
Dave tampak berpikir. Perkataan Jeslyn memang ada benarnya. Dia tidak ingin menambah masalah baru lagi untuk Jeslyn.
“Baiklah, aku akan pergi bekerja, tapi nanti siang,” ucap Dave mengalah.
“Lebih baik kita mandi dulu, setelah itu sarapan.” Dave melepaskan dekapannya lalu bangun dari tidurnya. “Apakah masih sakit?” tanya Dave lembut.
Jeslyn ikut bangun. Dia membalut tubuhnya dengan selimut. “Iyaa, tapi aku tidak apa-apa.” Dia berencana untuk mengolehkan salep nanti untuk mengurangi rasa sakitnya.
Dave melangkah turun. “Aku akan mandi terlebih dahulu.” Dave berjalan menuju kamar mandi.
“Dave kenapa kau tidak memakai pakaianmu dulu,” pekik Jeslyn sambil memalingkan wajahnya saat melihat tubuh polos suaminya.
Dave menghentikan langkahnya. “Kenapa kau masih malu? Bukankah kau sudah terbiasa melihat tubuh pasienmu?” Dave tersenyum lebar saat melihat wajah malu Jeslyn. “Kau terlihat menggemaskan dengan wajah seperti itu. Membuatku ingin melakukannya lagi,” gurau Dave.
Jeslyn langsung menoleh pada Dave. “Tidaak boleh!” pekik Jeslyn dengan suara keras. “Kau harus pergi ke kantor Dave,” ujar Jeslyn cepat.
Dia tidak mau kalau sampai Dave melakukannya lagi. Bisa di pastikan dia tidak akan bisa bangun jika Dave melakukannya lagi.
“Baiklah, nanti malam saja kalau begitu.” Dave berjalan menuju kamar mandi, tanpa menghiraukan ekpresi terkejut Jeslyn.
Jeslyn mulai turun dari tempat tidur dengan perlahan. “Aaawww.” Dia meringis ketika mencoba untuk bergerak. “Seberapa banyak sebenarnya Felicia memberikan obat pada Dave semalam?” gumam Jeslyn sambil meringis. Dia memungut pakaiannya lalu memakainya.
Jeslyn meraih ponselnya yang ada di atas nakas lalu mengecek isi ponselnya. Terlihat ada pesan masuk dari rekan kerjanya, termasuk dari Dion. Jeslyn mulai membalas satu persatu pesannya. Tidak lama kemudian Dion menelpon Jeslyn.
Dave keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya. Dia memicingkan matanya saat melihat Jeslyn tampak sedang menerima telpon dari seseorang. Raut wajahnya langsung berubah saat mendengar Jeslyn menyebut nama Dion.
Dave merasa tidak suka jika Jeslyn masih berhubungan dekat dengan laki-laki yang menyukai istrinya itu, apalagi setelah Dave tahu kalau Dion sudah mengetahui status Jeslyn yang sebenarnya dan tidak berniat sama sekali menjauhi istrinya.
Dave langsung menghampiri Jeslyn lalu memeluknya dari belakang. Jeslyn langsung mengakhiri panggilan telponnya saat Dave mulai mencium lehernya lagi.
“Dave, aku masih bau, jangan dekat-dekat denganku dulu.” Jeslyn merasa risih saat Dave tampak menempel padanya.
“Tidak sayang. Tubuhmu wangi.” Tercium wangi mint dari mulut Dave saat dia berbicara.
Jeslyn berusaha melepaskan tangan Dave yang melingkar di tubuhnya. “Dave aku ingin mandi dulu.” Jeslyn takut kalau Dave akan terpancing lagi nanti.
“Jeslyn, bisakah kau tidak terlalu dekat dengan Dion?” pinta Dave dengan suara pelan. Dave selalu tidak bisa menyembunyikan rasa cemburu terhadap Dion.
Jeslyn langsung menghadap Dave ketika tangan Dave sudah terlepas dari tubuhnya. “Dave, aku hanya berteman dengannya. Aku tidak akan melewati batasanku. Aku akan menjaga jarak dengannya tapi aku tidak bisa menjauhinya.”
“Aku hanya takut kau akan jatuh cinta padanya.” Alasan sebenarnya adalah karena Dion mencintai Jeksyn dan berniat merebut Jeslyn darinya.
“Dave, aku hanya mencintaimu. Walaupun kau selalu mengacuhkan aku dulu, tapi perasaanku tidak berubah. Kau lihat sendiri aku masih tetap mencintaimu. Kau tidak perlu takut kalau aku akan berpaling dengannya. Dia hanya aku anggap sebagai sahabat.”
“Baiklah.m Lebih baik kau mandi sekarang. Aku akan ke bawah untuk meminta pelayan untuk mengantarkan makanan ke kamar,” ucap Dave sambil berdiri.
“Iyaa,” Jeslyn berjalan ke kamar mandi dengan perlahan. Dia masih merasakan nyeri di bagian sensitifnya.
__ADS_1
“Apa perlu aku bantu sayang?” tanya Dave ketika melihat Jeslyn tampak meringis sambil berjalan pelan .
“Tidak perlu Dave. Aku bisa sendiri.”
“Baiklah. aku turun dulu.” Dave berjalan ke luar kamarnya.
****
“Apa sebenarnya kalian lakukan sehingga kalian melewatkan sarapan pagi bersama?” tanya Ibu Dave ketika melihat anaknya baru saja memasuki ruang keluarga. Felicia menatap curiga pada Dave.
Dave berhenti. “Tentu saja membuatkanmu cucu untukmu. Bukankah Mama sangat menginginkan cucuk dariku? Aku sedang berusaha keras supaya keinginan Mama cepat terwujud,” ucap Dave acuh.
“Kau jangan keterlaluan Dave!” ujar ibu Dave dengan suara tinggi. “Beraninya kau menentang perintah Mama. Kenapa kau malah menghabiskan waktu dengan perempuan itu, dan meninggalkan Felicia sendirian di kamarnya? Bukankah Mama sudah bilang kau harus menghabiskan waktu berdua dengan Felicia,” ucap Westi dengan nada tinggi.
“Mama yang jangan keterlaluan! Bisa-bisanya Mama ingin menjebakku dengan cara seperti itu. Kali ini, aku akan membiarkannya, tapi lain kali aku tidak akan tinggal diam jika Mama masih ikut campur urusan rumah tanggaku.”
Dave berusaha untuk menahan emosinya. Bagaimanapun dia tidak bisa bersikap kasar pada ibunya. Dia berusaha untuk tidak menyakiti hati ibunya.
“Felicia itu istrimu juga Dave. Tidak ada salahnya jika kalu melakukannya dengan istrimu sendiri. Mama hanya ingin agar Felicia cepat hamil anakmu.”
Westi tahu kalau anaknya selalu bersikap acuh pada Felicia, sehingga muncul ide untuk memberikan obat pada Dave.
“Maa, bukankah sudah aku bilang, hanya Jeslyn yang berhak mengandung anakku. Aku tidak mau wanita lain mengandung benihku. Pembahasan ini cukup sampai di sini Ma. Keputusanku tidak akan berubah.”
Dave beralih menatap Felicia yang sedari tadi diam saja. “Dan kau Fel, urusan kita belum selesai. Kau harus bertanggung jawab karena sudah berani menjebakku.”
Dave kembali berjalan ke kamarnya lalu menghembuskan napas kasar. Dia berusaha untuk menahan emosinya, jika berhadapan dengan ibunya. Dia kemudian berjalan ke tempat tidur dan melihat bercak merah menempel pada seprai. Seulas senyum tercetak di wajah tampannya.
Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu. Dave berjalan lalu membuka pintunya. “Letakkan saja di atas meja,” ucap Dave ketika melihat pelayan yang membawakan makanan ke kamarnya.
“Baik, Tuan.” Setelah meletakkan makanan wanita paruh baya itu langsung keluar dari kamar Dave.
Dave berjalan menuju sofa lalu duduk dan fokus pada ponselnya. Dia ingin memeriksa pekerjaannya terlebih dahulu. “Kau sudah selesai?” tanya Dave ketika melihat Jeslyn baru saja keluar dari kamar mandi.
“Iyaaa,” jawab Jeslyn singkat.
“Kemarilah..Kita sarapan dulu.” Dave menepuk sofa di sampingnya.
Jeslyn berjalan sangat pelan. “Dave, jam berapa kita pulang?” tanya Jeslyn ketika dia sudah duduk di samping suaminya.
“Bagaimna kalau kita menginap sehari lagi di sini?” usul Dave.
“Kenapa?”
“Keadaanmu masih seperti ini, jika aku ke kantor, tidak akan ada yang menjagamu jika di rumah. Di sini banyak pelayan yang bisa melayanimu jika kau memerlukan sesuatu.”
Dave tidak tega meninggalkan Istrinya sendirian di rumah, apalagi ada Felicia. Sementara di rumahnya ada ayahnya yang bisa mengawasi Jeslyn. Ibu dan Felicia tidak mungkin berani mengganggu istrinya.
__ADS_1
“Tapiii, aku tidak nyaman di sini Dave.”
Jeslyn belum pernah tinggal di rumah mertuanya sendirian tanpa ditemani Dave. Dia masih merasa canggung dengan ibu mertuanya. Dia juga takut kalau ibu mertuanya sengaja mencari masalah dengannya.
“Kau tenang saja, aku akan meminta pelayan untuk menjagamu, ada papa juga di sini.” Dave tahu apa yang sedang istrinya pikirkan. “Kalau di rumah kita tidak ada yang menjagamu. Aku hanya ingin kau istirahat seharian di sini tanpa melakukan apa-apa.”
“Baiklah kalau begitu.” Jeslyn akhirnya mengalah. Saat ini dia juga tidak punya pilihan lain selain menuruti perkataan suaminya.
“Makanlah.”
Setelah selesai makan Dave langsung mengenakan pakaian kantor. “Aku berangkat ke kantor dulu sayang,” ucap Dave sambi mengecup kening Jeslyn.
Jeslyn mengangguk. “Dave, tolong bawakan baju ganti untukku nanti.”
Jeslyn tidak mempunyai baju ganti lagi, sementara Dave memiliki banyak baju di kamarnya yang sengaja dia tinggalkan di sana jika sewaktu-waktu dia menginap tanpa membawa pakaian.
“Iyaa sayang..Istrirahatlah selagi aku pergi ke kantor. Tidak usah keluar dari kamar ini.” Dave berjalan menuju pintu. “Aku akan meminta pelayan membersihkan kamar.
“Tapi Dave....” Ucapan Jeslyn terpotong.
“Ada apa?” tanya Dave heran.
“Bagaimana dengan bekas itu?”
Jeslyn menunjuk pada bercak merah yang ada di seprai. Itu adalah darah yang keluar saat Dave berhasil menyatukan tubuh mereka. Jeslyn tidak ingin menimbulkan kecurigaan pada ibu mertuanya dan Felicia jika sampai mereka melihat bekas tersebut.
“Lepas saja sayang. Kita akan membawanya pulang nanti. Aku akan meminta pelayan untuk mengganti seprainya.”
“Baiklah.”
Dave berjalan mendekati istrinya lagi. “Aku tidak tega meninggalkanmu sendiri di sini.” Dave memeluk erat tubuh Jeslyn seolah tidak ingin berpisah barang seditpun dengan istrinya.
“Dave, aku tidak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja selama kau pergi.” Dave melepaskan pelukannya. “Bagaimana aku tidak khawatir. Di sini ada 2 harimau yang siap menerkamu kapan saja.”
Jeslyn tertawa kecil saat mendengar perkataan suaminya. “Dave, mereka itu ibu dan istrimu.”
“Aku tidak pernah menganggap dia sebagai istriku Jeslyn. Hanya kau satu-satunya istriku.”
“Iyaaa aku tahu, lebih baik ke kantor sekarang.” Jeslyn mencium pipi Dave.
“Kau hati-hati di rumah.” Dave mengecup kening Jeslyn lagi sebelum dia menghilang di balik pintu.
Bersambung..
Kunjungi Novel Author yang lainnya.
__ADS_1