
7 tahun kemudian..
Dave yang baru saja selesai memakai pakaian kantor dan langsung menghampiri istrinya yang sedang duduk di depan meja rias. Dave menunduk. "Sayang, biar aku antar ke rumah sakit," ucap Dave sambil melingkarkan tangannya ke perut istri.
Jeslyn menoleh sedikit kepada suaminya dan langsunv mendapatkan kecupan lembut di pipinya dari Dave. "Apa kau tidak akan terlambat jika mengantarku ke rumah sakit? Belum lagi kita harus mengantarkan Levin ke sekolah."
Pagi ini, mereka sudah bersiap untuk bekerja. Jeslyn sudah diperbolehkan bekerja oleh Dave sejak 5 tahun yang lalu setelah umur Levin genap berusia 2 tahun, tetapi Jeslyn harus berhenti bekerja lagi setelah dia hamil anak kedua mereka.
Sudah 7 tahun berlalu dan Levin juga udah masuk sekolah dasar. Dave akhirnya memperbolehkan Jeslyn kembali bekerja dengan syarat tidak mengabaikan anak mereka dan tidak melupakan tugas sebagai seorang istri sekaligus seorang ibu.
Dave tidak memperbolehkan Jeslyn bekerja fulltime di rumah sakit. Dia secara khusus meminta Adnan untuk mengatur sedemikian rupa agar istrinya tidak memiliki banyak pekerjaan di rumah sakit dan bisa pulang lebih cepat.
"Tidak sayang. Kita akan mengantar Levin dulu, setelah itu baru aku mengantarmu ke rumah sakit. Hari ini pekerjaanku tidak terlalu banyak," terang Dave sambil melepaskan tangannya dari perut istrinya.
Jeslyn beranjak dari duduknya lalu meraih jas dan tasnya ketika Dave sudah terlihat siap untuk berangkat. "Apa mama sudah datang?" tanya Jeslyn sambil berjalan ke arah pintu bersama Dave.
"Sudah, dia sedang menemani Jennifer untuk sarapan," ucap Dave sambil merangkul pinggang istrinya ke arah lift menuju meja makan.
Jennifer adalah anak kedua dari Dave dan Jeslyn. Umurnya sudah menginjak 2 tahun. Sehari-hari Jennifer akan diurus oleh Ibu Dave dan dibantu oleh pengasuh. Terdapat 3 pengasug yang bertugas untuk mengawasi Jennifer dan Levin. Dave baru saja memperbolehkan Jeslyn untuk bekerja lagi setelah umur Jennifer genap 2 tahun.
Jeslyn dan Dave terlihat menghampiri ibu mertuanya yang sedang menyuapi anak bungsu mereka. "Selamat pagi, Ma," sapa Jeslyn sambil menghampiri anak perempuannya.
"Pagi sayang," jawab Ibu Dave sembari menoleh setelah menyuapi Jen.
Ibu Dave menawarkan diri untuk merawat cucu-cucunya, terlebih lagi cucu perempuannya yang masih berusia 2 tahun. Meskipun begitu, Jeslyn menyediakan sendiri makanan untuk anak-anaknya, jika tidak sempat ibu mertuanya yang akan membuatkannya. Jeslyn hanya bekerja beberapa jam saja di rumah sakit, sisanya dia habiskan di rumah bersama dengan anak-anaknya.
Jeslyn meraih tubuh anak perempuannya lalu menggendongnya. "Sayang, mama berangkat kerja dulu ya?"
Jeslyn memberikan kecupan lembut di kedua pipi anaknya. Dave menghampiri Jeslyn dan anaknya lalu melakukan hal yang sama dengan istrinya. "Jen, jangan nakal di rumah," ucap Dave setelah selesai memberikan kecupan bertubi-tubi pada anaknya.
Levin yang sedang berada di meja makan hanya melirik kepada kedua orang tuanya. Levin memang tidak terlalu banyak bicara. Dia terkesan lebih acuh tak acuh, cuek dan pendiam dibandingkan dengan adiknya yang sering kali mengoceh tidak jelas.
Hampir semua sifat Dave menurun pada Levin. Sementara sifat Jennifer menurun dari ibunya. Jeslyn memang sudah memprediksi kalau anak pertama mereka mewarisi watak ayahnya ketika melihat tatapan dan tingkah anaknya setelah umur 4 tahun.
"Levin, apa kau sudah selesai sarapan?" tanya Jeslyn sambil menghampiri anak pertamanya.
"Sudah." Levin beranjak dari duduknya lalu meraih tas sekolahnya.
"Oma, Levin sekolah dulu," ucap Levin sambil mencium telapak tangan omanya.
"Iyaa sayang." Ibu Dave menciup pipi Levin.
"Omaaa, aku bukan anak kecil lagi. Jangan pernah menciumku lagi," ucap Levin dengan wajah kesal sambil berjalan ke arah orang tuanya.
__ADS_1
Bukannya marah, ibu Dave justru tersenyum lebar. "Kau ini masih kecil. Oma akan terus melakukannya sampai kau besar."
Levin menatap malas pada omanya. "Jangan pernah menciumku di depan teman-temanku atau aku akan diejek oleh teman-temanku nanti."
Jeslyn menggelengkan kepalanya, sementara Dave tidak memberikan reaksi apa-apa. Sebenarnya Levin sudah berkali-kali mengingatkan omanya dan ibunya yang masih sering menciumnya ketika dia akan berangkat sekolah tetapi mereka seolah tidak mengindahkan perkataannya. Dia sering kali kesal karena hal itu.
Berbeda dengabnJeslyn dan ibunya, Dave memang sudah tidak pernah mencium anaknya lagi ketika dia masuk sekolah dasar. Dia tentu saja tahu kalau anaknya tidak menyukai hal itu karena dia juga melakukan hal yang sama pada ibunya ketika dia sudah masuk sekolah dasar waktu kecil.
Jeslyn memang tidak menyukai sifat anaknya yang terlalu dingin terhadap orang lain. Levin bahkan tidak suka disentuh oleh orang lain selain keluarganya. Dia sering kali marah kalau ada yang mencubit pipinya karena merasa gemas padanya.
Di sekolah TK, Levin memang terkenal sebagai anak yang cerdas dan tampan. Banyak dari orang tua murid yang menyukainya dan sering memuji ketampanan Levin. Bahkan ada juga yang berniat menjodohkan anak mereka dengan Levin.
"Levin, itu tandanya oma sayang padamu," sela Jeslyn.
Levin hanya diam dan terkesan acuh. "Ma, aku akan terlambat nanti," ucap Levin sambil mendongakkan kepalanya menatap ibunya.
"Baiklah. Ayo kita berangkat."
"Ma, kami berangkat dulu," pamit Dave dan Jeslyn.
"Iyaa."
*******
Setelah mengantarkan Levin ke sekolah, Dave langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit untuk mengantar istrinya.
"Iyaa, aku akan mengabarimu nanti kalau aku sudah selesai bekerja." Dave mengangguk. "Tunggu sayang, kenapa kau buru-buru sekali?" Dave menahan tangan istrinya ketika dia akan turun dari mobilnya.
Jeslyn menoleh pada suaminya. "Ada apa?" tanya Jeslyn dengan wajah heran.
"Apa kau tidak melupakan sesuatu?" tanya Dave dengan alis terangkat.
Jeslyn berpikir sejenak lalu memeriksa barang-barangnya. "Tidak Dave," ucap Jeslyn lagi setelah memastikan tidak ada yang tertinggal di mobil suaminya.
"Semenjak kita memiliki 2 anak kau sering kali melupakan aku, sayang. Sepertinya kau sudah tidak mencintaiku lagi." Dave terlihat sedikit kesal pada istrinya yang tidak memahami perkataannya.
Seketika Jeslyn langsung mengerti arah pembicaraan suaminya. "Maafkan aku, Dave." Jeslyn langsung mencium pipi suaminya dan bibirnya secara singkat. "Tentu saja aku masih mancintaimu," ucap Jeslyn sambil tersenyum setelah dia selesai mencium suaminya.
"Karena kau sudah melupakan tugasmu, kau harus melakukannya lebih dari biasanya."
Dave langsung meraih tengkuk istrinya lalu menyatukan bibir mereka kembali. Dave tidak menghiraukan di mana mereka saat ini berada. Dia memang tidak pernah peduli dengan sekitar mereka selagi dia merasa tidak pernah mengganggu orang lain.
"Dave, lebih baik kau segera ke kantor atau kau akan terlambat," ucap Jeslyn ketika Dave sudah melepaskan pagutan mereka.
__ADS_1
"Kita sudah memiliki 2 anak, sayang. Kenapa kau masih saja malu setiap aku habis menciummu?" tanya Dave dengan senyum nakalnya.
"Ini di rumah sakit, Dave. Tentu saja aku malu. Aku takut ada yang melihat kita nanti," kilah Jeslyn sambil menyembunyikan wajah merahnya.
Dave meraih dagu istrinya. "Kalau begitu kita lanjutkan lagi di rumah nanti. Aku akan pulang cepat hari ini," ucap Dave sambil tersenyum menggoda pada istrinya.
Secepat kilat Jeslyn langsung turun dari mobil suaminya. "Pergilah. Kau bisa terlambat nanti," ucap Jeslyn ketika dia sudah berdiri di samping mobil suaminya.
Dave terkekeh melihat tingkah istrinya yag tampak salah tingkah. "Iya Sayang, aku pergi dulu."
Dave melajukan mobinya setelah melihat anggukan dari istrinya.
*****
Jeslyn yang baru saja akan masuk ke rumah sakit, langsung menoleh ke belakang ketika mendengar bunyi ambulance yang baru saja berhenti di depan ruang IGD. Jeslyn terdiam sesaat ketika melihat pintu ambulance terbuka dan melihat seorang pria berlumuran darah dan dibawa masuk ke ruang IGD, setelah itu dia melihat anak perempuan kecil yang memiliki luka-luka kecil di wajahnya dengan baju yang berlumuran darah terus menangis sambil memanggil nama ayah dan ibunya.
Jeslyn memutuskan untuk menghampiri dan mengukuti dari belakang. Terlihat anak itu sedang digendong oleh salah satu perawat. "Apa yang terjadi pada pasien ini?" tanya Jeslyn pada salah satu petugas rumah sakit yang sedang mendorong ranjang pasien.
"Mereka korban kecelakaan yang jatuh dari jurang, Dok," jawab pria yang berpakaian serba putih.
"Mommy, Daddy." Anak itu terus memanggil kedua orang tuanya.
"Apakah ini anaknya?" tanya Jeslyn pada perawat yang sedang menggendong anak perempuan itu.
"Iyaa, Dok."
Jeslyn memperhatikan wajah anak perempuan itu. Meski di wajahnya terdapat beberapa goresan luka kecil, tapi dia masih terlihat imut dan sangat cantik.
Jeslyn memperkirakan kalau anak itu berumur 5 tahunan. Wajahnya terlihat sedikit asing, tidak seperti penduduk lokal. Dia menduga kalau anak itu berasal dari luar negeri setelah memperhatikn detail wajah anak perempuan itu yang terlihat memiliki wajah campuran dari luar.
Setibanya di ruang ICU, ayah dari anak itu langsung ditangani karena kondisinya kritis sehingga langsung di bawa ke ruang ICU. "Jes, kau di sini?" Dion baru saja memasuki ruang ICU setelah mendapatkan panggilan darurat. Dia baru saja memasuki ruangannya ketika mendapatkan panggilan tersebut.
"Iyaaa, aku baru saja tiba," jawab Jeslyn sambil mengangguk.
"Aku tangani pasien dulu."
"Iyaa."
Setelah kepergian Dion, Jeslyn menoleh pada perawat yang sedang menggendong anak perempuan itu. "Berikan padaku. Biar aku yang memeriksanya."
"Baik, Dok."
Bersambung...
__ADS_1