Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Tidak Direstui


__ADS_3

"Bagaimana kalau kami tidak merestui hubungan kalian?" tanya Ibu Dion dengan wajah serius.


Wajah Stella langsung menegang. Dia sudah bisa mendunga, kalau hal ini pasti akan terjadi. "Berikan aku alasan yang tepat, kenapa Mama tidak merestui hubungan kami?"


Dion hanya ingin tahu, apa alasan ibunya tidak merestui hubungannya dengan Stella. Walaupun nanti orang tuanya menentang hubungan mereka. Dia akan tetap pada pilihannya, yaitu menikahi Stella. Meskipun di hatinya belum tumbuh benih cinta, tetapi Dion memang berniat untuk membuka hatinya untuk Stella.


"Mama rasa cukup jelas perbedaan di antara kalian berdua. Dia sudah pernah menikah dan juga memiliki anak. Dia tidak cocok untukmu. Keluarga kita bukan berasal dari keluarga biasa Dion, kau harus ingat itu. Mama sudah memiliki calon yang pantas untukmu," terang ibu Dion dengan wajah tenang,


Seketika wajah Stella berubah menjadi pias. Perkataan ibu Dion langsung menohok hatinya. "Ma, bukankah Mama sendiri yang pernah mengatakan, kalau kita tidak boleh melihat seseorang hanya dari status dan kedudukannya? Lalu kenapa sekarang Mama mempermasalahkan mengenai status Stella? Bukankah Mama memintaku untuk mencari wanita baik-baik?" Dion tampak mulai emosi.


Dia merasa marah karena ucapan ibunya yang dulu dia katakan padanya, berbanding terbalik dengan yang dikatakan sekarang.


Mama Dion bersidekap, lalu dengan santai menatap anaknya yang tampak mulai marah.


"Memang benar mama pernah berkata seperti itu, tapi sekarang berbeda Dion. Kau boleh menikahinya asalkan kau tidak keberatan dicoret dari keluarga sekaligus pewaris keluarga kita. Kau tidak akan mendapatkan sepersen pun dari kami, bagaimana?"


Stella langsung menoleh seraya memegang tangan Dion. "Lebih baik kita akhiri saja hubungan ini, Dion. Aku yang akan mundur," pinta Stella dengan wajah bersalah. "Aku tidak bisa membiarkanmu dias8ngkan oleh keluargamu sendiri."


Stella kemudian beralih menatap ibu Dion. "Tante, biar aku yang yang pergi. Aku janji tidak akan menggangu anakmu lagi."


Stella kemudian berdiri. "Ayooo sayang." Stella memegang Alea, lalu menurunkannya dari kursi.


"Tungggu Stella." Dion memegang lengan Stella untuk menahannya agar tidak pergi.


Stella menatap menatap Dion cepat. "Dion, tolong jangan mempersulit aku," ucap Stella dengan mata berkaca-kaca. Untuk kedua kalinya dia ditolak oleh keluarga calon suaminya. Dia memilih untuk mundur karena dia tidak ingin nasibnya akan sama seperti dulu ketika menikah dengan Daniel.


"Ini adalah hidupku. Aku yang akan menentukan masa depanku sendiri. Kita akan tetap menikah walaupun orang tuaku tidak menyetujuinya."


Melihat wajah marah anaknya, ayah Dave lalu berkata, "Kalian duduklah dulu. Kita bisa bicarakan semuanya dengan baik-baik," ucap ayah Dion.


"Kami juga belum selesai bicara." sambung ayah Dion lagi.


"Pa, jika kalian tidak merestui kami, aku anggap permbicaraan kita selesai sampai di sini. Aku akan tetap menikahi Stella. Mengenai perusahaan dan warisan, aku tidak membutuhkannya. Kalian bisa memberikannya semuanya pada Reina. Aku masih bisa hidup dengan usahaku sendiri," ucap Dion dengan tegas.


"Jadi, kau lebih memilih wanita ini dari pada kami? Keluargamu sendiri? Apa kau ingin menjadi anak durhaka, Dion?" cecar ibu Dion.


"Dion, aku mohon jangan memperpanjang masalah. Lebih baik kau dengarkan perkataan ibumu. Aku tidak apa-apa," sela Stella dengan raut wajah cemas.


Stella tampak merasa bersalah. Bagaimana bisa dia membuat Dion dibenci oleh keluarganya, apalagi hubungan mereka juga baru tahap awal pengenalan. Stella tidak ingin mengorbankan masa depan Dion hanya karena menikahinya.


Dion menunduk menatap Stella. "Aku sudah berjanji untuk menikahimu. Aku tidak mungkin menginkari janji yang aku ucapkan sendiri, Stella. Percaya padaku. Selama kau tidak keberatan dengan pekerjaanku yang hanya seorang Dokter Bedah. Aku akan berusaha untuk membahagiankanmu, walaupun aku harus bekerja lebih keras lagi. Aku tidak akan membuatmu hidup susah nanti."


"Aku tidak keberatan sama sekali dengan pekerjaanmu, Dion. Aku hanya tidak ingin hubunganmu dengan keluargamu hancur hanya karena orang luar seperti aku," ucap Stella dengan suara bergetar dan air mata yang sudah mengenang dipelupuk matanya.

__ADS_1


Alea tampak mendongak ke atas menatap ibunya yang terlihat sedih. "Mommy kenapa?" tanya Alea heran.


Stella menghapus air matanya, lalu menunduk. "Mommy tidak apa-apa sayang." Stella kemudian memegang tangan Alea.


"Dion, lebih baik kau bawa anak itu ke kamarmu dulu. Tidak baik baginya untuk mendengarkan perdebatan orang dewasa," ucap ayah Dion dengan bijak.


"Tidak perlu Pa. Kami akan langsung pulang," tolak Dion.


"Mama belum mengijinkanmu untuk pulang. Mama belum selesai bicara."


Dion menghela napas seraya menatap ibunya. saat ini, Dion sangat kecewa dengan ibunya. Dia tidak menyangka kalau ibunya akan menentang hubungannya dengan Stella, padahal selama ini, ibunya adalah wanita yang lembut dan berhati hangat. Dia tidak pernah memandang seseorang dari status dan latar belakang keluarganya.


Ibunya bahkan bersikap ramah dan baik kepada orang-orang yang bekerja di rumahnya. Dia tidak pernah menganggap tinggi dirinya dan memandang rendah orang lain, meskipun dia terlahir dari keluarga terpandang dan berasal dari salah satu keluarga terkaya di kotanya.Dion tidak tahu, apa sebenarnya yang membuat ibunya jadi berubah.


"Selain Mama tidak merestui hubungan kami, hal apalagi yang ingin Mama sampaikan padaku?" tatap Dion tanpa minat.


"Kau kesal pada Mama karena mama tidak memberikan restu pada kalian?" Ibu Dion menatap anaknya dan Stella secara bergantian.


Dion melunak. "Bukan seperti itu Ma. Hanya saja, aku berpikir sudah tidak ada lagi yang kita bicarakan," ucap Dion pelan.


"Masih ada yang perlu mama sampaikan. Apa kalian akan terus berdiri di sana seperti patung?"


"Duduklah Dion," timpal ayah Dion, ketika melihat anaknya tampak enggan untuk duduk kembali.


"Apa yang ingin Mama sampaikan padaku?" tanya Dion ketika dia baru saja duduk.


"Kau harus segera menikah. Mama akan mengatur semuanya. Mama sudah tidak bisa menunggumu melajang lebih lama lagi."


"Maaaaa..." pekik Dion dengan wajah frustasi. "Bukankah sudah aku bilang, kalau aku tidak mau menikah dengan wanita pilihan Mama? Berhenti untuk menjdodohkanku terus Ma."


Stella hanya bisa diam. Dia tidak tahu harus berbuat apa saat ini. "Mama tidak mau mendengar penolakan darimu. Kau harus menikah bulan ini. Tidak ada bantahan lagi," ucap ibu Dion dengan tegas.


Dion langsung berdiri. "Maaf Ma, kali ini aku tidak bisa menuruti permintaan Mama," balas Dion.


Dia kemudian menoleh pada Stella. "Ayoo kita pergi." Dion menghampiri Alea dan menurunkannya dari kursi.


"Berhenti Dion," perintah ibu Dion, saat melihat anaknya sudah melangkah.


Dion menghentikan langkah kakinya, lalu menoleh pada ibunya. "Ada apa lagi Ma?" tanya Doon dengan suara pelan. Dion sedari tadi sudah menahan dirinya agar tidak marah pada ibunya.


"Jadi kau menolak pernikahan ini?"


"Iyaaa," jawab Dion singkat.

__ADS_1


"Kau yakin tidak ingin menikah dengan Stella?" tanya ibu Dion lagi.


"Iyaaa Ma. Aku tidak bisa menikah dengan wanita pilihan Mama," jawab Dion cepat, tanpa mendengarkan pertanyaan ibunya dengan seksama.


Menyadari ada yang salah. Dion kemudian berbalik dan menatap ibunya. "Mama bilang apa tadi? Menikah dengan Stella?"


Ibu Dion menghampiri anaknya, lalu menjewer telingannya. "Aawww, sakit Ma." Dion mengusap telinganya yang memerah.


"Itu salahmu sendiri karena sudah membuat Mama menunggu lama. Seharusnya kau bilang pada Mama, kalau kau sudah memiliki calon sendiri, jadi mama tidak perlu repot-repot menjodohkanmu," omel Ibu Dion dengan wajah kesal.


Stella dan Dion tampak sedikit bingung. Mereka belum juga bisa mencerna ucapan ibu Dion. "Maksud Mama? Mama merestui hubunganku dengan Stella?" tanya Dion antusias.


"Tentu saja," jawab Ibu Dion sambil tersenyum.


Dion lalu meraih tangan ibunya. "Mama sungguh tidak keberatan dengan status Stella saat ini?" Dion hanya ingin memastikan kembali, kalau ibunya sungguh bisa menerima Stella.


"Jadi kau tidak percaya dengan Mama? Apa Mama terlihat sejahat itu di matamu?"


Dion lalu tersenyum. "Bukan seperti itu maksudku Ma. Aku hanya ingin memastikannya Ma."


Ibu Dion kemudian mendekati Stella. "Maafkan mama ya Stella. Mama tadi hanya ingin mengerjai Dion saja. Mama sama sekali tidak keberatan dengan statusmu. Mama justru senang akhirnya dia ingin menikah. Selama ini, dia selalu saja menolak wanita yng ingin mama kenalkan padanya," ungkap Ibu Dion seraya tersenyum.


"Tidak apa-apa tante. Saya bisa mengerti kalau seandainya tante tidak setuju Dion berhungan dengan saya."


"Panggil mama, jangan tante.. Mulai sekarang kau adalah calon istri Dion, jadi panggil saja Mama," ucap ibu Dion dengan lembut. Dia kemudian menunduk menatap anak Stella sembari mengusap lembut pipi Alea dengan gemas. "Dan anakmu akan menjadi cucu dikeluarga kami."


Mata Stella tampak berkaca-kaca. Dia tidak menyangka kalau orang tua Dion mau menerimanya meskipun dia sudah memiliki anak. "Terima kasih Ma karena sudah mau menerima kami berdua," ucap Stella tulus.


"Kalau begitu. Duduklah kembali. Banyak yang ingin mama tanyakan. Kita juga akan membicarakan mengenai pernikahan kalian." Ibu Dion kemudian membimbing Stella dan Alea untuk duduk kembali.


"Ma, terima kasih karena sudah mau menerima Stella," ucap Dion ketika dia baru saja duduk di tempat duduknya.


"Mama, masih kesal padamu. Bisa-bisanya kau mengejutkan kami. Untung saja mama tidak memiliki penyakit jantung," ucap Ibu Dion seraya menatap tajam anaknya. "Mama sempat mengira kalau kau tidak menyukai perempuan."


Stella tampak menahan senyumnya, ketika mendengar ucapan ibu Dion. "Jangan bicara omong kosong Ma," uca Dion dengan wajah kesal. "Jangan mempermalukanku di depan Stella."


"Itu salahmu sendiri karena kau tidak pernah berkencan dengan wanita manapun," ujar Ibu Dion dengan acuh.


"Ma, mengenai pernikahan kami. Aku ingin dilaksanakan lebih cepat."


"Kalau begitu, kalian menginaplah di sini agar kita bisa mendiskusikannya bersama."


Bersambung...

__ADS_1


Bantu berikan dukungan untuk author dengan cara Komen, Vote, Favorite dan Like setiap bab ya. Kasih hadiah juga boleh..Dukungan kalian sangat berarti bagi Author. Terima Kasih..


__ADS_2