
Levin mengambil paksa mainan yang ada di tangan Celine. "Ini adalah milikku. Jangan pernah menyentuhnya." Levin mengangkat mainan itu dengan tangan kanan sambil menatap datar pada Celine.
Wajah Celine langsung berubah muram. Dia tidak berani protes pada Levin karena mainan itu memang miliknya.
"Levin, pinjamkan sebentar pada adikmu."
Jeslyn tidak mengerti kenapa Levin begitu tidak menyukai Celine. Semenjak kedatangan Celine ke rumah mereka, Levin terus saja bersikap dingin pada Celine. Dia bahkan beberapa kali terlihat mengganggu Celine ketika dia sedang bermain atau sekedar belajar.
"Bukankah kau sudah tidak menyukai mainan itu?" tanya Jeslyn dengan wajah heran.
Jeslyn sudah memasukkan Celine ke sekolah yang sama dengan anaknya. Levin masuk sekolah dasar, sementara Celine masuk TK. Karena kendala kendala bahasa. Sering kali Celine diejek oleh teman-temannya karena tidak lancar berbahasa Indonesia.
Untung saja sekolah Levin dan Celine adalah sekolah internasional yang menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa utama di sekolah mereka sehingga Celine tidak terlalu sulit dalam memahami pelajaran. Hanya terkadang teman-temannya sengaja berbicara bahasa Indonesia untuk mengolok-olok dirinya yang tidak fasih berbahasa Indonesia.
Selama ini, Jeslyn dan Dave selalu berkomunikasi dengan Celine menggunakan bahasa Inggris, meskipun begitu sedikit-demi sedikit Jeslyn mengajarkan bahasa Indonesia kepada Celine. Dia bahkan memanggil guru privat untuk mengajarkan Celine agar dia cepat lancar berbahasa Indonesia.
Levin duduk di sofa dengan wajah acuh. "Ini adalah milikku. Aku tidak suka kalau orang lain menyentuhnya," ucap Levin santai, "dan, satu lagi, dia bukan adikku, Ma. Aku hanya memiliki satu adik yaitu Jen."
Jeslyn menghela napas panjang melihat sikap dingin anaknya. "Sampai kapan kau tidak bisa menerima keberadaan Celine? Bukankah selama ini dia tidak pernah mengganggumu?"
Celine hanya bisa menunduk. Dia sadar diri kalau dirinya hanya orang luar. Meskipun dia masih kecil, tapi dia mengerti kalau Levin tidak suka keberadaanya di rumah itu.
"Sampai mama membawanya pergi dari sini," ucap Levin datar.
"Levin..!! Kau jangan keterlaluan!" Baru kali ini, Jeslyn membentak Levin. Dia merasa sudah gagal medidik Levin sehingga dia memiliki sifat antipati terhadap orang lain.
"Mama membentakku??" Levin terlihat tidak percaya kalau ibu yang selama ini bersikap lembut padanya, bisa membentaknya hanya karena membela anak orang lain. "Hanya karena anak ini??" tunjuk Levin pada Celine.
Jeslyn menghirup napas dalam lalu menghembuskannya. "Levin, jaga sikapmu. Dia adalah adikmu. Suka tidak suka, kau harus menerima keberadaan di tengah-tengah keluarga kita," Jeslyn kembali melunak saat melihat wajah terkejut anak laki-lakinya.
Ibu Dave yang baru saja datang dari arah taman bersama dengan Jennifer seketika langsung dibuat terkejut dengan suara Jeslyn yang tadi sempat meninggi.
"Ada apa, Jes?" Ibu Dave buru-buru menghampiri menantu dan cucunya.
"Mama membentakku hanya karena membela anak itu, Oma," adu Levin pada omanya.
"Levin sudah keterlaluan, Ma. Dia memintaku untuk mengusir Celine dari sini. Padahal dia tahu kalau Celine sudah tidak memiliki keluarga lagi," terang Jeslyn dengan wajah frustasi.
Ibu Dave menghampiri Levin yang sedang duduk dengan wajah marah. "Levin, dengarkan Oma. Kalau kau tidak menyukai Celine, kau bisa mengabaikannya. Kau tidak perlu mengusik atau mengganggunya. Anggap saja dia tidak ada di sini. Jangan terlalu membencinya Sayang. Cukup abaikan saja dia."
"Maaaa."
Jeslyn hendak protes tapi langsung diberikan kode oleh mertuanya untuk memperpanjang masalah. Sifat Levin tidak jauh berbeda dengan Dave, tentu saja Ibu mertua Jeslyn tahu kalau semakin Levin di paksa menerima sesuatu yang tidak dia suka.
Semakin keras dia menentangnya. Itulah sebabnya mertua Jeslyn menyarakan hal itu pada Levin. Setidaknya Levin tidak akan mengganggu Celine lagi jika Levin bersikap acuh padanya.
Jeslyn hanya geleng-geleng kepala. "Celine, ikut mama." Jeslyn akhirnya membawa pergi Celine ke taman belakang. Dia merasa kasihan pada Celine karena selalu diusik oleh Levin.
Sesampainya di taman belakang, Jeslyn mengajak Celine untuk duduk di sampingnya. "Sayang, maafkan kak Levin ya? Dia memang terlihat sedikit kasar kalau berbicara tapi sebenarnya hatinya baik," jelas Jeslyn sambil mengelus kepala Celine.
"Iyaa, Ma. Kak Levin tidak salah. Celine memang hanya merepotkan di sini," ucap Celine sambil menunduk.
__ADS_1
Sebisa mungkin dia menahan air matanya. Dia sudah terbiasa dengan sikap Levin yang selalu ketus dan tidak ramah padanya. Selama 6 bulan tinggal di keluarga itu, Hanya Jeslyn, Dave dan Ibu Dave yang memperlakukannya dengan baik.
Jeslyn meraih tubuh Celine dan memeluknya. Air matanya menetes karena merasa bersalah pada Celine. Dia mulai berpikir kalau keputusannya membawa Celine masuk ke dalam keluarganya adalah keputusan yang salah.
Niatnya untuk menjaga dan melindungi Celine justru berbalik melukai Celine. Dia mulai menyesalinya keputusannya tersebut, seandainya dia tidak mengangkat Celine, mungkin saja dia bisa bahagia dengan keluarga baru atau hidup bahagia di panti asuhan.
*****
"Kak Levin tunggu."
Celine menggandeng Jennifer sambil mengejar langkah Levin yang sedang berjalan memasuki gerbang sekolah. Baru saja mereka bertiga diantar oleh Jeslyn ke sekolah. Levin saat ini, sudah menginjak sekolah menengah pertama kelas VII, sementara Celine berada di sekolah dasar kelas 4 sementara Jennifer berada dikelas 1 sekolah dasar.
Levin menoleh ke belakang. "Makanya berjalan lebih cepat. Aku bisa terlambat kalau menunggu kalian berdua," ucap Levin ketus.
Levin masih saja bersikap ketus pada Celine seperti biasanya. "Maaf, Kak." Celine terlihat berlari kecil dengan Jennifer mengejar langkah Levin.
Levin menghentikan langkahnya lalu menatap pada Celine. "Jangan pernah memanggilku kakak kalau di sekolah. Kau bukan adikku." Levin lalu pergi meninggalkan Celine setelah berbicara.
"Iyaa aku mengerti."
Celine tersenyum sambil menyusul langkah Levin. Celine sudah terbiasa dengan sikap dingin Levin padanya sehingga dia tidak sudah tidak sakit hati lagi dengan sikapnya.
"Kakak jahat," teriak Jennifer sambil menatap tidak suka pada kakaknya.
"Aku akan mengadukanmu pada mama kalau kau suka memarahi kak Celine," ancam Jennifer sambil menggerutu.
Levin berhenti lalu menatap acuh tak acuh pada adik perempuannya. "Aku tidak peduli." Levin mempercepat langkahnya sehingga membuat Jennifer kesal karena merasa lelah mengejar langkah Levin.
Jennifer memang lebih dekat dengan Celine dibandingkan dengan Levin. Awalnya Jennifer bahkan tidak tahu kalau Celine bukan kakak kandungnya. Sebab itulah dia sering marah pada Levin kalau dirinya memarahi Celine dan mengatakan kalau Celine bukan adiknya.
Celine menunduk. "Tidak apa-apa. Kak Levin memang begitu, tapi kakak tahu kalau dia sebenarnya baik." Celine kemudian berjalan ke arah yang berbeda dengan Levin. Sekolah dasar berada di gedung sebelah kiri sementara sekolah dasar berada di gedung sebelah kanan.
Ketika istirahat, Levin keluar dari kelasnya. Dia berniat untuk pergi toilet. Langkahnya terhenti ketika melihat Celine sedang dihina dan diolok-olok oleh teman-temannya. Bukan rahasia umum lagi kalau Celine adalah anak angkat dari keluarga Dave.
Semua orang tahu kalau Levin tidak menyukai Celine sehingga mereka berani mengganggu Celine karena mereka berpikir tidak akan ada yang akan melindungi Celine di sekolah. Sekolah tempat Levin dan Celine masuki adalah sekolah milik kakek Levin sehingga semua orang tahu mengenai silsilah keluarga Tjendra termasuk keberadaan Celine yang hanya anak angkat.
Celine terlihat sedang di kelilingi oleh 5 anak perempuan dan 1 anak laki-laki. Sebenarnya Celine sudah terbiasa mendapatkan hinaan dari teman-temannya. Terkadang teman-temannya sering bersikap kasar padanya. Beberapa kali dia disiram air oleh teman-temannya. Dikunci di dalam ruangan.
Dia bahkan pernah didorong hingga jatuh tersungkur sehingga siku dan luturnya berdarah. Saat ditanya oleh Jeslyn, dia mengaku kalau dia tidak sengaja terjatuh saat berlari. Celine memang tidak pernah melawan mereka karena dia tidak mau mencari masalah.
Sekolah itu adalah sekolah kelas atas sehingga orang tua dari murid yang bersekolah disitu bukanlah orang biasa, itulah sebabnya Celine tidak mau memperpanjang masalah. Dia tidak mau membuat Jeslyn kerepotan hanya karena dia sehingga dia hanya bisa diam dan menahan setiap perlakuan kasar temannya.
Levin terlihat menatap tajam ke arah sudut lorong yang tersembunyi. Di sanalah Celine sedang berada dan dikelilingi oleh teman-temannya. Terlihat Celine terduduk di sudut sambil melindungi tubuhnya dari siraman teman-temannya. Bahkan beberapa temannya meleparkan telor mentah dan mengenai kepala Celine. Semua tertawa melihat penampilan Celine yang berantakan.
Dia memang sudah sering diperlakukan seperti itu. Itulah sebanya dia selalu membawa pakaian ganti ke sekolah agar gurunya tidak curiga dengan baju yang kotor dan basah serta penampilannya yang berantakan. Beruntung sekolah mereka dilengkapi dengan kamar mandi dengan segala fasilitas lengkapnya.
Dia bukannya tidak berani melawan hanya tidak mau memperumit masalah. Padahal, Jmjika Jeslyn dan Dave tahu mengenai perlakuan teman-temannya, mereka pasti akan membela Celine dan membuat perhintungan dengan orang tua dari anak-anak nakal tersebut. Sekali lagi, Celine tidak mau merepotkan Jeslyn dan Dave.
Melihat Celine tidak melawan sama sekali, Levin langsung berjalan ke arah Celine. "Apa kalian sudah bosan bersekolah di sini?" Suara Levin langsung mengejutkan semua yang ada di sana.
"Kakak," ucap Celine sambil menatap Levin dengan wajah terkejut.
__ADS_1
Teman-teman Celine langsung pucat. "Kita hanya bercanda Kak Levin, iya kan, Celine?"
Anak perempuan berambut ikal langsung menatap ke arah Celine, memberikan kode padanya agar tidak mengadu pada Levin.
"Iyaa Kak, kami hanya sedang bermain."
Sorot mata Levin semakin dingin. "Pergi dari sini. Jangan pernah berani mengganggu Celine lagi."
Anak-anak yang mengganggu Celine seketika langsung pergi dengan langkah cepat.
"Apa otakmu tertinggal di rumah? Kenapa kamu diam saja diperlakukan seperti itu dengan mereka?" Levin terlihat emosi menatap Celine yang terlihat tidak berdaya.
"Aku tidak apa-apa, Kak."
"Cepat bangun." Levi terlihat tidak sabar melihat Celine yang hanya duduk sambil membersihkan bajunya.
"Iyaa, Kak."
"Ikut aku." Levin berjalan mendahului Celine menuju ruang ganti sekaligus kamar mandi.
"Apa mereka sering mengganggumu?" tanya Levin ketika mereka sudah berada di depan kamar mandi.
"Tidak, Kak."
Meskipun Celine berbohong tapi Levin bisa menebaknya. Dia mulai berpikir kalau selama ini luka yang didapat dari sekolah adalah ulah teman-teman Celine.
Levin menatap tajam pada Celine. "Apa kau takut dengan mereka? Apa kau ingin merepotkan aku terus?"
"Tidak, Kak."
Levin menghela napas. "Cepat bersihkan dirimu."
******
Semenjak Levin memergoki Celine yang diperlakukan semena-mena oleh teman-temannya, Levin sering kali mengawasi Celine diam-diam tanpa sepetahuan Celine. Levin menjaga Celine melebihi adiknya sendiri. Bahkan sikap Levin mulai melunak pada Celine.
Dia tidak sedingin dan seketus dulu. Meskipun Levin begitu, dia tetap jarang sekali berbicara dengan Celine. Setelah insiden pembullyan itu. Levin meminta pada kakeknya secara khusus untuk mengeluarkan anak-anak yang sudah membully Celine dan memperlakukan Celine dengan kasar tanpa sepengetahuan Jeslyn dan Dave.
Awalnya kakeknya tidak mau karena Levin tidak mau memberitahukan alasannya. Sampai akhirnya Levin bersedia memberitahukan alasannya dengan syarat orang tuanya tidak boleh tahu. Kakeknya pun menyetujuinya lalu Levin membeberkan fakta bahwa Celine sering kali diganggu oleh teman-temannya.
Tentu saja kakeknya tidak percaya begitu saja. Dia lalu meminta seseorang untuk menyelidiki dan terbukti lah ucapan cucunya dan akhirnya anak-anak tersebut diminta pindah atau diberhentikan secara tidak terhormat. Celine sudah tidak pernah diganggu lagi setelah anak-anak nakal itu keluar dari sekolah.
Kehidupan Celine perlahan mulai membaik. Levin meskipun cuek padanya tetapi dia mulai memperlakukannya dengan baik. Tidak ada lagi kata-kata ketus dari mulutnya. Hanya saja sikap datar dan acuh yang tidak bisa dia hilangkan dari dirinya.
Sikap Dave dan Jeslyn juga sangat baik dan sayang padanya. Mereka tidak membeda-bedakan kasih sayang mereka. Kebahagiaan Celine tidak berlangsung lama hingga suatu hari, ada yang mencarinya dan mengatakan kalau mereka adalah keluarganya yang sudah lama mencarinya.
"Kenalkan, namaku Felix dan ini istriku Sandra," ucap pria yang berumur sekitar 40-an tersebut memperkenalkan diri ketika Dave baru saja duduk di depan mereka.
"Apa kalian sungguh keluarga dari Celine?"
Dave menatap curiga pada Felix dan Sandra. Dave hanya merasa janggal kenapa mereka baru datang setelah bertahun-tahun lamanya.
__ADS_1
Bersambung...