
Jeslyn mencoba terus menghubungi Dave, sudah beberapa kali dia menghubungi tetapi tidak diangkat. Dia merasa kesal karena saat dia ke rumah sakit hari ini tidak diijinkan untuk bekerja oleh Kepala Rumah Sakit.
Saat dia protes langsung kepada Adnan, dia justru akan diancam dipecat hanya karena memaksa ingin bekerja. Saat Jeslyn mengetahui itu adalah instruksi dari Dave. Jeslyn langsung emosi.
Jeslyn berjalan keluar dari ruangannya dengan cepat. Jelsyn menghentikan taksi, lalu masuk ke dalam taksi tersebut. Dia berencana untuk menemui Dave di rumahnya. Setibanya di sana dia langsung berjalan menuju kamarnya.
“Heeh Jeslyn, untuk apalagi kau kembali ke rumah ini?” Felicia menghentikan langkah Jeslyn saat akan menaiki tangga menuju kamarnya.
Jeslyn langsung menoleh pada Felicia. “Ini adalah rumahku. Rumahku dan Dave, kenapa aku tidak boleh kembali ke sini lagi? Seharusnya kau yang pergi dari sini. Ini bukan tempatmu.” Jeslyn yang sudah emosi sedari tadi, bertambah emosi lagi saat melihat tingkah Felicia.
“Tentu saja sekarang aku yang lebih berhak atas rumah ini. Aku mengandung anak Dave. Anakku akan menjadi penerus Dave. Dia akan menjadi satu-satunya pewaris tunggal Tjendra Group, kau tahu kenapa?”
Felicia menatap Jeslyn dengan senyuman mengejek. “Itu karena kau itu mandul, tidak bisa memberikan keturunan pada Dave, Jadi anakku akan menjadi satu-satu cucu dari keluarga Tjendra.”
Jeslyn berbalik menatap Felicia dengan senyuman miring. “Tapi masalahnya, aku tidak yakin itu adalah anak Dave. Bagaimana bisa dia menjadi pewaris Tjendra group kalau dia bukan anaknya Dave.” Jeslyn memang sedikit menaruh kecurigaan pada Felicia. Dia merasa sedikit janggal dengan kehamilan Felicia.
Felicia langsung berang mendengar perkataan Jeslyn. “Apa maksudmu berkata seperti itu?” Felicia menatap marah Jeslyn dengan tatapan berapi-api.
“Dave selalu menyangkal kalau itu bukan anaknya. Dave tidak mungkin berbohong padaku. Dia bilang tidak pernah menyentuhmu sama sekali. Bagaimana bisa aku percaya padamu. Bisa saja itu anak dari selingkuhanmu.”
Felicia langsung maju dan ingin menampar Jeslyn, tetapi langsung ditangkap oleh Jeslyn. “Lepaskan tanganku,” pekik Felicia saat Jeslyn mencengkram kuat tangan Felicia.
Jeslyn menatap tajam pada Felicia. “Bukankah sudah pernah aku memperingatkanmu. Jangan pernah kau mencoba menamparku lagi. Aku tidak akan tinggal diam kalau kau berani menyentuhku lagi.” Jeslyn langsung menghempaskan kuat tangan Felicia.
Felicia memegang pergelangannya yang terasa sakit akibat cengkraman kuat tangan jeslyn. “Kau berani sekali melawanku. Aku akan mengadukanmu pada mama. Kau tahu mama selalu mendukungku. ”
Jeslyn menaikkan sudut bibirnya. “Silahkan saja. Aku tidak peduli, yang terpenting Dave selalu melindungiku. Lebih baik kau jaga kandunganmu dengan baik, jangan sampai kau kehilangannya.” Jeslyn tidak mau terlihat lemah di hadapan Felicia, itulah sebabnya dia terus melawan Felicia.
“Kau..Kau menyumpahi anak mati?”
“Tidaak, akan lebih baik anak itu lahir agar aku juga tahu, anak siapa itu.” Jeslyn berusaha mengintimidasi Felicia.
“Tentu saja ini anak Dave. Kau hanya iri padaku karena kau mandul, kan?”
__ADS_1
“Dengar Felicia, jangan pernah mengatakan aku mandul. Kau tidak tahu apa-apa tentangku.”
Felicia mengangkat wajahnya dengan tinggi. “Kalau bukan mandulnlalu apa namanya? Kau selalu tidur dengan Dave, tetapi sampai sekarang kau bahkan belum hamil juga.”
“Terserah kau mau berpikir apa. Aku sedang terburu-buru. Aku tidak ingin meladenimu.” Jeslyn langsung menaiki tangga meninggalkan Felicia.
Sesampainya di kamar, Jeslyn tidak menemukan keberadaan Dave, dia memeriksa seluruh kamar. Jelsyn kemudian berjalan menuju ruang kerja Dave, tetapi tidak menemukannya juga. Jeslyn kembali turun lagi. Dia menghampiri Felicia yang sedang duduk sambil meminum susu hamil di ruang keluaga.
“Di mana Dave?”
Felicia meletakkan gelasnya di atas meja dan menatap malas pada Jeslyn. “Kenapa kau bertanya padaku? Bukankah dia selalu bersamamu? Dia bahkan tidak pernah mau menemaniku saat di rumah sakit.”
Dahi Jeslyn mengerut. Dia berpikir kalau selama beberapa hari ini Dave pasti menemani Felicia di rumah sakit karena dia sedang hamil.
“Dia tidak pernah bersamaku. Kalau dia tidak bersamamu lalu ke mana dia?”
“Kau pikir aku meyembuyikan Dave? Aku bahkan tidak bisa menghubunginya dari kemarin,” jawab Felicia dengan enggan. Dia merasa kalau Jeslyn sedang berbohong padanya.
Jeslyn berjalan ke kamarnya untuk mengambil kunci mobilnya. Setelah itu dia melajukan mobilnya menuju kantor Dave. Sesampainya di sana dia langsung menuju meja receptionist.
“Apa kau tidak bisa memberitahukan pada Tuan Dave kalau aku menunggunya di bawah.” Jeslyn tidak mempunyai cara lagi untuk menemui Dave selain pergi ke kantonya.
“Maaf Nona tidak bisa.”
Jelsyn meraih ponselnya lalu menghubungi Zayn. Dia tiba-tiba teringat pesan Dave untuk menghubungi asisten pribadinya kalau ada hal yang mendesak. Setelah menghubungi Zayn berapa kali, akhirnya telponnya diangkat.
Jeslyn langsung memberitahu Zayn kalau dia berada di bawah. Dia memberitahukan pada Zayn kalau dia tidak bisa naik ke atas karena harus membuat janji terlebih dahulu.
“Selamat pagix, Nyonya,” sapa Zayn ketika melihat Jeslyn hanya berdiri di dekat meja receptionist .
“Pagi Zayn.”
Zayn menoleh pada receptionist tersebut. “Lain kali, kau harus menelponku jika ada yang ingin bertemu dengan Tuan Dave,” ucap Zayn sambil menatap tajam pada resepsionis tersebut.
__ADS_1
“Maafkan saya pak.”
“Dia adalah keluarga tuan Dave. Kalau tuan Dave tahu kalau melarangnya naik ke atas, kau pasti akan langsung dipecat.”
“Maafkan saya Nona, saya tidak tahu kalau anda keluarganya,” ucap pegawai wanita itu dengan wajah menyesal.
Jeslyn langsung merasa tidak enak. “Tidak apa-apa, ini bukan salahmu.” Jeslyn beralih menatap Zayn. “Sudahlah Zayn, jangan memperpanjang masalah.”
“Maaf Nyonya. Kalau begitu lebih baik kita langsung ke atas.”
Zayn berjalan menuju lift bersama dengan Jeslyn. Ini adalah pertama kalinya Jeslyn masuk ke kantor Dave. Semenjak menikah dia belum pernah diajak oleh Dave ke kantornya.
Zayn membuka pintu ruangan Dave. “Silahkan masuk, Nyonya.”
Jeslyn berjalan secara perlahan. “Silahkan duduk Nyonya.”
“Terima kasih Zayn.” Jeslyn duduk sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh Dave.
“Apa ada yang bisa saya bantu Nyonya?" tanya Zayn ketika dia sudah duduk berhadapan dengan Jeslyn.
“Aku ingin bertemu dengan Dave. Aku sudah menghubunginya beberapa kali, tetapi tidak pernah diangkat.” Jeslyn memiliki firasat buruk saat tidak melihat Dave dalam ruangannya.
“Maaf Nyonya, Tuan Dave sedang tidak ada di kantor.”
“Di mana dia sekarang. Aku sudah mencarinya ke rumah, tetapi kata Felicia dia tidak pernah pulang. Ke mana dia sebenarnya?”
“Tuan Dave sedang ada urusan penting Nyonya. Tidak bisa diganggu untuk sekarang.”
Jeslyn memicingkan matanya. “Apa sekarang Dave sedang berusaha menghindariku?” Jelsyn merasa kalau Zayn menyembunyikan sesuatu padanya.
“Tidak Nyonya. Hanya saja tuan Dave tidak bisa di temui hari ini.” Zayn berusaha untuk mencari alasan agar Jeslyn tidak bertanya tentang keberadaan Dave lagi.
“Zayn, aku tidak punya waktu untuk bermain petak umpet denganmu. Cepat katakan padaku di mana Dave?” Jelsyn merasa kalau Zayn sengaja tidak ingin memberitahunya tentang keberadaan Dave.
__ADS_1
“Maaf Nyonya. Saya tidak bisa memberitahu Nyonya.”
Bersambung...