Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Keputusan Dave


__ADS_3

"Kalau kau menyukainya, dekati saja. Kalau bisa jauhkan dari istriku. Aku sangat tidak menyukainya. Dia bahkan terang-terangan mengatakan akan merebut Jeslyn dariku. Rasanya aku ingin melenyapkannya dari dunia ini, ketika dia mengatakan hal itu," ucap Dave dengan wajah kesal.


Stella terkekeh. "Jeslyn sungguh luar biasa. Aku tidak menyangka kalau dia bisa membuat seorang Dave Tjendra menjadi kalang kabut. Awalnya aku penasaran wanita seperti apa yang bisa menggatikan posisiku dan mampu menaklukan Dave Christian Tjendra yang notabene susah untuk didekati. Ternyata dia wanita yang tangguh dan juga menarik. Aku jadi ingin mengenalnya lebih dalam." Senyuman terbit dibibir mungil Stella.


"Stella, apa menurutmu dia akan merubah keputusannya dan tidak lagi ingin bercerai denganku?" tanya Dave.


"Aku rasa dia tidak akan mau bercerai denganmu. Kita lihat saja nanti."


****


Stella baru saja menemui Jeslyn yang baru saja pulang bekerja. Stella mengajaknya berbicara di sebuah cafe di lingkungan apartemen mereka. Sementara Dave menunggu di apartemen Stella bersama dengan Alea. Dia sedang menemani Alea tidur di kamarnya. Setelah Alea tertidur Dave menunggu Stella dengan perasaan cemas di ruang tamu sambil terus memegang ponselnya.


"Bagaimana?" tanya Dave ketika Stella baru saja masuk ke dalam apartemen miliknya.


"Diaa...." Stella sengaja menggantungkan ucapannya untuk membuat Dave penasaran.


"Dia kenapa Stella? Jangan membuatku takut. Apa yang dia katakan?" Dave tampat tidak sabar menunggu cerita dari Stella.


Stella duduk di hadapan Dave dengan santai. "Dia tetap tidak mau mengatakan kalau dia masih mencintaimu. Dia cukup keras kepala juga."


Dave langsung tertunduk lesu. "Sudah kubiilang. Dia sudah tidak mencintaiku. Lebih baik tidak usah kita lanjutkan Stella."


"Tapi dia bilang tidak ingin bercerai denganmu."


Dave langsung mengangkat kepala. "Benarkah?? Kau tidak berbohongkan?" tanya Dave cepat.


"Iyaa, kita akan tahu kepastiannya besok. Apakah surat cerainya sudah siap?"


Dave mengangguk. "Sudah. Aku akan menyuruh Zayn mengambilnya pada pengacaraku lalu untuk memberikan padamu besok pagi."


Dave memang menyuruh pengacaranya untuk membuatkan surat cerai paslu. Dave hanya ingin tahu apakah Jeslyn sungguh ingin bercerai dengannya dengan memberikan surat cerai palsu itu.


"Baiklah. Aku akan menemui Jeslyn lagi jika surat itu sudah ada di tanganku,"


"Jika rencana kita gagal, aku sudah berniat untuk melepaskannya," ucap Dave pasrah.


Sudah beberapa hari Dave tampak merenung. Dia sudah berpikir untuk merelakan Jeslyn jika nanti usahanya sia-sia. Dia sudah tidak mau memaksakan keinginannya lagi.


Stella menatap Dave. "Apa kau yakin? Bukankah kau bilang sangat mencintainya?"


Dave menatap Stella dengan wajah sendu. "Iyaa, aku juga sebenarnya tidak sanggup melepasnya, tapi aku tidak boleh egois. Aku tidak ingin menyakitinya lagi dengan menahannya di sisiku. Jika melepasnya bisa membuatnya bahagia, maka akan aku lakukan."


"Kau bisa berusaha untuk meluluhkan hatinya lagi, Dave. Jangan menyerah begitu saja," saran Stella.

__ADS_1


"Tidak ada gunanya bisa hidup bersamanya jika dia tidak mencintaiku lagi. Jika nanti dia benar menandatangi surat itu, berarti dia memang sudah yakin ingin berpisah denganku. Aku tidak akan memaksanya lagi. Aku sudah memutuskan untuk pindah keluar negri. Aku tidak sanggup tinggal di kota yang sama dengannya. Aku takut tidak bisa melepasnya nanti," ucap Dave dengan sedih.


Rencananya setelah resmi bercerai, Dave akan tinggal di Prancis dan mengelola perusahaannya yang ada di sana. Dia sudah menguatkan tekadnya untuk benar-benar melepaskan Jeslyn dan tidak pernah mengganggu Jeslyn lagi.


"Apa kau yakin dengan keputusanmu?"


Stella tidak menyangka kalau Dave sangat terluka dengan perpisahannya dengan Jeslyn. Dia tidak pernah melihat Dave sangat terpuruk seperti saat ini.


Dave mengangguk pelan. "Iya aku yakin. Hidupku akan berantakan jika aku masih tinggal di sini, apalagi jika aku melihatnya bahagia dengan laki-laki lain."


Dave merasa ada batu besar yang sedang menghimpit dadanya saat mengatakan hal itu.


"Ikutlah denganku ke Prancis, Stella. Aku akan membuatkan identitas baru untuk kalian agar keluarga Daniel tidak bisa menemukanmu. Kita sama-sama mulai hidup baru di sana. Bantu aku untuk melupakannya, Stella. Hanya kau yang bisa membantuku," mohon Dave dengan sorot mata yang memancarkan kesedihan yang mendalam.


"Baiklah, kita coba dulu usaha kita yang terakhir. Jika dia memang memutuskan untuk bercerai denganmu. Kita sudahi semuanya. Aku akan ikut denganmu ke Prancis," tukas Stella.


Stella berpikir tidak ada salahnya jika dia ikut Dave pindah ke luar negri. Apalagi negara yang mereka tuju adalah perancis. Dia bisa memperdalam bakat dia yang punya sebagai designer.


Flashback Off


*******


"Jadi selama ini kalian hanya bersandiwara?" tanya Jeslyn ketika dia sudah tahu yang sebenarnya.


"Rencana kalian untuk menikah juga hanya sandiwira?" Jeslyn masih belum percaya dengan apa yang Dave ceritakan padanya.


"Iyaa. Aku hanya ingin tahu, apakah kau tetap ingin bercerai denganku dan akan merelakan aku menikah dengan Stella," ungkap Dave dengan wajah bersalah.


Jeslyn hanya memandang suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan. Dave merasa cemas ketika melihat istrinnya diam saja.


"Aku tahu, aku salah. Kau berhak marah, tapi aku tidak punya cara lain lagi. Semenjak kau keguguran, kau mengabaikan aku dan tampak tidak suka jika aku berada di dekatmu. Kau selalu memberi jarak denganku, seolah kau membenciku. Terlihat sekali kalau kau tidak suka melihatku," ungkap Dave.


Selama ini Jelsyn berpikir kalau Dave akan kembali dengan Stella, tapi ternyata dugaannya salah. Jeslyn merasa sudah dibohongi.


"Jadi selama ini kalian mempermainkan aku?" tanya Jeslyn dengan wajah datar. " Pasti kalian tertawa melihatku seperti orang bodoh, kan?" tanya Jelsyn dengan senyum sinisnya.


"Bukan itu maksudku Jes, aku hanya ingin memastikan bagaimana perasaanmu padaku. Jika aku langsung bertanya, kau tidak mungkin memberitahuku. Jangankan memberitahu, bicara denganku saja kau tidak mau." Dave berusaha untuk menahan gejolak yang ada di dalam dadanya.


"Asal kau tahu, tidak bertemu denganmu selama seminggu lebih membuatku tersiksa. Aku berusaha menahan rasa rinduku padamu karena aku tidak bisa menemuimu mengingat sikapmu yang terus menolak apapun yang aku lakukan untukmu."


Jeslyn masih diam, tidak merespon ucapan Dave sama sekali. Dia masih berusaha untuk mencerna kenyataan yang baru saja dia ketahui.


"Aku mengerti jika kau marah padaku. Aku minta maaf jika kau merasa tersinggung. Aku tidak bermaksud untuk mempermainkanmu Jes," ucap Dave penuh sesal.

__ADS_1


"Bagaimana kalau aku tidak mau memaafkan kalian?" tanya Jeslyn tanpa menoleh pada Dave.


"Itu hakmu Jes, aku akan menerimanya. Aku tidak akan mencegahmu lagi jika kau sungguh ingin berpisah denganku. Aku akan merelakanmu." Dave berusaha menahan sesak di dalam dadanya.


"Aku hanya akan bertanya sekali lagi padamu. Apa tidak bisa kau memberikan kesempatan padaku untuk memperbaiki rumah tangga kita?" tanya Dave penuh harap, "aku masih sangat mencintaimu Jes," ungkap Dave dengan wajah sedih.


Seketika Jeslyn menoleh pada suaminya. "Kalau kau jadi aku, setelah semua yang sudah terjadi dengan rumah tangga kita, dari awal hingga saat ini, apakah kau masih bisa memberikan kesempatan pada orang yang sudah menyakitimu?"


Seketika hati Dave terasa perih. Bagai luka yang mengangga ditaburi oleh garam. "Baiklah, aku mengerti. Sekali lagi aku minta maaf, Jes." Dave berusaha untuk menyembunyikan perasaan sakitnya dari Jeslyn.


"Istirahatlah, aku akan menyuruh Maya untuk menjagamu. Ada yang ingin aku urus sebentar. Nanti aku akan kembali lagi," ucap Dave sambil mengelus kepala Jeslyn.


"Aku pergi dulu." Dave mengecup pucuk kepala Jeslyn kemudian keluar dari ruangan istrinya.


******


Stella meraih handle pintu ruangan Dave. Dengan langkah cepat dia menghampiri Dave yang sedang sibuk di depan meja kerjanya. "Apa maksud dari perkataanmu tadi Dave?" tanya Stella ketika dia sudah berdiri di dekat meja kerja Dave.


Tadi Dave menelponnya dan bilang rencana mereka gagal. Stella sebenarnya tahu apa maksud Dave, hanya saja Stella ragu dengan perkataan Dave, pasalnya Stella sangat yakin kalau Jeslyn tidak ingin bercerai dengan Dave.


Dave meletakkan pulpennya lalu mengangkat kepalanya menatap Stella. "Dia tidak mau memaafkanku," ucap Dave sambil tersenyum getir.


"Lalu kau akan menyerah begitu saja?" tanya Stella dengan wajah geram.


Dia sebenarnya tidak mengerti jalan pikiran Jeslyn. Sebelum kecelakaan dia dengan lantang bilang kalau tidak ingin bercerai dengan Dave, tetapi kenpa sekarang hasilnya berbeda.


"Seperti yang pernah aku bilang padamu. Jika rencana kita kali ini gagal, aku akan menyerah. Aku tidak akan memaksanya lagi."


"Tapi, dia bilang tidak ingin bercerai denganmu."


Dave menghela napas berat. "Itu karena saat itu dia berpikir aku menghianatinya, jadi dia tidak mau bercerai denganku karena dia tidak mau membiarkan kita hidup bahagia. Tapi setelah dia tahu kebenarannya. Dia merasa marah dan sangat kecewa padaku," ungkap Dave.


"Lebih baik kita duduk di sana," ucap Dave sambil berjalan mendahului Stella. Setelah mereka berdua duduk di sofa dan saling berhadapan, mereka melanjutkan obrolan mereka.


"Aku akan menemui Jeslyn untuk menjelaskan bahwa itu bukan salahmu." Stella merasa bersalah pada Dave karena sebagian besar itu adalah idenya.


"Tidak perlu Stella. Aku takut dia bertambah marah padaku. Jangan pernah menemuinya lagi. Kita harus menghargai keputusannya. Persiapakan saja dirimu. Aku sudah meminta Zayn untuk mengurus identitas baru untukmu dan Alea. Kita akan pergi setelah indentitas baru kalian jadi. Sambil menunggu itu, aku akan mengurus peralihan tugas perusahaan dan semua bisnisku di sini."


Stella menatap sedih pada Dave. Matanya tampak mulai berair. "Maafkan aku Dave, aku tidak menyangka hasil akhirnya akan seperti ini," sesal Stella diiringi air mata yang sudah keluar dari pelupuk matanya.


Dave berusaha untuk terlihat tegar. "Ini bukan salahmu. Mungkin aku dan Jelsyn hanya ditakdirkan bersama sampai di sini saja. Aku akan menerimanya walaupun berat."


Bersambung...

__ADS_1


 


__ADS_2