
“Apa kau sakit? Kenapa wajahmu pucat sekali?” Dave memegang wajah Jeslyn dengan tatapan cemas.
“Aku tidak apa-apa.”
Dave kemudian memegang lengan Jelsyn. “Tubuhmu sudah dingin. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit.”
Jeslyn langsung menggeleng. “Tidak, aku ingin pulang saja.” Jeslyn tidak mau kembali ke rumah sakit karena takut nanti Dave tahu kalau dirinya sedang hamil.
“Baiklah, aku akan mengantarmu sampai apartemenmu. Setelah itu, aku akan langsung pergi.” Dia teringat dengan janjinya untuk tidak akan mengganggu Jeslyn lagi. Maka dari itu, dia tidak ingin berlama-lama berada di dekat Jeslyn.
Jeslyn hanya diam, diq berjalan berdampingan dengan Dave. Saat sedang berjalan, dia merasa kepalanya sakit. “Kau kenapa?” tanya Dave ketika melihat Jeslyn memegang kepalanya.
“Aku hanya pusing.”
Dave langsung menggendong tubuh Jeslyn ketika mereka tiba di loby. “Dave, turunkan aku.” Dave tidak memperdulikan orang-orang yang sedang menatapnya.
“Aku akan menurunkanmu saat sampai di depan apartemenmu.”
Mereka lalu memasuki lift menuju lantai 10. Dave kemudian menurunkan tubuh Jeslyn dengan hati-hati saat sudah berada di depan pintu apartemen Jeslyn.
“Masuklah, jangan lupa mandi air hangat,” ucap Dave lembut, “aku pulang dulu.” Dave berbalik lalu melangkah sebelum Jeslyn sempat mengucapkan terima kasih.
“Dave tunggu.”
Langkah Dave terhenti. “Ada apa?”
“Masuklah dulu, bajumu basah. Lebih baik kau mengeringkan bajumu dulu.” Baju Dave memang basah karena menggedong tubuh Jeslyn tadi.
“Tidak perlu. Aku akan menggantinya di rumah nanti, masuklah.” Dave kembali berbalik lalu melangkah pergi.
Tidak lama setelah Dave berjalan, tiba-tiba dia berbalik saat mendengar suara benda terjatuh. Dengan cepat dia menoleh ke belakang. “Jeslyn.” Dave berlari menghampiri Jeslyn saat melihat tubuhnya sudah tergeletak tidak sadarkan diri di depan pintu apartemennya.
Dave kemudian meraih tubuh istrinya. “Jeslyn bangun.”
Dave berusaha menepuk-nepuk wajah Jeslyn. "Jes, Jeslyn bangun." Tidak ada respon dari Jeslyn.
Melihat Jeslyn tidak sadar juga, Dave kemudian menggeledah tas Jeslyn mencari kunci apartemennya. Setelah menemukan kuncinya, dia segera membukanya lalu mengangkat tubuh Jeslyn masuk ke dalam kamar mandi. Dengan hati-hati dia memasukkan tubuh Jelsyn ke dalam bathup dan memejamkan matanya sejenak.
“Maafkan aku Jeslyn. Aku tidak berniat untuk menyentuh tubuhmu. Aku terpaksa melakukannya.” Walaupun secara hukum mereka masih berstatus suami istri, tetapi Dave merasa tidak berhak lagi terhadap Jeslyn.
Dave mulai melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuh istrinya satu persatu. Saat dia melihat tubuh polos istrinya, dia berusaha keras menahan dirinya. Setelah pakaian Jeslyn terlepas. Dave mulai mengguyur tubuh Jeslyn dengan air hangat.
Setelah selesai memandikan Jeslyn, Dave mengeringkan tubuh Jeslyn dengan handuk lalu membalutnya, kemudain mengangkat tubuh Jeslyn ke tempat tidur dan menyelimutinya.
__ADS_1
Dave lalu berjalan ke kamar mandi untuk melepaskan bajunya yang basah, setelah itu menghubungi Zayn untuk membawakannya baju gantinya. Beberapa menit kemudian dia keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arah tempat tidur lalu duduk di samping Jeslyn.
“Kenapa kau terlihat kurus sekali sekarang?” gumam Dave pelan.
Dia merasa hatinya sakit saat melihat keadaan Jeslyn saat ini. Wajah tirus, bibir pucat dan tubuh sangat kurus membuat Dave sedih.Setelah terdiam beberapa saat, Dave kemudian mengecup kening Jeslyn.
“Aku sudah berusaha keras untuk melepasmu, tetapi aku tetap tidak bisa Jeslyn. Aku sangat mencintaimu. Aku kira dengan menjauhimu aku bisa melupkanmu, tetapi aku salah. Aku justru sangat merindukanmu. Mungkin ini karmaku karena sudah membuatmu menderita selama ini,” gumam Dave sambil mengusap lembut wajah Jeslyn.
Tidak lama kemudian terdengar suara bel. Dave lalu berjalan ke arah pintu dan membukanya.
“Ini bajunya, Tuan.” Zayn menyerahkan paperbag hitam pada Dave.
“Terima kasih.”
“Kalau begitu saya permisi, Tuan.” Dave menutup pintu setelah kepergian Zayn. Dia berjalan menuju kamar mandi untuk mengganti bajunya.
Setelah mengganti pakaian, Dave naik ke tempat tidur dan berbaring di samping Jeslyn. Dave meraih tubuh Jeslyn lalu memeluknya.
“Jeslyn maafkan aku sekali ini saja. Aku tidak bisa menahannya. Aku sangat merindukanmu.”
Dave mempererat pelukannya lalu mencium pucuk kepala Jeslyn.
Dave akhirnya tertidur sambil memeluk Jeslyn. Selama 1 jam tertidur, akhirnya dia bangun ketika pukul 7 malam. Dia lalu memegang dahi Jeslyn.
Dave kemudian melepaskan pelukannya. Dia berencana ingin turun dari tempat tidur, tetapi ditahan oleh tangan Jeslyn. Merasa ada yang memegang tangannya, Dave menoleh dan melihat Jeslyn sudah membuka matanya. Wajahnya memerah karena demam. Matanya pun terlihat sayu.
“Kau demam, aku akan mengompresmu.” Dave lalu melepaskan tangan Jeslyn.
“Dave jangan pergi, temani aku di sini.” Dave langsung berhenti.
“Aku akan kembali lagi.” Dave berjalan cepat lalu kembali membawa handuk kecil dan air hangat.
Jeslyn hanya diam saat Dave mulai mengompresnya seraya memejamkan matanya lagi karena merasa tubuhnya masih lemas dan kepalanya masih pusing. Dave lalu mengompres Jeslyn selama setengah jam. Setelah selesai mengompres Jeslyn, dia kembali duduk di tepi tempat tidur.
“Jeslyn bangunlah. Kau harus makan, setelah itu baru minum obat.” Dave mencoba membangunkan Jeslyn yang tampak tertidur kembali.
Perlahan Jeslyn membuka matanya. “Dave, temani aku di sini, jangan pergi.” Hormon kehamilan mempengaruhi sikap Jeslyn sehingga dia bersikap manja. Saat ini dia merasa sangat merindukan Dave dan tidak ingin ditinggalkan.
“Iyaa, aku tidak akan ke mana-mana, tapi kau harus makan dulu.”
Jeslyn menggeleng pelan. “Temani aku tidur.”
Dave menatap heran pada Jeslyn sejenak lalu berkata, “Baiklah, tetapi setelah itu kau harus makan.” Jeslyn mengangguk dan Dave pun merebahkan tubuhnya di samping Jeslyn.
__ADS_1
“Aku sangat merindukanmu, Dave.” Dave langsung terdiam karena sangat terkejut saat Jeslyn tiba-tiba memeluknya.
“Apa?” Dave ingin memastikan lagi apa yang dia dengar tadi.
Jeslyn membenamkan wajahnya di dada Dave lalu memeluknya erat. “Aku merindukanmu.”
Dave merasa sangat senang saat mendengar perkataan Jeslyn. “Aku juga sangat merindukanmu, Jeslyn.” Dave membalas pelukan istrinya.
“Jangan pergi, Dave.” Jelsyn mengurai pelukannya lalu mendongakkan kepalanya menatap Dave. Tanpa sadar Jeslyn mengecup bibir suaminya.
“Aku tidak akan pergi." Dave meraih tengkuk Jeslyn lalu melu*mat bibir Jeslyn.
Dia tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Lama tidak melihat istrinya membuatnya sangat merindukan istrinya. Dia sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Gairahnya memang sudah mulai terpancing saat dia memandikan Jeslyn tadi.
Dave terus melu*mat bibir istrinya dengan tidak sabar. Luma*tan demi luma*tan terus terjadi dan semakin lama semakin panas. Bibir Dave semakin menekan keras dan lidah mereka saling beradu. Tangan Jeslyn pun sudah dikalungkan ke leher Dave, sementara tangan Dave bergerak liar di tubuh istrinya.
Hujan siang itu membuat suasana menjadi lebih intim. Mereka berdua seolah lupa kalau mereka sebentar lagi akan bercerai. Yang ada di pikirin mereka saat ini adalah meluapkan kerinduan mereka berdua.
Setelah saling memagut dan mence*cap, Dave beralih menelusuri leher Jeslyn sambil mengecupnya lalu meninggalkan bekas merah di leher dan di tubuh istrinya. Jeslyn nampak tidak menolak sama sekali saat tangan Dave mulai menyentuh tubuhnya, bahkan tubuhnya merespon cepat saat Dave menyentuhnya.
Terdengar suara deru napas Dave semakin berat. Selesai dengan leher istrinya, Dave beralih melu*mat dan menyesap bibir Jeslyn sambil membuka seluruh pakaiannya. Setelah polos, dia melepaskan pagutan mereka lalu menyingkap selimut yang menutupi tubuh istrinya.
Dave menatap Jeslyn sejenak. “Jeslyn, apa aku boleh melakukannya?”
Dave meminta ijin terlebih dahulu sebelum menyentuh istrinya. Dave melajutkan aksinya ketika melihat anggukan dari Jeslyn.
“Dave, pelan-pelan.”
Jeslyn hanya takut membahayakan janin yang ada di dalam kandungannya. Trimester pertama tidak dianjurkan untuk melakukan hubungan suami istri karena masih sangat rentan terjadi keguguran.
“Iyaa, Sayang.” Detik kemudian, Dave mulai mendesak masuk.
Jeslyn seketika melenguh ketika tubuh mereka berhasil menyatu. “Aku akan berhati-hati, sayang.”
Karena tubuh Jeslyn masih lema, maka dari itu, Dave akan akan melakukannya secara perlahan. Siang itu mereka berdua memadu kasih penih cinta dan gairah. Dave terus bergerak hingga dia akan mencapai puncaknya. Saat Dave akan mengeluarkannya diluar, Jeslyn justru menahan tubuh suaminya.
“Jes, lepaskan tanganmu.” Dave sengaja tidak mau mengeluarkan di dalam karena takut Jelsyn akan hamil nanti, sementara mereka akan bercerai.
Jeslyn menggeleng dan tidak menghiraukan permintaan suaminya. Dave yang sudah tidak bisa menahannya lagi akhirnya mengeluarkan semua benihnya di dalam. Ada perasaan takut di dalam hati Dave saar memikirkan bagaimana nasib Jeslyn setelah dia menyentuhnya hari ini. Dia takut Jeslyn hamil setelah mereka berpisah nanti.
Setelah menumpahkan semuanya, Dave meraih tubuh Jelsyn dan menutupi tubuh mereka dengan selimut. “Istirahatlah sebentar, setelah itu kau harus makan.”
Jeslyn mengangguk lalu memeluk tubuh Dave dan membenamkan wajahnya di dada suaminya. Perlahan dia memejamkan matanya karena merasa sangat nyaman berada di dalam pelukan Dave.
__ADS_1
Bersambung...