
Satu keluarga telah berdiri depan pintu kontrakan tempat tinggal Serra dan Rida. Mereka belum ada yang mengetahui jika Serra dan Rida sekarang berada di Singapura bersama Alrez yang membawanya.
Sedari perjalanan menuju ke tempat Serra dan Rida. Oma Hilya ketara sekali kelihatan bingung dengan suami, putra dan menantu, bahkan cucunya. Mereka tidak ada yang mau memberitahunya. Rasanya percuma saja dia bertanya, jawaban mereka sudah ketebak, pasti sama seperti suaminya.
Aiden mengetuk pintu kontrakan beberapa kali dan mengucapkan salam. Tapi di dalam tak ada sahutan sama sekali dari orangnya. Aiden yang melihat ada Ibu lewat depan kontrakan, langsung turun menghampiri untuk bertanya.
"Permisi, maaf sebelumnya! Saya mau nanya, Ibu kenal Serra dan Ibu Rida?" tanya Aiden berbicara sopan.
"Iya saya kenal, ada apa ya mas?" jawab Ibu tersebut dan bertanya balik.
"Begini bu, sepertinya kontrakan ini kosong. Kira-kira Ibu tau tidak kemana orangnya?" ujar Aiden.
"Oh itu mas, tadi malam saya ngeliat neng Serra bersama Ibunya bawa tas. Kayaknya lagi berpergian, terus dibantuin sama mas Alrez yang biasa datengin neng Serra."
"Kalau boleh tau mereka pindah kemana ya bu?"
"Kayaknya ga pindah mas, cuma berpergian aja. Saya liatnya neng Serra cuma bawa satu tas. Tapi saya juga gak tau mereka mau pergi kemana, tadi malam saya ga sempat mau nanya."
"Oh gitu ya bu, makasih ya bu sudah memberikan sedikit informasinya."
Ibu tersebut mengangguk dan melanjutkan jalannya. Sedangkan Aiden mengurut keningnya, kepala sedikit berdenyut pusing memikirkan kemana kembarannya membawa Ibu mereka pergi.
"Opa seperti kita batal bertemu mereka hari ini. Mereka pergi opa, aku harus segera mencari keberadaan mereka sebelum jejaknya hilang. Aku ga mau sampai kehilangan mereka lagi," ucap Aiden lirih.
"Sebenarnya siapa yang mau kita temuin, tolong kasih tau oma! Oma kelihatan bodoh sendiri, karena gak tau apa-apa disini," ucap Oma Hilya kesal.
"Lebih kita pulang saja dulu yah, bun. Biar kita jelaskan ke bunda dirumah saja," imbuh Avrian membuka suara, seraya merangkul Oma Hilya.
"Mas Avri benar yah, Aiden," ucap Sabrina menyetujui perkataan suaminya.
"Opa, Oma, papa mama. Kalian pulang saja duluan, aku mau ke suatu tempat. Nanti aku menyusul," kata Aiden.
"Baiklah, jaga dirimu baik-baik Aiden. Opa tak ingin sampai terjadi apa-apa dengan mu," pesan Opa Haidzar mengingatkan cucu laki-lakinya.
Mereka semua berjalan kaki keluar dari gang sempit tempat tinggal Serra dan Rida. Aiden lekas membawa mobil dengan kecepatan sedang, dia akan pergi ke kantor Eldrick's Corp menemui pemilik perusahan tersebut, hanya dia satu-satunya orang yang mengetahui keberadaan kembaran dan Ibunya.
Aiden memakirkan mobilnya, lalu turun dan memasuki kantor Eldrick's. Ketika melewati meja resepsionis Aiden berhenti melangkah.
__ADS_1
"Ada yang bisa dibantu pak?" tanya resepsionis dengan sikap ramah.
"Saya ingin bertemu pak Alrez," ucap Aiden tak suka basa-basi.
"Maaf sebelumnya! Apakah bapak sudah membuat janji bertemu pak Alrez."
"Tidak! Tetapi saya ada hal penting yang harus dibahas bersama pak Alrez."
"Begini pak! Pak Alrez sedang tidak masuk kantor untuk beberapa hari kedepan, jadi yang menghandle kantor saat ini adalah pak Angga. Jika anda ingin bertemu pak Angga, saya akan menelpon terlebih dahulu untuk memberitahunya."
"Kalau gitu telpon pak Angga, beritahu Aiden Lesham ingin bertemu."
"Baik pak, silahkan ditunggu sebentar."
Resepsionis segera menelpon Angga yang berada dalam ruangannya tengah sibuk mengerjakan dokument. Angga begitu serius mengerjakan pekerjaan, sampai terganggu mendengar bunyi telpon.
"Halo ada apa?"
"Pak Angga maaf mengganggu. Saya mau memberitahu ada pak Aiden Lesham ingin bertemu pak Angga. Jika pak Angga tak sibuk, saya akan mengantarkan ke ruangan bapak, gimana pak?"
"Saya sebenarnya sangat sibuk sekali, tapi tak apa kamu antarkan saja pak Aiden ke ruangan saya."
Setelah melihat resepsionis menutup telpon, Aiden mendatangi meja resepsionis kembali.
"Mari pak, saya antarkan ke ruangan pak Angga," ujar resepsionia keluar dari mejanya, berjalan bersama Aiden masuk dalam lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai atas.
Tok...tok...tok...
"Masuk," sahut Angga dari dalam.
"Permisi pak, ini pak Aiden yang mau bertemu bapak."
"Hem, ya masuklah."
"Silahkan pak Aiden masuk." resepsionis yang mengantarkan Aiden membuka pintu ruangan dengan lebar agar Aiden bisa masuk. Lalu resepsionis kembali turun ke lantai bawah.
"Silahkan duduk pak Aiden," ujar Angga mempersilahkan Aiden agar duduk berhadapan dengannya.
__ADS_1
"Hem, terimakasih," ucap Aiden.
"Kalau boleh tau ada apa bapak ingin bertemu saya. Sepertinya ini bukan masalah perusahaan, karena kemarin saya dan atasan saya baru saja melakukan meeting bersama pak Avrian."
"Anda benar, tujuan saya kesini bukan untuk membahas soal kerja sama. Tetapi ingin bertanya keberadaan pak Alrez, saya mau menanyakan suatu hal penting padanya."
"Atasan sedang pergi liburan menyenangkan hati kekasihnya," ucap Angga memberitahu Aiden.
"Anda tahu kemana pak Alrez berlibur saat ini?"
"Ya, tuan Alrez berada di singapura."
"Baiklah, terimakasih. Informasi dari anda sangat berharga bagi saya." Aiden bangun dari duduknya, mengambil tangan Angga sebagai tanda terima kasih.
"Aku akan berangkat kesana menyusul mereka. Tunggulah aku Ibu dan adikku." batin Aiden keluar dari ruangan Angga dengan perasaan senang dalam hatinya.
Semantara di kediaman Lesham, raut wajah Oma Hilya tegang mendengarkan cerita dari putranya. Oma Hilya masih belum mempercayai putra dan menantunya bisa melakukan hal semerendahkan itu.
"Bunda, kecewa sama kalian berdua. Tega sekali kalian membohongi bunda dan ayah. Mengapa kalian tidak jujur pada kami, agar kami bisa mengerti kondisi kalian. Kalian tidak harus menyakiti wanita itu," respon Oma Hilya setelah mengetahu kebenaran bahwa Aiden bukan anak kandung Sabrina, tetapi anak dari istri kedua putranya. Bahkan dirinya masih memliki satu cucu lagi, berjenis kelamin perempuan, belum pernah dilihatnya.
"Tolong maafkan aku bunda, semua ini salahku. Akulah yang memaksa mas Avrian menikah lagi, agar bisa memiliki keturunan dari darah dagingnya sendiri." Sabrina berlutut di kaki Oma Hilya.
"Tidak perlu, minta maaf pada bunda nak. Kamu dan Avrian harus meminta maaf pada wanita yang sudah kalian sakiti, dan juga bunda mau bertemu cucu perempuan bunda."
"Sabar sayang, kita pasti bertemu dengan mereka. Aiden masih mencari keberaadan mereka sekarang," kata Opa Haidzar.
"Hiks yah! Bunda merasakan gimana rasanya menjadi perempuan itu, hidup sendiri tanpa suami, merawat kembaran Aiden. Banting tulang mencari kerjaan menghidupi cucu perempuan kita, semantara kita hidup mewah disini. Bunda benar benar engga bisa ngebayangin kehidupan yang mereka jalanin." Pungkas Oma Hilya menangis dalam pelukan suaminya.
...****************...
Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
__ADS_1
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓