Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Ancaman Dion


__ADS_3

Dion berjalan menuju ruangan Jeslyn dengan dokter Sarah. “Jes, bangun!” ucap dokter Sarah dengan suara pelan ketika mereka sudah berada di dalam ruangan Jeslyn.


Jeslyn mulai membuka matanya ketika mendengar suara dokter Sarah. Matanya mengerjap untuk menyesuaikan pencahayaan yang masuk ke dalam matanya. Dia melihat dokter Sarah dan Dion sedang berdiri di samping kanan tempat tidurnya. “Kau pasti belum makan?” Dion meletakkan makanan di atas nakas.


Jeslyn bangun dari tidurnya lalu membenahi posisi duduknya. “Iyaa.. Aku merasa agak pusing.”


“Tubuhmu lemah. Seharusnya kau tidak boleh melepaskan infusmu dulu. Apa kau merasa mual?” tanya dokte Sarah.


“Hanya sedikit,” jawab Jeslyn singkat. Semenjak mendengar berita kecelakaan Dave entah mengapa dia merasa mualnya berkurang, tidak separah biasanya.


“Makanlah dulu Jes.” Dion mulai membuka makanan yang dia bawa tadi.


“Dion bagaimana kondisi Dave?” Jeslyn tidak menghiraukan perkataan Dion. Yang ada di pikirannya hanyalah Dave.


Dion menghela napas. “Kau harus makan dulu. Setelah itu baru aku beri tahu.” Dion memberikan makanan pada Jeslyn.


“Baiklah.” Mau tidak mau Jeslyn menuruti perkataan Dion. Dia makan dengan cepat. Dion dan dokter Sarah duduk di samping tempat tidur Jeslyn, menunggunya selesai makan.


“Jes, apa ada keluhan yang kau rasakan akhir-akhir ini?” Sarah tampak khawatir dengan kondisi Jeslyn. Selain terkena Hipermesis berita mengenai kecelakaan Dave juga memperburuk kondisi tubuhnya.


Dion tampak menatap dalam wajah Jeslyn. Dia masih belum bisa menerima kalau Jeslyn saat ini sedang mengandung anak Dave. Selama ini yang dia tahu kalau Dave tidak pernah mencintai Jeslyn. Itu sebabnya dia sangat terkejut ketika tahu kalau Jeslyn sedang hamil anak Dave.


“Aku hanya merasa sedikit mual dan pusing.”


“Apa kau masih meminum obat yang aku berikan?”


“Yaa, jika diperlukan.”


Dokter Sarah berdiri. “Baiklah, besok kita lakukan USG lagi. Aku ingin juga ingin mengecek kondisi janinmu.”


Jelsyn mengangguk. “Terima kasih Sarah.”


“Kalau begitu aku pergi dulu!”

__ADS_1


“Iyaa.” Sarah berjalan keluar ruangan Jeslynm menyisakan Dion dan Jeslyn.


“Aku sudah selesai makan Dion,” ucap Jeslyn seraya meletakkan sisa makanan di atas nakas. “Sekarang katakan padaku, bagaimana kondisi Dave?”


Dion terdiam sejenak. “Dave sudah di pindahkan ke ruangan ICU. Dia mengalami koma.”


Jeslyn merasa bagai tersambar petir setelah mendengar kondisi Dave yang sebenarnya. Tubuhnya menjadi kaku. Matanya mulai berkaca-kaca. “Kau akan tahu bagaimana kondisi Dave, jika kau sudah melihat laporan medisnya nanti,” lanjut Dion lagi.


Kecelakaan yang Dave alami tergolong parah. Beruntung nyawanya masih bisa di selamatkan, walaupun sempat mengalami kritis. “Cidera yang dialami cukup parah Jeslyn. Pendarahan hebat yang dialami oleh Dave memperburuk kondisinya.” Jeslyn hanya diam sedari tadi, tidak ada kata-kata yang mampu dia ucapkan .


“Dion.. Apakah Dave perlu dirujuk ke rumah sakit Singapura? Di sana pengobatannya lebih bagus.”


“Semua tergantung dirimu, selaku istrinya. Jika kau memang mau membawanya ke Singapura, aku akan mencarikan rumah sakit dan dokter terbaik untuk Dave.” Dia berusaha untuk tetap profesional sebagai dokter yang menangani Dave. Sebisa mungkin dia menekan rasa cemburu dan rasa tidak sukanya pada Dave. Dion melakukan itu karena tidak bisa melihat Jeslyn bersedih.


Jeslyn mengusap air mata yang baru saja , turun ke pipinya. “Terima kasih Dion. Aku akan berbicara dengan ayah mertuaku nanti.”


Dion mengangguk. “Dion, aku ingin menjenguk Dave,” ucap Jeslyn lemah.


Mereka berdua berjalan menuju ruang ICU dengan langkah pelan. Sesampainya di sana, Jeslyn melihat Ibu Dave dan Felicia sedang berdiri di depan ruang ICU. Mereka tampak sedang mengobrol dengan wajah serius.


Jelsyn menghampiri ibu mertuanya. “Maa..,” panggil Jelsyn dengan suara lemah.


Ibu Dave dan Felicia seketika menoleh pada Jelsyn. Ibu Dave berjalan ke arah Jeslyn. “Plaaaakkk.” Ibu Dave langsung menampar Jelsyn. “Nyonya.. Apa yang anda lakukan?” ucap Dion dengan nada tinggi.


Ibu Dave manatap marah pada Dion. “Kau jangan ikut campur urusanku!”


Jelsyn memegang wajah bekas ditampar ibu mertuanya. “Kenapa Mama menamparku?” tanya Jeslyn dengan suara bergetar.


“Kau hampir saja membunuh anakku..! Kau lihat Dave koma! Ini semua gara-gara kau! Dasar menantu pembawa sial!” Ibu Dave tidak hentinya melupakan emosinya. Dia mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan untuk Jeslyn. Dia tampak sangat marah ketika dia tahu kalau suaminya dan menantunya menyembunyikan tentang kondisi Dave. Beruntung dia mendapatkan laporan dari mata-matanya yang ada di rumah sakit. Jadi, dia bisa tahu mengenai kondisi Dave.


“Itu bukan salahku Maa.. Dave adalah suamiku. Aku juga tidak ingin terjadi apa-apa dengannya.”


“Kalau saja kau membiarkan Dave untuk tinggal bersama dengan Felicia, kecekaan ini tidak akan terjadi.” Ibu Dave merasa sangat marah pada Jeslyn, ketika mengetahui Dave mengalami kecelakaan. “Jauhi anakku sebelum kau benar-benar membunuhnya. Aku hanya memiliki satu anak, dan kau sudah membuatnya hampir meregang nyawa.

__ADS_1


“Maa. Aku tidak akan menjauhi Dave. Dia adalah suamiku. Aku tidak akan meninggalkannya kalau bukan dia yang memintaku.” Jeslyn memilih untuk tetap bertahan dengan Dave walaupun ibu mertuanya terus memaksa dan mengancamnya.


“Jika kau tidak mau menjauhi anakku. Aku tidak akan mengijinkanmu untuk menemui anakku.” Ibu Dave bertekad ingin memisahkan Jeslyn dan Dave selagi anaknya koma. Jika dia sudah sadar, kemungkinan Dave akan marah besar padanya, maka dari itu dia melakukannya sekarang.


“Mama tidak bisa melarangku untuk melihat keadaan suami sendiri.” Jeslyn berusaha keras untuk menahan air matanya. Dia tidak mau terlihat lemah di depan Felicia dan ibu mertuanya.


“Aku adalah ibunya. Aku berhak melarang siapapun yang ingin mengunjungi anakku.”


“Nyonya jangan lupa, kalau Jeslyn adalah istrinya.”


Ibu Dave menoleh pada Dion. “Bukankah sudah aku bilang jangan ikut campur urusanku.”


“Aku adalah dokter yang menangani anakmu. Apa perlu aku diam saja agar anakmu tidak bisa bangun lagi?” ancam Dion. Dia merasa emosi sejak tadi melihat perlakuan kasar ibu Dave terhadap Jeslyn.


Ibu Dave tertawa mengejek. “Aku bisa mencari dokter lain. Kau kira Dokter Spesialis Bedah Saraf hanya kau saja.”


Dion menyeringai. “Silahkan saja kau mencari dokter lain. Asal kau tahu, aku adalah Dokter Spesialis Bedah Saraf terbaik di rumah sakit ini. tidak dokter yang mampu menangani anakmu selain aku. Kau akan tahu kalau kau sudah bertanya pada pak Adnan.” Dion hanya bisa mengancam Ibu Dave dengan cara tersebut. Dia tidak tahan melihat sikap arogan ibu mertua Jeslyn.


Ada raut keraguan di wajah ibu Dave ketika mendengar ucapan Dion. “Aku tidak percaya dengan kata-katamu!”


Dion juga tahu, kalau Ibu Dave tidak semudah itu percaya dengannya. “Itu terserah padamu Nyonya, mau percaya atau tidak. Tetapi jika kau melarang Jeslyn untuk menemui suaminya. Aku akan langsung mundur. Aku tidak akan menangani anakmu lagi.”


Ibu Dave menoleh pada Felicia yang tampak dari tadi hanya diam saja. “Fel, ayo kita pergi.” Ibu Dave menarik tangan Felicia dengan lembut. “Iyaa Ma.” Felicia menatap tajam Jeslyn sesaat. Setelah itu, mereka berdua pergi meninggalkan Jeslyn dan Dion.


Ibu Dion tidak mau mengambil resiko untuk keselamatan anaknya. Itu sebabnya dia memilih pergi meninggalkan Jeslyn dan Dion.


Dion menghela napas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, setelah kepergia merka berdua. “Aku sungguh tidak mengerti jalan pikiran ibu mertuamu.”


Jeslyn menoleh pada Dion. “Dion, terima kasih karena sudah membelaku.” Jeslyn sangat beruntung karena mempunyai teman seperti Dion. Dari dulu ahnya dia yang selalu baik padanya.


“Sudahlah, lebih baik kita masuk.” Jeslyn mengangguk pelan, lalu mereka berdua berjalan masuk ke dalam ruang ICU.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2