Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Menghina


__ADS_3

Setelah kepergian Dave. Jeslyn melepaskan seprai kasurnya. “Masuk,” ucap Jeslyn ketika mendengar suara ketukan pintu.


“Permisi Nyonya, saya diminta oleh tuan Dave untuk membersihkan kamar ini Nyonya.”


“Masuk, Ran,” ucap Jeslyn ketika melihat Rani berdiri di pintu.


Rani adalah gadis berumur 22 tahun yang bekerja sebagai pelayan di rumah Dave, menggantikan ibunya yang sudah pensiun. Di mansion orang tua Dave terdapat banyak pelayan yang mempunyai tugas berbeda-beda.


Rani berjalan mendekat. “Maaf mengganggu, Nyonya.” Rani merasa canggung karena ada Jeslyn di sana saat dia akan membersihkan kamar Dave.


“Ran, bagaimana kabar ibumu?” Jeslyn memang mengenal ibu Rani karena ibunya sudah bekerja dengan keluarga Dave ketika masih gadis.


“Baik, Nyonya.” Rani memang sedikit pemalu dan tidak banyak bicara.


Rani membutuhkan waktu 30 menit untuk merapikan dan membersihkan seluruh kamar Dave. Tidak lupa dia juga mengganti seprai baru.


“Apa masih ada yang bisa saya bantu Nyonya?” tanya Rani ketika dia sudah menyeleaikan semua pekerjaannya.


“Tidak ada Ran, terima kasih ya?” ucap Jeslyn lembut.


Rani sedikit membungkuk. “Sama-sama Nonya, saya permisi dulu.” Rani kemudian berjalan keluar kamar Dave.


Jeslyn berjalan ke tempat tidur setelah pintu kamar tertutup. Dia merasa seluruh tubuhnya masih sakit semua, terutama bagian bawahnya. Dia juga masih mengantuk karena kurang tidur. Dave tidak memberikan dia istirahat yang cukup sehingga membuatnya merasa sangat lelah.


Dia kemudian merebahkan tubuhnya perlahan dan mulai memejamkan matanya. Terdengar bunyi panggilan masuk di ponselnya. Jeslyn membuka matanya kembali, lalu meraih ponselnya. Jeslyn tersenyum ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


Dia langsung mengangkatnya. “Halo Dave, ada apa?” tanya Jeslyn ketika baru saja menjawab telpon dari suaminya.


“Kau sedang apa sayang?” Terdengar suara Dave di sebrang telpon sana.


“Aku baru saja mau tidur.” Jeslyn memang berencana tidur dulu untuk mengumpulkan tenaganya kembali. Dia juga merasa tidak enak badan karena terlalu lelah dan kurang tidur.


“Maafkan aku sayang karena sudah menganggumu.” Dave seketika merasa bersalah. Dia tahu kalau Jeslyn pasti lelah akibat ulahnya semalam.


“Tidak apa-apa Dave. Kenapa kau tiba-tiba menelponku?”


Jeslyn hanya merasa heran saat Dave tiba-tiba menelponnya. Selama menikah Dave tidak pernah menghubunginya jika tidak ada urusan yang mendesak dan penting.


“Aku merindukanmu sayang.” Jeslyn tersenyum saat mendengar perkataan Dave. Sikap lembut Dave membuatnya senang.


“Kita baru saja bertemu Dave.”


“Iyaa, tetap saja aku masih merindukanmu. Apa kau tidak merindukanku?” tanya Dave penasaran.


“Ternyata kau tidak merindukanku,” ucap Dave ketika tidak mendengar jawaban apapun dari Jeslyn. Ada nada kecewa dalam ucapan Dave.


“Aku juga merindukanmu Dave. Cepatlah pulang," ucap Jeslyn pelan.

__ADS_1


Jeslyn sebenarnya belum terbiasa bersikap manis pada Dave, apalagi sikapnya yang berubah setelah mereka melewati malam panjang.


“Tidurlah sayang. Aku akan kembali bekerja.” Dave tidak ingin mengganggu lagi waktu istirahat istrinya, maka dari itu dia ingin segera mengakhiri panggilan telponnya.


“Iyaa Dave, kau jangan lupa makan siang.”


“Iyaa sayang,” ucap Dave senang. “Oyaa.. Apa ibu dan Felicia menganggumu?”


Dave tiba-tiba teringat dengan ibunya dan istri keduanya. Sebelum dia berangkat kantor dia sudah memperingatkan pada mereka untuk tidak mengaggu Jeslyn. Dave mengatakan kalau Jeslyn sedang sakit dan tidak boleh diganggu oleh siapapun.


“Tidak Dave, hanya Rani yang datang untuk membersihkan kamarmu tadi.”


“Kamar kita sayang Itu sudah menjadi kamarmu juga.” Kamar yang ditempati oleh Jeslyn sekarang adalah kamar Dave ketika dia masih tinggal bersama orang tuanya. Jeslyn tersenyum setelah mendengar perkataan suaminya.


“Kalau begitu istirahatlah.”


“Iyaa Dave,” jawab Jeslyn singkat.


Jeslyn meletakkan kembali ponselnya di atas nakas setelah Dave mengakhiri panggilan telponnya. Dia kembali merebahkan tubuhnya sembari memejamkan matanya.


******


“Jeslyn bangun,” pekik Felicia ketika melihat Jeslyn sedang terlelap tanpa menyadari keberadaannya.


Jeslyn membuka matanya ketika mendengar suara keras Felicia. Dia melihat Felicia dan ibu mertuanya sedang menatap sinis padanya.


Jeslyn menoleh pada jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 3 sore. Dia sudah tidur selama 2 jam lebih. “Aku hanya tidak enak badan, Ma.” Jeslyn sengaja tidak mengatakan yang sebenarnya.


Westi memperhatikan bagian leher Jeslyn. Matanya menatap tajam Jeslyn ketika melihat banyak bekas merah di lehernya.


“Bukankah sudah aku bilang, biarkan Dave tidur di kamar Felicia, tetapi kenapa kau malah membiarkan Dave masuk ke dalam kamarmu semalam?”


Westi merasa marah saat Felicia mengatakan kalau rencana mereka gagal, apalagi setelah mendengar kalau Dave pergi ke kamar Jeslyn.


“Maa, Dave sendiri yang datang ke kamarku. Aku terpaksa mengijinkan dia masuk karena Dave sedang tidak dalam kondisi baik, Ma.”


Jeslyn sengaja tidak langsung memberitahukan pada ibu mertuanya perihal Felicia yang memberikan obat pada Dave. Jeslyn ingin memastikan apakah ibu mertuanya tahu perihal obat itu.


“Aku juga heran, kenapa Dave bisa mengkonsumsi obat perangsang semalam. Aku bertanya-tanya siapa yang sudah memasukkan obat itu ke minuman Dave?” Jeslyn sengaja mengatakan itu untuk melihat reaksi ibu mertuanya.


“Apa maksudmu berkata seperti itu? Apa kau menuduh kami yang sudah memasukkan obat itu ke minuman Dave?” Amarah ibu Dave langsung terpancing ketika mendengar perkataan Jeslyn.


Dugaan Jeslyn makin kuat saat melihat reaksi ibu mertuanya. Dia langsung bisa menebak kalau ibu mertuanya tahu mengenai obat itu. Jeslyn berpikir kalau ibu mertuanya pasti ikut andil dalam menjebak Dave.


“Tidak Ma, aku hanya heran kenapa Dave datang ke kamarku dalam keadaan seperti itu.”


“Seharusnya kau mengusir Dave agar dia kembali ke kamar Felicia.” Ibu Dave masih tidak terima karena rencananya gagal total.

__ADS_1


“Ma, Dave adalah suamiku. Aku tidak mungkin mengusir suamiku sendiri, apalagi saat dia membutuhkan aku.”


“Heeh, Jeslyn. Kau itu seharusnya berkaca diri. Kau tidak bisa memberikan Dave anak. Untuk apa kau selalu tidur dengan Dave. Lihat dirimu sekarang. Kau seperti ****** yang habis menjual diri. Menjijikkan sekali.”


Jeslyn langsung turun dari tempat tidur kemudian menghampiri Felicia dengan langkah pelan. “Fel, jaga ucapanmu. Kau tidak bisa menghinaku seenaknya hanya karena mama selalu membelamu,” ucap Jeslyn dengan wajah merah padam. Amarahnya mulai terpancing saat mendengar hinaan Felicia.


“Kau seharusnya berpikir, kenapa Dave lebih memilih tidur denganku dari pada dirimu? Pasti ada yang salah dengan dirimu? Kalau aku jadi Dave, aku juga pasti akan muak dengan sikapmu ini. Kau hanya bisa menyalahkan orang lain atas ketidakberdayaanmu meluluhkan hati Dave.”


“Kaauuu, berani sekali kau mengatakan itu padaku!” ucap Felicia marah.


“Kau sudah menghinaku, kenapa aku harus diam saja?” Jeslyn memutuskan untuk melawan Felicia walaupun ada ibu mertuanya di depannya. Dia sudah emosi karena Felicia sudah menghinanya.


“Felicia, kau itu hanya gadis manja yang hanya bisa menghina dan merendahkan orang lain. Tidak ada yang bisa dibanggakan darimu.”


“Beraninya kau menghinaku,” ucap Felicia dengan mata yang memerah. “Plaaakkk.” Felicia menampar Jeslyn.


“Felicia! Beraninya kau menampar istriku!” Terdengar suara tinggi Dave dari arah belakang.


Seketika Dave langsung menarik tangan Felicia agar menjauh dari Jeslyn. “Dave, Felicia juga istrimu." Ibu Dave juga tidak kalah marah ketika melihat menantu kesangannya dibentak oleh Dave hanya karena membela istri pertamanya.


“Jangan ikutr campur Ma” Dave menatap marah pada ibunya. Dia langsung menghampiri Jeslyn, kemudian menunduk dan memegang pipi Jeslyn yang ditampar oleh Felicia tadi. “Kau tidak apa-apa?” tanya Dave lembut.


Jeslyn mengangguk. “Aku tidak apa-apa Dave.”


Dave merangkul pinggang Jeslyn lalu menatap istri keduanya. “Felicia, minta maaf pada Jeslyn,” perintah Dave dengan wajah marah.


“Aku tidak mau! Dia sudah menghinaku, Dave.”


“Kau tidak perlu sampai menamparnya, Fel.” Dave mantap tajam pada Felicia. “Minta maaf sekarang juga!!”


“Dave, kenapa kau selalu membela Jeslyn? Kau tidak boleh pilih kasih!” Ibu Dave tidak terima karena Dave selalu berpihak pada Jeslyn.


“Lalu kenapa Mama diam sajansaat Felicia menampar Jeslyn. Seharunya Mama menegurnya, bukan malah membelanya!” ucap Dave emosi.


"Dia memang salah. Dia menghina Felicia," ucap Westi acuh tak acuh.


"Ma, jangan kau pikir aku tidak mendengar semua ucapan kalian dari awal. Aku sengaja diam karena ingin tahu bagaimana kalian memperlakukan Jeslyn saat aku tidak ada."


"Kauu. Beraninya kau menjebakku Apa kau sengaja ingin mempermalukan aku di depan wanita ini?" tunjuk Westi dengan wajah memerah.


"Ma, aku sudah pernah memperingatkanmu. Jangan pernah mengganggu Jeslyn. Sepertinya Mama belum mengerti juga." Dave menatap ibunya dan Felicia bergantian.


"Aku peringatkan sekali lagi. Jangan pernah mengganggu dan menyakiti Jeslyn lagi. Kalau sampai kejadian ini terulang lagi. Aku tidak akan tinggal diam," ucap Dave dengan tatapan tajam. "Aku juga akan langsung menceraikanmu Felbkalau kau berani menyentuh Jeslyn lagi."


Felicia langsung pucat, sementara Westi hanya diam. Dia tidak berani membuka mulutnya lagi.


"Sekarang minta maaf pada Jeslyn," desak Dave. Felicia tampak masih diam. "Felicia, apa kau tidak mendengar perkataanku? Minta maaf sekarang juga pada Jeslyn!" perintah Dave dengan nada tinggi

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2