YOU'RE MINE, SERRA

YOU'RE MINE, SERRA
Bagian 102.


__ADS_3

“Arka! Hari ini kamu sama Rachel fitting baju pengantin, mama sudah buatkan janji sama orang butik. Kebetulan yang punya butik sahabat mama sendiri,” ujar Devita sembari mengoleskan selai di rotinya.


“Hem, iya aku langsung kesana selesai sarapan,” sahut Arka.


“Loh kok abang malah mau langsung kesana. Rachel gak di jemput?” Celetukan Liora mendapat tatapan tajam dari Arka.


“Rachelnya di jemput dong ka, masa kalian dateng sendiri-sendiri,” kata Devita kembali bicara.


“Hem..” deham Arka “Aku selesai, mau bersiap dulu,” lanjutnya.


Arka lantas menggeser kursi menimbulkan suara decitan. Devita menatap kepergian putranya, menghela nafas. Semenjak bercerai, putranya berubah menjadi manusia dingin dan tak memiliki semangat seperti biasanya.


“Sabar mah, abang pasti bisa kembali seperti dulu,” ucap Liora mengusap bahu mamanya.


“Iya sayang benar kata Liora. Kita cukup menunggunya, papa yakin Rachel bisa membuat Arka perlahan melupakan Serra,” ujar Alka bijak.


Devita mangut-mangut memahami sifat putranya yang sekarang.


...•••...


Rachel langsung turun tangga saat mendengar papanya memanggil namanya. Begitu turun, Rachel bisa melihat seorang lelaki yang sedari tadi ditunggunya. Hati Rachel sungguh berbunga-bunga melihat kehadiran Arka di rumahnya dan duduk disebelah papanya.


“Arka jaga putriku dengan baik, ingatlah dia sedang mengandung anak mu,” ucap Syahreza ketus memperingati calon menantunya.


“Om tak perlu khawatir, saya tidak akan mencelakainya,” balas Arka tak kalah sengit.


“Pa! Pleasee, jangan gitu. Bentar lagu Arka akan menjadi suamiku, aku percaya dia bakalan menjagaku dengan sepenuh hati dan jiwanya,” ujar Rachel seraya menengahi keduanya sebelum terjadi keributan lagi.


“Rachel benar pah! Percayalah sama calon menantu kita, setidaknya dia sudah mau bertanggung jawab atas perbuatannya,” imbuh Ranti meminta suaminya agar mengembalikan rasa kepercayaannya terhadap Arka yang sempat lenyap oleh perbuatan lelaki tersebut.


“Papa masih harus melihat seberapa jauh ia bisa menjaga dan melindungi putri kita mah. Papa mau melihat pembuktiannya,” tegas Syahreza berlalu pergi ke ruang kerjanya.


“Maaf tante! Gara gara saya om Reza jadi pergi begitu saja. Tante tak usah khawatir saya akan menjaga Rachel dengan baik,” ungkap Arka sopan, bagaimanapun tante Ranti sebentar lagi bakalan menjadi mertuanya.


“Engga papa nak Arka. Kamu ga salah, beberapa hari ini suami tante memang agak sensitif tentang Rachel. Apalagi bentar lagi kamu jadi suaminya Rachel, jadi suami tante harus benar benar seleksi pasangan putrinya,” tutur Ranti.


“Ya, tante tahu kalian menikah karena Rachel mengandung anak mu sekarang. Tante percaya kok sama kamu, kalau kamu pasti bisa menjaga dan melindungi putri tante ini,” lanjut Ranti memeluk pinggang putrinya dan menempelkan pipinya sayang.


Rachel tersenyum sekaligus sedih bersamaan. Perkataan mamanya membuatnya terharu.


“Udah ihh, anak mama kok nangis. Jangan nangis sayang, nanti anak kamu juga ikut ngerasain kesedihan kamu.” Ranti menghapus air mata putrinya.

__ADS_1


“Kamu sama Arka buruan sana pergi ke butik fitting baju pengantinnya,” ujar Ranti.


“Kami pamit ya mah,” ucap Rachel meyalami tangan mamanya diikuti Arka yang juga sama melakukannya.


Arka menyetir mobil dengan Rachel yang duduk disebelahnya, mereka baru saja keluar komplek perumahan Rachel. Di dalam mobil hanya ada keheningan, Rachel juga tidak punya pembahasan yang mau di omongkan.


Tiba di butik, kedua lekas keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam butik.


“Selamat datang di butik kami! Ada yang bisa kami bantu?” Sambut seorang wanita berpakaian kemeja putih dan rok hitam span sebatas lutut.


“Mama saya sudah ada buat janji dengan tante Elia,” kata Arka.


“Mohon ditunggu sebentar, saya panggilkan boss saya terlebih dulu.” Setelah itu pegawai butik tersebut lantas mendatangi ruangan bossnya untuk memberitahukan.


Tok...tokk...tokk...


“Maaf bu saya menganggu, diluar ada dua orang yang menunggu Ibu. Katanya sudah membuat janji temu,” ucap pegawai perempuan itu dengan sopan.


“Itu pasti anak sahabat saya,” ujar Eliana segera keluar dari ruangannya bersama pegawainya.


“Selamat datang calon pengantin. Apa kau putranya Devita?” Eliana menyambut keduanya dengan senyuman lebar dan melontarkan pertanyaan kepada lelaki di samping seorang gadis.


“Hm, saya anaknya,” balas Arka.


Rachel tampak tertarik dengan semua gaun pengantin yang dilihatnya. Benar-benar bagus semua.


“Saya tahu kamu pasti tak sabar untuk mengenakan salah satu dari gaun gaun ini,” tebak Eliana, Rachel mengangguk malu-malu.


“Sebaiknya mari mencoba gaun-gaunnya, kayaknya calon suami mu tak sabar melihat kamu mengenakan gaun gaun ini.” Eliana malah menggoda Rachel yang bersemu merah.


“Sisil kamu bantu calon pengantin wanita mencoba beberapa gaun gaun ini,” suruh Eliana memerintahkan pegawai yang tadi.


“Baik bu! Mari nona saya bantu.”


Mereka masuk ke sebuah ruangan ganti. Di dalam sana Rachel dibantu mengenakan baju pengantin. Kemudia berlalu keluar kamar ganti tersebut.


“Gimana menurut kamu ka?” Cicit Rachel memberanikan diri bertanya.


“Hm, bagus!” Jawab Arka singkat.


Memang gaun yang dikenakan Rachel tidak terlalu mewah seperti gaun pada umumnya. Namun ini terlihat elegant, cantik dan simpel. Rachel tersenyum menatap gaunnya sendiri.

__ADS_1


Setelah melakukan fitting baju yang memakan waktu lumayan lama. Arka dan Rachel melipir ke sebuah toko Jewelry, untuk membeli cincin kawin. Rachel sibuk mencari cincin, semantara Arka hanya bisa melihat-melihat saja, enggan untuk ikut memilihnya, biarlah Rachel saja yang memilihnya.


“Sudah dapat?”


“Eum iya, ini kayaknya bagus.”


Selesai melakukan pembayaran, keduanya lantas melanjutkan perjalanan pulang. Dipertengahan perjalanan Rachel melihat warung bakso membuat ingin makan disana.


“Ka, bisa gak kamu putar balik. Aku pengen makan bakso yang kita lewatin tadi,” cicit Rachel, mulai sekarang Rachel mencoba untuk tidak menggunakan kosa kata ‘lo’ ‘gue’ lagi.


Tentu saja, tanpa biacara Arka memutar balik mobilnya menuju kearah yang tadi. Memberhentikan mobil tepat di halaman warung bakso.


“Arka kita makan bakso yuk!” Ajak Serra ketika mereka pertama kali jadian setelah sekian lama dekat.


“Dimana?” Tanya Arka.


Serra menunjuk tempat bakso yang sering dia makan bersama Ibunya. “Maju sedikit lagi. Stop disini.”


Arka nampak tercengang melihat tempatnya. Lalu membaca sebuah tulisan yang tertera di baleho ‘Warung Bakso’. Sungguh benarkan mereka harus makan ditempat seperti ini, karena ini merupakan pertama kalinya bagi Arka makan ditempat seperti ini.


“Yakin yank makan disini? Kenapa gak cari tempat lain aja,” ujar Arka.


“Kenapa ka? Apa ada yang salah sama tempat ini.”


“Enggak sih sayang, cuman-“


“Aku tau kamu pasti baru pertama kalikan ketempat kayak gini, ngaku aja.”


Arka mengangguk.


“Ka kamu tenang aja, aku jamin warung ini tempatnya bersih dan bakso juga higenis. Bukan cuma itu, baksonya juga super enak banget, sahabat aku Rachel sama Nabila aja suka makan disini.”


...****************...


Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!


Follow ig aku yuk guys : @dianti2609


Bersambung. . .


Follow juga ya!!

__ADS_1


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓


__ADS_2