
Dua minggu sudah berlalu, Jeslyn sudah keluar dari rumah sakit seminggu yang lalu. Dave memboyong istri dan anaknya untuk tinggal sementara di mansion orang tuanya. Dave sengaja meminta istrinya untuk tinggal sementara di mansion orang tuanya agar ada yang mengawasi dan menjaga anak dan istrinya.
"Sayang, di mana Levin?" Dave yang baru saja pulang bekerja langsung menghampiri istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi ketika dia masuk ke kamarnya.
"Mungkin di kamar sebelah. Tadi mama membawanya ketika aku mandi." Jeslyn menghampiri suaminya lalu membantu suaminya untuk melepaskan pakaian kemejanya.
Kamar sebelah adalah kamar tamu yang disulap menjadi kamar untuk Levin. Ibu mertuanya langsung mengatur ulang kamar tersebut menjadi kamar bayi ketika mengetahui kalau anaknya ingin tinggal sementara di mansionnya.
Jeslyn perlahan membuka kancing baju suaminya. "Apakah hari ini Levin rewel?" tanya Dave sambil menunduk menatap istrinya yang sedang fokus membuka kancing bajunya.
Jeslyn menggeleng pelan. "Tidak. Seharian ini dia lebih banyak tidur dibandingkan kemarin," papar Jeslyn. "Semoga saja malam ini, dia tidak begadang."
Dave melingkarkan tangannya di pinggang istrinya setelah Jeslyn berhasil melepaskan kemejanya. "Kalau kau lelah, aku yang akan menjaganya nanti malam," usul Dave.
"Jangan Dave, kau sudah begadang kemarin malam apalagi kau harus bekerja pagi harinya. Biar aku saja yang menjaganya jika dia terjaga nanti malam."
Terkadang Jeslyn merasa kasihan pada suaminya, semenjak kelahiran Levin, Dave sering kali tidak tidur di malam hari. Dave memang sering begadang untuk menjaga anaknya. Dia tidak tega melihat Jeslyn yang terlihat lelah dan mengantuk karena sering Levin terbagun di malam hari dan tidak tidur sampai padi hari.
Biasanya jika Levin menangis karena pipis dan pub, Dave yang akan membersihkannya atau jika Levin haus dan Jeslyn tidak terbangun di tengah malam, dia akan memberikan stok ASI Jeslyn yang di simpan di kulkas, tetapi Jeslyn biasanya terbangun jika mendengar anaknya menangis, kecuali dia sangat lelah.
Jeslyn akan menyusui anaknya sebentar lalu Dave yang akan bertugas untuk menidurkan anaknya. Dave bahkan sering terjaga sampai pukul 5 pagi jika Levin tidak mau tidur lagi setelah dia terbagun pada tengah malam.
Mereka sengaja tidak menyewa babysitter untuk menjaga anak mereka karena Jeslyn dan Dave tidak mau kalau anak mereka lebih dekat dengan orang lain dari pada mereka sendiri. Dave dan Jeslyn benar-benar merawat anak mereka sendiri.
Itulah sebabnya Levin sangat dekat dengan kedua orang tuanya. Bahkan Levin sangat dekat dengan Dave. Sebenarnya Levin bukan anak yang rewel tapi jika levin menangis, hanya Jeslyn dan Dave yang bisa mendiamkannya.
Dave merapikan anak rambut istrinya. "Tidak apa-apa sayang. Itu tidak sebanding dengan pengorbananmu melahirkan anak kita. Kau sudah berjuang dengan susah payah mengandung dan melahirkan Levin, selajutnya, sudah menjadi tugasku untuk membantumu merawat dan menjaganya."
Dave hanya berusaha untuk meringankan beban istrinya yang sudah bersusah payah untuk melahirkan anaknya. Melihatnya mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan penerusnya, membuat Dave merasa bersalah karena tidak bisa melakukan apapun ketika melihat Jeslyn kesakitan saat proses persalinan.
Jeslyn tersenyum. "Itu sudah menjadi kodratku sebagai seorang wanita, Dave. Aku senang bisa melahirkan anakmu."
"Terima kasih sayang." Dave mengecup singkat hidung istrinya.
Jeslyn mengangguk. "Mandilah, sebentar lagi akan gelap." Jeslyn berniat melepaskan dekapan suaminya tapi masih ditahan oleh Dave.
"Bagaimana kalau kita mandi berdua?" tanya Dave dengan senyum nakalnya.
"Aku sudah mandi, Dave."
"Ayolah sayang," bujuk Dave setenagh memaksa.
"Sebentar lagi mama akan ke sini mengantarkan Levin, Dave."
Wajah Dave langsung lesu. "Maaf Dave. Aku takut Levin akan menangis nanti," ucap Jeslyn dengan wajah bersalah.
Dave langsung menyandarkan kepalanya di bahu istrinya. "Berapa lama lagi, aku harus menunggu sampai masa nifasmu selesai?"
"Masih lama Dave, masih 4 minggu lagi," ucap Jeslyn sambil tersenyum.
Dave mengangkat kepalanya lalu menatap istrinya dengan wajah kecewa. "Kenapa lama sekali? Apa tidak bisa dipercepat?" tanya Dave dengan wajah lesu.
Jeslyn tersenyum pada suaminya . "Tidak bisa Dave." Jeslyn mengecup singkat bibir suaminya. "Untuk saat ini, cuma itu yang bisa aku lakukan untukmu," ucap Jeslyn setelah dia menjauhkan wajahnya dari Dave.
"Itu tidak cukup sayang." Dave meraih tengkuk istrinya lalu menautkan bibir mereka berdua. Dengan rakus, Dave menyapu bersih bibir istrinya.
"Tok.Tok." Dave langsung melepaskan tautan bibirnya setelah mendengar suara ketukan pintu kamarnya.
"Sepertinya itu mama," ucap Jeslyn. "Aku akan membuka pintu dulu." Jeslyn melepaskan pelukan suaminya sebelum melangkah ke arah pintu.
"Iyaaa, kalau begitu aku mandi dulu."
__ADS_1
Jeslyn mengangguk lalu berjalan membuka pintu, bersamaan dengan Dave yang berjalan ke kamar mandi.
"Jes, Levin dari tadi menangis. Sepertinya dia haus," ucap ibu mertuanya ketika Jeslyn sudah membuka pintunya.
Tangisan Levin terdengar jelas ketika pintu kamar sudah dibuka. "Iyaa Ma. Aku akan menyu*suinya dulu. Terima kasih, Ma."
Ibu mertuanya mengangguk. "Kalau begitu mama ke kamar dulu. Panggil saja mama kalau kau membutuhkan bantuan mama," ucap ibu mertuanya Jeslyn sebelum dia meninggalkan kamar menantunya.
"Baik Ma." Jeslyn menutup pintu setelah kepergian ibu mertuanya.
Jeslyn berjalan ke arah box bayi lalu meletakkan anaknya sebentar di box bayi. "Anak mama haus ya?" Jeslyn meraih anaknya lalu duduk bersandar untuk menyusui anaknya ketika melihat anaknya tengah menghisap ibu jarinya.
Jeslyn hanya tersenyum melihat anaknya menyusu dengan lahap. "Pelan-pelan sayang. Kau bisa tersedak nanti," ucap Jeslyn yang tampak dengan rakus meng*hisap ASInya.
Dave berjalan menghampiri Jeslyn ketika dia sudah selesai mandi dan berpakaian. "Dia sudah tertidur?" tanya Dave ketika dia duduk di tepi ranjang di samping istrinya.
Jeslyn mengangguk. "Dia baru saja tertidur." Dave menunduk lalu mencium pipi anaknya. "Padahal aku belum bermain dengannya hari ini."
Ketika Dave akan berangkat ke kantor, Levin belum bangun dari tidurnya sehingga Dave tidak sempat mengajak anaknya untuk bermain dengannya. Biasanya Dave akan mengajak anaknya bermain terlebih dahulu sebelum berangkat ke kantor jika anaknya tidak tertidur.
"Besok saja Dave. Kau juga pasti lelah. Lebih baik kau beristirahat langsung setelah makan malam nanti." Jeslyn meletakkan bayinya di tengah tempat tidur setelah melihat Levin sudah tidur nyenyak.
Dave mendekati anaknya lalu menjulurkan tanggannya menyentuh pipi gembul anaknya. "Sayang, bangun. Papa sudah pulang."
"Dave, nanti dia bangun," ucap Jeslyn ketika melihat Dave terlihat mencium pipi anaknya berkali-kali.
"Biarkan sayang, aku kangen sekali dengannya. Aku akan menidurkannya lagi jika dia bangun."
Seharian ini Dave disibukkan dengan pekerjaan kantor yang menumpuk. Biasanya dia akan melakukan panggilan Vidio sampai beberapa kali saat berada di kantor. Hari ini agendanya penuh sehingga dia hanya bisa melakukan panggilan vidio satu kali saja. Tidak melihat anaknya beberapa jam saja sudah membuat Dave ingin cepat-cepat pulang.
Jeslyn hanya membiarkan suaminya yang terlihat masih berusaha membangunkan anak mereka. "Kau istirahat saja sayang. Aku akan membangunkanmu jika dia haus," ucap Dave ketika melihat wajah lelah istrinya.
"Baiklah. Aku akan istirahat sebentar." Jeslyn mulai membaringkan tubuhnya di samping anaknya.
Tengah malam. Levin terbangun dan menagis dengan kencang. Jeslyn terlihat masih tertidur. Dave memeriksa celana anaknya yang terasa kering. Dave pikir anaknya menangis karena buang air kecil.
"Sayang, seperti Levin haus." Dave akhirnya membangun istrinya ketika Levin tidak hentinya menagis.
Jeslyn mulai membuka matanya ketika Dave menepuk pipinya dengan lembut. Dia mengucek matanya setelah itu menjulurkan tangannya. "Berikan padaku."
Dave meletakkan dengan hati-hati ditangan istrinya. "Maaf sayang karena sudah membangunkanmu," ucap Dave setelah melihat Jeslyn menyusui anaknya.
"Tidak apa-apa Dave," ucap Jeslyn sambil mengusap kepalanya anaknya.
Dave terus memperhatikan anaknya yang yang sedang menyusu. "Biarkan aku yang menidurkannya setelah dia kenyang," usuk Dave.
"Tapi kau harus bekerja besok, Dave."
"Tidak apa-apa sayang. Aku sudah terbiasa begadang. Berika padaku." Dave menjurukan tangan untuk meraih anaknya yang masih berada di gendongan istrinya setelah Levin kenyang.
Jelyn tampak masih ragu. Dia tidak tega memberikan anaknya pada Dave karena takut Dave akan kelelahan.
"Sini sayang, kita akan gantian jika aku lelah," ucap Dave lagi ketika melihat keraguan pada wajah istrinya. "Kau duluan yang istirahat."
"Baiklah. Bangunkan aku jika kau lelah."
Dave mengangguk lalu meraih anaknya. "Tidurlah sayang."
"Iya." Jeslyn mulai membaringkan tubuhnya. Sementara Dave turun dari tempat tidur lalu berjalan sambil menggendong anaknya agar anaknya cepat tertidur.
Dave mulai merasa lelah. Sampai pukul 4 pagi, Levin belum juga tertidur. Dave sudah melakukan berbagai cara untuk menidurkan anaknya tetapi tidak berhasil. Dave akhirnya meletakkan anaknya di box bayi sambil menepuk-nepuk dan menyanyikan lagu untuk anaknya.
__ADS_1
"Dave, dia belum tidur juga dari jam 2 tadi?" tanya Jeslyn ketika melihat suaminya masih terjaga.
Dave menoleh pada istrinya. "Iyaa sayang. Dia malah mengajak aku bercanda. Matanya tidak mengantuk sama sekali," ungkap Dave.
Jeslyn lalu bangun dari tidur lalu menghampiri box anaknya. "Biarkan aku yang menidurkannya. Kau tidurlah Dave." Jeslyn merasa tidak tega melihat wajah suaminya yang terlihat sudah mengantuk.
"Baiklah. Maaf merepotkanmu sayang." Dave mengecup pucuk kepala anaknya lalu naik ke tempat tidur.
****
"Sayang, aku berangkat kerja dulu." Dave mengecup kening istrinya ketika dia akan berangkat kerja.
"Iyaa, hati-hati." Dave menunduk mendekatkan wajahnya pada Levin. "Sayang, papa pergi dulu ya?" Dave mencium pipi anaknya dengan gemas. "Iya papa, cepat pulang ya?" Jeslyn menjawab dengan nada anak kecil.
"Iyaaa sayang. Nanti siang aku akan menelpon jika aku senggang."
Jeslyn mengangguk. "Iya."
Sore harinya, Dave pulang lebih awal. Dia tidak bisa bekerja dengan fokus karena dia mengantuk. Dia hanya tidur selama satu lalu berangkat ke kantor, selain itu dia juga sudah merindukan anaknya. Dia memutuskan untuk menyerahkan pekerjaanya pada Mark sebelum dia pulang.
"Sayang," Dave menghampiri Jeslyn yang sedang menyusi anak mereka.
"Kenapa kau sudah pulang?" tanya Jeslyn sambil menatap suaminya yang barusa saja membuka pintu kamar.
"Aku kangen dengan Levin." Dave berjalan menghampiri istri dan anaknya.
"Bukankah kau sudah melakukan panggilan vidio 3 kali tadi?" tanya Jeslyn dengan dahi mengkerut.
"Iyaa, tapi aku masih kangen dengannya, sayang." Dave mengecup pipi anaknya berkali-kali. "Aku akan mencuci tanganku dulu." Dave berjalan ke kaamr mandi untuk mencunci muka tangannya. Setelah selesai dia berjalan mendekati istrinya lagi.
"Pelan-pelan sayang." Dave terlihat gemas melihat anaknya yang menyu*su dengan lahap.
"Belakangan ini dia semakin kuat menyu*su, Dave," ungkap Jeslyn.
"Jangan kau habiskan sendiri sayang. Ini adalah milik papa." Dave menjulurkan tangannya untuk menjauhkan mulut anaknya dari pucuk dada istrinya. Dia sengaja mengganggu Levin untuk melihat reaksi anaknya. Terdengar suara tangis Levin yang menggelegar saat Dave mengganggunya.
"Dave, biarkan dia menyu*su." Dave memang terkadang sering mengganggu anaknya jika Jeslyn sedang menyusui anaknya.
"Semenjak dia lahir, kau mulai mengacuhkan aku sayang. Dia memonopoli dirimu." Dave berpura-pura merajuk pada istrinya. "Cintamu sudah terbagi, sayang. Kau lebih sayang padanya dari pada aku."
"Dave, Levin masih kecil dan lebih membutuhkan perhatian ekstra dariku," ucap Jeslyn.
"Tapi, aku juga mau diperhatikan, sayang." Dave terlihat tidak mau kalah dari anaknya.
"Dave, dia adalah anakmu, bukan orang lain. Bagaimana bisa kau iri padanya."
"Iyaa, tapi kau seharusnya memperhatikan aku juga."
"Baru saja memiliki satu anak, kau sudah cemburu dengan anakmu. Bagaimana kalau kita memiliki anak empat. Apa kau akan membiarkan aku mengabaikan mereka jika kita memiliki banyak anak?"
"Sepertinya aku berubah pikiran sayang. Lebih baik kita memiliki dua anak saja."
Dave tidak bisa membayangkan jika dia miliki banyak anak. Mungkin karena dia anak tunggal sehingga terbiasa mendapatkan perhatian penuh dari kedua orang tuanya, apalagi ketika menikah dengan Jeslyn, merka cukup lama mereka baru memiliki anak sehingga dia terbiasa mendapatkan perhatian pernuh dari istrinya.
Jeslyn terekekeh. "Bukankah kau bilang ingin memiliki banyak anak agar rumah kita ramai." Jeslyn berusaha untuk mengingatkan keinginan suaminya untuk memiliki anak empat.
"Tidak jadi sayang. Aku rasa dua anak sudah cukup. Aku tidak mau kau kelelahan karena merawat anak-anak kita nanti," kilah Dave.
Jeslyn tahu kalau itu hanyalah alasan suaminya. Jeslyn akui semenjak kehadiran Levin di dalam keluarga kecil mereka, perhatian Jeslyn beralih pada anak mereka. Jeslyn tidak bisa lagi memberikan perhatian penuh pada suaminya.
"Baiklah, kalau itu memang maumu."
__ADS_1
...END...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=