Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Anak Siapa?


__ADS_3

"Stella, kau harus menjelaskan padaku, kenapa anaku ini memanggilku Daddy. Jadi, Alea adalah anakmu? Anak kecil yang bersamamu di Swiss adalah Alea?” tanya Dave tanpa mengalihkan pandangannya dari Stella. Banyak pertanyaan yang ada dibenaknya saat ini.


“Iya benar,” ucap Stella sambil menunduk. Dave menatap Stella dengan wajah datarnya.


“Kau harus menjelaskan semuanya Stella padaku.” 


“Aku minta maaf Dave karena tidak memberitahumu sebelumnya.”


“Kau tinggal di mana sekarang?” tanya Dave dengan datar.


“Sementara ini aku tinggal di apartemen Ascott.”


Pupil mata Dave membesar. “Apartemen Ascott?” tanya Dave lagi untuk memastikan. Apartemen milik Jeslyn juga berada di situ. Dave tampak berpikir mungkinkah Jeslyn dan Stella sudah pernah bertemu.


“Iyaa, kenapa?” tanya Stella heran.


“Tidak apa-apa,” jawab Dave sambil menggeleng. Banyak sekali hal mengejutkan yang dia dapatkan hari ini.


“Aku harus pulang Dave,” ucap Stella cepat.


Alea mendongakkan kepala menatap ibunya.


“Mommy, apakah kita akan pulang bersama dengan Daddy?”


Stella mengelleng cepat. Dia tidak mungkin memaksa Dave untuk ikut dengannya. “Tidak sayang. Daddy sedang sibuk.”


“Aku akan mengantarmu pulang. Banyak yang harus kau jelaskan padaku," tatap Dave dengan wajah serius.


Alea meraih jemari tangan Dave. “Benarkah Daddy akan ikut pulang bersama kami?” tanya Alea penuh harap.


“Iyaaa,” jawab Dave sambil tersenyum.


Stella tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Dalam hati dia sangat bahagia karena Dave tampak masih peduli dengannya.


“Terima kasih, Dave.”


Mereka akhirnya berjalan menuju pintu keluar lalu naik ke mobil Dave, melaju menuju apartemen Stella.


Stella langsung berjalan menuju lift ketika mereka sampai di apartemen Ascott. “Alea sedari tadi terus menggandeng tangan Dave dengan senyum bahagia.


Setelah sampai di apartemennya, Stella langsung membuka pintu apartemennya dengan lebar. “Ayoo, Dad masuk.” Alea langsung menarik tangan Dave masuk ke dalam sebelum Stella sempat mempersilahkan Dave masuk.


Dave hanya mengikuti langkah Alea sampai mereka tiba di ruangan tamu. Alea kemudian duduk bersebelahan dengan Dave. Dia terus menempel pada Dave seperti takut akan ditinggalkan. Stella yang melihat hal itu merasa sedih sekaligus bercampur bahagia. Sudah lama dia tidak melihat senyuman bahagia anaknya.

__ADS_1


“Alea, lepaskan tanganmu, Daddy merasa tidak nyaman jika kau terus menempel padanya,” pinta Stella ketika melihat anaknya terus saja memegang lengan Dave dengan erat.


Alea langsung melepaskan tanggannya lalu menatap Dave dengan wajah polosnya. “Apakah Daddy tidak suka kalau Alea dekat-dekat dengan Daddy?”


Dave tampak tidak bisa berkata-kata. Jujur saja dia masih belum terbiasa dengan Alea. Dia masih merasa canggung berdekatan dengannya, apalagi Alea terus memanggilnya dengan sebutan Daddy.


“Dave maafkan dia. Alea sudah lama tidak merasakan kasih sayang seorang ayah,” ucap Stella dengan wajah sedih.


“Tidak apa-apa. Aku hanya tidak terbiasa Stella.” 


“Aku akan ke kamar sebentar. Kau tunggu di sini dulu.” Dave mengangguk. Stella kemudian mengajak anaknya ke kamar untuk berganti pakaian.


Beberapa menit kemudian mereka kembali. “Dave, apa kau tidak keberatan makan bersama kami. Ini sudah siang, Alea juga belum makan.”


“Baiklah.”


Dave kemudian bangkit mengikuti langkah Stella dan Alea menuju meja makan. Apartemen yang di tempati oleh Stella cukup besar, terdiri dari ruang tamu, ruang keluarga, kamar mandi tamu, dapur besar yang menyatu dengan meja makan, 1 kamar tidur utama, 1 kamar anak dan 2 kamar tamu.


Alea tampak duduk bersebelahan dengan Dave, sementara Stella berada di depan mereka berdua. Terlihat sekali kalau Alea tidak ingin jauh dari Dave. Dia makan dengan wajah ceria. Saat mereka makan tidak ada yang bersuara. Stella terlihat beberapa kali melirik ke arah Dave. Dia melihat Dave dan Alea tampak seperti ayah dan anak.


“Seandainya kita bisa bersama-sama lagi Dave, aku akan menjadi wanita paling bahagia di dunia ini,” gumam Stella dalam hati.


Setelah makan, Stella menidurkan Alea terlebih dahulu. Awalnya Alea menolak karena masih kangen dengan Dave. Dia takut di saat dia terbangun Dave sudah tidak ada. Stella berusaha memberikan pengertian terhadap Anaknya. Dengan berat hari Alea menuruti permintaan ibunya.


Stella kembali ke ruangan tamu tempat Dave berada setelah Alea tertidur. “Dave, aku minta maaf atas sikap Alea padamu. Dia begitu karena merindukan figur seorang ayah.”


"Menurutmu?" Stella sengaja tidak menjawab pertanyaan Dave karena ingin tahu, apa yang ada dipikiran Dave saat ini.


Dave menggeleng pelan tanda tidak yakin. "Aku tidak tahu. Apa jangan-jangan malam itu kita memang melakukannya tanpa aku sadari?" tanya Dave dengan dahi berkerut.


Senyuman Stella mengembang di wajahnya. "Dia memang anakmu, Dave."


"Benarkah??" Dave ingin memastikan kembali kebenaran yang diucapkan oleh Stella.


Stella tertawa lebar. "Kenapa kau tertawa?" Dave merasa heran pada tingkah Stella.


"Aku hanya bercanda, Dave. Alea bukan anakmu. Bagaimana bisa dia menjadi anakmu kalau kita saja tidak pernah melakukannya. Kau belum pernah menyentuhku, Dave," ungkap Stella seraya mengakhiri tawanya.


"Lalu malam itu, benarkah tidak terjadi apa-apa dengan kita?" Dave sebenarnya pernah ragu dengan kejadian beberapa tahun yang lalu.


Saat itu Dave sedang mabuk berat. Zayn menghubungi Stella agar menjemput Dave di bar. Dengan ditemani Zayn, Stella mengantar Dave kembali ke apartemennya. Setelah mengantar Dave, Zayn langsung pamit pulang, sementara Stella tetap berada di apartemen Dave untuk menjaga karena dia tidak tega meninggalkan kekasihnya yang sedang mabuk.


Dave yang saat itu mabuk berat memuntahkan isi perutnya lalu mengenai bajunya dan baju Stella. Setelah isi perut Dave keluar semua, dia kembali tertidur. Stella akhirnya melepaskan baju Dave yang terkena muntahannya. Karena kesulitan memakaikan Dave baju, Stella memutuskan untuk membiarkan Dave tidak memakai baju dan akhirnya hanya menarik selimut untuk menutupi tubuh Dave.

__ADS_1


Sementara dirinya memakai baju Dave karena bajunya terkena muntahan Dave juga. Stella yang saat itu juga lelah akhirnya berbaring di samping Dave. Pagi harinya Dave terkejut ketika melihat Stella berada di sampingnya dan mengenakan bajunya, sementara dirinya bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana kerja saja.


Saat itu Dave berpikir kalau dia secara tidak sadar sudah menyentuh Stella, pikiran Dave itu tidak bertahan lama. Ketika Stella sudah bangun. Dia menjelaskan semua kejadian malam itu sampai akhirnya dia tertidur di samping Dave.


"Bukankah sudah pernah aku jelaskan kalau kita hanya tidur di tempat tidur yang sama?"


"Aku hanya berpikir mungkin saja kau berbohong padaku karena tidak ingin terikat denganku hanya karena kejadian malam itu," ucap Dave.


Stella tersenyum penuh kelembutan. "Justru dulu aku sangat ingin memiliki anak denganmu agar kau cepat menjadi milikku. Aku tidak tahan dengan banyaknya wanita yang mengejarmu," kenang Stella.


"Aku kira dia benar anakku."


"Maaf Dave, tapi Alea bukanlah anakmu. Aku tidak mungkin menyembuyikan Alea jika benar dia anakmu Dave, kecuali kau tidak mengingkannya. Malam itu murni kita hanya tidur di ranjang yang sama, tidak lebih," terang Stella dengan wajah tenang.


"Kalau memang malam itu tidak terjadi apa-apa dengan kita. Lalu Alea anak siapa Stella? Kenapa dia bisa mengira aku ayahnya dan langsung memanggilku, Daddy?" Dave tampak sangat penasaran siapa sebenarnya ayah kandung Alea.


Stella tidak langsung menjawab pertanyaan Dave. Dia meremas kedua tangannya sambil menunduk. “Dia anak dari suamiku, Daniel,” ungkap Stella dengan suara pelan.


"Aku masih suci ketika menikah dengan Daniel karena kita memang tidak pernah melakukannya. Kau menepati janjimu untuk tidak pernah menyentuhku sebelum kita menikah." Stella tidak ingin Dave salah paham padanya hanya karena dia memberi nama belakangnya kepada Alea.


“Jadi kau sudah menikah?” tanya Dave dengan wajah terkejut.


“Sudah.”


“Jadi itu alasanmu meninggalkan aku karena kau mencintai pria lain?” Selama ini Dave bertanya-tanya kenapa Stella pergi tanpa kabar dan tidak pernah menghubunginya setelah pertengkaran mereka.


Beberapa bulan lalu dia mendapatkan kabar bahwa Stella berada di Swiss, dia terlihat berdua dengan seorang anak kecil. Dave hanya tidak menyangka kalau Stella sudah memiliki anak. Yang dia tahu adalah Stella belum menikah.


“Tidak Dave. Aku bahkan masih mencintaimu sampai saat ini,” ungkap Stella dengan jujur.


“Lalu kenapa kau pergi meninggalkan aku saat itu? Kau bahkan tidak pernah berusaha untuk menemuiku ataupun mencariku.” Walaupun itu hanya masalalu, setiap Dave mengingatnya dia merasa kecewa.


“Setelah kita berpisah waktu itu. Aku dan keluargaku pindah ke luar negeri. Mereka menyuruhku untuk melanjutkan study pasca sarjanaku di sana, tetapi ternyata mereka malah menjodohkan aku dengan anak dari sahabat mereka yang tinggal di Canada.”


“Bukankah kau bisa menolak perjodohan itu?” Dave masih tidak bisa menerima alasan yang diutarakan oleh Stella.


“Aku tidak punya pilihan lain saat itu selain menikah dengannya, Dave. Aku beberapa kali ingin kabur, tapi tidak bisa. Mereka menahan paspor dan menutup semua aksesku untuk menghubungimu. Ayahku mengancam akan menyakiti ibuku jika aku menolak menikah dengan Daniel,” jelas Stella dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Ketika Stella berusaha kabur, ternyata ayahnya sudah memasang pelacak pada ponselnya. Jadi mereka berhasil menemukan Stella setiap dia akan kabur.


“Apa kau tahu? Bertahun-tahun aku mencarimu tapi aku tidak pernah bisa melacakmu. Aku sempat kecewa padamu karena kau pergi tanpa meninggalkan pesan untukku.”


“Maafkan aku. Aku juga menderita Dave. Aku bahkan berpikir untuk mengakhiri hidupku waktu itu," ucap Stella sambil menitikkan air mata.

__ADS_1


“Lalu ke mana suamimu? Kenapa Alea menyebut aku sebagai ayahnya? Bahkan kau memberikan nama belakangku padanya.”


Bersambung...


__ADS_2