Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Pertemuan Dave dan Dion


__ADS_3

Dave mengambil ponselnya sebelum turun ke lantai bawah. Dia melihat Jeslyn sudah terlelap. Dave mengecup kening istrinya setelah itu berjalan keluar dari kamar.


"Bi Sarti," panggil Dave ketika dia tidak melihat Alea di kamar yang tadi tempati untuk tidur.


"Iyaa Tuan," jawab Bi Sarti sambil menghampiri Dave.


"Alea ke mana?" tanya Dave sambil menoleh pada bi Sarti.


"Sedang makan di ruang makan, Tuan," jawab Bi Sarti pelan.


"Baiklah."


"Maaf Tuan, di depan ada tamu," ucap Bi Sarti.


"Iyaa. Temani Alea makan. Aku akan menemui tamunya dulu."


Dave berpikir kalau yang ada di ruang tamu pasti Stella karena mereka memang sudah berjanji untuk bertemu.


"Tu...."


Belum sempat bi Sarti menyelesaikan ucapannya. Dave sudah berlalu menuju ruang tamu.


"Kau...? Untuk apa kau ke sini?" Dahi Dave mengerut dan wajah terkejut ketika melihat laki-laki yang paling dia tidak sukai sedang duduk di ruang tamunya sambil menatap layar ponselnya dengan serius.


Pria itu langsung mengangkat kepalanya ketika mendengar suara Dave. Sudut bibirnya terangkat ketika melihat Dave sedang berdiri sambil menatapnya.


"Sepertinya kau tidak suka dengan kedatanganku? Apa aku mengganggumu?" tanya Dion dengan senyuman mengejek.


Dave berjalan menghampiri Dion, lalu duduk di depannya. "Berani sekali kau datang ke sini. Apa kau sengaja ingin memancing kemarahanku?" Setiap melihat wajah Dion, Dave selalu saja merasa seperti bertemu musuh besar.


Dion tampak tenang menghadapi sikap Dave dan tidak terlalu memperdulikan Dave yang mulai menampakkan kemarahannya. Dengan santai, Dion mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang dia bisa jangkau dengan pandangan matanya.


"Istriku sedang tidur. Kau pasti tahu apa yang habis kamu lakukan sehingga membuatnya kelelahan," ucap Dave dengan bangga. "Jadi, maaf sekali kau harus kecewa karena kau tidak bisa bertemu dengannya," sambung Dave lagi.


Dion menahan senyumannya. "Kau membuatnya terlihat sangat jelas Dave," ucap Dion santai sambil menatap Dave. "Sepertinya kau masih sangat cemburu padaku. Apa kau takut kalau aku merebut Jeslyn darimu?" tanya Dion dengan senyuman smirknya.


"Jangan terlalu percaya diri Dokter Dion. Jeslyn hanya mencintaiku. Dari dulu hingga sekarang hanya aku yang dia cintai. Seharusnya kau tahu itu," jawab Dave dengan percaya diri.


Dion mengulum senyumannya. "Lalu kenapa kau masih takut padaku kalau kau begitu yakin Jeslyn sangat mencintaimu?" tanya Dion dengan alis terangkat satu.


"Apa kau tidak yakin dengan dirimu sendiri?" tanya Dion dengan senyuman mengejek.


Tentu saja Dion tahu kalau Dave berbohong. Dia bisa melihat dengan jelas kecemburuan di mata Dave setiap kali melihatnya apalagi ketika Dion mulai membahas Jeslyn.

__ADS_1


Dion berhasil memancaing kemarahan Dave lagi. "Aku bukan tidak yakin pada diriku, tapi aku tidak yakin dengan dirimu. Bukankah kau pernah berniat untuk merebutnya dariku?" tanya Dave dengan alis terangkat.


"Karena itukah kau sangat takut padaku? Atau kau takut Jeslyn berhenti mencintaimu lalu berpaling darimu?"


"Sampai kapan pun kau tidak akan mendapatkan cinta Jeslyn. Asal kau tahu, aku adalah cinta pertamanya. Dia sudah lama sekali menyukaiku. Dia tidak mungkin tergoda olehmu kecuali kau memakai cara licik untuk mendapatkannya," ucap Dave percaya diri.


Sudut bibir Dion terangkat. "Aku sudah lama mengenalnya. Aku tidak perlu cara licik untuk mendapatkannya karena aku tahu apa yang membuatnya bahagia. Apa kau ingin bertaruh denganku, apakah aku bisa mendapatkannya atau tidak?" tantang Dion dengan senyum mengejek.


Wajah Dave mengeras, tatapannya berkilat dan mulutnya terkatup. Dia terdiam sejenak.


"Jangan memancing kemarahanku Dion. Aku tidak akan tinggal diam jika kau berani mendekati istriku. Aku tahu latar belakang keluargamu. Walaupun keluargamu berpengaruh, tapi aku bisa menghancurkan keluargamu jika kau berani merebut istriku," ancam Dave dengan ekspresi wajah yang mengeras.


Selama ini memang tidak ada yang tahu, mengenai latar belakang keluarga Dion. Hanya Jeslyn yang tahu karena mereka sudah dekat dari dulu. Jeslyn bahkan kenal baik dengan seluruh keluarga Dion. Ayah Dion termasuk pengusaha sukses yang sangat terkenal.


Tidak ada yang tahu kalau Dion anak dari pengusaha tambang terkenal yang juga memiliki usaha perhotelan yang menjamur di Indonesia. Hotel keluarganya termasuk hotel ternama dan terbaik di indonesia.


Walaupun berasal dari keluarga konglomerat, tetapi Dion tidak pernah mengandalkan orang tuanya. Selama sekolah dan kuliah, dia selalu mendapatkan beasiswa. Dia juga tidak mau bekerja di perusahaan ayahnya karena ingin mengejar cita-citanya untuk menjadi Dokter Spesialis Bedah Syarat terbaik.


Dion menyeringai. "Rupanya kau sudah sangat mencintaimu Jeslyn. Seharusnya kau lakukan dari dulu Dave, sebelum dia terluka lebih dalam akibat kau dan keluargamu."


"Kau tidak perlu lagi mengurusi istriku. Sudah ada ada aku yang akan menjaganya."


"Aku hanya tidak ingin kau menyakiti Jeslyn lagi. Sudah cukup penderitaannya selama ini. Sebelum dia jadi istrimu, aku adalah orang terdekatnya. Dia terbiasa bergantung padaku karena aku yang selalu menjaga serta melindunginya. Hanya aku yang dia punya," ungkap Dion.


Seketika hening, tidak ada pembicaraan lagi diantara mereka berdua.


"Dave."


Dion dan Dave seketika menoleh ke asal suara. Terlihat Stella sedang menggandeng tangan Alea berjalan ke arah mereka bedua.


"Jelyn ke mana?" tanya Stella ketika dia sudah berdiri di dekat Dave.


Dave menoleh sejenak. "Dia ada di kamar. Dia baru saja tertidur. Kau bisa ke sini besok jika ingin bertemu dengannya," jelas Dave sambil melayangkan pandangannya pada Stella.


"Baiklah," ucap Stella sambil mengangguk.


"Stella, kapan kau datang?" tanya Dave dengan wajah heran.


Stella menghampiri Dion dan duduk di sebelahnya, sementara Alea duduk di samping Dave. "Setengah jam lalu," jawab Stella lembut.


Dahi Dave mengerut sempurna ketika melihat Stella tampak tidak canggung duduk di sebelah Dion. "Aku datang bersama Dion," lanjut Stella lagi seolah tahu apa yang sedang ada di pikiran Dave saat dia melihat sedari tadi Dave mengamati mereka berdua.


Dave kemudian beralih menatap Stella. "Apa maksudnya? Aku tidak mengerti. Kenapa kau bisa datang bersamanya ke sini?" tanya Dave dengan wajah serius.

__ADS_1


"Saat ini dia sudah menjadi kekasihku," sela Dion sebelum Stella sempat membuka suara.


Dave tampak tercengang. "Apa ini Stella? Aku tidak mengerti?" tanya Dave sambil beralih menatap Stella.


"Aku akan menjelaskan semuanya," ucap Stella cepat.


Tampak sekali kalau Dave sangat terkejut dengan ucapan Dion. Dave kemudian melipat kedua tangannya di dada. "Baiklah. Sekarang jelaskan semuanya padaku," ucap Dave dengan wajah serius.


Stella menghela napasnya kemudian menceritakan semuanya, mulai dari kejadian saat dia bertemu dengan Ryan sampai akhirnya dia memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Dion.


"Kau tidak perlu lagi menjaga Stella. Mulai sekarang, aku yang akan melindunginya. Kau fokus saja pada istrimu, jangan sampai direbut oleh laki-laki lain," ucap Dion dengan tegas yang diiringi oleh tatapan tajam dari Dave setelah dia mendengar perkataan terakhir Dion.


Dave menoleh pada Stella. "Stella, bisakah kau tinggalkan kami berdua? Ada yang ingin aku bicarakan dengannya," pinta Dave dengan wajah serius.


Stella tampak terdiam sejenak. Dia tahu kalau Dave tidak menyukai Dion. Dia hanya tidak ingin ada kesalahpahaman antara mereka berdua.


"Aku hanya ingin bicara dengannya, Stella," lanjut Dave lagi setelah melihat keraguan di wajah Stella.


Stella kemudian mengangguk dan membawa Alea pergi dari ruangan tamu.


"Apa sebenarnya yang sedang kau rencanakan Dion? Jangan pernah berani mempermainkan Stella. Lebih baik kau jauhi Stella, jika kau tidak serius dengannya. Dia bukan wanita yang bisa kau permainkan begitu saja."


"Kenapa? Apa kau masih memiliki perasaan terhadapnya?" tanya Dion dengan wajah santai.


"Stella dan aku sama seperti Jeslyn dan kau. Aku mencemaskannya bukan karena aku masih memiliki perasaan terhadapnya. Aku memang pernah mencintainya dulu, tapi perasaanku terhadapnya sudah berubah. Seharusnya kau tahu siapa wanita yang sangat aku cintai sekarang," ucap Dave.  


"Saat ini hanya aku yang dia punya. Dari dulu dia selalu bergantung padaku. Kau pasti belum tahu kalau keluarganya hanya memanfaatkan dirinya demi keuntungan pribadinya. Sebab itu, dia tidak mau berhubungan dengan kekuarganya jadi hanya aku tempat berlindungnya saat ini."


"Aku tidak berniat untuk mempermainkannya. Aku memang belum mencintainya, tetapi aku bisa menjamin, kalau aku serius ingin menjalin hubungan dengannya. Terserah padamu mau percaya atau tidak, tetapi kami sudah memutuskan untuk sama-sama mencoba membuka diri," ungkap Dion.


"Aku bukan Stella yang mudah percaya dengan orang lain. Aku akan tetap mengawasinya. Kau bisa melakukannya juga kalau kau mau," ucap Dave.


"Bukankah seharusya kau senang kalau aku menjalin hubungan dengan Stella? Kau tidak perlu takut lagi kalau aku akan merebut Jeslyn darimu."


"Semua tergantung dari niatmu mendekati Stella. Aku akan marah jika kau hanya memanfaatkan Stella karena cintamu tidak dibalas oleh istriku. Aku peringatkan padamu. Kalau sampai aku tahu, kau mempermainkannya, aku tidak akan tinggal diam Dion. Dia sudah kuanggap seperti keluargaku. Jika kau menyakitinya, aku akan membuat perhitungan denganmu," ancam Dave.


"Kau bisa melihatnya nanti, apakah aku serius atau justru hanya mempermainkannya saja."


Dion sudah bisa menebak dari awal kalau Dave tidak akan mudah percaya dengannya karena Dave adalah orang yang sangat hati-hati dan waspada terhadap orang lain, terlebih dirinya.


"Baiklah. Kita lihat saja nanti," ucap Dave dengan santai. "Aku harap kali ini, kau sungguh serius menjalin hubungan dengan Stella dan berhenti berharap pada istriku."


Bersambung..

__ADS_1


Bantu berikan dukungan untuk author dengan cara Komen, Vote, Favorite dan Like setiap bab ya. Kasih hadiah juga boleh..Dukungan kalian sangat berarti bagi Author. Terima Kasih..


__ADS_2