
“Tapi sayangnya, dia tidak ingin bercerai denganku. Dia merobek surat perceraian kami. Jadi, berhenti untuk bermimpi untuk memilikinya karena kami tidak akan pernah bercerai.”
Dion sedikit terkejut mendengar perkataan dari Dave. “Apa kau berencana untuk menikahi wanita itu tanpa menceraikan Jeslyn?” tanya Dion dengan wajah berang.
“Kau tidak perlu tahu apapun tentang masalah pribadiku dan masalah rumah tanggaku,” ucap Dave dengan wajah acuh. Dia merasa kalau Dion sudah terlalu banyak ikut campur dengab urusan rumah tangganya dengan Jeslyn.
Dion menghampiri Dave laku mencengkram kerah bajunya. Dia menunduk menatap Dave yang masih duduk di kursi. “Kalau sampai itu terjadi. Aku akan membawa Jeslyn pergi darimu. Aku tidak akan membiarkan kejadian seperti dulu terjadi lagi.”
Dave melepaskan cengkraman tangan Dion dengan kasar. “Jangan pernah berani menyentuhku lagi, atau akan kubuat kau menyesal. Pergi dari sini sebelum kesabaranku habis,” ancam Dave dengan wajah yang mulai mengeras.
“Dengar Dave..Aku tidak takut dengan ancamanmu. Aku bukan tipe orang yang mudah kau gertak. Kalau sampai kau menyakiti Jeslyn lagi, akan kupastikan kau tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Ingat itu..!!” Dion pergi meninggalkan Dave dengan wajah marah.
Dave menatap ke arah pintu yang baru saja tertutup. Pikirannya saat ini sedang campur aduk. Setelah kepergian Dion. Dave kembali menatap Jeslyn.
Tidak lama kemudian Jeslyn mulai membuka matanya. “Kau sudah bangun? Apa yang kau rasakan? Apa kepalamu sakit?”
Dave langsung memberondong Jeslyn dengan banyak pertanyaan ketika melihat Jeslyn sudah sadar. Terlihat sekali kalau dia khawatir dengan keadaan istrinya.
Jeslyn menatap tidak percaya pada Dave. Dia tidak menyangka kalau Dave saat ini berada di hadapannya. “Kenapa kau bisa di sini?” Jeslyn justru melontarkan pertanyaan lain alih-alih menjawab pertanyaan dari Dave.
“Adnan menghubungiku. Dia bilang kau ada di sini dalam keadaan pingsan,” jawab Dave apa adanya, "kau belum menjawab pertanyaanku Jeslyn."
Dave membantu Jeslyn untuk duduk ketika dia melihat istrinya tampak kesulitan untuk bangun. “Aku baik-baik saja. Aku hanya terkejut,” terang Jeslyn dengan suara lemah.
“Pergelangan kakimu patah,” jelas Dave ketika Jeslyn menyentuh bagian kaki yang diperban.
“Apa yang sebenarnya terjadi Jeslyn? Kenapa kau bisa sampai mengalami kecelakaan?” tanya Dave dengan wajah penasaran.
“Aku sedang melamun ketika membawa mobil. Aku tidak sadar menerobos lampu merah. ”
“Kenapa kau bisa seceroboh itu? Apa kau tahu itu sangat berbahaya, Hahh??” ucap Dave dengan nada tinggi.
Seketika merasa emosi naik mendengar penuturan Jeslyn. Selama ini Jeslyn tidak pernah seceroboh itu ketika mengendarai mobilnya. Dave langsung berdiri dan memeluk Jeslyn ketika melihat istrinya tampak diam saja sambil menunduk.
“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membentakmu. Aku hanya takut terjadi apa-apa denganmu,” ucap Dave dengan nada lembut.
“Dave,” panggil Jeslyn dengan suara pelan.
__ADS_1
Dave langsung melepaskan pelukannya. “Ada apa?” tanya Dave sambil menatap pada Jeslyn.
“Bukankah kau harus bekerja? Pergilaah. Aku sudah tidak apa-apa.”
“Aku sudah meminta Mark dan Diana untuk menhandle sementara pekerjaanku. Aku akan menemanimu di sini,” ucap Dave sambil duduk di kursi sebelah Jeslyn.
“Dave, tadi Stella menemuiku. Dia memberikan surat cerai yang sudah kau tanda tangani. Dia bilang kalian akan segera menikah setelah bercerai denganku,” papar Jeslyn dengan suara pelan, “apa kau sungguh ingin bercerai denganku?” tanya Jeslyn ketika melihat Dave tampak menatap serius padanya.
“Bukankah kau yang ingin bercerai denganku? Aku hanya menuruti keinginanmu,” jawab Dave.
“Kalau aku tidak ingin bercerai denganmu, apa kau akan membatalkan perceraian kita?”
Dave meneliti wajah istrinya sejenak. “Aku memang tidak pernah berniat bercerai denganmu.”
Jeslyn belum bisa menerka maksud dari perkatan Dave. “Istirahatlah. Jangan terlalu banyak pikiran. Aku akan menjelaskan semuanya nanti,” ucap Dave dengan lembut.
“Tapiii...”
“Aku sudah menyuruh Adnan untuk mengalihkan semua pekerjaanmu pada dokter lain. Kau tidak boleh bekerja sampai kau benar-benar pulih. Jika kau masih bersikeras untuk bekerja. Aku akan langsung menyuruh Adnan untuk memecatmu.”
“Apa Stella tahu kau ada di sini?”
Jeslyn menunduk sambil memainkan jari-jari tangannya. “Kalau begitu pergilah. Aku sudah baik-baik saja.”
“Istirahatlah, jangan memikirkan apapun. Hubunganku dengan Stella tidak seperti yang kau pikirkan. Aku pasti akan menjelaskan semuanya nanti. Tidurlah sayang,” ucap Dave sambil mengelus kepala Jeslyn dengan lembut.
Melihat perhatian Dave dan mendengar Dave mamanggilnya sayang lagi, membuat hati Jeslyn menghangat. “Aku tidak mengantuk,” kata Jeslyn.
“Kalau begitu kau istirahat saja.”
Dave membantu Jeslyn untuk berbaring di tempat tidur. Jeslyn hanya menuruti perkataan Dave. Dia merasa sekujur tubuhnya memang sakit, terutama di bagian pergelangan kaki dan tangannya.
“Kau tunggu di sini. Aku keluar sebentar.” Dave berjalan keluar sebelum Jeslyn sempat membuka suaranya lagi.
Jeslyn tampak memandangi punggung Dave yang mulai menjauh. Dia mulai memikirkan kata-kata Dave yang tadi diucapkan olehnya. Dia masih tidak mengerti maksud dari perkataan Dave.
*****
__ADS_1
“Kau mau ke mana sayang?” tanya Dave ketika Jeslyn tampak membuka selimut yang menutupi tubuh bawahnya.
Jeslyn menoleh pada Dave yang baru saja memasuki ruangannya. “Aku ingin ke toilet Dave,” ucap Jeslyn dengan suara pelan.
Dave langsung berjalan cepat mendekati istrinya. “Kenapa kau tidak memanggil perawat untuk membantumu?”
“Aku masih bisa jalan menggunakan tongkat Dave,” terang Jeslyn.
“Apa aku harus memecat perawat yang bertugas di sini karena tidak merawatmu dengan benar?” ucap Dave dengan wajah tegas.
“Dave jangan seperti itu. Mereka tidak salah.”
Dave meraih tubuh Jeslyn dan langsung menggendongnya. “Davee, turunkan aku!” Wajah Jeslyn tampak merona ketika Dave mengangkatnya ke kamar mandi.
Dave tidak menghiraukan ucapan Jeslyn. Dia melangkah cepat menuju kamar mandi. “Dave, keluarlah, aku akan memanggilmu kalau aku sudah selesai,” ucap Jeslyn ketika Dave sudah menurunkan Jeslyn di dekat closet duduk.
“Aku akan menunggu di sini,” ucap Dave acuh. Dia membalikkan tubuhnya membelakangi istrinya. “Aku tidak akan melihat,” sambung Dave lagi seolah tahu apa yang ada dibenak istrinya. Dia tidak mau meninggalkan Jeslyn sendiri di kamar mandi karena takut terjadi apa-apa dengan istrinya.
“Tapi Dave, aku tidak nyaman kalau kau ada di sini,” balas Jeslyn dengan suara rendah.
Mendengar ucapan istrinya seketika Dave menoleh pada istrinya. “Jeslyn, aku adalah suamimu. Aku bahkan sudah melihat semuanya. Kenapa kau masih malu denganku?”
Jeslyn akhirnya mengalah. Dia tidak mau terus berdebat dengan Dave karena hal sepele.
“Baiklah.” Dave mulai membantu Jeslyn untuk duduk di closet. Setelah selesai Dave kembali menggendong istrinya ke tempat tidur.
“Apa kau sudah makan?” tanya Dave ketika Dave baru saja selesai menyelimuti Jeslyn.
“Belum,” jawab Jeslyn sambil menggeleng.
Dave kemudian menekan bel untuk meanggil perawat. “Permisi Tuan, Dokter Jeslyn. Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya perawat itu sopan.
Jeslyn mengangguk, sementara Dave menoleh. “Panggil Maya ke sini,” perintah Dave.
“Baik Tuan.”
Tidak lama kemudian Maya masuk ke dalam ruangan Jeslyn. “Maya, mulai saat ini kau bertugas untuk menjaga istriku. Tugasmu membantu semua keperluan istriku selama di rumah sakit. Aku akan bilang pada Adnan untuk mengalihkan semua tugasmu pada orang lain.”
__ADS_1
Bersambung...