YOU'RE MINE, SERRA

YOU'RE MINE, SERRA
Bagian 36


__ADS_3

Suasana kamar Arlez seketika mencekam saat kedatangan dokter Dimas. Dokter tua itu tengah melakukan pemeriksaan pada Arlez dengan Serra yang masih setia berada disamping. Arlez menahan Serra agar tak pergi kemanapun.


“Gimana paman keadaan tuan Arlez? Apakah harus rawat inap dirumah sakit atau tetap diapartemen saja?” Tanya Angga berdiri dekat dokter Dimas dengan tangan menyilang.


“Tuan Arlez kekurangan banyak cairan dan asupan makanan, maka itulah yang menyebabkannya kelelahan hingga sakit. Oh ya, saya sudah membawa peralatan rumah sakit yang diperlukan ada di dalam mobil saya, jadi tuan Arlez tak harus ke rumah untuk di infus,” jelas dokter Dimas saat selesai melakukan pemeriksaan.


“Berikan kunci mobil paman ke saya, biar saya saja yang mengambilnya,” pinta Angga.


Setelah kunci mobil dokter Dimas berada di tangannya. Angga segera turun ke basemant mengambil peralatan tersebut.


Beberapa menit kemudia Angga sudah datang membawa peralatan yang dibutuhkan untuk perawatan di apartemen.


Arlez bergidik ngeri melihat jarum infus yang ingin dipasang dipergelangan tangan. Pria itu langsung menarik tangan menyembunyikan dengan memeluk perut Serra.


Serra terkesiap mendapatkan pelukan mendadak dari uncle Arlez. Ia mencoba melepaskan pelukan uncle Arlez tetapi tak bisa, tenaganya tak sebanding dengan uncle Arlez dan akhinya hanya bisa pasrah.


“Saya tidak mau di infus, pergi kau dokter gila,” tolak Arlez mengusir dokter Dimas.


“Kalau tidak mau diinfus makanya jangan sakit dan gila kerja tuan. Kau harus di infus tuan agar lekas sembuh. Mana tangan kau, percayalah ini tidak akan sakit.” Dokter Dimas membujuk dengan sabar. Ia juga mengetahui sifat Arlez yang warkaholic tidak akan berhenti jika belum sakit.


“Saya bukan anak kecil yang bisa kau bohongi dokter. Jadi jangan mencoba membujuk, saya tidak bakal terpengaruh. Sekarang lebih baik kau pergi, saya sangat malas melihat wajah kau dokter menyebalkan,” ketus Arlez tetap mempertahankan tangannya memeluk Serra.


Dokter Dimas sangat kesal mendengar perkataan Arlez saat ini.


“Tuan ayolah dipasang infus sehari saja agar keadaan tuan semakin membaik.” Angga mengacak rambutnya, kesal menghadapi sifat keras kepala Arlez yang menuruni tuan Damareno.


Bagaikan anak kecil Arlez menggeleng, tetap pada pendiriannya tidak akan mau dinfus atau disuntik. Arlez sangat anti berhubungan dengan benda-benda seperti jarum-jarum.

__ADS_1


“Angga kau tahu kan, tanpa diinfus atau disuntik pun saya akan sembuh. Ini bukan pertama kalinya saya sakit, jadi stop membujuk saya agar mau diinfus. Karena itu tidak akan mempan.” Arlez bersungut-sungut.


Dokter Dimas mempunyai sebuah ide, ia melihat gadis disamping Arlez yang sedari tadi hanya diam saja mendengarkan mereka membujuk Arlez agar mau diinfus.


“Nona bisakah kau membujuk tuan keras kepala ini agar mau diinfus. Kalau tidak keadaannya semakin tak baik,” kata dokter Dimas bicara pada Serra yang berada disamping Arlez.


“Jangan dengarkan dia Serra,” ujar Arlez mendongak menatap wajah Serra.


“Uncle yang dikatakan dokter dan tuan Angga benar. Uncle harus diinfus agar keadaan semakin membaik. Ini demi kebaikan uncle sendiri, memangnya uncle mau terus-terusan sakit, lalu membiarkan pekerjaan uncle terbengkalai atau uncle sangat betah berada di kamar dan malas-malasan bekerja. Jangan seperti itu uncle, masih banyak karyawan yang membutuhkan uncle di perusahaan,” tutur Serra mencoba membujuk Arlez.


“Tapi diinfus itu menyakitkan Serra, saya tidak pernah diinfus,” kilah Arlez menggeleng-geleng.


“Terserahlah uncle lah, aku mau pulang saja. Malas disini nanti aku ketularan sakit.” Serra tak tahu lagi membujuk Arlez jadi dia lebih memilih ingin pergi.


Sayangnya Serra tak bisa pergi, karena Arlez semakin mengeratkan pelukannya yang membuat wajah Arlez terbenam diperut Serra.


“Oke, saya mau diinfus. Asalkan kamu menginap disini,” putus Arlez.


“Menginap yang benar saja uncle, aku tidak mau menginap kita bukan mahram.” Serra menolak keras keinginan Arlez yang aneh-aneh saja.


“Kalau gitu saya tidak akan mau diinfus,” ucap Arlez menenggelamkan kepalanya kembali di perut Serra.


Angga menatap Serra penuh permohonan agar mau menuruti permintaan Arlez untuk kali ini saja. Begitupun dokter Dimas juga menatap Serra dengan harapan agar mau memenuhinya.


“Aku akan menginap, tapi hanya semalam besok pagi aku akan pulang,” ucap Serra.


Arlez yang mendengar tersenyum bentar dan mendongak menatap lekas wajah Serra mencari kebohongan sayang tidak ada kebohongan sama sekali.

__ADS_1


“Yang kau katakan benarkan?” Tanya Arlez.


“Benar uncle, jadi uncle harus mau dipasang infus. Setelah itu aku akan membuatkan bubur,” ucap Serra.


Arlez lantas melepaskan satu tanganya dan mengulurkan pada dokter Dimas untuk dipasang infusan.


Dokter Dimas memegang pergelangan tangan Arlez yang terasa dingin dan musukan jarum infusan, lalu memasang selang. Sedangkan Arlez tak berani melihatnya hanya bisa menenggelamkan kepalanya diperus Serra. Serra mengusap kepala Arlez memberikan sensasi menenangkan, dia bagaikan ibu yang mempunyai anak sebesar Arlez yang manja saat sakit dan takut pada jarum infusan.


“Karena tugas saya disini sudah selesai, jadi saya akan kembali ke rumah sakit,” kata dokter Dimas.


“Ya pergilah kau sana kembali ke habitat kau. Jangan datang kesini lagi, aku muak melihat wajah kau dokter tua,” cemooh Arlez.


Dokter Dimas hanya tertawa mendengar cemoohan Arlez. Dokter Dimas sudah terbiasa mendengar perkataan Arlez jika sedang kesal pada seseorang, jadi dia memang tidak mengambil hati soal cemoohan Arlez.


“Ini resep obatnya Angga. Telpon saya kalau ada apa-apa dengan tuan keras kepala itu. Saya akan langsung datang dan menyuntik agar cepat kembali sehat.” Dokter Dimas menyerahkan resep obat pada Anggat dan langsung berpamitan kembali ke rumah sakit.


Seperti biasa Angga mengantar dokter Dimas sampai ke depan pintu. Tapi kali ini mereka akan turun bersama karena Angga akan langsung pergi ke apotik membeli obat yang sudah diresepkan.


🌷🌷🌷🌷


Bersambung. . .


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.


Yuk follow ig author : @dianti2609


Terimakasih ❤

__ADS_1


__ADS_2