
Dave hanya memandang Jeslyn dan Dion yang terlihat sudah berjalan menjauh darinya. Tangannya mengepal lalu berjalan masuk ke dalam ruangan Felicia.
Felicia dan Westi menoleh ketika Dave masuk dengan membuka pintu dengan kasar..
“Dave.. Felicia hamil, Mama akan punya cucu, Kamu akan menjadi ayah Dave,” ucap Westi antusias. Dia tidak memperhatikan raut wajah Dave yang tampak sedang marah. Dave menatap Felicia dengan wajah serius. “Maa.. Tinggalkan kami berdua. Aku ingin berbicara dengan Felicia,” ucap Dave tanpa menoleh pada ibunya.
Wajah Westi langsung berubah masam ketika melihat ekpresi tidak senang dari Dave. “Apa yang akan kau bicarakan dengan Felicia? Apa kau tidak senang kalau istrimu hamil?” Westi menebak kalau Dave pasti marah karena Felicia hamil anaknya, karena dia pernah mengatakan tidak ingin wanita lain mengandung anaknya.
Dave menoleh pada ibunya, suasana hatinya saat ini sedang buruk. Kata-kata Jeslyn tentang perceraian terus terngiang di telinganya membuatnya gusar dan marah.
“Ma, tolong jangan memancing emosiku..! Aku sedang tidak ingin berdebat dengan Mama.”
“Dengar Dave, Mama tidak peduli kau suka atau tidak, tapi yang pasti Mama tidak akan tinggal diam jika sampai kau membahayakan anak yang ada dikandungan Felicia.” Ibu Dave berjalan keluar kamar perawatan Felicia dengan wajah marah.
Dave tidak memperdulikan peringatan ibunya. “Katakan padaku, anak siapa itu?” Dave langsung melontarkan pertanyaan yang sejak tadi ada di benaknya, setelah ibunya menutup pintu. Dia merasa kalau Felicia sedang menjebaknya.
Felicia menatap takut pada Dave. “Apa.. Apa maksudmu? Ini anakmu Dave,” ucap Felicia terbata-bata. Dia merasa takut melihat ekspresi mengerikan dari Dave.
“Felicia, Aku tidak pernah menyentuhmu. Bagaimana bisa kau bisa hamil anakku.” Dave masih berusaha mengontrol emosinya.
“Dave, apa kau lupa? Kau pernah mabuk, dan saat itulah kau melakukannya. Mungkin kau tidak sadar waktu itu karena kau sedang mabuk berat. Kau selalu meneriakkan nama Jeslyn. Saat itu kau mengira aku adalah Jeslyn, karena itulah kau menyentuhku.”
Bola mata Dave bergerak ke arah kiri atas seolah sedang mengingat kejadian malam itu. Sudah beberapa kali dia mencoba mengingatnya, namun bayangan malam itu terasa samar-samar. Dave tidak bisa mengingat kejadian apa yang sebenarnya terjadi, yang dia ingat adalah dia memanggil-manggil nama Jeslyn.
“Felicia, jangan coba-coba membohongiku. Kalau sampai aku tahu ini bukan anakku. Akan kubuat kau menderita seumur hidupmu.” Dave pergi meninggalkan Felicia.
Felicia meremas seprainya dengan kuat sambil menatap marah pada Dave. “Dave, kau mau ke mana? Ini memang anakmu. Davee..! kembali Dave,” teriak Felicia dengan kencang, saat melihat Dave tidak menghiraukan dirinya.
“Sudah aku bilang Dave, kau tidak akan pernah bisa menceraikan aku. Suka atau tidak suka, kau harus menerima anak ini,” gumam Felicia saat tubuh Dave sudah menghilang dari pandangannya.
“Selama ini aku selalu menderita. Kau selalu mengacuhkan aku, sekarang saatnya aku membalas perlakuanmu. Akan kubuat kau mengacuhkan Jeslyn seperti yang kau lakukan padaku. Jeslyn harus mendarita, sebelum aku menyingkirkannya dari hidupmu,” ucap Felica dengan tatapan penuh dendam.
***
__ADS_1
Dave berjalan menuju ruangan Jeslyn, dia ingin menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi. Dia tidak ingin kalau Jeslyn mengambil keputusan yang salah saat dirinya sedang emosi. Setelah tidak menemukan Jeslyn di ruangannya. Dave berjalan ke ruangan kepala rumah sakit.
“Adnan, kosongkan semua jadwal Jeslyn selama 3 hari. Jangan biarkan dia bekerja untuk sementara waktu. Kalau dia tetap memaksa, pecat dia..!” perintah Dave ketika dia sudah berada di ruangan Adanan.
Dave sengaja melarang Jeslyn untuk bekerja dulu karena tidak ingin Jeslyn bertemu dengan Felicia dan ibunya di rumah sakit. Selain tidak ingin menyakiti perasaan Jeslyn. Dia juga tidak ingin kalau sampai ibunya dan Felicia berbuat sesuatu yang buruk pada Jeslyn saat dia tidak ada.
Adanan sangat terkejut saat mendengar perkataan Dave. Dia tidak mengerti kenapa Dave meminta untuk memecat istrinya sendiri. Adnan tahu kalau Dave mencintai istrinya, jauh sebelum Dave menyadari perasaannya pada Jeslyn.
Jeslyn tidak tahu, kalau semenjak menikah, Dave meminta Adanan untuk mengawasi istrinya diam-diam. Adanan sengaja menempatkan orang di dekat Jeslyn untuk mengawasinya.
Dave tidak pernah bertanya apapun pada Jeslyn karena dia selalu mendapatkan laporan dari Adnan, karena itulah Jeslyn mengira kalau selama ini Dave selalu mengacuhkannya dan tidak pernah peduli dengannya.
“Tapi Tuan, dokter Jeslyn pasti akan protes jika aku sampai memecatnya tanpa sebab.” Adnan tahu kalau Jeslyn tidak akan tinggal diam kalau sampai dirinya dipecat tanpa alana yang jelas.
“Bilang saja kalau aku yang memerintahkanmu untuk memecatnya.”
“Baik Tuan.”
“Awasi Felicia, laporkan padaku jika ada hal yang mencurigakan.”
“Baik Tuan.”
“Dokter Sarah Tuan. Dia adalah teman dekat dokter Jeslyn,” jelas Adnan.
“Lalu, siapa yang menagani Felicia tadi?”
“Dokter Sarah dan dokter Dion, ada apa Tuan?”
“Jadi, Dion juga tahu mengenai kondisi Felicia?”
“Iyaa Tuan.”
“Panggil dokter Sarah kemari,” perintah Dave.
__ADS_1
“Baik Tuan.” Adnan berjalan menuju meja kerjanya lalu menghubungi dokter Sarah.
Beberapa menit kemudian masuklah dokter Sarah. “Selamat siang pak,” sapa dokter Sarah pada Adnan. “Selamat siang, Tuan.” Dokter sarah menyapa Dave. “Duduklah!” Dokter Sarah duduk dengan canggung di depan Dave, sementara Adnan berdiri di samping Dave.
“Aku ingin bertanya sesuatu. Apa benar kau yang menangani istriku tadi?”
Dokter Sarah sudah tahu kalau Dave adalah suami dari Felicia. “Iyaa, Tuan.”
“Berapa usia kandungannya saat ini?”
“Masuk usia 7 minggu, Tuan.” Dave mencoba mengingat kejadian malam saat dia mabuk. Dia ingin mencocokkan dengan usia kandungan Felicia.
“Usia kandungan berapa untuk bisa melakukan tes DNA dalam kandungan?” Dave masih tidak percaya kalau anak yang ada dalam kandungan Felicia adalah anaknya. Dia ingin melakukan tes DNA sebelum bayi itu lahir.
Dokter Sarah tampak sedikit tercengang mendengar pertanyaan Dave. “Jika Tuan ingin melakukan tes DNA Prenatal, bisa dilakukan mulai dari usia 10 minggu, lebih disarankan pada usia 12 minggu ke atas, Tuan.”
Berbagai macam pertanyaan muncul di benak Sarah. Dia tiba-tiba teringat dengan Jeslyn. Saat itu dia tampak sangat terkejut dan tidak percaya kalau Felica sedang hamil.
“Aku tidak mau menunggu terlalu lama. Lakukan tes DNA Prenatal saat usia kandungannya menginjak 10 minggu. Jangan sampai dia tahu akan hal ini.”
“Tapi Tuan. Melakukan tes DNA saat masih dalam kandungan tidak saya sarankan Tuan. Tes DNA Prenatal terlalu beresiko. Tes ini bisa menyebabkan keguguran Tuan.”
Sebagai seorang dokter, Sarah tidak mungkin membahayakan keselamatan pasiennya, itulah sebabnya dia berusaha mencegah Dave melakukan tes DNA Prenatal.
“Aku tidak peduli, yang harus kalu lakukan adalah melakukan tes itu pada waktunya nanti. Aku adalah suaminya sekaligus pemilik rumah sakit ini. Itu sudah cukup untuk membuatmu melakukan tes DNA tersebut. Turuti saja perintahku!”
Dokter Sarah terdiam sejenank. Dia tidak mengerti jalan pikiran Dave saat ini. Dia masih merasa heran kenapa dia bisa meragunakan janin yang ada dikandungan Felicia saat ini. “Baik Tuan.”
“Mulai saat ini dan seterusnya, kau yang akan menangani pemerikasaan istriku. Laporkan semuanya pada Adnan, apapun itu yang menyangkut kehamilannya. Rahasiakan masalah ini dari siapapun, termasuk ibu dan istriku. Apa kau mengerti?”
“Saya mengerti Tuan,” ucap dokter Sarah sambil mengangguk.
“Baiklah, kau boleh pergi.” Dokter Sarah berjalan keluar ruangan Adnan.
__ADS_1
Setelah kepergian dokter Sarah. Dave berjalan keluar menuju parkiran. Dia meminta Zayn untuk mengantarnya ke rumah. Dave ingin menemui Jeslyn. Dave berpikir kalau istrinya saat ini ada di rumah, karena dia tidak menemukan keberadaan Jeslyn di rumah sakit.
Bersambung...