
'Sreett.....'
Sinar mentari pagi yang menerobos masuk, ketiga gorden di buka lebar oleh seorang gadis berseragam sekolah. Gadis itu kemudian beranjak dari jendela mendekati sosok pria dewasa yang masih nyenyak dalam tidurnya.
"Bangun uncle sudah pagi!"
Alrez membuka matanya, lalu bangun merenggangkan otot-otot tangannya seraya mengucek kedua matanya. Kesadarannya belum sepenuhnya pulih, terlihat dari mata masih terpejam sambil duduk dan menyandarkan kepala di lengan sebagai bantalan.
"Uncle! Akhiri tidur mu, sekarang mandilah, pakaian serta sarapan uncle sudah aku siapkan dibawah," ujar Serra menggoyangkan lengan Alrez.
"Hem! Serra tunggu sebentar ada yang mau saya bicarakan," sergah Alrez ketika mendengar pintu kamar yang dibuka.
Baru beberapa langkah berjalan menuju pintu, Alrez memanggil Serra dengan gerakan malas Serra berjalan balik menghampiri Alrez.
"Ada apa uncle?"
"Begini, saya akan berangkat ke Turki hari ini. Karena ada urusan penting disana, yang harus saya sendiri menyelesaikan," ucap Alrez memberitahu Serra.
"Berapa lama?" tanya Serra berbasi basi, padahal dalam hati ia merasa senang dan lebih aman kalau Alrez tak berada di dekatnya. Tetapi disisi lain Serra tak dapat dipungkiri bahwa ia juga merasa sedikit tak rela, entalah apa yang terjadi dengan dirinya! Tidak mungkin bukan di ruang hatinya ada rasa yang mulai tumbuh untuk uncle Alrez pria dewasa yang mesumnya minta ampun.
Serra geleng-geleng kepala, menghilangkan pikiran tak waras bersarang di otaknya, yang ada kesehatan akan terganggu. Alrez menatap dengan keanehan.
"Ra, kamu kenapa geleng geleng kepala begitu?" Bukannya menjawab pertanyaan, Alrez malah bertanya tentang tingkah Serra.
"Hahh! memang aku kenapa," ucap Serra.
"Kamu terlihat aneh, oh atau kamu gak rela saya pergi ya. Kamu tenang saja saya tak akan lama cuma satu minggu aja disana. Saya pasti akan sangat merindukan mu cantik."
Serra tak menyadari jika Alrez sudah berdiri di hadapan, bahkan mengelus pipinya dengan gerakan lembut sensual. Alrez juga mendekatkan bibir ke bibir merah ranum milik Serra. Tubuh Serra menjadi tak bisa bergerak saat Alrez meremas lengannya, bahkan ia menerima ciuman Alrez begitu saja tanpa penolakan. Hawa dingin hembusan AC, kini menjadi panas akibat ulah Alrez.
Alrez yang merasa nafas Serra tidak teratur pun menghentikan ciumannya. Alrez nampak tersenyum meneliti wajah Serra merah. Lip crem yang Serra oleskan di bibirnya telah berpindah ke bibir Alrez.
__ADS_1
"Tarika nafas sayang, lalu hembuskan," ujar Alrez.
Serra mengikuti perkataan Alrez dan melakukan dengan perlahan. Akhirnya nafas mulai teratur. Wajah Serra berubah merah padam ketika sadar apa yang telah mereka lakukan.
'Bugg!'
"Hiks, kenapa uncle terus saja memperlakukan aku seperti ini! Mencium memeluk ku semaunya, apa aku terlihat seperti gadis murahan yang haus akan belaian. Benarkah di mata uncle seperti itu?"
Serra menangis, hatinya tersayat setiap kali Alrez menyentuhnya. Apa dia sungguh seperti gadis murahan yang gampang di sentuh dimana saja dan kapapun. Kejadian ini sudah sering terulang, tetapi ia tak bisa berbuat apapun. Karena setiap merasakan sentuhan tubuh malah merespon bukan menolak.
Hiks! Hiks! Hiks!
"Jawab uncle?! Kalau memang begitu lakukan lah uncle, setelahnya aku akan terbebas dari syarat ini. Dan jangan pernah mendekatiku lagi.. Ayo uncle lakukanlah yang kau inginkan dariku." Serra menarik kerah baju piyama Alrez.
Alrez menggeleng, ia tidak bisa mengambil mahkota gadisnya sebelum sah menjadi istrinya. "Maaf lagi lagi saya tak bisa menahan nya Ra! Saya akui bahwa diri saya ingin sekali melakukan, tetapi ketahuilah saya tidak akan melakukan itu sebelum kau menjadi istriku."
"Aku tidak akan pernah menjadi istrimu, karena aku adalah istri keponakan mu akam tetap seperti itu, aku mencintai suamiku. Hubungan kita hanya sebatas assiten dan boss, hanya itu," tegas Serra. Lalu mendorong Alrez sampai terduduk di ranjang.
Serra berlari keluar dari kamar Alrez, sebelum turun ke bawah Serra terlebih dulu masuk dalam kamarnya untuk membenahi dirinya. Memperbaiki tantanan rambut serta mengoleskan lagi lip cream di bibir ranumnya, tak lupa memberi bedak di pipinya yang basah.
Sampai di bawah nafas Serra memburu ngos-ngosan, tapi ia tetap melanjutkan langkah ke meja makan.
"Perasaan kamu lambat terus setiap sarapan pagi! Malahan sering, bisa gak tepat waktu sedikit. Kasihan anak saya selalu nungguin kamu mau sarapan," ketus Devita bersungut-sungut memarahi menantunya.
"Benar banget mah, nyusahin terus!" sambung Liora.
"Mama sama Liora kenapa sih sensian terus sama istri aku. Aku aja suaminya engga papa tuh, jadi mama sama Lio mending stop marahin istriku. Mama pasti gak tahukan selama ini sarapan pagi yang kita makan sekarang adalah masakan istriku," kata Arka membela istrinya.
"Ra, ayo sini duduk kita sarapan bersama," ucap Arka, menyadarkan Serra yang sempat terdiam.
Devita melirik suaminya, meminta pembelaan sayang Alka memilih diam saja.
__ADS_1
"Pah!"
"Mah sudahlah! Jangan memulai keributan masih pagi seperti ini, apalagi ini di meja makan gak baiki. Kita lakukan sarapan pagi seperti aturan yang telah dibuat, tidak ada pembicaraan saat berada di meja makan," ucap Alka, bukan sebuah pembelaan tapi mengingatkan kembali aturan atau adap di meja makan.
Alrez tertawa tipis, melihat wajah masam yang ditunjukan oleh kakak iparnya. "Benar benar, tidak ada habisnya, selalu saja mencari cari kesalahan Serra." batinnya.
Mereka pun sarapan dalam keadaan tenang dan diam. Tidak ada yang bicara satupun selain suara sendok dan garpu berdenting.
...•••...
Hari ini adalah hari terakhir Serra dan Arka ujian nasional. Kedua begitu nampak senang, mereka juga sudah mempersiapkan diri untuk memgikuti ujian terakhir ini. Mereka sudah siap lulus.
"Aku jadi gak sabar banget pengen menjalani rumah tangga yang sesungguhnya sama kamu. Tanpa kekangan dari mama aku. Dimana kita punya rumah sendiri," ucap Arka, saat ini mereka masih dalam perjalanan menuju sekolah.
"Sama aku juga sayang, sebentar lagi. Waktu berjalan begitu cepat," ucap Serra tersenyum bahagia. Ini membuat Serra melupakan kejadian tadi.
Hampir tiba di sekolah, Arka memberhentikan mobilnya di halte untuk menurunkan Serra. Setelah melanjutkan menjalankan mobilnya memasuki gerbang. Lagi-lagi Serra dan Arka tidak menyadari seseorang mengintai mereka.
"Sebenarnya ada hubungan apa lo sama Arka, ra?! Padahal lo tau sendiri kalau gue udah mencintai Arka sedari dulu dan lo malah nikung gue kaya gini. Gue benar benar gak nyangka sahabat baik gue sendiri tega ngelakuinya..."
Orang itu bicara sendiri, setelah melihat Serra sudah berjalan sangat jauh. Barulah dia keluar dari persembunyiannya.
...****************...
Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
__ADS_1
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓