sembarang orang, lebih tepat orang tidak dikenal.
“Kalau jalan gunakan matamu dengan baik dan kaki mu melangkah dengan benar. Mengerti!!!” Bentakan Arlez membuat Serra menunduk takut mendengar suara berat mengerikan ditelinganya.
“Hiks, ma-af tu..an sa-saya be..nar ti-dak seng..aja,” kata Serra terbata-bata, dia benar-benar takut saat ini.
“Minta maaf yang benar! Tatap orangnya dan katakan kembali. Wajah saya diatas bukan dibawah,” tukas Arlez dingin menatap tajam gadis yang berhadapan dengannya.
Perlahan Serra mengangkat wajahnya, menatap pria dihadapannya yang tak dikenalnya dan baru pertama kali dilihatnya.
__ADS_1
“Sa-saya benar-benar min-ta ma-af tu-an,” ulangnya mengatakan maaf, bersamaan air mata mengalir dipipi.
Seketika Arlez terhipnotis, melihat wajah gadis dihadapannya. Tidak sadar bahwa gadis itu telah mengatakan maaf lagi. Sampai mengulangnya kembali.
“Hiks, tuan maafkan saya,” ucap Serra menatap mata tajam pria tersebut.
“Lain kali berkerja yang benar, jangan ceroboh. Keluarga Xander tidak pernah memperkerjakan pelayan ceroboh seperti kau ini.” Hardiknya mendengus dihadapan gadis tersebut.
“Apa kau pelayan baru disini?” Lanjutnya bertanya.
“Sa-saya se-benarnya buk-“
“Sayang ternyata kamu disini, aku cariin kamu dikamar mandi gaada. Aku kaget pas bangun engga ada kamu disamping aku,” ujar Arka muncul dari arah lift dan membuat Serra selamat dari kebingungannya serta ketakutan dengan pria didepannya.
“Aku bangun langsung ke dapur ka,” sahut Serra menetralkan suaranya dan menghapus sisa air mata dipipi agar Arka tidak bertanya macam-macam.
“Sayang kamu ngapain didapur sih, kamu ga perlu masak lagi sayang,” kata Arka merangkul istrinya dihadapan uncle Arlez yang masih belum mengerti semuanya.
“Aku lagi pengen masaka aja ka,” ucap Serra tersenyum menatap suaminya.
“Ekhem,” dehem Arlez menyadarkan pasangan didepannya, bahwa disini masih ada dirinya.
“Ehh uncle! Uncle dari kapan disini?” Tanya Arka.
“Sebelum kau berada disini Arka. Uncle yang lebih dulu disini,” jawab Arlez.
“Arka bercanda uncle, aku lihat kok tadi hehe.” Kekehnya tertawa paksa.
“Oh ya uncle, kenalin ini istri aku Serra,” kata Arka mengenalkan Serra pada unclenya.
“Serra.” Serra mengulurkan tangannya meredam rasa takut yang masih menghinggapinya.
“Arlez.” Arlez membalas menjabat tangan gadis dihadapan yang terasa dingin.
“Baju uncle kenapa basah, seperti bekas tumpahan kopi.” Mata Arka tak sengaja melihat kemeja unclenya dan melirik ke meja makan terdapat kopi yang tinggal setengah.
“Tadi ada pelayan yang ceroboh, berjalan tidak hati-hati sampai menumpahkan kopi di baju saya,” tukas Arlez menatap gadis disamping keponakannya.
“Siapa pelayan itu uncle, biar aku pecat. Apa dia tak tahu peraturan di mansion Alkavero setiap pelayan melakukan kesalahan sedikit saja akan menerima konsekuensinya jika tidak dipecat ya dihukum,” jelas Arka.
“Tidak perlu Arka, pelayannya sudah saya pecat.” Singkatnya masih menatap gadis disamping Arka yang hanya menunduk sedari tadi.
“Baguslah uncle,” ucap Arka.
Mata Arka kembali melihat diatas meja makan yang sudah tersedia empat macam makanan. Lalu beralih menatap gadis disampingnya yang tersenyum menyengir.
__ADS_1
“Kamu sendiri yang masak semua ini?” Tanya Arka.
“Eum, iya ka,” jawabnya.
“Banyak sekali yank, makanan yang kamu masak,” ujar Arka.
“Biarin ka, disini juga banyak pelayan. Kita bisa berbagi sama mereka,” ucap Serra.
Sedangkan Arlez menatap takjut gadis yang berada disamping keponakan.
“Mama tidak setuju jika mengetahui masakan yang berada di dapur ini dimakan pelayan, yank. Karena pelayan sendiri sudah ada dapur di pavilium yang bisa digunakan mereka untuk memasak. Bahan-bahan masak mereka juga ada.”
“Tapi ka, kalau tidak habis kan mubazir makanan. Jalan satu-satunya kita harus berbagi dengan orang-orang yang bekerja dirumah. Kita bisa diam-diam saja berbaginya tanpa harus memberitahu mama, ka. Gimana mau kan?”
Arka akhirnya mengangguk, “Setelah kita makan.. Oke.”
“Siap ka,” sahut Serra tersenyum. Gadis itu belum sadar jika sedari tadi Arlez masih berada di dekat mereka dan memandanginya tersenyum.
“Uncle tidak berganti baju, atau uncle ke kantor dengan pakaian kotor seperti itu,” ucap Arka.
“Tidak, saya keatas. Bias buatkan saya kopi kembali,” kata Arlez melirik Serra.
“Nanti aku minta pelayan buati uncle kopi,” ucap Arka.
“Tidak Arka, saya ingin merasakan kopi buatan istrimu,” lancang Arlez meminta dibuatin langsung oleh istri keponakannya.
“Uncle yang benar saja, kami mau ke kamar sekarang. Istriku mau mengurus keperluan kami sekolah hari ini,” tolak Arka, ketika Arlez minta dibuatkan kopi pada istrinya.
“Uncle hanya ingin mencoba kopi buatan istrimu ka, apa itu salah?” Tanya Arlez menatap keponakannya sedikit terlihat kesal mendengar pertanyaannya.
“Tidak, tap-“
“Sudah ka, biar aku buatin kopi untuk un-cle Ar-lez dan kamu ke kamar duluan nanti aku nyusul,” sergah Serra memotong kalimat Arka.
“Tapi yank.”
“Hanya sebentar oke!” Arka mengangguk dan segera naik ke lantai atas.
Tinggal Serra dan Arlez yang berada di bawah. Serra pergi kedapur dan membuatkan kopi kembali untuk Arlez secepat mungkin. Setelah selesai gadis itu langsung pamit menuju kamarnya dimana disana suaminya telah menunggunya.
****
Bersambung. . .
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.
__ADS_1
Yuk follow ig author : @dianti2609