YOU'RE MINE, SERRA

YOU'RE MINE, SERRA
Bagian 48


__ADS_3

Sedangkan sebelumnya dibawah orang-orang tengah duduk. Belum ada yang membuka pembicaraan tentang perjodohan Alrez dan Luciana. Damareno, Benedicto dan Alka, mereka malah membicarakan bisnis. Sesekali Alrez ikut menimbrung. Tapi lama kelamaan Alrez yang duduk di sofa single merasa bosan dan gelisah bersamaan, otaknya memikirkan Serra yang lagi sendirian di apartemennya. Perasaan khawatir melandanya, Alrez pun berdiri ingin berpamitan pulang.


"Mau kemana Rez?" tanya papa Reno.


"Kemana lagi pa, aku mau pulang," jawab Alrez.


"Duduk kembali Rez! Masih ada belum kami bicarakan," titah papa Reno.


Alrez memilih tidak membantah papanya, pria itu mau tahu apa yang sedang ingin dibicarakan mereka.


Reno melihat Alrez yang duduk kembali di tempatnya lantas memulai pembicaraan tentang perjodohan.


"Rez, mungkin keputusan sepihak papa ini terlalu cepat bagi mu. Kemaren papa memberikan mu waktu selama tiga bulan untuk membawa calon istri dan memperkenalkan ke kami. Tapi papa kira itu sangat lama, jadi akhirnya papa dan mama memutuskan menjodohkan mu dengan putri tunggal Benedicto. Papa yakin kalian pasti sudah saling mengenal, jadi tidak perlu menunggu lama pernikahan kalian akan di laksanakan satu minggu lagi. Berhubung papa dan mama akan berangkat ke London setelah pernikahan kalian..."


Penjelasan Reno papanya, membuat Alrez cukup terkejut dengan keputusan yang diambil papanya.


"Bagaimana nak Alrez apa kau mau menikah dengan putri saya Luciana?" Benedicto angkat bicara dan bertanya.


"Tidak! Saya tidak menerima perjodohan ini." Alrez berkata lantang menolaknya.


"Saya tidak mencintai anda nona Luciana. Saya sudah punya calon istri sendiri, saya mencintainya. Jadi saya minta perjodohan ini kalian batalkan saja, saya pamit.."


Arlez pergi dari hadapan semua orang. Bahkan Alka yang meneriaki dirinya tidak dihiraukan sama sekali olehnya. Alrez mengendarai mobil dengan ugal-ugalan sampai di gedung apartemennya ia mengerem mendadak dan memukul setirnya.


"Bisa-bisanya papa menjodohkan dengan wanita itu." Alrez menggeram marah.


"Dasar wanita sialan..." Teriak Alrez penuh kemarahan.


Pria itu mengambil handphone dan menghubungi Angga asisstennya.


"Angga saya minta putuskan kerja sama kita dengan perusahaan Benedicto sekarang juga," titah Alrez di telpon.


"Baik tuan, segera saya putuskan." ujar Angga di telpon.


TUTT..


Selesai mendengae jawaban Angga, Alrez mengakhiri telponnya.


Kenapa Alrez tidak menemui Angga langsung padahal apartemen mereka bersebelahan, itu karena Angga masih berada di kantor mengurus sesuatu.


Alrez tetap bertahan dalam mobilnya, emosinya belum sepenuhnya reda. Alrez takut melampiaskam emosi pada Serra, ia tidak ingin sampai menyakiti gadisnya.


Dalam kamar apartement Serra yang terlelap, tidurnya menjadi terusik oleh deringan ponselnya. Serra bangun bersandar di kepala ranjang, tangannya meraba ponselnya di nakas, lalu mengangkatnya dengan mata terpejam.


"*Halo-"

__ADS_1


"Hallo apa ini dengan anaknya ibu Rida*?"


Mata Serra yang tadinya terpejam, kini terbuka sempurna. Menatap layar ponselnya menampilkan nama ibunya.


"Maaf kenapa ponsel ibu saya ada sama anda. Anda siapa?" cecar Serra bertanya.


"*Saya orang yang membawa ibu mu ke rumah sakit. Ibu mengalami kecelakaan tabrak lari, cepatlah ke rumah sakit dokter butuh persetujuan mu untuk operasi."


"Baik baik saya ke rumah sakit sekarang, terimakasih sebelumnya*."


"Ibu," tangis Serra sambil mengambil jaketnya dan memakainya.


Serra keluar dari apartemen masuk ke dalam lift. Sampai di bawah Serra celingak-celinguk mencari angkutan umum.


"Serra! mau kemana gadisnya malam-malam begini," pikir Alrez.


Tanpa pikir panjang Alrez memutar mobil menyetopkan dekat Serra. Alrez menurunkan kaca mobilnya.


"Ra masuklah, aku akan mengantarmu," seru Alrez.


Serra masuk ke dalam mobil Alrez tanpa protes atau membantah seperti biasanya. Sebab pikirannya sedang kalut memikirkan keadaan ibunya. Alrez menjalankan mobil mengendarai menuju rumah sakit.


"Hiks.. uncle kita ke rumah sakit sekarang, ibu ku mengalami kecelakaan," ujar Serra mengatakan dengan terisak-isak.


"Aku akan menelponnya." Serra mengeluarkan ponselnya menelpon Arka. Tapi handphone tidak diangkat sama sekali.


Alrez melirik Serra dan kembali fokus menyetir. "Tidak diangkat uncle.."


"Coba telpon kembali," ucap Alrez.


Serra kembali mencoba menelpon tetap sama tidak diangkat-angkat. Serra menyerah menghubungi Arka. Mungkin Arka sudah tertidur nyenyak hingga suara deringan telpon tidak membuatnya terganggu.




Ketika mobil Alrez berhenti di parkiran rumah sakit. Tanpa menunggu Alrez, Serra keluar duluan dari mobil, gadis itu berlari masuk ke dalam rumah sakit.


"Serra jangan berlari," teriak Alrez memperingati Serra yang tak dihiraukan gadisnya.


Alrez lanta keluar menyusul Serra. Pria itu juga berlari mengejar gadisnya, ia takut gadisnya tersandung saat belari membuatnya jatuh. Tidak bisa dibayangkan! bagaimana jadinya.


"Anda putrinya ibu Rida?" tanya dokter berpakaian baju operasi.


"Iya dok saya anaknya, gimana keadaan ibu saya?" Serra balik bertanya.

__ADS_1


"Saya belum bisa memastikan dan kamu harus menandatangani surat persertujuan ini agar kami bisa melakukan tindakan operasi sekarang juga," kata dokter menjelaskannya.


Serra mengangguk dan menandatangi surat yang diserahkan suster padanya.


"Oh iya nona kau juga harus melunasi biaya operasi sekarang," kata suster.


"Memangnya berapa biaya operasi suster?" tanya Serra.


"Sekita lima puluh juta nona," jawab suster.


Serra shock dengan nominal biaya operasi yang disebutkam suster. Setelah mengatakan itu suster masuk dalam ruangan menyusul dokter yang telah di dalam.


"Bagaimana ini aku tidak punya uang sebanyak itu hiks, menelpon Arka pun percuma tidak akan diangkat juga. Yaallah sungguh berat sekali cobaan yang kau berikan pada hamba mu ini," ucap Serra menangis tersedu-sedu.


"Saya bisa membantu mu ra," ujar Alrez bicara dibelakang Serra.


Serra tersenyum mendengar itu, "Benarkah uncle?" tanyanya memastikan.


"Ya, tapi ini tidak gratis. Ada syarat yang harus kamu penuhin, kamu setuju," kata Alrez.


"Kalau uncle tidak ikhlas tidak usah mengatakan mau membantu, jika akhirnya bersyarat," ketus Serra menatap kesal pria dewasa didepannya.


Alrez menghendikan bahunya, "Berarti kamu memilih ibu sekarat, walaupun kamu meminta bantuan pada Arka. Arka tak akan bisa membayarnya karena pengeluaran selalu diawasi oleh mamanya." Jelasnya.


Serra memutar kembali otaknya, yang dikatakan Alrez sepenuh adalah benar.


"Baiklah aku setuju, apa syaratnya?"


"Syarat nanti kamu akan tahu sayang!"


Setelah mengatakan itu, Alrez melenggang pergi menuju administrasi untuk melunasi biaya rumah sakit calon mertuanya.


...****************...


Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!


Follow ig aku yuk guys : @dianti2609


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓

__ADS_1


__ADS_2