
“Jeslyn, maaf baru datang ke sini, aku baru saja mendengar berita tentang kecelakaan tuan Dave dari Dion.” Dokter Sarah berjalan menghampiri Jeslyn yang tampak sedang duduk melamun di tempat tidur.
Lamunan Jeslyn langsung buyar seketika setelah mendengar suara Sarah. “Tidak apa-apa Sarah.” Jeslyn membenahi posisi duduknya.
“Biar aku memeriksamu dulu. Kau terlihat pucat.”
Dokter Sarah mulai memeriksa Jeslyn ketika dia sudah berbaring di tempat tidur. Setelah mendapatkan telpon dari Dion mengenai kabar tentang kecelakaan Dave, Sarah langsung menuju rumah sakit. Dion memintanya untuk melihat kondisi Jeslyn.
Dokter Sarah memandang Jeslyn sejenak. “Aku tahu kau pasti syok dengan berita kecelakaan suamimu, tetapi kau juga tidak boleh mengabaikan kesehatanmu Jeslyn. Ingat ada nyawa lain di dalam tubuhmu.”
“Aku hanya tidak bisa berpikir yang lain Sar. Aku.. Aku..”
Jeslyn kembali menangis. Dia tidak sanggup melanjutkan ucapannya jika teringat dengan kondisi suaminya. Keadaan Dave yang kritis membuat Jeslyn lupa akan kondisi tubuhnya sendiri.
Sarah duduk di kursi samping Jeslyn sambil mengusap lembut bahunya. “Aku tahu ini pasti berat untukmu. Setidaknya kau harus memikirkan dirimu juga dan calon bayimu.” Melihat Jeslyn yang tampak sangat terpukul, membuat Sarah menjadi iba.
“Melihat keadaanmu seperti ini pasti kau belum makan, kan?” Jeslyn hanya mengangguk lemah.
“Aku akan memesankanmu makanan untukmu.”
“Terima kasih Sarah.” Sarah meraih ponsel di saku jas putihnya. Dia terlihat mengetikkan sesuatu.
“Aku sudah memesankan makanan untukmu. Nanti aku akan menyuruh perawat untuk mengantarkannya ke sini. Apa kau merasa mual atau ingin muntah?” Dokter Sarah kembali bertanya setelah dia memasukkan ponsel di sakunya.
“Aku hanya merasa sedikit mual,” ucap Jeslyn pelan.
Dokter Sarah berdiri. “Aku akan meminta perawat untuk memasang infus padamu. Aku juga akan memberikan obat pereda mual dan beberapa vitamin untukmu. Kau tidak aku perkenankan meninggalkan ruangan selama kondisi tubuhmu masih lemah. Kau harus istirahat dulu.”
“Iyaaa,” ucap Jeslyn dengan suara rendah.
Dia tidak membantah apapun yang dikatakan oleh Dokter Sarah. Dia merasa tubuhnya juga sangat lelah dan tidak memiliki tenaga. Dokter Sarah meninggalkan ruangan Jeslyn setelah dia meminta Jeslyn untuk berbaring.
*******
Jeslyn membuka matanya perlahan. Dia melihat ke arah jam dinding. Dia mencoba untuk bangun dari tidurnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi.
Jeslyn meraih ponselnya yang ada di atas nakas. Dia ingin menghubungi Dion untuk menanyakan perihal kondisi Dave. Saat membuka ponselnya terlihat ada pesan dari ayah mertuanya, Dion dan Sarah.
Jeslyn mulai membalas pesan mereka satu persatu. Setelah selesai membalas pesan. Jeslyn berjalan ke arah kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Dokter Sarah sengaja meminta perawat untuk selalu memantau kondisi Jeslyn. Beberapa kali perawat mendatangi ruangan Jeslyn untuk memastikan keadaannya.
Setelah membasuh wajah dan menggosok giginya. Jeslyn kembali ke tempat tidur. Dia duduk sambil bersandar. Di atas nakas sudah tersedia sarapan untuk dirinya yang berasal dari rumah sakit.
“Kau sudah bangun?” Jeslyn menoleh ke arah pintu. Dia melihat Dion sedang berjalan ke arahnya.
“Aku baru saja bangun Dion.” Jeslyn memperbaiki posisi duduknya saat Dion berdiri di sampingnya.
__ADS_1
Jeslyn mengakat kepalanya menatap Dion. “Bagaimana keadaan Dave, Dion?” Jeslyn berusaha untuk tetap terlihat tegar.
Dion duduk di kursi samping Jeslyn. Dia mengambil mangkok bubur yang ada di atas nakas kemudian memberikannya pada Jeslyn. “Makanlah dulu.” Jeslyn langsung menerima mangkok bubur tersebut. “Dave masih belum melewati masa kritisnya, Jes. Dia terluka cukup parah.”
Air mata Jeslyn mulai jatuh lagi ke pipinya. Air mata yang sedari tadi dia tahan langsung lolos ketika mendengar keadaan suaminya.
“Dion, bisakah aku menjenguknya hari ini?” Jeslyn ingin memberikan kekutatan pada Dave. Dia berharap dengan kedatangannya akan membuat Dave cepat melewati masa kritisnya.
Dion menghela napas panjang. Dia tampak berusaha untuk tetap sabar. “Kau harus mendapatkan ijin dari Sarah dulu, untuk bisa keluar dari ruangan ini. Apalagi kondis tubuhmu masih lemah.” Dion menatap dalam mata Jeslyn. Terlihat ada raut kekecewaan dalam wajahnya.
Tubuh Jeslyn tampak terasa kaku, dia merasa sikap Dion aneh. “Apa kau...?”
Dion mengangguk. “Aku sudah tahu tentang kehamilanmu,” ucap Dion pelan.
Dia merasa hatinya sakit saat mengetahu perilah kehamilan Jeslyn. Dia berpikir kalau hubungan Jeslyn dengan Dave tidak begitu baik. Dai berpikir kemungkinan untuk mendapatkan Jeslyn masih ada. Dia tidak menyangka kalau Jeslyn saat ini justru sedang hamil anak Dave.
“Maafkan aku Dion. Aku tidak bermaksud menyembunyikan darimu. Aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir.” Jeslyn terlihat panik ketika dia tahu kalau Dion sudah mengetahui semuanya. Dia takut kalau Dion akan marah kepadanya.
“Sudah 2 kali kau menyembunyikan hal besar dariku. Sebenarnya kau menganggapku sebagai sahabatmu atau tidak?”
Ketika memikirkan fakta bahwa Jeslyn menyembuyikan hal besar lagi darinya membuat Dion kecewa. Dia merasa kalau Jeslyn tidak lagi pecaya dengannya.
“Maafkan aku Dion,” ucap Jeslyn pelan sambil menunduk.
Dion berusaha untuk tetap terlihat biasa saja. Dia tidak ingin Jeslyn merasa bersalah karena sudah menyembunyikan tentang kehamilannya. “Habiskan makananmu, kemungkinan Sarah akan datang ke sini sebentar lagi.”
“Terima kasih Dion.”
Dion mengangguk setelah itu berjalan keluar dari ruangan Jeslyn.
******
“Jeslyn kau tidak boleh berlama-lama di dalam,” pesan Dion ketika Jeslyn melangkah masuk ke ruangan di mana Dave berada.
“Baiklah.” Jeslyn melangkah masuk meninggalkan Dion di luar ruangan.
Jeslyn melangkah dengan pelan menuju ranjang Dave. Dia duduk di samping suaminya. “Dave ... Bangun ... kenapa kau belum sadar juga? Bangun Dave ... Aku sangat merindukanmu.” Jeslyn terus berucaha mengajak Dave berbicara. Dia juga mulai bercerita tentang kehamilannya
“Dave sebenarmya apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa mengalami kecelakaan?”
Jeslyn merasa ada yang aneh. Dave saat itu berpamitan dengannya kalau dia akan ke mansion orang tuanya, tetapi setelah mendengar cerita dari ayah Dave kalau Dave tidak pernah datang ke mansion malam itu, membuatnya berpikir kalau ada yang di sembuyikan Dave darinya.
Selama ini Dave tidak pernah berbohong padanya, walaupun hubungan merea belum sebaik sekarang. Dave nyendrung mengatakan apa adanya. “Dave, tolong bangun. Bukankah kau bilang akan selalu berada di sisiku sampai anak kita lahir?” Pelupuk matanya sudah basah dengan air mata.
“Bangunlah Dave,” ucap Jeslyn lirih. “Apa kau tidak ingin melihat perkembangan bayi yang ada di dalam perutku?” Jelsyn meraih tangan Dave dan menempelkan di pipinya.
__ADS_1
“Aku mohon bangun Dave. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak tahu bagaimana caranya melanjutkan hidupku tanpamu Dave.” Berbagai macam pikiran negatif terus mengahantui Jeslyn. Dai bahkan sampai bermimpi buruk tentang Dave.
“Bukankah kau bilang ingin membuktikan kalau anak yang ada dalam perut Felicia bukanlah anakmu. Maka dari itu bangunlah. Buktikan padaku. Agar kau bisa segera menceraikannya.”
Dave tidak merspon sama sekali ucapan Jeslyn. Hanya terdengar suara yang berasal dari monitor yang ada di samping Jeslyn.
Jeslyn bangun dari duduknya. Dia mencium kedua pipi Dave lalu mengecup singkat bibir suaminya. “Aku sangat mencintaimu Dave, cepatlah bangun! Anakmu juga merindukanmu Dave.” Jeslyn mengelus pipi Dave setelah itu dia berjalan keluar.
Dion terlihat masih setia menunggu di depan ruangan. “Sudah selesai?” tanya Dion ketika melihat Jeslyn membuka pintu.
“Sudah.”
“Aku akan mengantarmu sampai ke ruanganmu.” Dion berjalan berdampingan dengan Jeslyn. Dia berjalan pelan mengikuti langkah Jeslyn.
“Dion,” panggil Jeslyn sambil terus berjalan.
“Ada apa?”
Jeslyn berhenti sejenak lalu menatap Dion. “Bisakah kau mencarikan orang untuk menyelidiki tentang kecelakan yang dialami Dave?”
Dahi Dion mengerut. “Apa kau mencurigai sesuatu?” Jelsyn kembali melangkah diikuti oleh Dion. “Aku rasa ada yang sengaja mencelakai Dave.”
“Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?”
“Aku hanya merasa ada yang janggal. Ini hanya instingku saja. Aku harap ini murni kecelakaan semata.”
Dion menmgangguk. “Baiklah, aku akan menyuruh orang untuk menyelidikinya.”
Dion membuka pintu ruangan Jeslyn lebar-lebar. Merka kemudian melangkah masuk ke ruangan Jeslyn. “Terima kasinh Dion.” Jeslyn kembali naik ke tempat tidur.
“Apakah aku bisa minta tolong lagi padamu?” Saat ini Jeslyn hanya bisa mengandalkan Dion. Seperti saat dulu mereka masih remaja, Jeslyn terbiasa meminta bantuan Dion.
“Apa?” tanya Dion penasaran
“Bisakah kau menyelidiki Felicia juga?”
“Apa kau mencurigai dia dalang dari kecelakaan Dave?”
“Bukan itu maksudku. Aku tidak yakin kalau anak yang ada di dalam kandungannya adalah anak Dave. Aku ingin mencari tahu kebenarannya.”
Jeslyn tidak bisa hanya duduk diam tanpa melakukan apa-apa. Dai ingin mencari bukti tentang kebohongan Felicia sambil menunggu saat bisa melakukan tes DNA pada kandungan Felicia.
“Baiklah. Akan aku selidiki.” Dion menarik selimut Jeslyn, “istrirahatlah. Aku akan mengabarimu jika ada sesuatu hal yang penting.”
“Iyaa, terima kasih Dion.”
__ADS_1
Bersambung..