
Sabrina yang melihat Rida tertidur pulas pun berbicara pada perempuan itu. Mengatakan sejujurnya, tentang semua kebenaranya tanpa mengurangi atau melebihi sedikitpun.
Disitulah Rida yang berpura-pura tidur, mengatupkan mulutnya rapat-rapat dan menahan tangisnya yang ingin pecah, tubuhnya terasa lemas, jika saja dia sedang bediri mungkin saat ini tubuhnya sudah luruh. Rasanya Rida ingin berteriak marah pada dua orang yang dengan teganya membodohi dan memanfaatkan demi keuntungan mereka.
Tidak berpikir panjang atau meminta penjelasan suami terlebih dahulu sebelum memutuskan jalan yang di ambil. Rida memilih pergi, dia menyerah dan mengalah, tetapi dia akan tetap membawa anak kembar bersamannya. Sayang sekali Rida tak bisa membawa keduanya, jadi dia membawa anak perempuannya saja.
Keesokan pagi di rumah sakit tempat Rida melahirkan mengalami kehebohan sebab Avrian marah-marah saat tak melihat keberadaan Rida dan suster memberitahunya bahwa salah satu anak kembarnya hilang, yaitu putrinya.
"Rama kerahkan seluruh bodyguard, cari istriku dan putriku sampai ketemu." teriak Avrian ditelpon.
Avrian menutup telpon dan memasukan ponselnya ke dalam saku celana. "Rida mengapa kamu pergi, tidak menunggu ku menjelaskan semuanya! Apa tadi malam kamu berpura-pura tidur, lalu mendengar semua yang telah dikatakan Sabrina. Seharusnya kamu tidak pergi, harusnya dengarkan aku. Kamu harusnya mendengar isi hati ku, bahwa selama ini aku mencintaimu, seiring kedekatan kita membuatku tak bisa menahan rasa cintaku. Meskipun ini tidak seharusnya terjadi, sebab aku telah berjanji pada Sabrina, untuk segera menceraikan mu setelah anak kita lahir. Tetapi aku berubah pikiran, aku akan mengatakan pada Sabrina bahwa aku telah ajatuh cinta dengan mu. Jika aku harus memilih salah satu diantara kalian, aku tidak akan bisa memililih, karena kalian adalah wanita yang aku cintai. Ya, aku emang egois karena mencintai dua wanita sekaligus, tapi itulah kenyataannya aku mencintai kalian. Aku yakin bisa berbuat adil!" sesalnya.
"Mas! Aku mendengar Rida melarikan diri dari rumah sakit dan membawa salah satu anak kembar kita, benarkah itu mas?" Sabrina masuk memeluk suaminya.
"Benar sayang! Mas sudah memerintahkan seluruh bodyguard untuk mencari keberadaan mereka."
"Ku mohon temukan mereka mas, aku ingin princess juga bersama dengan kita."
"Mas akan usahakan sayang, kamu tenang ya jangan menangis. Lebih baik kita menengok Aiden jagoan kita." Avrian merangkul istrinya, mereka keluar dari kamad rawat menuju ruang khusus bayi.
Berbulan-bulan dan bertahun-tahun, hasil pencarian bodyguard nihil. Mereka tak bisa menemukan keberadaan Rida dan putrinya. Avrian akhirnya memutuskan mengakhiri pencarian.
Flashback off
__ADS_1
Opa Haidzar berdiri dari duduknya, menatap tajam Avrian. Lalu maju mendekati dan meraih kerah kemeja Avrian sampai membuat orang berdiri dari duduknya. Tatapan Opa Haidzar menyalak kepada putranya.
Bug! Opa Haidzar memberikan satu bogeman mentah pada pelipis Avrian. Serra yang melihat kekerasan didepannya, menyembunyikan kepalanya didada bidang Alrez. Semantara Sabrina menutup mulutnya, karna kaget melihat ayah mertuanya menghajar suaminya.
"Ayah tidak pernah mengajari mu menjadi brengsek Avri! Seharusnya kalian ngomong sama ayah dan bunda, kami pasti akan mengerti keadaan kalian."
Aiden sampai terperangah melihat kemarahan Opanya. Ini pertama kalinya dalam hidup Aiden melihat papanya dipukul oleh Opanya. Biasanya Aiden hanya akan mendengar Opanya selalu bicara membanggakan papanya. Tetapi kali ini hanya ada kemarahan yang menguar dari aura Opanya.
"Sabrina! Seharusnya sebagai sesama wanita kamu memikirkan perasaannya bagaimana jika yang diposisi wanita itu adalah kamu. Pasti kamu akan merasa sangat sakit mengetahui segalanya, menikahi hanya agar mendapatkan seorang. anak. Ayah merasa gagal Avri mendidik mu, ayah gagal!"
Opa Haidzar menatap hancur dan sedih bersamaan kearah cucu perempuan yang selama tak mendapatkan kasih lengkap dari kedua orang tuanya. Bahkan selama ini mereka hidup dalam kemewahan, tanpa tahu salah satu keturunan Lesham hidup kekurangan diluar sana. Opa Haidzar merasa amat bersalah atas kelakuan putranya di masalalu yang baru diketahuinya sekarang.
"Maafkan Opa nak! Andai Opa tahu memiliki cucu kembar dan yang satunya bersama dengan Ibu kandung. Pasti Opa akan menyusuri seluruh wilayah indonesia, mencari kalian sampai ketemu. Sayang sekali Opa terlambat mengetahui semua ini," ucap Opa Haidzar meminta maaf sembari berlutut dihadapan Serra.
"Semua telah terjadi Opa! Nasi sudah jadi bubur, waktu tidak dapat diputar lagi. Roda kehidupan semakin berjalan kedepan, meninggalkan masalalu. Tapi ingatan tidak bisa melupakan masalalu, aku belum sepenuhnya mengerti masalah ini. Tapi sangat memahami perasaan Ibu ku, ternyata foto yang setiap malam Ibuku tangisin dan rindukan adalah pak Avrian. Hampir setiap malam aku melihat Ibuku menangis, waktu itu aku masihlah anak kecil yang belum mengerti apa apa. Ketika aku beranjak mulai dewasa, aku juga masih melihat Ibuku menangis setiap malamnya, diam-diam aku mencari foto yang selalu membuat Ibuku menangis. Aku ingin melihat foto siapa yang selama ini membuat Ibuku menangis, setelah melihatnya aku akan membuangnyn jauh-jauh agar Ibuku tidak menangisi foto itu lagi, tetapi aku kalah cepat Ibuku telah membakar foto tersebut. Di saat itulah aku mulai melihat perubahan Ibuku, tidak melihatnya menangis lagi." Serra menitikan air mata menceritakan sedikit dari masa kecilnya.
"Aku bersyukur memiliki Ibu ku! Wanita kuat dan tangguh, tak pernah lelah bekerja demi menghidupku. Selama ini aku hanya tahu jika bapakku adalah kakak kandung dari Ibuku. Aku pernah sekali menanyakan keberadaan bapak kandung ku, tetapi Ibu ku malah menangis, sampai suatu hari aku memilih untuk tidak menanyakannya lagi dan menganggap mungkin bapakku sudah tiada dan yang berperan menggantikan bapakku adalah kakak kandung Ibuku."
"Uncle antar aku pulang sekarang, aku ingin bertemu Ibu," ucap Serra, kemudian berlari keluar dari mansion dengan tangisan yang pecah.
"Saya pamit pulang dulu," kata Alrez berpamitan.
Avrian mengangguk, "Tolong jaga putriku Alrez! Aku mempercayai mu."
__ADS_1
"Saya akan menjaga dengan baik," ucap Alrez berlalu keluar menyusul gadisnya yang pasti sedang menangis.
"Aiden, besok pertemukan opa dengan Ibu kandung mu. Opa ingin melihatnya secara langsung," ujar Opa Haidzar.
"Baik Opa," jawab Aiden.
"Kalian berdua juga akan ikut kesana, minta maaflah pada wanita yang hatinya telah kalian sakiti," kata Opa Haidzar.
Keduanya hanya mengangguk, tidak bisa mengeluarkan suara sedikitpun. Karena mereka memang bersalah dalam hal ini. Opa Haidzar melenggang pergi menuju kamarnya, sungguh hari ini Opa Haidzar sangat lelah. Baru saja dia mengalami kecelakaan dan harus dihadapkan dengan permasalahasan putranya. Berat sekali rasanya masalah ini, tapi Opa Haidzar ingin cucu perempuan dan menantu yang baru diketahuinya tinggal bersama mereka dimansion ini. Harapan Opa Haidzar sangat besar cucu perempuannya mau menerima keluarga mereka.
...****************...
Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓
__ADS_1