
Dave sedang duduk dengan gelisah di dalam ruang tunggu bandara. Dia terlihat beberapa kali melirik jam tangannya. Sesekali dia melihat ke arah depannya mencari sosok wanita yang sedari tadi pergi bersama dengan anaknya dan belum kembali juga setelah Dave menunggu selama setengah jam lamanya.
Dave mencari nama seseorang di kontak lalu menghubunginya. Nada masuk tersambung, namun pemiliknya belum juga mengangkatnya. Dave mecobanya berkali-kali namun hasilnya tetap sama. Dave kemudian mengetikkan pesan singkat kepada Stella.
Dave terlihat gusar karena tidak menerima balasan apapun dari Stella. Dave mulai berdiri berjalan mondar-mandir dan terus melihat ke arah Stella pergi. Tadi Stella meminta ijin pada Dave untuk ke toilet bersama Alea. Dia juga bilang akan membeli sesuatu untuk mereka bertiga, tetapi setelah menunggu lama, Stella tak kunjung muncul juga.
Dave terpaksa menghubungi pilot yang akan membawa mereka terbang untuk memundurkan jadwal keberangkatan mereka karena Stella belum juga kembali, sementara jadwal keberangkatan tinggal 15 menit lagi. Untung saja Dave pergi ke Prancis dengan menggunakan pesawat jet pribadinya sehingga dia bisa mengatur ulang jadwal keberangkatan mereka.
Dengan perasaan gelisah, Dave mencoba menghubungi Stella kembali sambil sesekali menatap ke arah depan. Tidak juga mendapat balasan, akhirnya Dave menyusul Stella ke toilet wanita.bSesampainya di sana, dia meminta bantuan petugas toilet untuk memeriksa ke dalam, setelah memperlihatkan foto Stella bersama Alea.
Beberapa menit kemudian petugas itu keluar dan mengatakan tidak ada orang yang Dave maksud di dalam. Dave mulai cemas, pikirannya buruk langsung melintas di benaknya. Dia berpikir jangan-jangan keluarga Daniel menemukannya lalu membawa pergi Stella dan Alea.
Dave kemudian meminta bantuan pada temannya yang memiliki kewenangan di bandara untuk mencari keberadaan Stella dalam rekaman CCTV. Dave berusaha kembali mencari keberadaan Stella dan Alea. Karena merasa lelah setelah berjalan ke sana-kemari akhirnya Dave duduk di salah satu kursi di dekat pintu masuk pemeriksaan.
Dia menunduk seraya mengacak rambutnya dengan kasar setelah itu dia fokus pada ponselnya. Dia sedang menunggu info dari temannya mengenai keberadaan Stella. Tidak lama kemudian, ponselnya berbunyi. Teman Dave baru saja mengabari kalau dia melihat Stella keluar dari pintu utama bandara. Setelah memutuskan panggilan telponnya. Dave langsung berjalan menuju pintu luar bandara.
Dave berjalan ke sana-kemari untuk mencari keberadaan Stella. Di dalam benaknya, dia bertanya-tanya, kenapa Stella justru keluar dari dalam bandara saat penerbangan mereka sudah tiba waktunya. Karena merasa lelah. Sejenak Dave berdiri sambil menunduk mengatur napasnya.
"Daveeee." Terdengar seseorang memanggil namanya.
Dave mengangkat kepalanya lalu menoleh ke belakang ketika dia mendengar suara yang sangat dia kenal. "Jeslyn," ucap Dave dengan wajah terkejut.
Dave tidak menyangka kalau saat ini, Jeslyn sudah ada di hadapannya bersama dengan Dion di belakangnya sambil mendorong kursi roda Jeslyn. Tidak jauh dari mereka berdua berdiri Zayn sambil menampilkan wajah takut. Tentu saja dia takut. Bosnya sudah memperingatkan dirinya untuk tidak mengatakan apapun mengenai keberangkatannya pada Jeslyn.
Dave menoleh sedikit pada Zayn, seolah meminta penjelasan darinya, kenapa Jelsyn dan Dion bisa berada di bandara dan menemukannya. Sebenarnya hal itu tidak perlu ditanyakan lagi oleh Dave karena dia sudah tahu jawabannya. Hanya saja dia ingin tahu alasan apa yang membuat asistennya itu memberitahu pada Jeslyn.
Setelah terdiam selama tiga detik, Dave berjalan menghampiri Jeslyn. "Kenapa kau bisa di sini?" tanya Dave dengan wajah heran.
Dion yang sedari tadi menahan emosinya karena melihat Jelsyn yang terus menangis saat dalam perjalanan langsung mendekati Dave dan menghajarnya.
"Itu pelajaran untukmu karena sudah membuatnya menangis," kata Dion setelah dia melayangkan tinjunya pada wajah Dave.
__ADS_1
Dave yang tidak siap dengan gerakan Dion yang tiba-tiba, langsung mundur beberapa langkah ketika Dion memukul wajahnya. Belum sempat Dave berdiri tegak, Dion kembali menghajar Dave hingga tersungkur.
"Dan itu karena kau sudah menyakiti dan menyia-nyiakan dia lagi," ucap Dion ketika melihat Dave mulai berdiri sambil memegang wajahnya.
Beberapa orang tampak memperhatikan mereka, tanpa mau ikut campur. Mereka hanya memandang sambil berbisik. Ada juga yang menatap heran pada mereka.
Melihat Dion nampak marah, Dave tersenyum miring. "Kenapa kau memukulku?" tanya Dave dengan nada mengejek. Dia menggerakkan rahangnya beberapa kali karena merasakan sakit akibat pukulan dari Dion.
Mendengar itu Dion kembali merasa geram. "Sepertinya aku harus memukul kepala agar kau bisa berpikir dengan benar."
"Dion, hentikaan! Jangan memukulnya lagi!" teriak Jeslyn dengan wajah khawatir ketika Dion kembali menyengkram kerah Dave dan berniat untuk memukulnya.
Dion dan Dave menoleh ke arah Jeslyn sejenak. Dave kemudian beralih menantap Dion. "Kenapa kau jadi marah? Aku sudah melepasnya. Bukankah seharusnya kau senang jika aku pergi? Tu artinya kau bisa bersamanya." Senyum mengejek masih terlihat jelas di wajah Dave.
"Kau tidak perlu lagi bersusah payah merebutnya dariku karena aku sudah merelakannya untukmu. Tidak akan ada lagi yang akan menghalangimu untuk mendekati Jeslyn," sambung Dave lagi.
"Dave, kau salah paham. Sudah aku bilang hubungan kami tidak seperti yang kau pikirkan," sahut Jeslyn seraya menggerakkan kursi rodanya mendekati mereka berdua.
"Jangan memancing emosiku, Dave. Aku ke sini bukan untuk membicarakan perasaanku," balas Dion sambil menahan amarahnya. Dia belum juga melepaskan cengkramannya di kerah baju Dave karena masih geram dengan Dave.
"Seharusnya aku menghajarmu saat kau menemuiku tadi sehingga kau tidak bisa pergi dengan mudahnya," ucap Dion dengan tatapan marah.
"Kau itu bodoh atau apa? Seharusnya kau memanfaatkan kesempatan yang aku berikan untuk mendekatinya. Kau tidak akan mendapatkan kesempatan langka seperti ini lagi karena aku bukan tipe orang yang murah hati."
"Davee!" teriak seorang pria yang usianya tidak jauh dengan Dave.
"Will, Apa kau sudah menemukannya?" tanya Dave ketika melihat temannya berjalan ke arahnya.
"Kita bicara di dalam. Jangan membuat keributan di sini. Aku sudah menyediakan ruangan VIP untuk kalian bicara. Jangan di sini, kau bisa mengundang kerumunan orang."
Ketika William mendapat laporan dari anak buahnya, mengenai keributan yang dipicu oleh Dave, dia langsung berjalan menghampiri di mana tempat Dave berada. William adalah anak dari petinggi dari perusahaan yang menaungi pengelolaan bandara.
__ADS_1
Dave kemudian menoleh pada Jeslyn. "Kita bicara di dalam. Terlalu banyak orang di sini."
Dave langsung melangkah masuk melewati jalur khusus untuk VIP bersama dengan temannya lalu diikuti oleh asistennya, Dion dan Jeslyn. Setibanya di ruangan tunggu khusus VIP mereka semua langsung dipersilahkan masuk oleh William.
"Selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin," ucap William sambil menepuk bahu Dave.
Sebelum menyusul Dave, William menyuruh anak buahnya untuk menutup salah satu ruangan khusus VIP untuk dipergunakan oleh Dave nantinya. Dave lalu duduk berhadapan dengan Jeslyn dan Dion, sementara Zayn duduk di sofa yang letaknya sedikit berjauhan dengan mereka.
Melihat tidak ada yang memulai pembicaraan, Dion akhirnya berdiri. "Aku akan keluar. Kalian selesaikanlah masalah kalian berdua."
"Tunggu Dion!" Jeslyn menatap Dion yang hendak melangkah pergi.
"Aku tidak ingin ikut campur dengan masalah rumah tangga kalian," kata Dion sembari menunduk menatap Jeslyn.
Dion berjalan keluar diikuti oleh Zayn di belakangnya. Zayn juga berpikir kalau bosnya membutuhkan ruang untuk menyelesaikan permasalahn rumah tangganya.
Ketika mereka tinggal berdua, Dave langsung mendekati Jeslyn dan kemudian duduk di sampingnya. "Kenapa kau ke sini? Bukankah seharusnya kau pulang ke apartemenmu?" tanya Dave lembut. Tidak bisa dipungkiri kalau saat ini dia bahagia bisa melihat Jeslyn sebelum dia pergi.
Jeslyn meraih tangan Dave lalu menggengamnya. "Aku mohon jangan pergi Davee," ucap Jeslyn dengan wajah sedih.
Dave menatap sedih pada istrinya.. "Aku harus pergi, Jes. Aku sudah menandatangi surat cerai kita sesuai keinginanmu. Setelah persidang selesai, kau akan bebas. Bukankah seharusnya kau senang terbebas dari aku? Aku tahu kau tidak pernah bahagian hidup bersamaku. Aku selalu menyakitimu. Aku akan melepasmu demi kebahagiaanmu."
Jeslyn menggeleng kuat. "Aku tidak mau bercerai denganmu, Dave. Aku masih mencintaimu, bahkan sangat mencintaimu Dave. Tolong jangan tinggalkan aku," mohon Jeslyn sambil menitikkan air mata.
Dave mengangka tangannya lalu menghapus air mata Jeslyn setelah itu memeluknya dengan erat. "Aku mohon jangan menangis, Jes. Aku tidak bisa melihatmu menangis," ucap Dave sambil mengelus rambut Jeslyn dengan pelan.
"Kau yang membuatku menangis. Kenapa kau jahat sekali? Kau selalu saja menyakiti aku, Dave," ucap Jeslyn sambil terisak.
"Apa kau pikir dengan kepergianmu bisa membuat hidupku bahagia? Kau salah Dave. Kau sama saja menghancurkan hidupku. Aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Aku sudah kehilangan anak kita. Hanya kau yang kupunya saat ini. Kenapa tega meninggalkan aku Dave, kenapa?" ujar Jeslyn lirih diiringi suara isak tangis.
Dave mempererat pelukannya. "Maafkan aku Jes, maafkan aku. Aku kira kau membenciku dan sudah tidak mencintaiku lagi. Aku pikir kau akan hidup bahagia tanpa aku. Apalagi selama ini, aku hanya bisa menyakitimu saja karena itulah aku memutuskan untuk pergi."
__ADS_1
Bersambung...