
Dave terus menatap wajah istrinya yang terlihat mengunyah dengan pelan. “Apa kau mual?” Dave melihat Jeslyn tampak menelan bubur itu dengan susah payah.
Jeslyn mengangguk pelan. “Iya.” Baru beberapa suapan Jeslyn sudah merasa mual. Jeslyn sebenarnya takut Dave akan marah kalau dirinya hanya makan sedikit.
Dave meletakkan mangkok bubur di atas nakas lalu mengambil minuman hangat untuk Jeslyn. “Minumlah.” Dave menyodorkan gelas pada Jeslyn.
“Apa tidak ada yang ingin kau makan sebelum Zayn datang?” Dave berusaha memaklumi Jeslyn yang tidak bisa makan terlalu banyak.
“Aku ingin makan es krim.”
Dave terkejut. “Ini masih pagi Jeslyn. Kau baru makan bubur sedikit tadi.” Semenjak hamil Jeslyn sering mual. Dia selalu memakan es krim untuk menghilangkan rasa mualnya.
“Mulutku terasa pahit Dave. Aku ingin makan yang manis-manis.”
“Bagaimana dengan coklat?” Dave mencoba mencari alternatif lain. Setidaknya coklat bisa mengganjal perut Jeslyn sementara.
Jeslyn menggeleng. “Tidak mau,” ucap Jeslyn pelan.
“Nanti pasti akan kubelikan, tetapi kau harus makan nasi dulu.” Dave mencoba untuk sabar menghadapi istrinya.
“Aku mual, Dave.”
Dave kemudian berdiri. “Kau tunggu di sini dulu. Aku akan memanggil dokter.“
Dave terpaksa memanggil dokter Sarah ke ruangan Jeslyn. Beberapa saat kemudian Dave datang bersama dengan dokter Sarah.
“Apa yang kau rasakan?” Sarah berdiri di dekat ranjang pasien.
“Aku sering mual, Sarah. Aku tidak bisa makan banyak. Setiap habis makan aku pasti akan memuntahkan semua isi perutku.”
Sarah memeriksa Jeslyn sebentar. “Biasanya kau muntah beberapa kali sehari?” Sarah memasukkan stetoskop ke saku jasnya setelah selesai memeriksa Jeslyn.
“Lebih dari 4 kali.”
“Gejala apalagi yang kau alami selama hamil?”
Jeslyn mencoba mengingat-ingat. “Aku sering merasa pusing dan sakit kepala, aku agak sulit menelan makanan, aku sensitif terhadap aroma tertentu.”
“Jeslyn, tekanan darahmu sangat rendah. Tubuhmu lemah karena tidak ada asupan yang masuk sama sekalo,” jelas Sarah.
“Iyaaa, itu karena aku selalu memuntahkan lagi makanan yang aku makan.”
__ADS_1
“Saat ini, kau mengalami gejala Hipermesis Gravidarium. Kau harus makan dalam jumlah sedikit tapi sering. Berhenti makan saat kau merasa mual.”
“Apakah dia boleh makan es krim?” Dave ikut bertanya pada Sarah.
Sarah menoleh sebentar pada Dave. “Boleeh, asalkan tidak berlebihan.”
Dave langsung melirik Jeslyn yang sedang tersenyum senang saat mendengar perkataan Sarah. “Jeslyn, kau seharusnya lebih tahu kondisimu dari pada aku. Kau juga seorang dokter. Sedikit banyaknya, kau pasti tau seputar kehamilan dan Hipermesis ini, kan?”
“Iyaa aku tahu, tapi aku tidak bisa mengendalikan hormon kehamilanku, Sar. Ternyata mengusai teorinya belum tentu bisa melakukan prakteknya.”
“Kau harus melawannya. Kau juga tidak boleh bekerja dulu. Kau harus beristirahat total sampai kondisimu membaik.”
Jeslyn melirik Dave. Dia merasa kalau Dave pasti meminta Sarah untuk mengatakan padanya untuk tidak bekerja dulu.
“Siap Bu Dokter,” gurau Jeslyn.
“Kau ini, masih saja bisa bercanda,” ucap Sarah sambil geleng-geleng. “Aku akan menyuntikkan obat pereda mual dan muntah. Aku juga akan memberikan beberapa obat dan vitamin untukmu.”
“Iyaa.” Sarah mulai memasukkan obat melalui selang infus yang ada di tangan Jeslyn.
“Beritahu aku jika kau masih merasa mual setelah aku memberikanmu obat ini,” ucap Sarah ketika dia baru selesai menyuntikkan obat pereda mual.
“Terim kasih, Sarah.”
Semenjak Sarah tahu kalau Jeslyn adalah istrinya Dave. Dia lebih berhati-hati lagi menyebutkan laki-laki lain di depan Dave apalagi di seluruh rumah sakit sudah menyebar berita tentang kedekatan mereka Jeslyn dan Dion. Bahkan mereka di sebut-sebut menjalin hubungan khusus.
Jeslyn langsung melirik kepada Dave yang tampak menampilkan wajah datarnya. “Rahasiakan dulu darinya. Aku tidak mau dia jadi panik. Biar aku saja yang memberitahunya nanti.” Jeslyn berusaha berbicara sepelan mungkin. Dia takut kalau Dave akan mendengarnya.
Sarah mengangguk lalu menjauhkan tubuhnya dari Jeslyn. “Baiklah, aku akan kembali ke ruanganku,” ucap Sarah sambil memasukkan tanganya ke saku jas putihnya.
“Tuan Dave, saya permisi dulu,” pamit Sarah sopan.
Sarah meninggalkan ruangan Jeslyn setelah melihat Dave mengangguk. “Kenapa kau meminta dokter Sarah untuk merahasiakan kehamilanmu dari Dion? Apa kau masih berharap bisa bersama dengannya?”
Dave merasa tidak suka kalau Jeslyn merahasiakan kehamilannya dari Dion karena itu sama saja memberikan peluang padanya untuk mendekati istrinya.
Jeslyn langsung menghela napas berat. Dia berusaha untuk mencari alasan yang tepat agar Dave tidak salah paham padanya. Dion selalu menjadi topik sensitif bagi mereka. Sering kali pembahasan mengenai Dion berakhir dengan perdebatan yang panjang.
“Bukan begitu Dave. Aku hanya tidak ingin dia cemas padaku kalau dia tahu aku sampai di rawat. Dia pasti akan panik. Apa kau mau kalau dia sering datang mengunjungiku di sini saat kau tidak ada.” Jeslyn hanya ingin menjauhkan Dion dari Dave. Dia tidak mau kalau sampai mereka bertemu.
Dave berpikir sejenak. Dalam hati dia membenarkan ucapan istrinya. “Aku akan memberitahukan padanya kalau kau sedang hamil anakku supaya dia tidak berharap lebih padamu.”
__ADS_1
Dave berpikir kalau Dion tidak akan menyerah dengan mudah. Dia yakin Dion tidak akan mundur begitu saja meskipun dia tahu kalau Jeslyn sedang hamil anaknya.
Jelsyn tampak ingin mengelus dada. Kecemburuan Dave menurutnya terlalu berlebihan. Padahal Jeslyn sudah sering menjelaskan kalau mereka tidak memiliki hubungan apa-apa.
“Dave bisakah kau tidak bersikap antipati terhadap Dion? Dia sudah kuanggap seperti keluargaku. Dia yang selalu menjagaku selama ini.” Jeslyn hanya takut kalau Dave dan Dion akan berdebat seperti terakhir kali mereka bertemu.
“Justru karena kebaikannya itu, dia masih bisa bekerja di rumah sakitku. Jika tidak, sudah lama aku menendangnya keluar dari sini. Aku sungguh tidak menyukainya.”
Dave pernah berpikir untuk memecat Dion, tetapi dia urungkan. Banyak pertimbangan kenapa dia tidak memecat Dion dari rumah sakitnya. Salah satunya adalah karena Dion sudah sering menolong Jeslyn.
“Dion tidak seburuk yang kau pikirkan, Dave.” Jeslyn hanya tidak mengerti kenapa Dave sangat membenci Dion. Padahal selama ini Dion tidak pernah membuat masalah dengan Dave.
“Aku tidak suka kalau kau membelanya.” Dave menampilkan wajah kesalnya. Setiap kali membahas Dion, Dave selalu merasa tidak suka.
“Sebenarnya apa yang kau benci dari Dion, Dave? Bukankah dia tidak pernah mengganggumu?” tanya Jeslyn penasaran.
“Karena dia menyukaimu. Dia memiliki niat untuk merebutmu dariku,” ucap Dave jujur. Dion memang pernah mengatakan hal itu pada Dave 2 kali saat mereka sedang berdebat.
“Dave sebenarnya aku lelah menjelaskan ini padamu. Entah harus bagaimana aku menjelaskan supaya percaya padaku. Aku tidak memilki hubungan apa dengan Dion. Aku juga tidak pernah memiliki niat untuk mempunyai hubungan lebih dengannya.”
“Kau mungkin tidak memiliki perasaan terhadapnya, tetapi berbeda dengannya. Dia mencintaimu, Jeslyn.”
Sikap cemburu Dave yang berlebihan kembali muncul jika sudah membahas Dion. Perasaan takut akan kehilangan Jeslyn kembali menyeruak.
Jeslyn sudah mulai muak berdebat dengan Dave. “Dave aku lelah, aku tidak ingin membahas masalah Dion lagi.” Jeslyn tidur menyamping membelakangi Dave.
“Tok... Tok... Tok” Terdengar suara ketukan pintu.
Dave berjalan membuka pintu. “Ini pesanananya, Tuan.” Zayn memberikan beberapa bungkus plastik dan beberapa kotak makanan.
“Kau boleh pergi.” Dave kembali masuk ke dalam.
Dia menghampiri Jeslyn yang tampak diam saja. “Bangunlah. Pesananmu sudah datang.” Dave meletakkan semua makanan dan buah di atas nakas.
Dia memegang bahu Jeslyn. “Jes, katanya kau lapar?” tanya Dave ketika melihat Jeslyn tidak merespon perkataannya.
Dave berdiri dan membalikkan tubuh Jeslyn. “Kau kenapa?” tanya Dave ketika melihat wajah sembab Jeslyn. Dugaannya Jeslyn pasti habis menangis.
Jeslyn menggelengkan kepala. Dave membuang napasnya dengan kasar. “Bangunlah,” ucap Dave sambil membantu Jeslyn untuk duduk tegak.
“Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud marah padamu. Aku hanya tidak suka kau terlalu dekat dengan Dion. Aku cemburu, Jeslyn.” Dave berusaha sabar menghadapi mood Jeslyn yang cepat sekali berubah.
__ADS_1
Bersambung...