
Hari ini Alrez di minta Serra untuk tidak masuk kerja dulu, karena mereka akan pergi menuju kediaman Alkavero. Sebab Rachel mengundang Serra di acara 7 bulan kehamilannya.
"Mas kok masih rebahan, ayo bangun mandi," seru Serra ketika melihat suaminya masih tetap dengan posisi yang sama saat ia tinggal mandi.
"Emang kita harus banget datang kesana sayang? Mas engga mau entar kamu ketemu Arka," jujur Alrez, entah kenapa ia menjadi waspada sekarang. Semenjak Serra dan Rachel berbaikan.
"Kamu ini gimana toh Mas, inikan acara 7 bulanan Rachel. Rachel kan istrinya Arka, otomatis kita pasti ketemu," ucap Serra malah menambah panas hati Alrez.
"Oh jadi kamu senang ketemu mantan suami," sindir Alrez sembari bangun dari berbaringnya.
"Ga jelas kamu Mas, yaudah kalau kamu gak mau ikut! Aku bisa berangkat diantar sopir," pungkas Serra berbalik badan ingin melangkah keluar dari kamar sebelum tangan kekar suaminya menarik lengannya hingga jatuh ke pangkuan.
"Mas," pekik Serra.
"Mau kemana hem? Keluar tanpa suami, emang Mas izinin," ujar Alrez.
"Awshh! Mas perut aku jangan dipeluk erat," ringis Serra merasa sedikit kesakitan akibat tekanan kuat dari suaminya.
"Sayang maaf! Mas benar-benar gak sadar, maaf maaf maafin papa." Alrez kini berubah posisi menjadi berlutut depan perut buncit Serra sambil menangkup tangan, menampilkan wajah penuh sesal.
"Hiks maaf sayang!" Lirih Alrez menitihkan air mata.
Serra yang tadi ingin sekali memarahi suaminya, kini menjadi tidak tega. Apalagi melihat suami tampannya menangis dihadapannya sekarang.
"Sudah aku gak papa Mas, tadi cuman sedikit sakit. Sekarang udah agak mendingan," ucap Serra mengusap bahu suaminya agar berhenti menangis.
"Benar, kamu gak bohong kan sayang, atau gak kita ke rumah sakit aja buat periksa keadaan dede bayi. Mas takut terjadi apa-apa sama dede bayi," ujar Alrez.
"Gak perlu Mas, aku yakin anak kita kuat. Sekarang aku minta Mas mandi ya, kita datang ke acara Rachel mau kan?" kata Serra bertanya hati-hati.
"Baik sayang, tapi saat disana nanti, pokoknya kamu gak boleh jauh-jauh dari Mas, bisa?"
"Siap suami tampan ku yang cemburuan akut." Serra gemas menjepit hidung suaminya, keduanya pun tertawa bersama.
•
__ADS_1
Selama proses acara berlangsung, Serra benar-benar menepati perkataannya yaitu tidak berjauhan dengan Alrez. Kemanapun ia melangkah Alrez dengan setia mengekorinya.
Mama Alia jengah melihat sifat posesif putranya pada menantu kesayangannya pun menegur Alrez.
"Rez bisa tidak kamu kumpul bersama para lelaki, biarkan Serra bersama mama. Mama bakal pastin istri mu aman," ujar mama Alia.
"Tidak bisa mah, aku akan tetap jagain istriku," sahut Alrez sembari tangannya melingkari pinggang istrinya.
"Kamu ini posesifnya kebangetan loh, masa Serra mau kumpul sama teman-teman cewenya kamu ekori juga," kata mama Alia.
"Sana kamu pergi aja, Serra biar bantuin mama disini," lanjut mama Alia mengusir putranya.
Namun Alrez tetap berdiri disamping istrinya, meski telah diusir mama Alia sekalipun dia tidak akan meninggalkan istrinya.
"Rez sana, mending kamu gabung sama para lelaki," ujar mama Alia kembali mengusir Alrez.
"Percuma mah, anak tampan mama ini gak akan mau pergi," celetuk Serra.
"Sayang mending kita pulang aja yuk, Mas bosen disini lama-lama," ungkap Alrez mulai merasa bosan dirumah kakaknya, karena dia tidak bisa mesraan dengan istrinya.
"Benaran tapi sayang, gak boleh bohong loh," sahut Alrez.
"Iya suamiku," jawab Serra harus sabar menghadapi tingkah suaminya.
"Alrez bisa ikut kakak sebentar, ada yang mau dibicarakan," ujar Alka yang tiba-tiba muncul secara mendadak dihadapan mereka.
Sebelum menjawab permintaan Alka, Alrez melirik istrinya seperti tak rela meninggalkan istrinya tanpa pengawasannya. Sungguh hati Alrez dibuat bimbang sekarang.
"Mas, aku gak bakal dekat-dekat Arka, jika itu yang Mas takutkan," tukas Serra lembut mengusap lengan suaminya, sembari mendongak menatap suaminya dengan senyum manis.
Alrez pun mengangguk percaya dengan istrinya. Lalu dia melangkah mengikut Alka menuju ruang kerja kakaknya.
"Kamu pasti terkekang banget jadi istrinya putra bungsu mama. Maafin anak mama ya nak," ucap mama Alia merangkul pundak Serra.
Serra menolah ke arah mama mertuanya dengan senyum hangat.
__ADS_1
"Serra gak terkekang kok mah, Serra tau Mas Alrez begitu demi kebaikan aku. Selagi itu baik aku bakal nurut," jelas Serra.
"Bijak banget sih menantu mama nih. Arka pasti nyesel ngelepas kamu nak," kata mama Alia.
"Oma benar, aku nyesel udah lepasin Serra. Bahkan sampai sekarang pun hati dan cinta ku masih untuk kamu Ra," sambung Arka memasuki area dapur untuk mengambil sesuatu.
"Arka! Masih waras kamu bicara seperti itu terhadap menantu Oma. Ingat istri mu Arka, sebentar lagi kamu bakalan jadi ayah, begitu pula Serra dan Arlez. Jadi hilangkan rasa cinta mu pada menantu Oma dan berikan cinta mu untuk Rachel, istri mu." Terang mama Alia menegaskan kalimatnya.
"Arka sekarang kita punya keluarga kecil masing-masing. Apapun masalah kita di masalalu, aku sudah ikhlas, sekarang aku hanya ingin hidup damai. Tolong hilangkan perasaan kamu ke aku, anggap aku sebagai tante mu, istri dari om mu. Berbahagialah dengan sahabat ku, kenal lah Rachel lebih dalam lagi, aku yakin kamu akan jatuh cinta dengannya," ucap Serra panjang lebar, berharap Arka mengerti setiap kalimat yang ia katakan.
"Maaf ra aku belum bisa sepenuhnya lupain kamu. Karena kamu cinta pertama ku, aku juga tau kamu pasti masih mencintai ku, iya kan?" Ungkap Arka dengan berani.
Saat tangan Arka hampir menyetuh tangan Serra, dengan secepat kilat tangan seseorang menarik kerah belakang baju Arka, satu pukulan dilayangkan orang tersebut pada wajah Arka. Tepat melukai sudut bibir Arka, hingga mengeluarkan darah segar.
Bugh!
"Berani kamu sentuh istri saya, habis kamu ditangan saya," geram Alrez siap akan melayangkan kepalan tangan pada wajah Arka. Tapi Serra dengan cepat memeluk Arlez untuk meredakan emosi yang sedang mengusai suaminya.
Ya, Alrez sosok yang menarik kerah baju belakang Arka. Setelah berbicara dengan Alka masalah bisnis, Alrez segera mencari keberadaan istrinya di dapur. Namun yang ia dapati disana bukan cuma istrinya dan mamanya, tetapi ada Arka juga yang malah mengakui perasaannya, membuat ia meradang seketika.
"Istri hasil ngerebut saja bangga! Ingat om Serra itu mantan istriku, yang artinya dia pernah mencintai ku asal om tau. Jadi wajar saja aku susah melupakan cinta pertama dan Serra pastinya juga bakalan susah lupain aku, sebab aku adalah cinta pertamanya," kata Arka tersenyum lebar, melihat wajah Alrez yang nampak marah.
"KAMU!!!" Alrez ingin sekali menghajar kembali wajah Arka, namun apa daya pelukan istrinya dipinggangnya membuatnya tak bisa berbuat apa-apa.
"Mas sudah jangan diladenin Arka. Intinya aku cuma mencintai kamu. Hati aku cuma ada kamu, apa itu cukup membuat mu percaya dengan cintaku?" ucap Serra mengusap dada suaminya.
Arlez memilih diam dan menarik lembut tangan Serra menghadap mama Alia untuk berpamitan.
"Mah, aku sama Serra pulang dulu." Pamitnya.
"Iya nak, jaga istri mu ya," pesan mama Alia diangguki Alrez.
Mereka berjalan melewati Arka yang tampak mengenaskan hanya dengan satu pukulan dari Alrez.
"Gimanapun caranya aku bakalan ngerebut kamu dari om Alrez ra, karena kamu cuma milikku." batin Arka.
__ADS_1
"Arka cepat bersihkan wajah mu, jangan sampai orang-orang melihat mu seperti itu. Oma tidak akan mengatakan apapun pada orang-orang, karena itu cuma mengacaukan acara baik ini."