Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Sudah Bercerai


__ADS_3

"Papa tega mengusir mama dan Felicia dari sini?" tanya ibu Felicia dengan wajah terkejut dan mata yang membelalak.


Tadinya ayah Felicia sudah ingin pergi, tetapi ketika mendengar pertanyaan istrinya yang tampak keberatan dengan perkataannya mendadak menghentikan langkahnya seraya menoleh pada istrinya.


"Iyaa, Mama juga harus merenungi kesalahan yang mama perbuat sampai membuat anak kita menjadi monster yang mengerikan."


"Papa tidak bisa hanya menyalahkan mama saja. Papa juga salah karena selama ini tidak pernah memperhatikan Felicia. Papa selalu saja sibuk," protes ibu Felicia dengn wajah yang mulai emosinya.


"Sebab itulah papa berusaha untuk menuntun Felicia ke jalan yang benar. Papa juga akan melakukan apapun supaya Dave dan istrinya mau memaafkan kesalahan papa karena tidak bisa mendidik Felicia dengan benar."


"Pa, bagaimana kalau Dave dan Jeslyn tidak bisa memaafkan aku? Bukankah percuma saja kalau aku meminta maaf pada mereka?"


Felicia berpikir kalau Dave dan Jeslyn pasti tidak akan memaafkannya. Dia tidak ingin repot-repot meminta maaf jika hasil akhirnya dia tidak akan dimaafkan. Itu hanya akan membuatnya merendahkan dirinya sendiri. Seperti itulah yang ada di benak Felicia saat ini.


"Kau harus berusaha dengan cara apapun untuk menebus kesalahanmu dan mendapatkan maaf dari mereka. Itu adalah resiko yang harus kau tanggung karena sudah melukai mereka. Jangan pernah berpikir untuk bisa lolos dari masalah ini karena papa tidak akan membantumu kali ini."


Felicia dan ibunya hanya menatap kepergian ayahnya. Felicia tampak tidak percaya dengan ucapan yang dilontarkan oleh ayahnya. Bagaimana bisa ayahnya dengan tega membiarkannya masuk penjara begitu saja. Felicia mulai resah. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana dia hidup di dalam penjara nanti.


Felicia kemudian mendekati ibunya yang tampak tidak melakukan pembelaan apapun untuknya atas apa yang dikatakan oleh ayahnya. "Mama, bagaimana ini? Aku tidak mau masuk penjara Ma?" rengek Felicia dengan wajah cemas.


Ibu Felicia mengusap-usap bahu anaknya. "Mama akan mencari cara lain untuk membantu permasalahanmu."


"Aku tidak mau dipenjara, Ma. Aku lebih baik mati dari pada harus masuk ke dalam penjara," ujar Felicia asal.


Ibunya langsung menoleh pada anaknya. "Kau jangan berkata sembarang, Fel. Mama akan meminta bantuan pada saudara-saudara mama untuk membantumu," ucap Ibu Felicia menangkan anaknya.


"Terima kasih, Ma."


******


Dion baru saja datang ketika dokter Roby selesai melakukan pemeriksaan terhadap Jeslyn. "Bagaimana?" tanya Dion pada Roby tanpa menoleh pada Jeslyn.


"Aku harus memasang penyangga pada kakinya," ucap dokter Roby sambil duduk di dekat Dion yang baru saja melihat semua hasil pemeriksaan Jeslyn.


Dion manggut-manggut. "Baiklah..Sepertinya tidak adalah masalah serius," ucap Dion ketika baru saja melihat semua hasil pemeriksaan Jeslyn.


Dia berdiri mengampiri Jeslyn. "Sebelum pemasangan memasang penyangga kaki, aku akan memeriksamu terlebih dahulu."


Sikap dingin Dion membuat Jeslyn merasa aneh. Dia sedang berpikir ada apa dengan Dion, kenapa dia tiba-tiba berubah.


"Dion, apa aku memiliki salah terhadapmu?" tanya Jeslyn sambil meneliti Dion yang tampak sedang sibuk memeriksanya.


"Apa ini sakit?" tanya Dion sambil menyentuh pergelangan kaki Jeslyn.


"Iyaa." Jeslyn merasa kalau Dion berusaha menghindari pertanyaannya.


"Kau marah padaku?" tanya Jeslyn lagi karena dia tidak juga mendaptkan jawaban dari Dion atas pertanyaan yang dia lontarkan tadi.


Dion menoleh pada Roby. "Aku sudah memeriksa semuanya. Kau bisa langsung melakukan pemasangan penyangga pada kakinya." Dion tidak menghiraukan pertanyaan Jeslyn

__ADS_1


Roby mersakan ada ketegangan antara Jeslyn dan Dion. Setelah dia tahu kalau Jeslyn adalah istri dari Dave, Roby mulai merasa iba terhadap Dion. Bukan tanpa alasan Roby mengasihani Dion. Selama ini dia tahu kalau Dion menyukai Jeslyn. Dia bisa membaca dari cara Dion memperlakukan Jeslyn selama ini.


"Baiklah." Roby sempat melirik ke Jeslyn sekilas. Dia bisa melihat ada kesedihan saat Dion mengacuhkannya.


Jeslyn menoleh pada Roby sejenak. "Roby, bisakah kau tinggalkan kami berdua sebentar?"


Roby tersenyum canggung. "Baiklah, aku akan menunggu di luar." Roby kemudian melangkah keluar. Dia sada, kalau dia harus memberikan ruang untuk Jeslyn dan Dion untuk menyelesaikan permasalahan mereka.


Dion tampak tidak terpengaruh sedikitpun dengan ucapan Jeslyn. Dia hanya diam. "Dion, kenapa kau mengacuhkanku?" Jeslyn merasa sedih karena perubahan sikap Dion yang tiba-tiba terhadapnya.


"Aku ingin tanya kepadamu, tapi jawab dengan jujur." Dion tampak menampilkan wajah seriusnya pada Jeslyn. Tidak ada senyum sama sekali di wajah tampannya.


"Baiklah."


"Apakah penyebab kecelakaanmu berhubungan dengan permasalahanmu dengan Dave?"


Dion sedang meneliti ekspresi Jeslyn yang tampak tidak berani menatap dirinya. Sebenarnya awalnya dia hanya menerka-nerka saja, tetapi melihat sikap Jeslyn saat ini, membuat Dion semakin yakin kalau kecelakaan Jeslyn memang berhubungan dengan Dave.


Jeslyn tidak langsung menjawab pertanyaan Dion. Dia sedang memikirkan apa yang harus dia jawab pada Dion. Jeslyn tidak menyangka kalau Dion bisa menebak secara benar penyebab dia mengalami kecelakaan. Mungkin karena mereka sudah bersahabat lama sehingga Dion bisa mengetahui dengan mudah apa yang terjadi dengannya. Apalagi Dion tahu kalau dirinya sedang memiliki masalah dengan Dave.


"Dion, aku hanya tidak fokus saat menyetir. Ini tidak ada hubungannya dengan Dave."


Jeslyn berusaha menghindari tatapan Dion, tidak berani mengatakan hal yang sebenarnya padanya karena takut dia akan menyalahkan Dave nantinya, padahal semuanya tidak murni karena kesalahan Dave.


"Jeslyn, sampai kapan kau akan terus membelanya? Kau tidak bisa membohongiku. Aku mengenalmu dengan baik Jes. Kalau kau tidak mau menjawab jujur. Tidak masalah bagiku. Aku tidak akan pernah bertanya apapun padamu lagi."


Dion mulai berdiri ingin meninggalkan Jeslyn. Dia kemudian meletakkan semua hasil pemeriksaan Jeslyn di salah satu bangku yang ada di ruangan Roby.


"Duduklah. Aku akan menceriktakan padamu."


Dion kembali duduk ke tempat yang semula. Jeslyn kemudian menceritakan pertemuanya dengan Stella dan apa saja yang dia sampaikan sehingga membuatnya tidak fokus dalam menyetir sehingga membuatnya lalai dalam berkendara.


"Jadi, kau sudah memutuskan untuk tidak bercerai dengan Dave?" tanya Dion dengan wajah penasaran.


Sebenarnya dia juga sudah mendegar dari Dave kalau Jesyn menolak untuk bercerai. Dia hanya ingin memastikan kembali kebenaran dari mulut Jelsyn sendiri.


"Aku ingin mendengar penjelasan Dave dulu. Dia bilang akan menjelaskan semua kesalah pahaman ini. Dia juga bilang kalau dia tidak ada rencana untuk menikah dengan Stella."


Dion yang mendengar itu tidak serta merta langsung mempercayai ucapan Dave. "Bagaimana kalau Dave hanya membohongimu?"


"Aku akan melihatnya nanti."


*****


Ayah Felicia menyeret putrinya menuju ruangan Jeslyn dengan langkah cepat. Dia menarik paksa anaknya yang tampak enggan untuk ikut dengannya. Ayah Felicia sudah mendapatkan kabar dari Dave kalau Jeslyn mengalami kecelakaan saat tadi dirinya menanyakan keberadaan Jeslyn dan Dave. Dia berencana untuk mengajak putrinya untuk meminta maaf langsung pada Dave dan Jeslyn.


Sebelum ayah Felicia dan anaknya masuk, ayah Felicia terlebih dahulu mengetuk pintu. "Dave," panggil ayah Felicia ketika melihat Dave tampak sedang duduk sambil memangku Alea.


Mata Felicia langsung tertuju pada wanita yang duduk di samping Dave. Dia menatap tajam ke arah Stella. Felicia dan Stella memang saling mengenal, tetapi mereka tidak akrab, lebih tepatnya Felicia memusuhi Stella saat tahu Dave menyukai Stella.

__ADS_1


"Masuk, Pa." Dave sebenarnya tidak menyangka kalau mantan ayah mertuanya akan datang ke rumah sakit untuk menemuinya.


Dave tampak masih bersikap baik dengan ayah mertuanya, walaupun anaknya sudah berbuat salah padanya dan istrinya. Jauh sebelum menikah dengan Felicia, Dave memang sudah mengenal ayah Felicia dari ayahnya Dave. Tadinya mereka adalah rekan bisnis. Dave sangat tahu bagaimana tabiat ayah mertuanya. Jadi, dia tidak sepenuhnya menyalahkan atas apa yang sudah diperbuat oleh Felicia.


Ayah Felicia tampak merasa canggung. Dia sebenarnya sangat malu untuk menampakkan wajahnya lagi pada Dave, tetapi dia tidak punya pilihan selain menahan rasa malunya.


Ayah Felcia langsung menarik tangan anaknya untuk duduk ketika melihat anaknya tampak diam saja. "Sedang apa kau di sini?" tanya Felicia dengan tatapan tidak suka pada Stella.


Ayah Felicia langsung menoleh pada anaknya. "Felicia, jaga sikapmu!" bentak ayahnya. Ayah Felicia sungguh merasa malu dengan sikap Felica tampak masih belum berubah.


Stella menyunggingkan senyumnya sambil menatap remeh pada Felicia. "Sepertinya kau harus merasakan dulu dinginnya jeruji besi agar kau bisa bersikap baik," sindir Dave sambil menatap malas pada Felicia.


"Maafkan atas sikap tidak sopan Felicia, Dave." Ayah Dave tampak menahan rasa malunya.


"Seharusnya dia yang meminta maaf Pa, sepertinya dia memang belum jera."


Walaupun sudah bercerai dengan Felicia, tetapi Dave masih memanggil ayah Felicia dengan sebutan papa, karena Dave masih menghormati ayah Felicia.


"Ternyata kau belum juga berubah, Fel. Masih angkuh dan sombong seperti dulu. Kau selalu merasa dirimu yang paling benar," ejek Stella dengan wajah tenang. Stella sama sekali tidak merasa takut saat ditatap tajam oleh Felicia.


"Kau tidak berhak berkata seperti itu padaku!" hardik Felicia. "Kenapa kau baru muncul sekarang? Apa karena kau tahu kalau Dave sudah menceraikan aku sehingga kau ingin kembali padanya? Dasar tidak tahu malu," cibir Felicia dengan wajah meremehkan.


"Felicia, sudah papa bilang jaga sikapmu!" Ayah Felicai mulai geram dengan sikap anaknya.


Dave menggeleng kepalanya seraya tersenyum sinis. "Lebih baik kau pergi, Fel. Aku sudah muak melihatmu." Dave tampak merasa suasana hatinya memburuk setiap kali melihat Felicia.


"Dave, aku membawanya ke sini agar dia bisa meminta maaf padamu dan Jeslyn secara langsung," sela ayah Dave cepat. Dia takut Dave akan mengusir paksa anaknya sebelum Felicia sempat minta maaf.


"Tapi sepertinya dia tidak menyesali sama sekali perbuatannya, Pa." 


Stella meraih Alea yang ada di pangkuan Dave karena merasa tidak nyaman mendengar pembicaraan mereka. "Dave, lebih baik aku pulang. Ini juga sudah sore."


Dave menoleh pada Stella. "Tunggu saja di sini sebentar. Aku akan menyuruh Zayn untuk mengantarmu."


Stella menggeleng cepat. "Tidak perlu Dave. Aku membawa mobil sendiri ke sini." Stella kemudian berdiri sambil menggandeng tangan anaknya.


"Sayang, pamit dengan Daddy dulu," ucap Stella sambil membungkuk seraya berbisik pada Alea.


Alea mendekati Dave lalu berdiri di depannya. "Daddy, Alea pulang dulu," ucap Alea dengan wajah polos.


Dave lalu mencium wajah Alea. "Hati-hati sayang. Nanti malam daddy telpon," ucap Dave lembut.


Felicia dan ayahnya tampak terkejut melihat pemandangan di depan mereka. Mereka bertanya-tanya apa hubungan Dave dengan anak dan wanita itu. "Iyaa." Alea kembali ke ibunya lagi lalu keluar bersama ibunya setelah Stella berpamitan dengan Dave.


"Kenapa anak itu memanggilmu daddy?"


Felicia sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi. Ayah Felicia tampak menggelengkan kepalanya melihat sikap ingin tahu anaknya.


"Kau tidak perlu tahu apapun mengenai kehidupanku, Fel. Kita sudah bercerai."

__ADS_1


Felicia merasa tertohok dengan ucapan pedas Dave. Dia langsung terdiam tidak berkutik tanpa bisa membalas ucapan Dave.


Bersambung...


__ADS_2