
Dave terbangun ketika pukul 6 pagi. Dave tersenyum ketika melihat wajah lelap Jeslyn. Dia kemudian mengecup kening Jeslyn. Tanpa diduga, Jeslyn bergerak dan langsung memeluk erat dirinya.
“Kau sudah bangun?” tanya Dave setelah melihat Jeslyn membuka matanya sebentar. Jelsyn mengangguk, tetapi tidak melepaskan pelukannya pada Dave.
“Apa kau lapar?” tanya Dave lembut. Dave bermaksud ingin memesankan makanan untuk Jeslyn sebelum dia pulang.
“Tidak,” jawab Jeslyn singkat.
“Kalau begitu bangunlah. Ini sudah pagi.”
Jeslyn menggelengkan kepalanya. “Aku harus pulang.” Jeslyn hanya diam, tidak menanggapi ucapan Dave. “Jeslyn... Aku harus pulang.” Dave mengulangi perkataanya lagi.
Jeslyn masih tidak merespon perkataan Dave dan justru mempererat pelukannya. Dave seketika merasa aneh dengan sikap manja Jeslyn pagi ini. “Apa kau masih merindukan aku?” gurau Dave.
Dave langsung terkejut saat melihat Jeslyn mengangguk. Biasanya, Jelsyn akan langsung melepaskan pelukannya. Jika Dave menggodanya dengan kata-kata tersebut.
Dave lalu menuduk ke bawah untuk melihat wajah istrinya, tetapi tidak terlihat karena Jeslyn menyembunyikan wajah di dadanya.
“Kau sungguh masih merindukan aku?”
Dave mengulangi lagi pertanyaannya untuk memastikannya. Dave masih belum yakin dengan apa yang dia lihat tadi. Jeslyn kembali mengangguk dengan cepat.
Dave meraih wajah Jeslyn lalu menatapnya. Mereka bertatapan sejenak, kemudian menempelkan bibirnya pada Jeslyn, melu*matnya dengan lembut sambil memejamkan matanya.
Merasa tidak ada penolakan dari Jeslyn, Dave melanjutkan ciumannya. Jeslyn mulai membalas ciuman Dave dan mereka saling men*cecap dan melu*mat dalam waktu yang lama.
Ketika napas Dave mulai panas dan berat, perlahan dia mulai membuka pakaiannya dan Jeslyn hingga tubuh mereka polos, setelah itu, tangannya dan bibirnya mulai menjelajahi seluruh tubuh istrinya.
Merasa has*ratnya tidak terbendung lagi, Dave lalu berhenti sejenak lalu berkata, “Aku mencitaimu, Jeslyn.”
Dave mengecup kening Jeslyn sebelum menyatukan tubuh mereka. Jeslyn merespon dengan tersenyum. Suara lenguhan dari mulut Jeslyn terdengar merdu ketika tubuh mereka berhasil menyatu.
Setelah cukup lama bergelut dengan peluh bercucuran, akhirnya Dave melakukan pelepasan. Dave kemudian berbaring sejenak sambil memeluk istrinya. Setelah berisirahat sebentar, Dave kembali menyentuh tubuh istrinya. Jeslyn tampak tidak keberatan saat Dave melakukannya lagi.
Setelah melakukannya dalam waktu lama, Dave kembali melakukan pelepasan. "Terima kasih sayang." Dave mengecup kening Jeslyn lalu berbaring di sampingnya.
Dave mengistirahatkan tubuhnya sejenak lalu mengangkat tubuh Jeslyn ke kamar mandi. Matahari mulai menampakkan sinarnya. Dave memutuskan untuk mandi bersama dengan istrinya.
Setelah selesai, Dave mengangkat tubuh Jeslyn lagi ke tempat tidur setelah mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Dia menyelimuti tubuh mereka dengan selimut.
Dave memeluk tubuh Jeslyn dari depan, setelah itu mengecup kening Jeslyn lalu berkata, "Jeslyn, tidak bisakah kita mulai dari awal lagi? Aku masih sangat mencintaimu, Jes.”
Dave berharap Jeslyn mau merubah keputusannya untuk berpisah dengannya. Dave merasa sangat berat untuk melepaskan Jeslyn saat ini, apalagi setelah menyentuhnya.
Jeslyn menitikkan air matanya. Dia sebenarnya juga tidak ingin bercerai dengan Dave apalagi setelah mengetahui kalau dirinya hamil. Dia semakin tidak ingin berpisah dengan Dave, tetapi saat mengingat Felicia sedang hamil juga membuatnya tetap memilih berpisah.
__ADS_1
Meskipun dia ragu kalau anak itu adalah anak Dave, tetapi dia butuh bukti yang menguatkan kalau memang benar itu bukan anak Dave.
“Aku minta kau pikirkan ulang sebelum sidang pertama perceraian kita. Aku mohon pertimbangkan lagi, Jes,” pinta Dave penuh harap.
*******
Dave mengajak Jeslyn untuk sarapan ketika pesanannya sudah datang. Dave memesan makanan untuk mereka berdua. “Apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit?” tanya Dave, ketika melihat wajah Jeslyn yang masih pucat.
“Tidak usah, aku hanya butuh istirahat hari ini di rumah.”
“Baiklah, kalau begitu makanlah.” Dave memberikan mangkok bubur pada Jeslyn. Dia sengaja memesan bubur agar mudah dicerna oleh Jeslyn.
“Biar aku suapi.” Dave mengambil alih mangkok bubur yang ada di tangan Jeslyn, lalu menyuapinya.
Baru setengah bubur yang dimakan oleh Jeslyn, dia sudah merasa mual. Jeslyn langsung melangkah cepat menuju wastafel dekat ruang makan ketika merasa kalau ada yang mendesak keluar dari kerongkongannya.
“Hoooeeekk.” Jeslyn memuntahkan makanannya. Dave langsung menyusul Jeslyn ketika mendengar suara Jeslyn.
Dave kemudian memijat tengkuk Jeslyn tanpa berkata-kata. Dia hanya memperhatikan gerak-gerik Jeslyn yang terlihat mencurigakan.
“Hooeekk.” Jeslyn terus memuntahkan semua makanan yang ada di perutnya.
Dave kemudian membalikkan tubuh Jeslyn setelah dia selesai membasuh mulutnya. “Sudah berapa minggu usia janin yang ada di dalam kandungamu?”
“Ak-aku tidak mengerti maksudmu, Dave,” ucap Jeslyn gugup. Dia kemudian mengalihkan pandangannya ke samping saat Dave menatap tajam dirinya.
“Apa kau akan terus menyembuyikan kehamilanmu dariku?” tanya Dave sambil menahan emosinya. Dia sangat yakin kalau Jeslyn sedang mengandung anaknya saat ini.
Jeslyn terdiam karena tidak tahu harus berkata apa. “Apa kau berencana membawa kabur anakku dan menikah dengan laki-laki lain?” tanya Dave dengan suara tinggi.
Dave mulai marah karena berpikir kalau Jeslyn sengaja menyembunyikan kehamilannya karena dia hidup bersama orang lain dan tidak ingin kembali lagi dengannya lagi.
“Ak-akuu....”
Dave meraih bahu Jeslyn lalu menatap matanya dengan tatapan kemarahan.
“Dengar Jeslyn, aku tidak akan pernah membiarkanmu membawa pergi anakku apalagi kalau tujuanmu untuk menjauhiku dan menikah dengan laki-laki lain. Aku tidak akan membiarkan anakku memanggil papa pada laki-laki lain. Dia hanya boleh memiliki satu ayah, yaitu aku,” ucap Dave tegas.
Memikirkan Jeslyn tetap ingin berpisah dengannya, mseskipun dia sedang hamil anaknya membuat Dave kecewa sekaligus marah. Dave berpikir kalau Jeslyn sungguh tidak ingin lagi berhubungan baik dengannya karena dia tidak memberitahukan mengenai kehamilannya.
Mata Jeslyn mulai berkaca-kaca. Dia bingung harus berkata apa sekarang.
“Kau mau jujur atau kau ingin aku membawamu langsung ke rumah sakit untuk membuktikan kebenarannya?” Dave mulai tidak sabar saat melihat Jeslyn hanya diam.
“Maafkan aku, Dave,” ucap Jeslyn sambil menitikkan air mata.
__ADS_1
“Waktu itu mungkin aku tidak memiliki alasan kuat untuk menahanmu di sisiku, tetapi sekarang alasan itu sudah ada. Jangan pernah bermimpi untuk bisa pergi dariku. Aku tidak akan pernah melepaskanmu karena saat ini ada anakku di perutmu. Kau harus tetap menjadi istriku,” ucap Dave dengan tegas.
Dave memang kecewa dan sangat marah pada Jeslyn, tapi di sisi lain Dave bersyukur karena dia mengetahui tentang kehamilan Jeslyn sebelum mereka resmi bercerai.
Dave yang awalnya sudah pasrah akan berpisah dengan Jeslyn, akhirnya kembali memiliki harapan untuk bersama lagi saat tahu Jeslyn ternyata sedang mengandung anaknya.
Dave sebenarnya tidak pernah menyangka kalau Jeslyn sedang hamil. Akhirnya dia mempunyai alasan untuk membatalkan perceraian mereka.
“Kalau kau tetap bersikeras untuk berpisah denganku. Aku akan merebutnya darimu. Aku tidak akan pernah mengijinkanmu bertemu dengannya. Akan kupastikan hak asuh anak jatuh ke tanganku. Kau tidak akan pernah bisa menang melawanku, Jeslyn."
Dave kemudian berjalan pergi meninggalkan Jeslyn menuju pintu dengan wajah penuh amarah. Dave terpaksa mengancam Jeslyn supaya dia tidak berniat untuk berpisah lagi dengannya.
Hanya itu caranya agar Jeslyn tidak pergi meninggalkannya. Dave tahu, kalau Jeslyn tidak akan mau dipisahkan dengan anaknya karena dari dulu Jeslyn memang sangat berharap bisa mengandung benihnya.
“Dave, tunggu Dave. Kau salah paham padaku." Jeslyn berusaha mengejar Dave. “Dave.” Jeslyn yang merasa kepalanya tiba-tiba pusing dan langsung terjatuh tidak sadarkan diri di ruangan keluarga.
Dave yang mendengar suara seseorang terjatuh langsung menoleh ke belakang. Mata terbelakak ketika melihat Jeslyn sudah pingsan. Dia kemudian berlari menghampiri Jeslyn yang sudah tergeletak di lantai.
“Jeslyn, bangun. Jeslyn,” ucap Dave dengan wajah panik. "Jeslyn, bangun sayang. Bangun Jes, jangan membuatku takut." Dave berusaha menepuk pipi Jeslyn beberapa kali.
Melihat Jeslyn tidak meresponnya sama sekali, Dave langsung menggendong tubuh Jeslyn ke lantai bawah. Setelah sampai di mobilnya. Dia langsung memasukkan tubuh Jeslyn ke tempat duduk belakang.
Dave sangat panik dan takut terjadi sesuatu dengan Jeslyn dan bayinya. Dave melajukan mobil dengan cepat menuju rumah sakit. Dalam perjalanan Dave menghubungi Adnan menyuruhnya menyiapkan dokter untuk menangani istrinya.
Setibanya di rumah sakit, beberapa wanita dan pria berseragam putih mengampiri Dave dan mengangkat tubuh Jeslyn ke tempat tidur pasien.
Mereka membawanya masuk ke dalam ICU. Dave tidak mau istrinya dibawa ke ruangan IGD, karena terlalu ramai. Dave tampak sangat cemas, dia berdiri di depan ranjang Jeslyn ketika dokter sedang memeriksanya. Dave menyuruh Adnan untuk menyiapkan beberapa dokter untuk menangani istri.
“Lebih baik Tuan menunggu di luar. Kami akan melakukan beberapa pemeriksaan,” pinta Sarah sambil menatap Dave.
Dia sudah tidak tahan lagi melihat Dave yang terus mondar-mandir di dekat ranjang pasien. Beberapa dokter tampak tidak bisa konsentrasi karena kehadiran Dave.
Sarah sebenarnya heran, kenapa Dave yang membawa Jeslyn ke rumah sakit apalagi saat melihat wajah Dave tampak sangat cemas.
“Aku tidak mau pergi. Aku harus tahu dulu bagaimana keadaannya.”
“Tuan, lebih baik kita keluar. Mereka tidak leluasa kalau ada Tuan di sini,” saran Adnan. Adnan memang ikut masuk ka ruangan ICU untuk menemani Dave. “Tuan tenang saja. Mereka akan melakukan yang terbaik untuk dokter Jeslyn,” lanjut Adnan lagi.
“Baiklah.” Dave akhirnya berjalan keluar. Dia menunggu di dekat ruang ICU. Setelah melakukan pemeriksaan, Jeslyn dipindahkan ke ruang perawatan.
Dave duduk di samping ranjang pasien sambil memegang tangan Jeslyn. Sesekali dia mencium punggung tangannya. “Sayang bangun. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu tertekan,” ucap Dave penuh penyesalan.
Dia mengusap lembut wajah Jeslyn. "Bangun sayang."
Bersambung...
__ADS_1