
Di kamar Serra sudah selesai mandi dan berpakaian lengkap dengan baju daster yang sering digunakan sehari-hari ketika hanya berada di rumah.
'Ceklek' mendengar suara pintu kamar di buka. Serra diam saja, tetap melanjutkan mengeringkan rambutnya. Di cermin Serra bisa melihat pantulan suaminya yang baru pulang dari sekolah, masih mengenakan pakaian basket.
Arka yang jahil memegang leher Serra dan mencium pipi istrinya.
"Arka udah ih, kamu bau keringat tau. Mandi sana," ujar Serra mendorong wajah Arka yang masih ingin menciumnya.
Arka mengalah dan menyudahi mencium pipi Serra, memilih menghempaskan badan ke ranjang, berbaring terlentang dengan kedua tangan sebagai bantalan kepalanya.
Serra menghela nafas melihat kelakuan suaminya, disuruh mandi malah berbaring nyaman di ranjang. Serra melirik Arka tajam.
"Bentar sayang, aku capek," ucap Arka melas.
Serra memperhatikan wajah Arka memang kelelahan. Sebagai istri pengertian ia membiarkan suami untuk rehat.
"Kamu pusing kepala?" Tanya Serra melihat Arka yang mengurut dahinya.
"Heum sedikit pusing, efek kecapekan. Tapi nanti bakalan hilang sendiri kok, paling bentar aja. Udah biasa yank," papar Arka tanpa tahu Serra mengkhawatirkannya.
"Makanya kamu jangan kecapekan, apalagi ini sebentar lagi mau masuk ujian akhir. Harus jaga kesehatan, biar belajarnya fokus," kata Serra yang telah berpindah naik keranjang.
Mengangkat kepala Arka agar berbantal dengan pahanya, tangan Serra mulai memberikan pijatan di kepala Arka. Sampai beberapa menit kemudian Arka malah ketiduran karena keenakan merasakan pijatannya. Merasa tidak tega membangunkannya Serra perlahan menggeser badan Arka, berbaring di bantal. Lalu menyelimutinya, terakhir memberikan kecupan di kening.
__ADS_1
•
Kaki Serra berhenti melangkah ketika melihat punggung seseorang yang tengah duduk di meja makan, sedang menikmati masakam buatannya.
"Ehem, kayanya enak banget makanannya," ujar Serra dengan tangan menyilang dan berada di belakang kursi Alrez.
"Ya, ini enak bang-" Alrez tak melanjutkan kalimat terakhirnya, karena mengenali suara orang dibelakangnya, ia menoleh kebelakang dan mendapati wajah Serra dengan menatap tajam dirinya.
"Uhuk uhuk." Alrez tersedak, Serra sigap mengambilkan air, langsung menyodorkan ke mulut Alrez.
"Huuh!" Alrez merasa lega di tenggorokannya.
Serra melihat tumis kangkung yang di masaknya sudah habis dalam piring, membuat matanya melotot.
"Tumis kangkung nya enak! Makanya saya habisin, lain kali kalau masak jangan pelit. Stok sayuran masih banyak, kalau kurang biar saya perintahkan pelayan disini kalau beli sayuran di banyakin," terang Alrez begitu menyebalkan untuk di dengarkan.
Serra yang sudah kesal di ubun-ubun, tanpa punya rasa takut terhadap Alrez pun mencubit perut pria dewasa yang berdiri di sampingnya.
"Ini perut atau besih sih, keras banget," keluh Serra, ternyata mencubit perut Alrez adalah pilihan yang salah.
"Kamu sangat payah sayang, sedikitpun cubitan tidak terasa," ucap Alrez.
"Uncle berhentilah menyebutku sayang! Aku ini istri Arka," ketus Serra tidak bosan terus mengingatkan pria dewasa ini tentang statusnya.
__ADS_1
"Terserah saya mau memanggil apa! Lagian sebutan sayang bukan hanya untuk pasangan kekasih, kata sayang itu netral," terang Alrez.
"Iya uncle aku tahu, tapi aku risih mendengarnya," protes Serra.
"Nanti juga kamu akan terbiasa dengan sebutan sayang dari saya. Jangan protes terus sayang," ucap Alrez melihat sekitar mereka.
'Cup'
Alrez mendaratkan ciuman kilat di pipi Serra, setelah iti berlari sebelum gadis cantiknya berteriak.
" UNCLE!!!"
...****************...
Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
__ADS_1
Terimakasih💓