
Sebelum menuju kamar mereka, Dave terlebih dahulu menghubungi asistennya untuk membelikan makanan untuk mereka berdua. Dia juga berpesan pada Zayn untuk langsung masuk ke apartemennya dan menyuruh Zayn untuk langsung meletakkan makan yang dia pesan di meja makan.
Asisten Dave memang memiliki kartu akses untuk masuk ke dalam apartemen Dave untuk mempermudah asistennya. Setelah selesai makan, mereka duduk di ruangan keluarga sambil menonton televisi. Sesekali mereka tampak mengobrol hal-hal ringan.
Tiba-tiba Jeslyn membahas mengenai permasalahan dan kesalahpahaman yang selama ini terjadi di rumah tangga mereka, obolan pun beralih menjadi obrolan serius. Malam itu mereka membahas semuanya, mereka berniat menyelesaikan dan menuntas semua permalahan rumah tangga mereka sehingga tidak ada kesalahapahaman lagi ke depannya.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 22. 45 Wib. Dave lalu berkata, "Jeslyn, lebih baik kau tidur. Ini sudah larut malam," ucap Dave ketika melihat jam yang menempel di dinding.
"Iyaa." Seperti sebelumnya, Dave membopong tubuh Jeslyn ke hingga ke kamar tidur.
"Tidurlah," ucap Dave ketika dia sudah menarik selimut sampai batas dada istrinya.
"Kau tidak tidur?" tanya Jeslyn ketika melihat suaminya hanya duduk sambil bersandar di tempat tidur di sebelahnya.
"Sebentar lagi. Ada yang harus aku cek masalah perusahaan." Dave meletakkan ponselnya di pangkuaanya kemudian mengelus kepala istrinya. "Tidurlah."
Jeslyn mengangguk, kemudian memejamkan matanya, sementara Dave kembali fokus pada ponselnya. Dini hari pukul 02.15 Wib, Jeslyn mulai membuka matanya. Diameraba di sisi sebelahnya dan tidak merasakan ada seorang. Dia lalu mengendarkan pandangannya ketika tidak melihat sosok Dave di sampingnya.
Perlahan dia menurunkan kakinya kemudian meraih tongkat yang berada di samping tempat tidurnya. Dave sengaja meletakkan di situ agar Jesyn dengan mudah menjangkaunya.
Dengan langkah pelan Jeslyn berjalan keluar dengan dibantu tongkat. Dia mencoba meneriakkan nama Dave beberapa kali, tetapi tidak ada sahutan sama sekali. Jeslyn akhirnya berjalan ke ruangan kerja Dave, Jeslyn teringat kalau sebelum dia tidur, Dave bilang sedang mengecek masalah perusahaan. Dia berpikir mungkin saja saat ini Dave masih bekerja di ruang kerjanya.
Sesampainya di ruang kerja Dave. Dia tidak mendapati suaminya ada di sana. Jeslyn kembali keluar. Dia lalu beralih ke kamar tamu. Benar saja, saat dia membuka pintu, terlihat Dave sedang tertidur dengan lelap di tempat tidur.
Dengan langkah pelan. Jeslyn menghampiri tempat tidur lalu duduk di sisi tempat tidur. Dia kemudian memandang sejenak wajah tampan suaminya. Wajah oval, mata sipit, hidung mancung, alis tebal dan tegas. Jeslyn mulai membungkuk mendekatkan wajahnya kepada Dave lalu kemudian mencium singkat bibir suaminya.
"Makin hari kau semakin tampan Dave," ucap Jeslyn sambil tersenyum.
Merasa ada yang menyentuh bibirnya, Dave perlahan membuka matanya. Matanya membelalak ketika mendapati Jeslyn berada di depannya. Seketika Dave langsung bangun dari tidurnya. "Kenapa kau ada di sini?" tanya Dave lembut.
"Aku tadi terbangun. Aku mencarimu karena kau tidak ada di kamar," jelas Jeslyn dengan suara pelan.
__ADS_1
"Aku akan mengantarmu ke kamar."
"Dave, kenapa kau tidur di sini?" Jeslyn merasa heran kenapa Dave memilih tidur di kamar tamu dibandingkan tidur di kamar mereka.
"Aku tidak ingin mengganggumu jadi aku memilih tidur di sini." Alasan sebenarnya bukanlah seperti yang Dave sampaikan pada istrinya.
"Bukankah kita sudah sepakat untuk memulai dari awal? Apa kau masih marah padaku sehingga kau tidak ingin lagi tidur denganku?" tanya Jeslyn dengan wajah sedih.
"Tidaak. Bukan seperti Jess," sangkal Dave, "aku hanya tidak bisa tidur bersamamu saja," jelas Dave.
"Kenapa?"
"Aku hanya takut tidak bisa menahan diriku, Jes."
Yaaa, itulah alasan Dave tidak ingin tidur dengan istrinya. Sejak membantu Jeslyn mandi, hasratnya mulai terpancing. Dia hanya takut tidak bisa menahan untuk tidak menyentuh istrinya, apalagi setelah melihat Jeslyn dengan pakaiannya yang menggoda.
"Kau bisa melakukannya jika mau Dave. Aku tidak keberatan." Jeslyn mengerti apa yang ada dipikiran suaminya saat ini. Mereka memang sudah lama tidak melakukannya. Jadi, Jeslyn memaklumi apa yang suaminya rasakan saat ini.
"Dave, yang terluka adalah pergelangan kakiku. Itu tidak akan mempengaruhi kalau kita melakukannya, selama kau tidak menenkan bagian pergelangan kakiku. Aku akan baik-baik saja."
Sebenarnya kondisi Jeslyn sudah mulai membaik. Hanya perlu pemulihan dua minggu lagi sehingga bisa sembuh total dan bisa berjalan dengan normal.
"Tetap saja. Aku masih khawatir." Dave hanya ingin Jeslyn cepat pulih.
"Kalau begitu tetaplah tidur bersamaku. akalau kau masih ingin tidur terpisah denganku, itu berarti kau belum bisa menerima aku sepenuhnya."
Dave menatap wajah sendu istrinya lalu berkata, "Baiklah. Ayo kita kembali ke kamar."
"Tidak. kita tidur di sini saja," tolak Jeslyn. Dia merasa tidur di manapun sama saja baginya, asalkan bersama suaminya.
Dave menatap ragu pada istrinya sejenak. "Apa kau yakin akan tidur di sini?" tanya Dave.
__ADS_1
Jeslyn mengangguk. "Baiklah. Naiklah."
Dave lalu membantu istrinya berbaring di sampingnya. Setelah Jeslyn berbaring, Dave juga mulai merebahkan tubuhnya di samping istrinya lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya setelah itu memiringkan tubuhnya menghadap istrinya.
"Tidurlah, Jes," ucap Dave sambil mengelus tubuh istrinya.
"Iyaa." Jeslyn merapatkan tubuhnya ada Dave kemudian membenaman wajahnya di dada suaminya, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Dave. Dia memang sangat menyukai aroma tubuh Dave karena bisa membuatnya tenang.
Melihat itu, Dave tampak tercengang sesaat. "Jes, kau sulit berpanas nanti," ucap Dave ketika merasa wajah istrinya menempel di dadanya.
"Tapi aku nyaman seperti ini Dave," jawab Jeslyn.
"Iyaa, tetapi jangan terlalu dekat. Kau akan susah untuk bernapas." Jeslyn menjauhkan wajahnya dari tubuh Dave.
"Begini saja," ucap Dave setelah dia selesai menyandarkan kepala Jeslyn di lengan sebelah kananannya sebagai pengganti bantal.
Jeslyn kemudian tersenyum. "Tidurlah, Sayang." Dave memiringkan tubuhnya lalu mengecup kening istrinya. Jeslyn membalas dengan mengecup singkat bibir suaminya.
"Kau menyulut api yang sudah mulai padam, Sayang." Dave langsung menyambar bibir istrinya lalu melu-mat dengan lembut. Mereka saling mence-cap dan merasakan kelembutan bibir pasangan mereka.
Pagutan mereka berlangsung cukup lama. Napas Dave dan Jeslyn mulai memburu dan memanas. Seketika Dave langsung melepaskan pagutan mereka ketika dia merasa hasratnya mulai membara. Dia harus menahan diri sampai istrinya pulih.
"Tidurlah, Sayang," ucap Dave setelah melepaskan pagutan mereka.
"Dave," panggil Jeslyn dengan suara pelan.
"Apa?"
"Lakukan saja jika kau menginginkannya. Jangan menahannya."
Tentu saja Jeslyn tahu kalau saat ini Dave berusaha keras untuk menahan hasratnya.
__ADS_1
Bersambung..