
Dave mempererat pelukannya. "Maafkan aku Jes, maafkan aku. Aku kira kau membenciku dan sudah tidak mencintaiku lagi. Aku pikir kau akan hidup bahagia tanpa aku. Apalagi selama ini, aku hanya bisa menyakitimu saja karena itulah aku memutuskan untuk pergi."
"Seharusnya kau tahu kalau dari dulu aku sangat mencintaimu. Hanya kau Dave yang aku cinta, tidak ada yang lain. Hidupku tidak berarti jika tidak bersamamu," ucap Jeslyn bercampur dengan suara isak tangis.
"Maafkan aku Sayang, maafkan aku. Aku tidak tahu kalau kau masih mencintaiku karena semenjak kau keguguran sikapmu mulai berubah. Kau seolah membenciku dan tidak ingin lagi kembali padaku," ujar Dave sambil mengelus kepala Jeslyn.
"Aku mohon jangan menangis lagi. Aku yang salah, berhentilah menangis. Aku mohon maafkan aku. Hemm? Aku janji tidak akan meninggalkanmu lagi," lanjut Dave lagi.
Kali ini Jeslyn tidak membalas ucapan Dave. Dia hanya terisak dalam pelukan Dave. "Jeslyn, aku mohon maafkan aku. Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku tahu, maaf saja tidak cukup untuk menyembuhkan luka yang sudah aku torehkan padamu. Aku akan melakukan apapun agar kau bisa memaafkan aku," ucap Dave sungguh-sungguh.
Dia sudah memutuskan untuk tidak pergi ketika tahu kalau Jeslyn masih mencintainya. Sejak awal, dia memang sangat berat meninggalkan Jeslyn, tetapi hanya itu cara untuknya melepaskan Jeslyn.
Dave lalu mengurai pelukannya. "Kenapa kau mau pergi tanpa bicara apapun padaku? Apa kau sudah tidak mencintaku lagi?" tanya Jeslyn seraya menatap bola mata Dave.
Seketika Dave langsung menunduk menatap Jeslyn. "Aku sangat mencintaimu, Jeslyn. Bukankah aku sudah sering mengatakannya? Seharusnya aku yang bertanya padamu, apa kau sungguh masih mencintaiku?" tatap Dave penuh tanya.
"Kau bilang kau tidak bisa memaafkan aku. Kau juga bilang menyesal karena sudah menikah denganku. Kau tidak ingin lagi memiliki hubungan apapun dan tidak ingin terikat lagi denganku karena kau membenciku dan keluargaku. Maka dari itu, aku pikir rumah tangga kita sudah tidak bisa dilanjutkan lagi."
Seketika raut wajah Jeslyn langsung menegang. "Kau mendengarnya?" tanya Jeslyn dengan wajah terkejut.
Dave mengangguk. "Aku mendengar semuanya, termasuk saat kau bilang yang kau butuhkan hanya Dion. Hatiku sakit saat kau bilang seperti itu apalagi kau bilang tidak ingin melihatku lagi dan ingin segera pergi dari hidupku."
Waktu itu Dave tidak sengaja mendengar pembicaraan Jeslyn dan Dion ketika Jeslyn baru saja setelah dia mengalami keguguran. Saat itu Dave berpikir kalau itu hanyalah emosi sesaat Jeslyn karena dia baru saja kehilangan anaknya akibat ulah Felicia.
Dave akhirnya memedamnya sendiri. Dia memilih untuk bersikap biasa. Dave memutuskan untuk tidak bertanya maksud dari perkataan Jeslyn karena tidak ingin bertengkar lagi disaat kondisi Jeslyn yang belum stabil.
__ADS_1
Ketika mendengar Jeslyn tiba-tiba meminta cerai, Dave masih berusaha untuk tetap tenang dan sabar menghadapi Jeslyn. Beberapa kali Jeslyn menolak saat Dave ingin menginap di rumah sakit untuk menemaninya.
Awalnya, Dave masih berusaha memakluminya, tapi setelah dia tahu kalau setiap malam Dion yang menjaga Jeslyn. Dave merasa marah sekaligus kecewa. Dia berpikir kalau Jeslyn memang membencinya dan tidak ingin lagi bersamannya lagi.
"Kenapa kau tidak pernah mengatakan padaku?" tanya Jeslyn.
"Aku pikir percuma saja. Kau bahkan tidak ingin berbicara padaku. Kau sering mengabaikan aku saat aku mengajakmu bicara. Aku mencoba memahamimu karena kupikir kau begitu karena masih terpukul dengan kepergian anak kita, tapi makin hari sikapmu semakin acuh tak acuh dan dingin padaku, berbeda sekali ketika kau bersama Dion. Kau selalu bisa tertawa jika bersamanya, sementara denganku sikapmu selalu ketus dan seperti enggan melihat wajahku. Sebab itu, aku berpikir kalau kebahagianmu bukan denganku," jelas Dave panjang lebar.
"Aku tidak bermaksud menyalahkanmu atas sikapmu. Aku sadar diri karena selama ini aku hanya bisa menyakitimu, sementara Dion yang selalu ada untukmu di saat kau mengalami masa sulit. Mungkin dengan melepasmu, kau bisa hidup bahagia bersamanya" sambung Dave lagi.
Seketika Jeslyn merasa bersalah. "Maafkan aku, Dave. Aku tidak bermaksud untuk mendorongmu pergi dariku." Mata Jeslyn kembali berkaca-kaca.
"Aku akui, waktu itu aku bilang seperti itu karena aku marah dan kecewa denganmu. Emosiku saat itu tidak stabil. Aku baru saja kehilangan calon anak kita. Disaat aku bangun, yang ada hanya Dion. Aku tidak melihatmu ada di sampingku, padahal saat itu kaulah yang sangat aku butuhkan." Jeslyn menjeda ucapannya sejenak.
"Saat aku tahu kalau kau menemani Felicia aku langsung marah dan kecewa. Kau lebih memperhatikan dia dari pada aku. Padahal, dia adalah orang yang sudah mencelakai aku," jelas Jeslyn.
"Iyaa, aku hanya memberitahumu, kenapa sampai aku mengatakan hal itu saat bersama dengan Dion waktu itu."
"Tapi setelah kau tahu waktu itu, kau masih saja mengabaikan aku dan bersikap ketus padaku. Kau juga masih enggan berdekatan denganku."
"Dave, setiap aku melihatmu, aku selalu teringat dengan perbuatan Felicia dan ibumu. Aku merasa marah. Apa kau tahu, aku sangat bahagia ketika tahu aku hamil anakmu. Dia adalah sesuatu yang paling berharga dalam hidupku yang kau berikan padaku. Kau tahu sendiri, dari dulu aku sangat mengharapkan anak darimu. Kebahagian tidak terkira ketika aku bisa hamil anakmu, tapi kebahagianku tidak berlangsung lama. Harapan bisa melahirkan anak untukmu pupus begitu saja karena ulah Felicia. Seharusnya kau tahu kalau Felicia tidak pernah suka dengan kehamilanku," ungkap Jeslyn.
"Setelah apa yang terjadi denganku, ibumu bahkan masih bersikap kasar padaku. Aku hanya tidak ingin diganggu untuk sementara waktu. Aku ingin menenangkan diri dulu."
"Jeslyn, aku tahu aku salah karena sudah membawa Felicia untuk tinggal di rumah kita. Saat itu aku tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginan mama. Jika aku menolak, mama memaksa untuk kita bertiga tinggal di rumahnya. Itu akan lebih buruk bagimu karena kau akan terus bertemu dengan mama dan Felicia di sana. Mereka pasti kembali menekanmu dan mengganggumu saat aku tidak ada di rumah. Saat itu juga aku sudah berniat untuk mengusir Felicia setelah percerainku dengannya selesai. Hanya butuh waktu beberapa hari saja waktu itu, tetapi ternyata Felicia lebih dulu bertindak," ungkap Dave sambil melepaskan hembusan napas pelan dari hidungnya.
__ADS_1
"Aku tidak bermaksud untuk membela diri, Jes. Aku yang salah. Dari awal memang aku yang salah, seharusnya aku melepasmu dari dulu. Dengan begitu, kau tidak akan terluka seperti saat ini. Aku memang tidak pantas untukmu. Sebab itulah, aku ingin melepasmu karena tidak ingin membuatmu semakin tersakiti olehku," tutur Dave dengan wajah sedih.
"Maafkan aku, Jes. Maafkan aku karena sudah menorehkan luka yang dalam di hatimu. Aku tahu kata maaf saja tidak cukup untuk menyembuhkan luka di hatimu," ujar Dave penuh sesal.
"Aku juga minta maaf Dave atas sikapku sehingga membuatmu salah paham. Tolong jangan pergi. Jangan tinggalkan aku," mohon Jeslyn sambil menitikkan air matanya lagi.
Dave kembali merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya. "Aku tidak akan pergi. Kita mulai dari awal lagi. Tolong beritahu aku jika aku melakukan kesalahan yang tanpa aku sadari. Kedepannya apapun yang terjadi kita harus bicarakan berdua dengan kepala dingin. Jangan pernah memendam apapun sendirian. Kita harus saling terbuka dan harus saling percaya satu sama lain."
Jeslyn mengangguk. Dave kemudian melepaskan pelukannya. "Lebih baik kita pulang. Kau pasti lelah."
"Iyaa."
Dave kemudian memindahkan tubuh Jeslyn ke kursi roda kemudian mendorongnya menuju pintu keluar ruangan tunggu VIP. Mereka seketika menoleh pada Dave dan Jeslyn ketika mereka baru saja membuka pintu.
Dave dibuat terkejut ketika melihat sudah ada Stella dan Alea di depan ruang tunggu bersama dengan Zayn dan Dion juga. "Daddy," panggil Alea sambil berlari mendekati Dave.
Dave lalu membungkuk. "Iya, Sayang."
Alea kemudian berdiri di sisi Dave sambil memegang ujung kemeja Dave. "Stella kau dari mana saja?" tanya Dave.
Sebelum menatap Dave, terlebih dahulu Stella menoleh ke arah Jeslyn sambil tersenyum. Setelah itu dia beralih menatap Dave dengan wajah bersalah. "Maafkan aku Dave," ucap Stella penuh sesal.
Mata Dave menyipit. "Stella, apa tadi kau sengaja pergi untuk menggagalkan kepergian kita?"
Tadinya Dave tidak berpikir ke arah sana, tetapi setelah melihat keberadaan Stella di depan ruangan VIP saat ini, membuatnya semakub yakin kalau Stella memang sengaja melakukan hal itu.
__ADS_1
"Maafkan aku Dave. Aku hanya tidak ingin kau mengulang kesalahan yang pernah aku perbuat seperti saat aku meninggalkanmu dulu. Pergi tanpa mengatakan apapun. Aku tidak mau kau merasakan penyelasan seumur hidup seperti yang aku rasakan selama ini."
Bersambung..