
Motor sport merah berhenti didepan kontrakan Serra. Aiden melepaskan helm full face dan memandang kearah pintu kontrakan yang terbuka. Wajahnya berseri-seri, senyuman bahagia sedari dirumah tak luntur ketika sampai dikontrakan tersebut.
"Assalamualaikum," ucap Aiden berdiri diambang pintu.
"Waalaikusalam.... Aiden, sepupunya Aldo kan." Serra nampak kaget melihat Aiden lah boss dari orang yang ditabraknya tadi.
"Kamu kok bisa ada disini?" tanya Aiden menunjuk kearah Serra, nampaknya Aiden juga sama merasa terkejut dengan kehadiran gadis yang diketahuinya adalah teman sepupunya.
"Eum, ini kontrakan ku," jawab Serra pelan.
"Maksudnya gimana! Saya jadi bingung," ucap Aiden mengaruk kepalanya yang tak gatal.
"Tuan mending masuk, biar saya menjelaskan awal mulanya," imbuh Rafael menyuruh agar bossnya masuk ke dalam terlebih dahulu.
Aiden menatap sekeliling, memperhatikan ruang-ruang dalam kontrakan. Aiden juga sedikit kebingungan mau duduk dimana, karena tak ada satupun sofa di ruang tamu ataupun kursi.
"Maaf sebelumnya, kontrakan aku tak ada sofa. Jadi jika mau duduk hanya beralas ambal ini," ucap Serra yang paham arti dari kebingungan lelaki yang baru datang.
Aiden tersenyum, "Tidak papa, seharusnya saya yang minta maaf. Membuat mu tak nyaman," ucapnya.
"Jadi begini tuan, orang yang anda cari selama ini tinggal disini. Dan mba ini adalah putrinya," jelas Rafael.
"Bolehkah saya bertemu Ibu mu," ujar Aiden meminta izin untuk melihat, dia hanya ingin memastikannya agar tak salah orang.
"Tapi Ibu ku sedang sakit," cicit Serra, bukan maksud dirinya tidak mengizinkan hanya saja waktunya kurang tepat, ia tak ingin mengambil resiko terjadi apa-apa dengan Ibunya.
__ADS_1
"Sakit!? Izinkan saya melihat hanya sebentar saja, saya janji tidak akan mengganggunya dengan bersuara," mohon Aiden, ia benar-benar penasaran seperti apa rupa Ibu kandung. Bagaimana tidak, tujuh belas tahun ia berpisah dari Ibu kandungan dan setiap hari hanya bisa memandang fotonya, karena hanya dengan foto tersebut rasa rindunya sedikit terobati.
Serra akhirnya memilih mengangguk, lalu Serra berdiri diikuti oleh Aiden dibelakangnya. Mereka melangkah pelan agar tidak menimbulkan suara, Serra memegang gagang pintu membukanya perlahan.
Terlihat seorang wanita paruh baya tidur disebuah kasur lipat kecil yang muat untuk satu orang. Akibat decitan pintu kamar, tidur wanita paruh baya menjadi terusik.
"Fhia, kamu itu nak," ucap Ibu Rida mencoba bangun dan duduk.
"Iya bu ini aku, maaf aku ganggu tidur Ibu."
"Engga papa nak, kamu kenapa belum tidur jam segini?"
"Aku belum mengantuk bu. Oh ya bu, ini ada teman aku mau ketemu Ibu," kata Serra memberi kode dengan gerakan tangan menyuruh Aiden mendekat.
Aiden duduk dekat Serra, mata memperhatikan seluruh wajah wanita paru baya dihadapannya. Mulai dari mata, hidung, bibirnya mirip dengan foto yang selalu dibawanya kemana-mana. Aiden segera mengeluarkan sebuah foto di saku jaketnya.
"Mana orangnya nak?" tanya Rida meraba-raba sekitarnya.
Aiden tiba-tiba menatap gadis disamping penuh tanya. Aiden belum tahu kalau ternyata wanita paruh baya didepan ini mengalami kebutaan.
Serra memberikan respon mengangguk, merasa bahwa dirinya tak perlu menjawab lagi atau menjabarkannya. Lelaki disamping bisa melihat sendiri keadaan Ibunya.
Serra mengambil tangan Ibunya dan tanpa minta izin terlebih dahulu, Serra langsung mengambil tangan Aiden dan menyantukan dengan telapak tangan Ibunya.
Deg!
__ADS_1
"Yaallah mengapa dengan jantungku, kenapa berdetak kencang kaya gini. Tangan siapa sebenarnya ini?" batin Ibu Rida bertanya-tanya.
"Siapa dia Fhia, laki-laki atau perempuan. Dari yang Ibu rasakan kayanya dia laki-laki," ujar Ibu Rida menebak saja.
"Tebakan Ibu sangat tepat, dia emang laki-laki. Entah kenapa dia sangat ingin bertemu Ibu, aku juga gak ngerti," keluh Serra.
"Mengapa ingin bertemu saya? saya ini buta tidak bisa melihat, jadi apa istimewanya untuk kamu temui, kalau kamu hanya ingin sekedar mengasiani kamu, saya tidak memerlukan belas kasihan nak. Saya dan putri saya masih bisa mencari uang untuk mencukupi kehidupan kami sehari-hari," tutur Ibu Rida lembut dan penuh ketenangan dalam setiap lisannya.
"Ka-mu I-Ibuku." Pecahlah tangis Aiden memeluk erat Ibu kandung yang selama ini dicarinya. Biarlah sekarang dirinya menjadi lelaki cengeng hanya didepan Ibu dan kembarannya.
"Kedatangan saya kesini tujuan bukan untuk mengasiani Ibu, tetapi mencari Ibu kandung saya yang selama ini tak pernah saya lihat rupa aslinya. Hanya dapat melepas rindu dari sebuah foto usang yang saya miliki. Saya rindu, akhirnya allah menjawab semua doa-doa saya selama ini hiks."
"Ka...Kamu-
...****************...
Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
__ADS_1
Terimakasih💓