YOU'RE MINE, SERRA

YOU'RE MINE, SERRA
Bagian 162


__ADS_3

Serra menemani Alrez yang sedang mengerjakan pekerjaan kantor yang terpaksa harus Alrez kerjakan di rumah, karena tadi pagi Serra menahan dia untuk tidak pergi ke kantor hanya untuk bisa bermanja-manja.


Bahkan sekarang Serra tengah bergelayut manja di lengan Alrez sambil memakan cemilan buatan Karmila.


"Maaf mengganggu waktu tuan dan nyonya.. Di depan ada kurir, ada paket yang harus nyonya langsung menerimanya." Lapor Tristan membuat kedua pasutri menatapnya.


"Paket? Aku gak ada pesan paket apapun Mas, mungkin kurir nya salah alamat kali," ujar Serra yang memang tidak pernah merasa ada pesan barang apapun, sebab kebutuhan untuk dirinya selalu Ia beli bersama suaminya.


"Tristan kau sudah dengarkan yang dikatakan istriku, jadi lebih baik kau suruh saja kurir nya pergi. Saya tidak akan menerima paket dari pengirim yang gak jelas, bisa saja itu paket teror." Pungkas Arlez.


Tristan lantas bergegas menghampiri kurir yang sedang menunggu diluar gerbang.


"Pak dimana Ibu Serra? Paket nya harus diterima langsung oleh Ibu Serra, sebab ini perintah langsung dari pengirimnya." Jelas kurir tersebut.


"Silahkan anda pergi, nyonya saya tidak pernah memesan barang apapun." Tristan langsung bicara to the point, mengusir si kurir.


"Saya gak bisa pergi gitu aja pak, ini paket harus diterima Ibu Serra dulu, baru saya bisa pergi," ujar kurir yang tetap menunggu.


"Siapa orang yang mengirim paket atas nama nyonya saya?" Tanya Tristan, sebelum dia masuk lagi ke dalam rumah memberitahu nyonya nya.


"Kenapa diam, jawab saja pak. Kalau anda gak jawab pertanyaan pak Tristan, lalu gimana pak Tristan akan memberitahu nyonya," timpal pak Wandi, kebetulan ikut mendengarkan pembicaraan keduanya.


"Huft! Baiklah saya terpaksa harus memberitahu, daripada Ibu Serra gak menerima paket ini, yang ada saya yang diamuk," pasrah kurir.


"Jangan bertele-tele katakan siapa pengirim paket atas nama nyonya saya?" Ulang Tristan kesabaran sudah hampir habis menghadapi kurir menyebalkan di depannya ini.


"Sabar pak! paket ini dari tuan Aiden, katanya harus langsung diterima oleh Ibu Serra dan gak boleh melalui tangan siapapun. Jadi karena ini sebuah amanah saya harus menjalankan." Jelas kurir.


Tristan memilih untuk menelpon Alrez memberitahu tuannya.


"Ya kenapa?" Tanya Alrez di seberang telpon.


"Begini tuan, tentang ada paket untuk nyonya Serra itu ternyata dari tuan Aiden. Kurir nya meminta untuk nyonya Serra langsung menerimanya atas perintah dari tuan Aiden,"


"Suruh masuk saja," perintah Alrez.

__ADS_1


"Baik tuan."


"Sekarang masuklah! Nyonya saya tidak mungkin mendatangi mu kesini," ujar Tristen membiarkan sang kurir memasuki gerbang dengan tetap menggunakan motor.


"Sayang Mas mau tanya, apa kamu minta sesuatu sama Aiden?" Tanya Alrez menatap Serra yang masih bersandar dilengannya.


Mendengar pertanyaan Alrez, Serra langsung menghentikan kunyahannya. Bahkan kepala yang tadi menyandar dengan nyaman kini berubah tegak. Serra ingat bahwa tiga hari yang lalu saat Ia berada di rumah abang nya Ia meminta dibelikan gelang berlian diamond, tapi itu Ia katakan hanya bercandaan, ternyata bagi abang nya perkataannya bukanlah sebuah candaan.


"Kok diam sayang, jawab saja!" Tukas Alrez menunggu jawaban Serra sebelum pergi ke depan menemui kurir nya.


"Eum, M-mas ke-kemarin saat dirumah abang, aku minta dibelikan sesuatu. Tapi aku bilang itu cuma bercandaan gak taunya abang malah anggap omongan aku beneran mau," tutur Serra takut-takut mengatakan sejujurnya, sebab Arlez tak suka Serra meminta sesuatu dari siapapun.


"Sayang minta dibelikan apa sama Aiden?" Alrez bertanya lagi, karena Serra tak menyebutkan nama barangnya.


"Itu anu M-mas ber-berlian," ucap Serra terbata-bata.


Usai mendengar jawaban Serra, Alrez lekas beranjak menemui kurir di luar. Serra pun juga ikut beranjak mengikuti suaminya, takut suaminya mengamuk.


"Terima paket nya sayang, biar kurir nya cepat pergi dari sini," ujar Alrez meminta istrinya segera mengambil paket tersebut.


Namun sekarang Serra yang merasa tidak aman karena paket dari abang nya.


"M-mas,,,


"Buka paket nya Mas mau liat berlian yang kamu inginkan sampai harus minta dibelikan Aiden ketimbang ngomong sama suami," tandas Alrez menyilangkan tangan di depan dada, menatap serius pada istrinya yang tampak takut-takut.


"Engga! Aku gak mau buka paket nya, lebih baik aku kembalikan ke abang saja. Aku gak mau Mas marah hanya karena ini yang bahkan aku sendiri gak serius minta sama abang Aiden," tukas Serra meletakan paket nya, lalu memeluk Alrez.


"Hiks, maafin aku," lirih Serra, tapi Alrez enggan membalas pelukan istrinya maupun menatapnya.


Arlez malah melepaskan diri dari pelukan Serra, Ia mengambil paket tadi lalu membukanya. Benar saja paket tersebut berisi sebuah berlian mahal yang dibelikan oleh Aiden.


Kemudian Alrez mengambil gelang berlian itu dan memasangkan ke pergelangan istrinya.


"M-mas lepas aja hiks, aku gak mau buat kamu marah dengan memakai gelang pemberian abang Aiden," pinta Serra ingin melepaskan gelangnya, tapi langsung Alrez angkat istrinya ke dalam gendongannya dan Ia bawa ke sofa.

__ADS_1


"Jangan digitukan tangannya sayang, entar merah," tegur Alrez berkata lembut, sembari membawa tangan istrinya ke bibirnya untuk di cium.


"Pakai saja gelangnya ya, itukan pemberian Aiden. Mas tau kok Aiden belikan kamu gelang, sebelumnya Aiden sudah ngomong. Hanya saja Mas kesal sayang gak minta sama Mas, tapi engga papa Mas haragin pemberian Aiden," ungkap Alrez sambil tersenyum pada istrinya yang malah jadi cemberut.


"Mas rese! aku kirain tadi Mas marah benaran, gak taunya ngerjain aku. Ishh jahil banget suami aku ya." Serra mencubit perut keras Alrez dengan tenaga yang dimilikinya.


"Asshh sayang sakit," ringis Alrez pura-pura.


"Dasar bohong, aku nyubitnya gak keras kok," ujar Serra, namun tangan mengelus perut Alrez yang Ia cubit.


"Mas pinjam handphone dong, aku mau telpon bang Ai, mau ucapin terimakasih," kata Serra, Alrez merogoh kantong celana mengambil ponselnya dan memberikan pada istrinya.


Serra mencari nomor Aiden, kemudian mengklik untuk menelpon.


"Assalamualaikum abang," ucap Serra saat telponnya diangkat Aiden.


"Waalaikumsalam dek, tumben telpon abang. Tadi abang kirain suami kamu yang telpon, soalnya nomor suami mu," ujar Aiden di seberang sana.


"Serra malas ngambil ponsel di kamar, makanya Serra pinjam ponsel Mas Alrez."


"Oh iya paket dari abang sudah kamu terimakan dek?"


"Sudah abang, ini Serra pakai kok gelangnya. Gelangnya bagus banget sesuai sama yang di foto, makasih abang gantengnya Serra. Kapan-kapan Serra mau minta lagi yang lebih mahal, biar uang abang habis sekalian. Siapa suruh abang belikan Serra gelang ini, padahalkan kemaren Serra cuma bercanda, eh abang malah anggap beneran."


"Gak papa dek, abang senang bisa menghabiskan uang buat adek satu-satunya abang. Apapun yang kamu minta bakalan abang penuhin, semahal apapun harganya. Tenang saja uang abang gak akan habis buat belikan barang mahal untuk adek."


"Dasar sombong banget! Mending uangnya abang tabung buat halali anak orang."


"Kalau itu sudah ada uangnya tersediri, jadi abang gak perlu susah-susah nabung lagi."


"Bagus deh abang, Serra pengen segera dapat kakak ipar, biar anak Serra nanti ada temannya kalau abang udah punya anak,"


"Yayaya doakan saja abang mu segera mendapatkan jodoh,"


"Abang ini Mas Alrez mau bicara." Serra lantas menyerahkan ponsel ke tangan suaminya.

__ADS_1


"Aiden ini pertama dan terakhir kalinya ya kamu belikan barang untuk istriku. Tidak ada lagi kapan-kapan, saya masih sanggup belikan yang istriku inginkan." Peringat Alrez, setelahnya langsung mematikan sambungan telpon secara sepihak.


__ADS_2