
"Maafkan aku Dave. Aku hanya tidak ingin kau mengulang kesalahan yang pernah aku perbuat seperti saat aku meninggalkanmu dulu. Pergi tanpa mengatakan apapun. Aku tidak mau kau merasakan penyelasan seumur hidup seperti yang aku rasakan selama ini."
Sebenarnya saat Zayn ingin menyusul Dave ke bandara. Dia terlebih dahulu menghubungi Stella. Dia meminta Stella untuk mengulur waktu agar mereka masih sempat untuk menyusul ke bandara. Zayn menjelaskan pada Stella kalau Jeslyn ingin bertemu dengan Dave.
Stella yang dari awal memang tidak menyetujui ide Dave untuk pergi begitu saja, langsung menyetujui permintaan asisten Dave. Dia juga tidak ingin membuat Dave menyesal dengan keputusan yang diambil saat ini.
"Terima kasih Stella, terima kasih karena kau sudah menyelamatkan pernikahanku," ucap Dave tulus.
Stella tersenyum tipis. "Ini adalah ide asistenmu. Dia yang menghubungiku untuk mengulur waktu," jelas Stella.
Dave melirik pada Zayn. "Aku akan berterima kasih padamu nanti." Zayn hanya mengangguk.
Dave kemudian beralih pada Stella. "Tetap saja kau turut andil mempersatukan kami kembali. Jika saja kau tidak menuruti pemintaan Zayn. Mungkin saja aku tidak akan pernah bertemu dengan Jeslyn lagi. Aku berhutang budi pada kalian semua yang ada di sini."
Dave sangat bersyukur karena Stella mau membantunya. Bisa saja kalau Stella berniat jahat. Dia tidak melakukan apa yang diminta asisten Dave. Dengan begitu Dave tidak akan pernah bertemu dengan Jeslyn karena mustahil bagi mereka bisa menyusul Dave dan Stella, jika saja Stella tidak mengulur waktu karena mereka membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam untuk sampai di bandara. Sementara mereka hanya punya waktu 1 jam untuk menyusul Dave.
"Lebik baik kita pulang dulu. Kasian Jeslyn sepertinya dia lelah," ucap Stella memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan mereka.
"Iyaa. Aku akan meminta Zayn untuk mengantarmu ke hotel yang tidak jauh dari apartemenku. Sementara kau bisa tinggal di sana."
Stella sudah menjual apartemennya yang berada di Ascott karena dia pikir tidak akan pernah kembali lagi ke Indonesia.
"Baiklah," jawab Stella sambil mengangguk.
"Kenapa tinggal di hotel?" tanya Jeslyn dengan wajah heran.
Stella langsung menjawab. "Aku sudah menjual apartemenku."
"Kalau begitu tinggallah sementara waktu di apartemenku. Mungkin apartemenku tidak sebesar milikmu, tetapi akan lebih nyaman untuk Alea dibandingkan di hotel. Kau bisa pindah saat kau sudah memiliki tempat tinggal," tawar Jeslyn.
Stella tersenyum canggung. "Tapi aku tidak mau merepotkanmu," tolak Stella dengan halus.
Dia sebenarnya masih merasa canggung dengan Jeslyn, apalagi mereka pernah terlibat kesalahpahaman.
"Anggap saja sebagai ucapan terima kasihku karena kau sudah membantuku."
"Tapi bagaimana denganmu?"
__ADS_1
"Aku akan tinggal bersama dengan Dave di rumah kami."
Dave langsung menoleh pada Jeslyn. Dia tidak menyangka kalau Jeslyn akhirnya mau menempati rumah baru mereka. Seketika dia merasa bahagia. Itu artinya Jeslyn sudah menerimanya.
"Tinggallah di sana sementara Stella. Di sana juga keamanannya terjaga," saran Dave.
Setelah menimang-nimang selama beberapa menit. Stella akhirnya menyetujuinya. "Baiklah."
"Zayn akan mengantarmu. Kami akan naik taksi," ucap Dave.
"Tidak perlu. Biar aku saja yang mengantar mereka. Biar Zayn mengantar kalian berdua. Jeslyn tidak akan merasa nyaman jika naik taksi," sela Dion.
Bukan tanpa alasan Dave menyuruh Zayn mengantar Stella dan Alea. Dia hanya takut kalau Stella lepas dari pengawasannya. Keluarga Daniel akan dengan mudah membawa Stella dan Alea pergi, apalagi dia mendapatkan infomasi kalau keluarga Daniel sudah mengetahui keberadaan Stella di Indonesia.
"Baiklah."
******
"Kenapa kita di sini?" tanya Jeslyn ketika mobil Dave berhenti tepat di depan apartemen milik suaminya.
Dave tersenyum lalu menatap bola mata istrinya. "Jes, kita akan tinggal di sini untuk sementara waktu. Kita akan pindah setelah kondisimu pulih."
Apalagi kamar mereka berada di lantai 2. Walaupun ada lift, tetap saja Dave khawatir istrinya akan kesulitan dan kelelahan. Meskipun juga ada Maya yang akan menjaga istrinya selagi dia bekerja, tetap saja Dave merasa tidak tenang.
Jeslyn mengangguk. "Baiklah."
Dave kemudian mengangkat tubuh istrinya ke kursi roda lalu berjalan masuk ke dalam apartemen Dave.
Setelah sampai di dalam kamar, Dave langsung membaringkan istrinya di tempat tidur. "Istrirahatlah, Jes. Kau pasti lelah," ucap Dave seraya berdiri.
Jeslyn menatap heran pada suaminya saat melihatnya akan melangkah. "Kau mau ke mana?"
Dave tersenyum tipis. "Aku akan pergi ke ruang kerja. Ada yang harus aku urus," jawab Dave lembut.
"Baiklah."
Dave membungkuk lalu mengecup kening istrinya. "Tidurlah, Sayang." Jeslyn kemudian mengangguk.
__ADS_1
Dave lalu berjalan menuju ruang kerjanya. Setelah itu, dia menghubungi Adnan. Selesai berbicara dengan Adanan, Dave tampak mengambil map yang ada di laci meja kerjanya lalu dia mulai memeriksanya satu persatu.
Pukul 5 sore, Dave keluar dari ruangan kerjanya, kemudian dia berjalan menuju kamar mereka untuk mengecek istrinya. Dia merasa khawatir meninggalkan istrinya terlalu lama. Ketika membuka pintu. Dia bisa melihat istrinya yang tampak masih tertidur.
Dave kemudian menghampiri istrinya lalu duduk di tepi tempat tidur sambil memandang Jeslyn yang tidur dengan lelap. Dave masih tidak percaya kalau dia dan Jeslyn akhinya bisa hidup bersama lagi. Setelah puas memandang istrinya Dave berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Jeslyn mulai membuka matanya ketika mendengar suara dari dalam kamar mandi.
"Kau sudah bangun?" tanya Dave ketika dia baru saja keluar dari kamar mandi.
Jeslyn seketika menoleh ke asal suara. "Iyaa," jawab Jeslyn dengan wajah memerah. Walaupun sudah menikah hampir 2 tahun, dia masih saja malu jika melihat Dave yang bertelanjang dada.
Dave yang tahu kalau istrinya merasa malu, kemudian bergegas menuju lemari pakaian untuk memakai bajuny. Setelah itu, dia menghampiri Jeslyn yang sedang duduk tegak di tempat tidur. "Apa kau ingin membersihkan tubuhmu?" tanya Dave sambil menatap istrinya.
"Iyaa, badanku terasa lengket."
"Baiklah. Kau tunggu di sini." Dave berjalan menuju kamar mandi. Tidak lama kemudian dia kembali lagi. "Aku akan membantumu."bDave kembali setelah dia mengisi bak mandi dengan air hangat
"Tidak perlu, Dave. Aku bisa sendiri," tolak Jeslyn. Dia merasa malu kalau sampai Dave membantunya untuk mandi.
"Aku adalah suamimu. Kau tidak perlu malu denganku Jeslyn." Dave tentu saja bisa membaca ada yang dipikiran istrinya saat ini.
"Aku hanya tidak terbiasa, Dave." Jeslyn berusaha mengalihkan pandangannya ketika Dave menatapnya dari dekat.
Dave tampak tidak menghiraukan ucapan Jeslyn. Dengan gerakan cepat dia mengangkat tubuh istrinya. "Turunkan aku Dave," pinta Jeslyn dengan wajah panik.
Dave langsung tersenyum ketika melihat istrinya tampak mengalungkan tangannya ke lehernya. "Diamlah Jes, kau bisa jatuh nanti," kata Dave ketika Jeslyn tampak bergerak tidak menentu.
"Kau menggemaskan sekali kalau sedang panik." Dave lalu mendudukkan istrnya di atas toilet duduk.
"Keluarlah, Dave. Aku akan mandi sendiri," usir Jesyn ketika melihat Dave tidak bergerak sama sekali dari tempatnya.
"Aku akan membantumu. Aku takut kau akan jatuh nanti. Kakimu masih belum pulih."
Dave tidak berniat sama sekali untuk pergi meninggalkan istrinya. Dia hanya takut terjadi sesuatu pada istrinya jika dia meninggalkannya sendirian di dalam kamar mandi.
"Tapi Dave...."
__ADS_1
"Kau mau buka sendiri atau aku yang akan membukanya?" Dave tampak tidak mengindahkan penolakan dari Jeslyn.
Bersambung...