
Jeslyn langsung panik. “Apa yang terjadi Pa? Apa Dave masih...” Jeslyn tidak sanggup untuk melanjutkan ucapanya. Pikiran negatif terus menghantui pikirannya.
“Papa juga belum tahu bagaiman keadaan Dave.” Ayah Dave Berdiri. “Jeslyn, lebih baik kau tenang dulu! Duduklah di sini!”
Jeslyn duduk di samping ayah mertuanya, diikuti oleh Maya di samping kirinya. “Paa..Bagaimana kalau Dave tid...” Tangis Jeslyn kembali pecah ketika mengingat hal mengerikan yang akan menimpa suaminya jika dia tidak bisa melewati masa kritisnya.
“Jeslyn. Semua akan baik-baik saja! tenangkan dirimu.” Ayah mertua menepuk-nepuk bahu Jeslyn berusaha untuk menenangkannya saat melihat air mata Jeslyn terus membasahi pipinya sehingga membuat wajah dan hidungnya memerah.
Mereka terus menunggu sampai pintu operasi terbuka. Jeslyn langsung menghampiri Dion ketika melihatbpintu ruang operasi terbuka. “Dion, bagaimana keadaan Dave..?” tanya Jeslyn tidak sabar.
Dion memandang Jeslyn sejenak. “Kita harus menunggu sampai Dave melewati masa kritisnya dulu Jeslyn. Kondisinya sempat drop saat operasi tadi. Kami akan terus memantau perkembangannya.” Beberapa dokter tampak berjalan keluar dari ruang operasi.
“Bisakah aku melihatnya sebentar?” mohon Jeslyn dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca. Dia merasa tidak tenang sebelum melihat langsung keadaan Dave. “Maaf Jeslyn tidak bisa. Dave akan segera di pindahkan ke ruang transisi. Kau bisa menjenguknya jika dia sudah melewati masa kritisnya.”
“Baiklah..Kalau aku tidak bisa mengunjungi Dave sebagai istrinya, maka aku akan mengunjungi Dave sebagai Dokter Bedah rumah sakit ini.” Jeslyn tidak mau menyerah begitu saja. Dia berusaha mencari jalan lain agar bisa melihat keadaan Dave, walau hanya sebentar.
“Berikan aku laporan medisnya yang lengkap. Aku harus tahu keadaan Dave yang sebenarnya. Beritahu aku tentang kondisinya selama berada di ruang operasi dan tindakan apa saja yang kalian lakukan tadi.” Jeslyn tidak berniat diam saja. Hatinya masih merasa gelisah. Dia takut Dion menyembunyikan sesuatu darinya.
Dion menghela napas panjang. Dia tahu kalau Jeslyn pasti bersikeras untuk melibat Dave walaupun dia sudah melarangnya. “Baiklah, tetapi kau hanya bisa melihatnya saja, kau tidak boleh melakukan tindakan apapun tanpa persetujuan dokter lainnya.” Dion akhirnya menyerah. Dia juga tidak bisa melihat wajah sedih Jeslyn.
Ternyata statusku sebagai dokter lebih kuat dari pada sebagai istrinya. Bahkan aku tidak bisa menemui suamiku sendiri tanpa menggunakan profesiku.
“Setelah Dave dipindahkan ke ruang transisi, kau baru bisa masuk,” sambung Dion lagi.
Jeslyn langsung merasa senang. “Baiklah.”
“Ikut keruanganku. Aku akan memberikan laopran medis dan memberitahumu yang terjadi di ruang operasi tadi.”
Jeslyn langsung menoleh pada ayah mertuanya. “Pa, aku akan ke ruang dokter Dion dulu.”
Ayah Dave hanya mengangguk. “Baiklah," ucap ayah Dave pasrah. “Jeslyn, Papa harus pulang dulu. Papa takut Mama akan mencari keberadaan Papa nanti. Papa belum menceritakan tentang kecelakaan yang menimpa Dave."
__ADS_1
“Baik Pa, hati-hati dijalan.”
“Tolong kabari Papa mengenai keadaan Dave nanti.” Ayah Dave masih sangat mengkhawtirkan anaknya, tetapi dia tidak bisa tinggal lebih lama lagi di rumah sakit karena takut istrinya curiga. Lagi pula Dave belum bisa dijenguk sampai dia melewati masa kritisnya.
Jeslyn mengangguk. “Baik Pa.” Ayah Dave kemudian berjalan ke arah pintu keluar.
“Maya, kau juga bisa pulang. Aku akan menghubungimu kalau aku membutuhkanmu.”
Maya tampak ragu. Dia tidak berani meninggalkan Jeslyn dengan keadaan seperti ini. Dia takut Jeslyn akan kembali pingsan lagi, melihat kondisi tubuh Jeslyn yang masih lemah.
“Di sini banyak dokter dan perawat yang bisa membantuku. Pulanglah. Kau juga harus istirahat,” lanjut Jeslyn ketika melihat Maya hanya diam.
“Baik Nyonya. Tolong hubungi aku kalau Nyonya membutuhkan sesuatu.”
“Iyaa.”
Setelah kepegian Maya, Dion dan Jeslyn berjalan menuju ruangan Dion. “Masuklah!”
Jeslyn tampak serius mendengarkan cerita dari Dion, dia berusaha keras untuk menahan air matanya. “Apa kau sakit?” tanya Dion setelah dia selesai memberitahu Jeslyn.
“Tidak Dion, aku hanya kurang tidur saja,” bohong Jeslyn. Dia belum bisa menceritakan perihal kehamilannya. Jeslyn tidak mau Dion mengetahui hal itu sekarang. Jeslyn khawatir Dion akanbmelarangnya untuk mengunjungi Dave. Dia takut Dion akan khawatir dengan keadaannya nanti.
“Tetapi kenapa wajahmu pucat sekali?”
Jeslyn berusaha mencari alasan yang tepat agar Dion tidak curiga padanya. “Sudah beberapa hari ini aku tidak bisa tidur nyenyak Dion.”
Jeslyn berdiri. “Aku akan memberishkan tubuhku dulu sebelum menjenguk Dave. Tolong kau siapkan laporan medis Dave.”
“Baiklah. Kau bisa ke sini lagi nanti.” Dion merasa kalau Jeslyn menyembunyikan sesuatu darinya, terlihat jelas saat Jeslyn terus menghindari tatapan Dion
“Iyaa. Terima kasih Dion.” Jeslyn meraih gagang pintu lalu berjalan keluar.
__ADS_1
Jeslyn berjalan menuju loker pribadinya, dia mengambil baju yang ada di lokernya. Dia kemudian menuju kamar perawatan yang dia tempati tadi. Duan ingin membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
Setelah selesai mandi, Jeslyn menemui Dion untuk mengambil laporan medis Dave, kemudian dia dan Dioan berjalan menuju ruang transisi. Dion tidak membiarkan Jeslyn untuk pergi sendiri menemui Dave.
Dion terpaksa menunggu Jeslyn di depan ruangan, sementara Jeslyn masuk sendiri ke dalam. Jeslyn merasa gugup ketika dia sudah membuka pintu. Langkahnya terasa berat ketika melihat Dave terbaring tidak berdaya di tempat tidur. Air matanya kembali lolos ketika melihat keadaan Dave. Jeslyn berdiri di samping ranjang pasien. “Dave...!” Jeslyn mulai terisak lagi.
Dia menggengam tangan Dave sambil mencium punggung tangannya. “Bangun Dave..! Jangan tinggalkan kami. Aku tidak bisa melanjutkan hidupku kalau kau pergi meninggalkanku begitu saja. Aku mohon bangun Dave!” Tangisan Jeslyn terdengar sangat memilikukan.
Jeslyn mengarahkan tangan Dave ke perutnya sambil mengusap perutnya menggunakan tangan Dave. “Anak kita membutuhkanmu Dave. Tolong segera bangun! Bukankah kau sudah berjanji untuk tidak pernah meninggalkan kami lagi. Aku mohon bangun Dave!”
Tidak ada respon apapun dari Dave. Jeslyn tampak terus berbicara, berharap Dave akan merespon kata-katanya. Setelah berada di dalam ruangan selama 15 menit, Jeslyn akhirnya keluar. “Apa kau sudah makan?” Dion tampak mengkhawatirkan keadaan Jeslyn.
Dion merasa tubuh Jeslyn saat ini sangat lemah. “Belum. Aku tidak selera makan Dion.” Jeslyn berjalan menuju tempat duduk. Dia merasa tidak bisa berdiri terlalu lama. Tubuhnya lemas dan tidak bertenaga. “Lebih baik kau tunggu di ruang perawatanmu. Aku akan menyuruh OB untuk membawakan makanan untukmu.”
Dion duduk di samping Jeslyn sambil menatap cemas padanya. “Tidak perlu Dion, aku akan meminta Sarah untuk memesankan aku makanan,” tolak Jeslyn dengan suara rendah.
“Baiklah, Aku akan mengantarmu ke ruang perawatanmu. Kau tunggu di sini, aku akan mengambil kursi roda dulu.” Dion langsung berlari mencari kursi roda.
Jeslyn tampak hanya diam. Dia memang tidak sanggup untuk berjalan lagi. Dion kembali lagi sambil mendorong kursi roda. “Naiklah!” Dion membantu Jeslyn untuk duduk di kursi roda setelah itu Dion mendorong kursi roda menuju lift.
“Apa kau sudah menghubungi Sarah?”
“Belum,” jawab Jeslyn lemah. Tenaganya seperti sudah terkuras habis karena terlalu banyak menangis.
“Biar aku saja yang menyuruhnya untuk ke ruang perawatanmu.” Dion mendorong pintu ruang perawatan Jeslyn.
Dion meraih tangan Jeslyn untuk membantunya berbaring ke tempat tidur. “Kau istrirahatlah dulu. Aku harus kembali bekerja. Aku akan mengabarimu tentang perkembangan Dave nanti,” ucap Dion ketika Jelsyn sudah berbaring di tempat tidur.
“Terima kasih Dion, maaf karena sudah merepotkanmu.”
“Sudahlah, kau itu bukan orang lain bagiku Jeslyn, jangan sungkan padaku. Aku pergi dulu.” Dion melangkah keluar daru ruangan Jeslyn.
__ADS_1
Bersambung....