
Aku akan menjelaskan semuanya. Kau harus dengarkan baik-baik," ucap Dave dengan wajah serius.
"Kau harus menceritakan tanpa ada yang ditutup-tutupi. Aku tidak akan pernah memaafkanmu dan tidak akan pernah mau bertemu denganmu lagi, jika kau membohongiku," ancam Jesyn dengan wajah serius.
"Iyaaa, Jes. Aku akan menceritakan yang sebenarnya."
Flashback beberapa hari setelah Jeslyn keluar dari rumah sakit.
“Dave bangun. Apa kau mabuk lagi semalam?” tanya Ibu Dave ketika melihat anaknya masih terbaring di tempat tidur dengan menggunakan baju kemeja yang dia gunakan untuk bekerja kemarin.
Ibu Dave sedang berada di apartemen anaknya. Sejak Jeslyn keluar dari rumah sakit Dave tidak pernah lagi pulang ke rumah orang tuanya sekedar untuk mengunjungi orang tuanya. Dia juga mengabaikan pesan ibunya. Dia bahkan tidak pernah mengangkat telpon dari ibunya. Sesuai yang pernah dikatakan oleh Dave, kalau dia tidak akan pernah meneumui ibunya lagi sebelum dia datang meminta maaf pada Jeslyn.
Dave juga tidak pernah datang ke apartemen istrinya atau menghubungi Jeslyn semenjak pertengkarannya di rumah sakit. Dave terlalu kecewa karena Jeslyn seperti tidak ingin lagi kembali padanya.
“Dave banguuun! Apa kau akan seperti ini terus?” Ibu Dave menggeleng kepalanya saat melihat anaknya menutup kembali matanya setelah tadi menatap dirinya sejenak.
Setelah pertemuan Dave dan Jeslyn terakhir kali, Dave selalu menghabiskan waktu di bar dengan minum-minum. Tentu saja ditemani oleh asistennya. Zayn selalu menemani bosnya tanpa diminta oleh Dave. Dia hanya tidak ingin membiarkan Dave mabuk di bar sendirian. Dia takut banyak wanita yang akan menggunakan kesempatan itu untuk menjerat bosnya.
Biasanya Dave akan ke kantor siang hari setelah menghilangkan mabuknya dan menjelang malam dia akan kembali lagi ke bar untuk menghabiskan waktu sampai dini hari sampai akhirnya dia mabuk berat. Setiap malam dia akan menghabiskan waktunya di bar untuk menghilangkan stresnya. Tugas Zayn lah yang akan membawa pulang bosnya. Terkadang dia juga sampai menginap di apartemen Dave hanya untuk menjaganya.
Zayn merasa iba melihat bosnya tampak sangat frustasi karena istrinya ingin menceraikannya. Tidak banyak yang bisa dia lakukan untuk bosnya. Yang bisa dia lakukan hanyalah menjaga dan melindungi bosnya dari macan-macan betina yang sudah bersiap menerkam bosnya kapan saja.
Tentu saja banyak yang mengetahui berita tentang perceraian Dave, sehingga membuat mereka mencari cara agar bisa menjadi nyonya Dave, tanpa mereka tahu kalau Dave masih memiliki istri lain.
“Aku akan hidup sesuka hatiku. Aku tidak akan pernah mau menuruti perkataan Mama lagi. Mama sudah menghancurkan hidupku.” Dave membalikkan tubuhnya dan membelakangi ibunya.
Ibu Dave tampak menghela napas. “Ibu sudah tidak memaksanya untuk menceraikanmu Dave. Dia sendiri yang ingin bercerai denganmu,” ucap ibu Dave dengan wajah pasrah.
Melihat anaknya tidak membalas ucapannya, dia kemudian duduk di sisi ranjang. "Dave," panggil ibunya dengan wajah sedih.
"Iyaa, tapi Mama dan Felicia yang sudah membuatnya pergi dari hidupku. Dia sudah tidak mau kembali padaku, Ma. Dia membenciku. Kau sudah merusak hidupku. Lebih baik Mama pergi dari sini. Jangan pernah menemuiku lagi." Dave tampak tidak membalikkan badannya sama sekali ketika berbicara dengan ibunya.
Ibu Dave menghela napas pelan sambil menatap punggung anaknya yang tampak masih berbaring membelakanginya. "Apa yang harus mama lakukan agar kau kembali seperti dulu dan mau memaafkan mama?" tanya ibu Dave dengan suara pelan.
Dia merasa sedih melihat hidup anaknya yang tanpa arah. "Semuanya sudah terlambat, Ma. Jeslyn tidak akan pernah mau kembali padaku. Mama juga belum pernah meminta maaf pada Jeslyn, bukan?"
"Dave, mama sudah berusaha untuk menemuinya, tetapi dia yang tidak mau bertemu dengan mama. Sudah beberapa kali mama datang ke apartemennya, tetapi dia tidak pernah keluar. Bahkan untuk sekedar membuka pintu saja dia tidak mau, lalu bagaimana caranya mama meminta maaf padanya, jika dia saja tidak ingin bertemu dengan Mama?"
Dave bangun dari tidurnya, rambutnya tampak acak-acakan, beberapa kancing kemeja sudah terbuka. Dia berjalan dengan malas, kemudian menuangkan air putih ke gelas lalu meneguknya.
__ADS_1
"Kalau Mama jadi Jesyn, apakah Mama akan dengan mudah memaafkan dia setelah apa yang selama ini Mama dan Felicia lakukan padanya?" tanya Dave dengan wajah malas.
Ibu Dave tidak mengeluarkan suara apapun lagi. Dia sedang merenungi perkataan yang dilontarkan oleh anaknya.
"Mama menyesal Dave." Ibu Dave tampak menitikkan air matanya.
"Menyesal pun sudah percuma Ma. Rumah tanggaku sudah hancur. Tidak ada gunanya lagi Mama mengatakan itu padaku. Aku sudah kehilangan calon anakku, sebentar lagi aku akan kehilangan istriku. Jadi, jangan harap aku akan kembali seperti dulu lagi. Mama akan melihat sendiri kehancuran hidupku dengan mata-kepala Mama sendiri."
Dave sengaja melakukan itu untuk menghukum ibunya. Dia sengaja mengorbankan diri agar ibunya bisa menyadari kesalahannya dan tidak akan pernah memaksakan kehendaknya lagi.
"Mulai minggu depan aku akan menyerahkan semua urusan perusahaan pada Zayn. Lebih baik aku melepaskan perusahaan dan semua urusan bisnis keluarga kita sebelum aku menghancurkannya."
Dave kembali ke tempat tidur lalu menghempaskan tubuhnya sambil menutup matanya dengan pergelangan tangannya.
"Berikan mama kesempatan untuk memperbaiki semuanya Dave. Mama akan melakukan apapun yang kau inginkan. Mama mohon jangan hancurkan hidupku seperti ini. Hanya kau yang mama punya Dave. Mama tidak bisa melihatmu hidup seperti ini," ucap ibu Dave lirih. Dia sudah berurai air mata.
"Seharusnya Mama melakukannya dari dulu. Pulanglah, Ma. Aku sedang tidak ingin diganggu."
****
Dave meraih ponselnya lalu menghubungi seseorang. "Baiklah. Aku akan ke sana sebentar lagi. Persiapkan saja semua berkasnya." Dave kemudian menutup panggilan telponnya.
Tiba di rumah sakit Dave langsung memarkirkan mobil lalu berjalan masuk.
“Daddy!” Anak kecil perempuan berteriak dengan keras ketika melihat laki-laki yang sedang berjalan masuk ke dalam rumah sakit dari arah pintu luar rumah sakit.
Anak kecil itu terus mengejar pria tinggi dan tubuh tegap tersebut. “Daddy.” Anak itu berlari kencang. “Daddy, ke mana saja?” Anak itu berhenti tepat di depan Dave.
Dahi Dave mengeryit ketika ada anak kecil yang sedang menatap dan memanggilnya Daddy. “Aku bukan daddymu, kau salah orang.”
Dave mengedarkan pandangannya ke sekitarnya. Dia ingin mencari orang tua dari anak tersebut. “Ke mana Mommymu?” tanya Dave sambil menunduk dan menatap anak kecil yang wajahnya mengingatkannya pada seseorang.
“Mommy, sedang menebus obat,” jawab anak kecil itu sambil tersenyum lebar.
Anak perempuan yang mungil berkulit putih dan berambut panjang itu terlihat tersenyum bahagia melihat Dave. Dia kemudian memegang jari-jemari Dave sebelah kanan.
“Daddy, kenapa tidak pernah pulang? Apa Daddy tidak merindukan Alea dan mommy? Alea sering melihat mommy menangis diam-diam di kamar sambil melihat foto Daddy. Kata mommy kalau Alea tidak nakal, Daddy pasti akan cepat pulang nanti. Alea selalu menuruti perkataan mommy, Dad. Alea tidak pernah nakal di sekolah,” ungkap anak kecil itu sambil mendongakkan kepalanya menatap Dave dengan wajah sedih.
Dave berjongkok lalu memegang kedua bahu anak kecil itu. “Alea, itu namamu, kan?” tanya Dave dengan wajah ramah. Entah mengapa dia merasa ada perasaan lain ketika melihat anak perempuan tersebut.
__ADS_1
Anak perempuan itu mengangguk pelan. “Iyaa,” jawab Alea pelan.
“Alea, siapa nama mommymu?” tanya Dave lembut sambil menatap bola mata sipit Alea.
“Stella Winarta.” Mata Dave langsung membelalak ketika mendengar ucapan Alea.
“Lalu siapa nama panjangmu?” Dave nampak berpikir setelah mendengar perkataan anak perempuan yang ada di depannya.
“Alea Zaenaya Tjendra.” Mata Dave kembali terbelalak ketika mendengar nama Alea.
“Apa kau tahu siapa namaku?”
“Tentu saja nama Daddy adalah Dave Christian Tjendra. Itu kan nama panjang Daddy?” tanya Alea dengan senyuman lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya.
“Aleeeeaaa,” teriak wanita dari arah belakang anak perempuan itu.
Dia berjalan menghampiri Alea dengan wajah panik. Ketika dia sampai di dekat Alea, dia langsung terkejut ketika melihat laki-laki yang sedang bersama dengan anaknya.
Alea langsung menoleh. “Mommy,” teriaknya girang.
“Stella.”
“Daveee,” ucap wanita dengan suara pelan.
Dave langsung berdiri ketika melihat wanita yang sedang berdiri di samping Alea. Stella menunduk menatap anaknya. “Bukankah Mommy sudah bilang tunggu di kursi, jangan pergi ke mana-mana.”
“Maaf Mommy, tadi Alea melihat Daddy sedang berjalan, jadi Alea mengejar Daddy,” ucap anak untuk dengan wajah bersalah.
Stella langsung memeluk anaknya. “Lain kali, Alea harus menunggu mommy. Tidak boleh ke manapun selain dengan mommy,” ucap Stella lembut.
“Maaf Mommy,” ucap Alea sambil menunduk.
“Stella, kau harus menjelaskan padaku, kenapa anaku ini memanggilku Daddy? Jadi, Alea adalah anakmu? Anak kecil yang bersamamu di Swiss adalah Alea?” tanya Dave tanpa mengalihkan pandangannya dari Stella. Saat ini ada begitu banyak pertanyaan yang ada dibenaknya.
“Iya benar,” jawab Stella sambil menunduk. Dave menatap Stella dengan wajah datarnya.
“Kau harus menjelaskan semuanya Stella padaku.”
Bersambung...
__ADS_1