
Tidak lama kemudian Maya masuk ke dalam ruangan Jeslyn. “Maya, mulai saat ini kau bertugas untuk menjaga istriku. Tugasmu membantu semua keperluan istriku selama di rumah sakit. Aku akan bilang pada Adnan untuk mengalihkan semua tugasmu pada orang lain.”
Dave sengaja menyuruh Maya yang menjaga Jeslyn karena sebelumnya Maya juga yang sudah pernah menjaga istrinya. Setidaknya Maya sudah tahu hal-hal yang berhungungan dengan istrinya.
“Baik Tuan,” ucap Maya sambil membungkuk.
“Belikan bubur untuk istriku di kantin rumah sakit,” perintah Dave cepat.
“Baik Tuan.”
Jeslyn langsung menoleh pada Dave ketika Maya sudah pergi. “Dave, kau tidak perlu melakukan itu. Aku tidak mau merepotkan orang lain.” Jeslyn tampak merasa tidak enak pada Maya karena harus menjaganya.
“Jeslyn, aku tidak bisa selalu berada di sini. Harus ada yang menjagamu agar aku bisa tenang.”
“Tok.Tok..” Pintu terbuka setelah terdengar suara ketukan pintu.
“Daddyyy.” Alea langsung berlari pada Dave.
“Kenapa kau ke sini?” tanya Dave sambil mengangkat Alea ke pangkuannya.
Stella lalu mendekati Dave. “Dia merengek ingin bertemu denganmu, jadi aku membawanya ke sini,” jelas Stella pada Dave.
Dave mengangguk tanda mengerti. Dia kemudian menunduk menatap Alea yang terlihar sedang menatap Jeslyn.
Stella kemudian menoleh pada Jeslyn. “Apa kau baik-baik saja?” tanya Stella. Tidak ada rasa canggung sedikit ketika Stella menyapa Jeslyn.
“Aku baik-baik saja,” jawab Jeslyn pelan sambil menatap Alea yang berada di pangkuan Dave.
“Alea..Beri salam pada Mama,” perintah Dave pada Alea.
Jeslyn langsung menatap Dave dengan wajah terkejut. Sementara Stella tidak bereaksi apapun. “Mama?” Alea tampak bingung. Dia tidak mengerti kenapa Dave menyuruhnya memanggil Jeslyn dengan sebutan mama.
“Mulai sekarang dia akan menjadi Mamamu juga. Apa Alea menyukai Mama Jeslyn?” Dave memiringkan wajahnya untuk menatap Alea.
Alea mengangguk malu. “Apa maksudmu Dave? Kenapa dia harus memanggilku dengan sebutan itu?” Jeslyn sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya. Banyak sekali pertanyaan yang ada di benaknya saat ini.
Dave menatap istrinya sambil tersenyum. “Bukankah kau menyukai anak kecil?”
“Iyaa, tetapi dia masih memiliki ibu. Tidak sepantasnya dia memanggilku seperti itu.”
“Aku tidak keberatan jika Alea memanggilmu Mama,” timpal Stella sambil tersenyum.
__ADS_1
Jeslyn tampak belum mengerti dengan situasi saat ini. “Jadi, kalian sungguh berencana untuk menikah? Itu sebabnya kau menyuruhnya memanggilku dengan sebutan itu?”
Dave menurunkan Alea dari pangkuannya. “Stella, bawa Alea duduk di sofa itu,” tunjuk Dave pada sofa yang berada di dekat pintu.
Stella mengangguk. “Ayo sayang.” Stella lalu membawa pergi Alea menuju sofa.
Sebelum berbicara dengan Jeslyn, Dave menoleh sejenak pada Alea dan Stella. Setelah itu dia memajukan tubuhnya mendekati istrinya. “Jeslyn, kau adalah istriku, sudah seharusnya dia memanggilmu dengan sebutan itu. Aku janji akan menjelaskan semuanya besok. Ada Alea di sini. Dia tidak boleh mendengarkan apa yang akan aku ceritakan padamu,” ucap Dave pelan, “yang pasti adalah aku tidak akan menikah dengan Stella.”
Jeslyn tampak sedikit terkejut. Dia langsung menatap bola mata Dave untuk mencari kebenaran akan ucapan suaminya. “Aleaa.. kemari sayang,” panggil Dave.
Alea langsung berlari menghampiri Dave dengan wajah riang. Dave kemudian memangku Alea kembali.
“Dave,” panggil Stella. “Aku ada urusan penting. Bisakah kau menjaga Alea sampai aku menyelesaikan urusanku?” tanya Stella ketika Dave sudah menoleh padanya.
“Hhhmm,” gumam Dave. “Pergilah..Biarkan dia bersamaku.”
“Terima kasih Dave.” Stella lalu mendekati Alea dan Dave, lalu menatap anaknya. “Sayang, Mommy ada urusan sebentar. Alea di sini saja bersama dengan Daddy dan Mama Jeslyn ya?” ucap Stella dengan suara lembut.
“Iya Mommy,” ucap Alea sambil mengangguk. Alea memang sudah dekat dengan Dave. Mungkin karena selama ini dia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah, sehingga membuatnya begitu menyayangi Dave.
“Aku pergi dulu.” Stella berjalan menuju pintu setelah melihat anggukan Dave.
“Apa kau keberatan jika Alea ada di sini?” tanya Dave ketika Stella sudah pergi dari ruangan Jeslyn.
Jeslyn terus menatap Alea yang sedang berada di pangkuan Dave. Dia kemudian membalikkan tubuhnya menghadap Dave lalu menyembunyikan wajahnya. Dia merasa malu ketika Jeslyn menatapnya tanpa berkedip.
Dari dulu Jeslyn memang sangat menyukai anak kecil. Dia bahkan rutin setiap bulan ke panti asuhan untuk mengunjungi anak-anak yang tidak memiliki orang tua. Dia bahkan menjadi donatur tetap di salah satu panti asuhan yang sering dia kunjungi.
“Tok..Tokk.”
“Permisi Tuan.” Maya masuk ke dalam ruangan Jeslyn membawa makanan untuk Jeslyn.
“Berikan padaku.” Dave mengambil bungkusan makanan yang dibawa oleh Maya.
“Kau bisa pergi. Aku akan memanggilmu jika aku membutuhkan bantuanmu.”
“Baik Tuan.” Maya kemudian berjalan keluar ruangan Jeslyn.
“Sayang, kau duduk di sini dulu ya? Daddy mau menyuapi Mama.” Dave mendudukan Alea di samping Jeslyn. Alea mengangguk sambil menunduk. Dia tampak masih malu-malu ketika berada di dekat Jeslyn. “Dave, aku bisa makan sendiri.”
Dave menatap tajam pada istrinya. “Jangan membantahku Jeslyn. Turuti saja perkataanku. Buka mulutmu.” Dave mengangkat tangannya yang sudah memegang sendok yang berisi bubur.
__ADS_1
Jeslyn merasa canggung saat Dave menyuapinya makan apalagi Alea tampak memperhatikan Dave yang sedang menyuapinya. Dave terus menyuapi Jeslyn hingga buburnya hingga habis. Setelah Jeslyn selesai makan, Dave menyodorkan gelas yang berisi air putih.
“Dave, sepertinya Alea sudah tertidur,” ucap Jeslyn ketika melihat Alea tampak sudah memejamkan matanya. Dave melirik jam tangannya. Pukul 1 siang adalah waktu Alea untuk tidur siang. Dia memang selalu tidur siang dengan teratur.
“Aku akan memindahkannya,” ucap Dave sambil berdiri.
“Tidak usah. Biarkan dia tidur di sini bersamaku.” Perlahan Jeslyn menggeser tubuhnya agar Alea memiliki yang cukup untuk tidur.
“Aku takut dia akan menyentuh lukamu nanti.”
“Tidaak..Kau benarkan saja posisinya.” Posisi Alea tampak tidur setengah berbaring sambil bersandar pada bantal.
“Baiklah.” Dave berdiri kemudian membenarkan posisi Alea agar berbaring sempurna di tempat tidur. Alea tampak tertidur dengan nyenyak.
“Apa kau keberatan jika dia memanggilmu Mama?” tanya Dave ketika dia sudah duduk kembali pada tempatnya.
“Aku bukan ibunya. Aku tidak pantas untuk dipanggil seperti itu olehnya.”
Dave tersenyum tipis. “Aku yakin kau tidak akan keberatan jika sudah tahu yang sebenarnya nanti,” ucap Dave dengan yakin.
“Dave, sebenarnya banyak yang ingin aku tanyakan padamu.”
“Besok saja. Hari ini kau tidak boleh memikirkan apapun. Kau bisa bertanya semaumu besok. Aku akan menjawab semua yang ingin kau ketahui.”
“Baiklah,” jawab Jeslyn singkat.
Dave mulai menyelimuti Jeslyn dan Alea. “Tidurlah sayang. Aku akan menjaga kalian di sini.”
“Aku tidak bisa tidur jika kau terus memandangiku Dave.”
Dave bangkit dari duduknya. “Baiklah..Aku akan duduk di sofa. Panggil aku jika kau memerlukan sesuatu.” Jeslyn langsung mengangguk lalu mencoba memejamkan matanya.
Bersambung...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Stella..
Alea..
__ADS_1