Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Kehamilan Jeslyn


__ADS_3

Dokter Sarah mengangguk. "Kenapa bentuk anakku seperti itu?" tanya Dave ketika melihat ukuran bayinya yang masih berbetuk seukuran kacang polong.


"Tentu saja sayang, usia kehamilanku masih sangat muda. Bentuknya akan terlihat jelas ketika sudah memasuki trimester kedua." Jeslyn terpaksa menjelaskan pada suaminya sendiri sebelum Dokter Sarah membuka mulutnya.


"Benarkah?" Dave terlihat antusias. "Usia berapa, kita bisa melihat jenis kelaminnya?" Pertanyaan Dave sebenarnya ditujukan pada dokter Sarah tapi Dave menatap pada istrinya.


"Usia 10 minggu sudah bisa," jawab Dokter Sarah. "Kalau Tuan Dave ingin mengetahui dengan detail mengetahui kondisi kesehatan kromosom janin, kita bisa melakukan test NIPT nantinya."


"Baiklah." Dave beralih menatap dokter Sarah. "Lalu, kapan aku bisa melihat wajah anakku dengan jelas? Aku sangat penasaran dia akan mirip dengan siapa nantinya."


Jeslyn menghela napas. Dia bahkan belum berpikir sampai ke sana. "Saat usia kandungannya mencapai usia 26-30 minggu wajahnya janin sudah terbentuk sempurna," terang Dokter Sarah.


"Kalau anak kita perempuan. Aku harap dia mirip denganmu, sayang. Dia pasti akan sangat cantik seperti dirimu nantinya." Dave terlihat sedang membayangkan wajah anaknya jika mirip dengan istrinya.


"Bagaimana kalau anak kita laki-laki?" tanya Jeslyn penasaran. Jeslyn merasa kalau Dave lebih menyukai anak perempuan dibandingkan laki-laki.


"Lebih baik dia mirip denganmu juga. Bukankah biasanya anak laki-laki cenderung mirip dengan ibunya?"


Dokter Sarah hanya tersenyum mendengar obrolan pasangan suami istrinya yang ada di depannya. "Iyaa, tetapi aku pikir kalau anak kita laki-laki, lebih baik mirip denganmu."


Dave langsung mengeryit. "Kenapa?"


"Agar anak kita mewarisi ketampanan ayahnya. Genmu lebih bagus dariku."


"Aku tidak tampan sayang. Aku lebih suka kalau anak-anak kita mirip denganmu."


Mereka berdua terlihat terus berdebat sampai obat Jeslyn datang.


"Kalau begitu kami permisi dulu. Terima kasih, Sar," pamit Jeslyn ketika dokter Sarah sudah memberikan obat padanya.


"Iyaa, hati-hati. Ingat jangan terlalu banyak berpikir. Kau tidak boleh stress, Jes," nasehat Dokter Sarah sebelum Jeslyn meninggalkan ruangannya.


"Iyaa aku mengerti."


"Hubungi aku kalau ada yang ingin kau tanyakan."


Jeslyn mengangguk setelah itu dia keluar bersama dengan Dave.


*********


Sepulangnya dari rumah sakit, Dave langsung meminta Zayn untuk mengantarkan mereka berdua pulang ke rumahnya. Dia tidak lagi kembali ke hotel tempatnya menginap. Dave sengaja langsung pulang ke rumahnya agar Jeslyn bisa beristirahat dengan nyaman di kamar mereka.


Dave juga meminta bi Sarti untuk memasak makanan kesukaan istrinya. Sementara Zayn pergi ke hotel tempat bosnya menginap untuk membereskan barang-barang bosnya lalu membawanya pulang ke rumah Dave.


"Sayang. Lebih baik kau istirahat. Kau pasti sangat lelah, bukan?" Dave baru saja membantu Jeslyn untuk berbaring di tempat tidur.


Jeslyn langsung mengangguk. Dia memang merasa sedikit lelah dan mengantuk karena kurang tidur. "Kau tidak ikut tidur?" tanya Jeslyn ketika melihat Dave hanya duduk di tepi tempat tidur.

__ADS_1


"Tidak sayang. Aku akan menjagamu." Dave merubah posisi duduknya lalu bersandar di tempat tidur tepat di samping istrinya. "Tidurlah sayang." Dave menarik selimut lalu mengecup kening istrinya.


Jeslyn mulai memejamkan matanya saat Dave mulai mengelus rambutnya dengan lembut. Setengah jam berlalu, Jeslyn terlihat sudah terlelap. Dengan hati-hati Dave turun dari ranjang. Setelah memastikan istrinya tidak akan bangun, Dave kemudian berjalan menuju ruangan kerjanya.


Sore harinya Dave kembali ke kamarnya untuk mengecek apakah istrinya masih tidur. Dave melangkah dengan sangat pelan ketika memasuki kamarnya. Dia melihat Jeslyn masih tertidur. Dia kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Selesai mandi, Dave membangunkan Jeslyn.


"Apa kau masih lelah, sayang?" tanya Dave ketika Jeslyn sudah membuka matanya. Dave beberapa kali memanggil Jeslyn sampai akhirnya dia membuka matanya.


"Tidak. Aku sudah merasa lebih baik. Badanku terasa segar setelah tidur." Jeslyn bangun dari tidurnya. "Aku ingin mandi dulu." Jeslyn lalu turun dari tempat tidur.


"Baiklah. Aku sudah menyiapkan air hangat jika kau ingin berendam."


Jeslyn mengangguk. "Iyaa. Aku mandi dulu." Jeslyn berjalan menuju kamar mandi.


Dave sudah merasa lebih tenang setelah mengetahui kondisi janin yang ada di perut istrinya. Dia tidak secemas tadi sebelum mereka pergi ke rumah sakit.


Setelah melihat Jeslyn memasuki kamar mandi, Dave lalu mengambilkan pakaian ganti istrinya, setelah itu dia berjalan keluar dari kamar. Dave berjalan menuju dapur. Dia ingin meminta bi Sarti untuk menyiapkan makanan ringan dan susu untuk istrinya. Sebelum pulang, Dave meminta Zayn untuk mampir ke supermarket. Dave meminta asistennya untuk membelikan susu hamil untuk istrinya sesuai dengan merk yang disebutkan oleh Jeslyn.


"Tuan, makanan dan susunya sudah siap,"ucap Bi Sarti seraya membawa nampan di kedua tangannya.


"Tolong antarkan ke kamar, Bi," pinta Dave sopan.


Tanpa menunggu lama Bi Sarti langsung berjalan menuju kamar Dave di lantai dua. Sementara Dave sedang menunggu asistennya datang membawa barang-barang miliknya dan Jeslyn.


Malam harinya, Jeslyn dan Dave sedang duduk santai di balkon kamarnya. Sebenarnya Dave melarang Jeslyn untuk duduk di balkon kamar mereka karena takut Jeslyn akan sakit karena terkena angin malam, tetapi Jeslyn bersikeras karena dia merasa bosan.


Dave akhirnya menyetujuinya dengan syarat Jeslyn harus membungkus dirinya dengan selimut tebal. Jeslyn tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan Dave. Dia berpikir lebiha baik dia menuruti perktaan suaminya dari pada dia harus berada di kamar terus-menerus.


"Dave, maafkan aku karena kehamilanku ini, kita harus membatalkan rencana bulan madu kita," ucap Jeslyn sehabis meminum wedang jahe yang tadi dibuatkan oleh bi Sarti atas permintaan Dave.


Dave merangkul tubuh istrinya yang terbungkus selimut. "Tidak apa-apa sayang. Tujuan kita berbulan madu adalah agar kau cepat hamil. Tujuannya kita sudah tercapai. Kau tida perlu merasa bersalah, sayang," ucap Dave seolah tahu apa yang ada dipikiran istrinya.


"Tapi kau sudah menghabiskan banyak uang untuk mempersiapkan bulan madu kita ke Eropa, Dave."


Dave menggeser sedikit tubuhnya menghadap istrinya. "Aku justru bersyukur karena tahu lebih awal mengenai kehamilanmu."


Dave tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya, jika mereka tidak tahu mengenai kehamilan Jeslyn ketika mereka berbulan madu ke Eropa. Akan sangat berbahaya bagi kandungannya untuk menempuh perjalanan udara dalam waktu yang sangat lama apalagi mereka akan mengunjungi beberapa negara bagian di Eropa.


"Apa kau sudah memberitahu mama mengenai kehamilanku?"


Jeslyn seketika teringat dengan Ibu mertunya. Ketika pesta pernikahan mereka selesai, ibu mertuanya berpesan untuk menghubunginya 3 jam sebelum keberangkatan mereka ke bandara. Ibu mertuanya berniat untuk mengantarkan anak dan menantunya ke bandara.


"Sudah. Mama sangat senang mendengar berita kehamilanmu. Bahkan dia langsung ingin ke sini setelah aku memberitahunya, tetapi aku langsung melarang mama untuk ke sini."


Dahi Jeslyn langsung berkerut. "Kenapa kau melarang mama untuk ke sini?"


Dave menyesap tehnya engan pelan. "Aku ingin kau beristirahat sayang. Kau pasti tidak akan beristirahat jika mama ke sini," terang Dave.

__ADS_1


Berita kehamilan Jeslyn langsung membuat ibu Dave bersemangat untuk langsung menemui menantunya. Dave meminta ibunya untuk datang keesokan harinya supaya Jeslyn beristirahat terlebih dahulu. Bukan tanpa alasan Dave melarang ibunya untuk langsung mengunjungi istrinya. Dia jelas tahu, kalau Jeslyn sangat lelah akibat pesta pernikahan mereka yang berlangsung cukup lama. Belum lagi malam harinya Dave membuat Jeslyn tidak tidur sampai pagi.


"Kau bisa meminta mama untuk menginap di sini, Dave. Mama pasti sangat kecewa karena kau melarangnya datang ke sini."


Jeslyn merasa tidak enak pada ibu mertuanya. Dia bisa memahami perasaan ibu mertuanya yang sangat senang dengan berita kehamilannya. Cucu adalah hal yang sangat dia inginkan selama ini. Meskipun sekarang ibu mertuanya tidak pernah mendesaknya lagi untuk segera memiliki anak, tetapi Jeslyn tahu kalau ibu mertuanya masih sangat menginginkan cucu darinya.


"Tidak sayang. Mama justru mengerti setelah aku menjelaskan mengenai kondisimu."


Sebenrnya, Ibu Dave sedikit kecewa karena tidak bisa langsung menemui menantunya, tetapi dia merasa senang saat mendengar kalau janin dalam kandungan Jeslyn baik-baik saja. Ibu Dave meminta anaknya untuk menjaga istrinya dengan baik. Dia tidak mau kalau sampai terjadi apa dengan kandungan menantunya.


"Aku akan menghubungi mama nanti." Jeslyn masih tetap tidak enak pada ibu mertuanya.


"Hhmmm," gumam Dave seraya mengangguk. "Sayang, lebih baik kita masuk ke dalam. Ini sudah larut. Angin malam tidak baik untukmu."


"Iyaaa." Dave membawa istrinya masuk ke dalam dan memintanya langsung berbaring di tempat tidur.


Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Jeslyn terlihat belum juga mengantuk. Dia memutuskan untuk duduk bersandar sambil menonton televisi.


Dave baru saja kelua dari kamar mandi. Dia langsung berjalan mengahmpiri istrinya. "Sayang, aku ke ruang kerjaku dulu. Aku ingin mengerjakan urusan kantor sebentar."


Wajah Jeslyn langsung cemberut. "Aku tidak mau ditinggal sendiri, Dave."


"Aku hanya sebentar sayang. Ada berkas yang harus aku periksa." Dave berusaha untuk membujuk istrinya agar dia mau ditinggal sebentar.


"Kalau begitu aku ikut denganmu." Jeslyn mulai turun dari tempat tidur.


"Kau tunggu di sini saja, sayang. Aku tidak akan lama. Kau tidak akan merasa nyaman karena hanya ada sofa di sana." Dave sebenarnya tidak mau istrinya kelelahan karena menunggunya di ruangan kerjanya. Dia juga takt Jeslyn akan bosan nantinya.


Jeslyn langsung memalingkan wajahnya mendengar penolakan dari Dave. Dia kembali duduk di tepi ranjang memunggungi Dave yang sedang berdiri di belakangnya. Dave menghampiri istrinya ketika melihat Jeslyn hanya diam sambil menunduk memainkan ujung bajunya.


"Aku takut kau akan lelah sayang jika mengungguku di ruang kerja," ucap Dave dengan hati-hati. Dia tahu kalau saat ini, istrinya sedang merajuk.


Jeslyn masih terlihat diam. Dia tidak menanggapi perkataan Dave. "Baiklah. Aku tidak akan pergi ke ruangan kerja. Aku akan menemanimu di sini." Dave terpaksa mengurungkan niatnya untuk pergi ke ruangan kerjanya. Dia berniat untuk meminta Mark yang memeriksanya nanti.


"Benarkah?" tanya Jeslyn sambil menoleh pada Dave.


"Hhhmm," gumam Dave, "kalau begitu berbaringlah, sayang." Dave menuntun istrinya untuk naik ke tempat tidur.


"Temani aku sampai aku tertidur, setelah itu kau baru boleh pergi ke ruangan kerjamu," pinta Jeslyn dengan manja. Dia langsung memeluk tubuh suaminya ketika Dave sudah berbaring di sebelahnya.


"Aku tidak akan ke mana-mana sayang. Aku akan meminta Mark untuk memerikasanya nanti," terang seraya mengelus rambut istrinya agar dia cepat tertidur.


"Aku suka sekali tidur di pelukanmu, Dave," ungkap Jeslyn tanpa merasa malu. Biasanya dia tidak akan berani berkata seperti itu. Entah mengapa belakangan ini dia lebih berani mengatakan apa yang dia rasakan dari pada memendamnya.


Dave tersenyum lebar. Dia sangat senang mendengar ucapan istrinya. Dia baru menyadari sikap aneh Jeslyn belakang ini berhubungan dengan kehamilan istrinya. Perubahan suasana hati istrinya terjadi begitu cepat. Dia gampang sekali menangis dan dia terlihat lebih manja dari biasanya. Dave baru mengerti sekarang alasan perubahan sikap istrinya tersebut. "Sepertinya anak kita ingin selalu dekat dengan papanya."


Jeslyn hanya tersenyum seraya menghirup aroma tubuh Dave yang membuatnya merasa tenang dan nyaman. Dipeluk erat oleh istrinya membuat Dave harus berusaha keras untuk menahan diri. Jika saja, Jeslyn tidak sedang hamil, mungkin saja Dave sudah melahap habis istrinya.

__ADS_1


Setengah jam kemudian napas Jeslyn mulai teratur dan Jeslyn terlihat sudah memejamkan matanya. begitupun sebaliknya. Sebenarnya Dave juga merasa lelah karena dia kurang istirahat. Itulah sebabnya Dave dengan mudah tertidur tidak lama setelah dia memejamkan matanya.


Bersambung...


__ADS_2