Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Salah Duga Lagi


__ADS_3

Jeslyn membuka pintu kamarnya dengan perlahan. Suasana kamarnya masih sepi. Dia melihat suaminya masih terbaring di tempat tidur dengan posisi memeluk guling.


Jeslyn lalu menghampiri suaminya yang terlihat tidur membelakanginya. Dia kemudian memegang punggung suaminya yang terlihat belum mengenakan baju dan tidak tertutup selimut. "Dave, bangun. Ini sudah siang," ucap Jeslyn dengan lembut.


"Hhhhmmm," gumam Dave tanpa membuka matanya.


"Daveee, bangunlah." Jeslyn duduk tepat di belakang suaminya lalu menunduk dan meletakkan dagu di lengan suaminya.


"Sebentar lagi, Sayang," jawab Dave dengan suara serak.


Jeslyn kemudian kembali duduk tegak. "Kau sudah terlambat Dave, ini sudah pukul 2 siang." Jeslyn sengaja berbohong agar suaminya cepat bangun.


Dan benar saja, Dave langsung membuka matanya dan menoleh pada Jeslyn. "Benarkah? Kenapa kau tidak membangunkan aku, Sayang?"


Dave tampak terkejut mendengar ucapan istrinya tadi. Dia kemudian memicingkan matanya saat melihat Jeslyn terkekeh. Dia lalu menatap ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 08.55 Wib. "Beraninya kau mengerjai suamimu," ucap Dave sembari menatap tajam pada istrinya.


Senyum Jeslyn langsung pudar ketika melihat wajak kesal suaminya. "Maaf Dave," ucap Jeslyn dengan wajah bersalah.


"Kemarii." Dave menggerakkan tangannya meminta Jeslyn mendekat.


"Untuk apa?" tanya Jeslyn dengan wajah ragu. Melihat wajah Dave yang tampak serius membuat Jeslyn merasa takut.


"Cepat kemari Sayang sebelum kesabaranku habis." Dave terlihat tidak sabar ketika melihat Jeslyn belum juga bergerak mendekat ke arahnya.


Meskipun ragu, tetapi tetap mendekat dan duduk tepat di depan suaminya. Dia takut kalau Dave akan bertambah marah jika dia tidak menuruti perkataan suaminya.


Dave kemudian menyibakkan selimut yang menutupi sebagain tubuhnya bagian bawahnya. "Karena kau sudah mengerjaiku, kau harus mendapa hukuman dariku." Dave turun dari tempat tidur dengan bertelanjang dada.


"Dave, turunkan aku, aku sudah mandi." Dengan gerakan cepat, Dave sudah membopong Jeslyn ke dalam kamar mandi.


"Tapi aku belum mandi sayang, aku ingin mandi bersamamu." Dave tidak menghiraukan penolakan dari istrinya dan langsung menurunkan Jeslyn lalu mengunci pintu kamar mandi.


"Dave, ada mama di bawah. Dia menunggu kita," ucap Jeslyn dengan wajah panik.


Dave langsung mengeryit. "Mama? Untuk apa mama ke sini?" Dave mulai melepaskan kain yang melekat di tubuhnya dengan santai.


"Dia ibumu Dave, apakah butuh alasan baginya jika ingin ke rumah anaknya?"


"Tidak, hanya saja ini masih pagi. Ada keperluan apa dia tiba-tiba ke sini?"


"Mama hanya ingin berkunjung Dave, tidak ada alasan khusus," jawab Jelsyn pelan.

__ADS_1


"Kalau begitu, biarkan mama menunggu kita."


"Dave, jangan begini, kasihan mama sendirian," ucap Jeslyn ketika Dave menarik tangan Jeslyn dan membawanya tepat di bawah shower.


Dave tidak memperdulikan ucapan istrinya. Dia langsung menyalakan showernya dan melu*mat bibir istrinya. Tangannya pun mulai melucuti pakaian istrinya. Perkataan Dave yang mengatakan kalau hanya ingin mandi bersama, hanyalah ucapan belaka. Nyatanya dia kembali mengulang kegiatan mereka yang semalam.


******


"Apa kalian habis mandi bersama?" tanya Ibu Dave ketika melihat menantu dan anaknya memasuki ruang keluarga tempat dirinya sedang duduk.


Ibu Dave bertanya seperti itu karena melihat rambut anaknya masih setengah kering dan Jeslyn tampak sudah berganti pakaian kembali dengan rambut yang terurai dan wangi sampo menyeruak dari rambutnya.


Wajah Jeslyn langsung merona merah, sementara Dave tampak acuh tak acuh seolah perkataan ibunya hanya angin lalu. "Ma, kau membuat Jeslyn tidak nyaman. Kenapa kau bertanya hal seperti dengan calon pengantin seperti kami." Dave duduk di depan ibunya sementara Jeslyn di sampingnya.


"Aku akan mengambilkan sarapan untukmu." Jeslyn berjalan menuju dapur seraya menunduk menyembunyikan wajah merahnya.


Ibu Dave tersenyum melihat menantunya yang tampak salah tingkah. Setelah kepergian Jeslyn, Ibu Dave menatap anaknya. "Dave, persiapan pernikahan kalian sudah 90%. Tiga hari lagi acara resepsi pernikahan kalian akan digelar," info Ibunya, "kau harus bisa menjaga kesehatanmu, jangan terlalu lelah," saran Ibunya.


"Mama tenang saja, tidak peru khawatir dengan hal itu," ucap Dave dengan santai.


Tidak lama kemudian Jeslyn datang dengan membawa nampan dan segelas air puntih untuk suaminya. "Makanlah, Dave." Jeslyn meletakkan sepiring nasi goreng dan sepiring mangkok bubur ayam di depan Dave.


"Terima kasih, Sayang." Dave meraih piring nasi goreng lalu menatap ibu dan istrinya secara bergantian. "Kalian tidak makan?" tanya Dave sambil menyendokkan nasi goreng ke mulutnya.


Dave mengangguk lalu kembali memasukkan nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Jes, kau ingin berbulan madu ke mana setelah acara resepsi pernikahan kalian?" tanya Ibu Dave antusias.


Sebenarnya dia sudah menyiapkan tiket honeymoon untuk anak dan menantunya ke Paris. Hanya saja dia belum sempat mengatakan pada mereka. Dia takut mereka tidak setuju dengan idenya, maka dari itu, dia bertanya pada Jeslyn sekarang.


"Kami akan pergi beberapa negara bagian Eropa, Ma," sahut Dave sebelum Jeslyn menjawab pertanyaan ibunya.


"Baiklah, mama akan menyiapkan semuanya. Kalian tinggal mempersiapkan diri kalian saja," ucap ibu Dave dengan wajah senang.


"Biarkan kami mengurusnya sendiri, Ma. Kami sudah banyak merepotkan Mama dengan mengurus resepsi pernikahan kami," ucap Jeslyn dengan wajah sungkan.


"Mama tidak repot, mama justru senang. Mama hanya ingin agar sepulang dari sana, kalian bisa memberikan mama berita baik. Mama harap sepulang berbulan madu, kau bisa segera hamil, Jes," ucap Ibu Dave penuh harap seraya tersenyum pada menantunya.


"Jangan terlalu membebani Jeslyn dengan keinginan mama untuk memiliki cucu, Ma. Istriku bisa stres nanti," timpal Dave seraya mengunyah makanannya.


"Maafkan mama, Jes, mama tidak bermaksud untuk memaksamu segera memiliki anak. Jangan terlalu dipikirkan, yang terpenting kalian bisa hidup bahagia," ucap Ibu Dave dengan wajah menyesal.

__ADS_1


"Tidak, Ma. Aku tidak terbebani sama sekali. Aku juga ingin segera hamil, Ma."


Mendengar perkataan menantunya membuat dirinya merasa lega. Dia memang ingin segera menimang cucu, tapi dia tidak mau lagi memaksakan kehendaknya pada menantunya seperti yang dia lakukan dulu.


"Dave, kau harus rajin mengkonsumsi vitamin."


"Untuk apa?" tanya Dave dengan acuh tak acuh. Dia menyendokkan suapan terakhir ke dalam mulutnya.


"Tentu saja agar tidak mudah lelah dan memiliki stamina yang bagus," jawab Ibu Dave sambil menatap pada anaknya.


Dave tampak belum mengerti kenapa ibunya mengatakan hal itu padanya. Dia tampak mengeryit sesaat sambil menatap ibunya. "Lalu apa hubungannya denganku?" tanya Dave sambil  meraih gelas air putih yang ada di atas meja.


"Bukankah kau tidak tahan lama dan mudah lelah saat membuatkan mama cucu? Mama hanya khawatir kalau kau tidak bisa membahagiakan Jeslyn jika kau memiliki masalah dengan hubungan suami istri. Wanita suka pria yang perkasa Dave."


"Uhuk... Uhuk... Uhuuuk." Dave langsung terbatuk mendengar ucapan ibunya. "Uhuk... Uhuk." Dave terus terbatuk sehingga membuat wajahnya memerah.


Jeslyn langsung menepuk punggung suaminya dengan lembut. "Apa kau tidak apa-apa?" tanya Jeslyn dengan wajah cemas. Dave hanya mengangguk sebagau jawaban dari pertanyaan istrinya.


"Kau ini seperti anak kecil saja. Apa kau tidak bisa minum pelan-pelan?" omel Ibunya.


"Ini juga karena Mama. Bagaimana bisa Mama memiliki pikiran seperti itu?" tanya Dave dengan wajah kesal.


"Mama beberapa kali melihat kau tampak kelelahan. Mama pikir kau memiliki masalah dengan staminamu."


Jeslyn menyodorkan minuman pada Dave lalu dengan sekali teguk Dave menghabiskan air minumnya. "Apa Mama sungguh berpikir kalau aku memiliki stamina yang buruk?"


"Iyaaa, tentu saja. Apa kau tidak merasa seperti itu? Wanita tidak akan bahagia kalau kau memiliki masalah seperti itu, Dave. Jangan membuat mama malu, Dave."


Dave terlihat bertambah kesal setelah mendengar perkataan ibunya yang barusan. "Lebih baik Mama pulang, jangan mengatakan omong kosong di sini." Dave tampak malas menjelaskan pada ibunya karena sudah merasa kesal duluan dengan tuduhan tidak mendasar dari ibunya itu.


"Mama memang sudah mau pulang. Mama tidak akan menganggu kalian lagi." Ibu Dave kemudian berdiri.


"Mama tidak perlu mengkhawatirkan apapun Ma. Kami sudah hidup bahagia sekarang," ucap Dave sambil menatap ibunya.


"Baguslah. Mama ikut senang mendengarnya," ucap Ibunya dengan tulus.


"Mama pulang naik apa?" tanya Jeslyn sebelum ibu mertuanya melangkah pergi.


"Ada supir yang menunggu di depan."


"Aku akan mengantar Mama ke depan."

__ADS_1


"Baiklah." Mereka berdua berjalan keluar dengan langkah sejajar sementara Dave mengikuti dari belakang.   


Bersambung..


__ADS_2